Indonesia
NovelToon NovelToon
The Hidden Truth

The Hidden Truth

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas kesabaran

"Loh, kenapa baju Lyn kegedean gini?"

Elea mengerutkan keningnya menatap baju olahraga Lyn yang agak besar, postur tubuh putrinya kecil. Kenapa bisa jadi sebesar ini?

"Alaric Dewangga?" gumamnya, matanya terpaku pada nama yang tersulam di baju itu.

Lyn yang menghampiri ibunya terkejut, melihat ibunya memegang baju Alaric.

"Bu..."

Lyn segera mengambil baju Alaric dari genggamannya.

Elea menatap putrinya dengan senyum menggoda. "Alaric siapa hayo?"

"Bukan siapa-siapa, Bu."

"Terus, kenapa bajunya ada sama kamu?" ucap Elea menaikkan alisnya.

"Dia meminjamkan aku, karena baju olahragaku kotor Bu," jelas Lyn, tak ingin ibunya berpikir macam-macam.

"Yakin?"

Lyn menghela napas pelan. "Iya, Bu. Jangan pikir aneh-aneh deh."

Elea terkekeh pelan, melihat wajah putrinya.

"Hari ini aku yang nyuci, Ibu fokus jualan saja," ucap Lyn sambil mendorong ibunya keluar dari kamar mandi.

"Eh, nggak usah. Kamu keluar saja jalan-jalan, nikmati hari libur."

Lyn menggeleng. "Malas, Bu. Lyn mau bantu Ibu saja."

"Kamu ini, yang lain suka jalan-jalan di hari libur. Kamu malah pilih di rumah seharian."

"Itu kan yang lain Bu, bukan Lyn. Sudah Ibu buka kedai saja, aku mau nyuci."

Elea menatap lekat putrinya. "Kamu yakin, nih?"

"Iya, Bu. Jangan ragukan Lyn."

"Ya udah, kalau capek, istirahat aja. Nanti biar Ibu yang lanjutkan."

"Siap, Bu."

Elea tersenyum kecil, menyadari betapa putrinya sudah banyak berubah.

"Ternyata anakku sudah tumbuh jadi remaja."

Ia pun melangkah pergi, membiarkan Lyn menyelesaikan pekerjaannya.

Lyn menatap baju olahraga Alaric, tanpa sadar ia tersenyum tipis. Pemuda yang dikenal dingin itu tiba-tiba memberikan baju olahraga padanya, padahal selama ini ia tidak pernah saling sapa.

Lyn perlahan mencuci baju Alaric dengan lembut, takut kainnya rusak. Ia juga tak lupa memberi pewangi yang banyak, sebagai bentuk terima kasih—berkat baju ini, ia masih bisa mengikuti pelajaran olahraga.

—•—

"Lo cari siapa?" tanya seorang siswa saat mendapati Lyn masih berdiri di depan pintu kelas, matanya menatap ke dalam ruangan.

Lyn menoleh, lalu tersenyum. "Ini kelas Alaric, kan?"

Siswa itu mengangguk. "Iya."

"Dia ke mana, ya? Aku ingin mengembalikan bajunya," ucap Lyn sambil mengangkat paper bag berisi baju Alaric.

Siswa itu menatap paper bag itu, dengan alis yang berkerut. "Alaric kasih pinjam baju ke lo?" ucapnya dengan nada tidak percaya.

Lyn mengangguk sebagai jawaban.

"Ya udah, simpan saja di mejanya. Dia emang selalu datang telat," ucap siswa itu sambil menunjuk kursi Alaric yang ada pada barisan belakang.

Lyn segera menyimpan paper bag itu di atas meja, lalu keluar dari ruangan, tak lupa ia juga berterima kasih kepada siswa yang telah membantunya.

"Rif, dia fans Alaric?" tanya Dimas menghampiri Rifki.

"Bukan," jawab singkat Rifki.

"Lalu?"

"Dia hanya mengembalikan baju Alaric."

"Hah?"

"Alaric meminjamkan baju ke dia," jelas Rifki.

"Serius? Alaric ngelakuin itu," ucap Dimas dengan nada tak percaya.

Rifki mengangkat bahunya. "Tuh, buktinya."

—•—

Di taman yang sepi, Lyn duduk di bangku sembari membaca buku. Taman inilah tempat dimana Lyn menjauh dari semua orang.

"Hai."

Lyn tersentak, lalu menoleh.

"Alaric," ucapnya pelan.

"Gue boleh duduk di sini?"

Lyn terdiam sejenak, lalu ia mengangguk.

"Silahkan," ucapnya lalu memberi ruang.

"Katanya lo nyariin gue?"

Lyn mengangguk pelan. "Iya. Aku hanya mengembalikan baju kamu. Terima kasih."

Alaric mengangguk, lalu meneguk minumannya.

Hening sejenak. Alaric melirik buku di tangan Lyn, lalu menatap sekitar taman yang sunyi.

"Lo sering ke sini?"

"Iya. Sepi, enak untuk sendirian."

Alaric menoleh. "Lo nggak takut?"

Lyn menggeleng pelan. "Nggak."

Alaric mengangguk-angguk, tatapannya kembali lurus.

"Hmm, kenapa kamu meminjamkan baju kamu ke aku? Kita kan nggak saling kenal?"

Alaric diam beberapa detik. "Emang kalau mau bantu orang, harus kenal dulu?"

Lyn menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Nggak sih."

"Nggak juga, kan?"

Dari kejauhan, Selena membelalakkan matanya saat melihat Alaric dan Lyn.

"Tuh kan si gembel?" ucapnya tak percaya, ia perlahan mendekat.

"Ngapain mereka duduk di taman sepi ini?"

"Gue harus laporkan ini ke Clarisa."

Selena langsung memotret mereka berdua, untuk mengadukannya ke Clara.

Selena tersenyum puas, menatap ponselnya. "Clara pasti panas nih."

Tanpa berlama-lama, ia bergegas pergi, ingin segera melaporkan kejadian ini pada Clara.

Kring! Kring!

Bel pertanda pembelajaran kembali terdengar.

"Al, aku duluan. Sekali lagi terima kasih, kamu sudah meminjamkan baju untukku," ucap Lyn beranjak dari duduknya.

Alaric hanya membalas dengan anggukan.

Lyn berjalan ke kelasnya, sambil tersenyum tipis. Ia tidak menyangka bisa duduk dan ngobrol bersama Alaric. Walaupun, Alaric terkesan cuek, entah kenapa Lyn merasa senang bisa duduk dengannya. Hingga langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya.

"Lyn..."

Lyn membalikkan badan.

"Reza?"

Reza terlihat gugup, wajahnya dibasahi keringat.

"Eh..."

"Ada apa Za?" tanya Lyn.

"Kamu disuruh Pak Galang ambil bola, di ruangan olahraga," jawab Reza.

Kening Lyn berkerut.

"Kenapa harus aku?"

"K-katanya, kamu telat kemarin di jam pelajarannya..."

"Itu saja yang ingin aku sampaikan..."

Setelah mengatakan itu, Reza buru-buru pergi.

Lyn menghela napas pelan, terpaksa ia harus mengikuti perintah Pak Galang.

Sesampai di ruang Olahraga, Lyn segera masuk. Ia tak ingin berlama-lama.

Lyn melewati berbagai rak, sebelum mendapatkan bola.

Krek! Pintu terbuka dengan kasar, membuat Lyn terkejut.

"Hai, gembel."

Lyn segera mengenal suara itu. Jantungnya berdegub, kencang. Ini jebakan, batinnya.

Lyn perlahan membalikan badan. Benar saja, Geng Aster melambaikan tangannya seolah menyapa Lyn.

"Kalian ngapain di sini?" tanyanya, berusaha terdengar tenang meski tangannya mulai gemetar.

"Ngapain, ya?" ucap Clara dengan nada meledek.

Lyn mengepalkan tangannya, mencari cara agar bisa menghilang dari tempat ini.

"Lo nggak akan bisa kabur dari sini gembel," ledak Selena.

Selena dan Bianca maju mendekat, lalu mengcengkeram lengan Lyn, mendorongnya paksa hingga terduduk di lantai.

"Lepasin!" Lyn memberontak, berusaha melepaskan diri, tapi keduanya terlalu kuat untuk dilawan sendirian.

Clarisa berjongkok di depan Lyn, menatapnya dengan senyum miring. "Gue dengar-dengar, lo dekat sama Alaric?"

Lyn tak menjawab, ia hanya menatap datar Clarisa.

"Jawab!" bentak Clarisa, mencengkram dagu Lyn.

"Nggak! Gue nggak dekat sama Alaric!"

"Lalu ini apa hah?" Clarisa menyodorkan ponselnya ke wajah Lyn, memperlihatkan dirinya bersama Alaric di taman.

Lyn menatap foto itu, lalu tersenyum miring. "Kenapa, lo cemburu?" ucapnya menantang.

Plak! Plak!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Lyn, membuat kepalanya terhuyung.

Clarisa mencengkram dagunya. "Mulut lo masih berani juga ya!"

"Alaric itu punya gue! Lo dengar baik-baik, dia punya gue bangsat!"

Lyn berdecih. "Yakin dia punya Lo? Terus kenapa dia meminjamkan baju olahraganya pada gue, padahal gue bukan siapa-siapa dia?"

Selena mengcengkeram rambut Lyn, memaksanya mendongak.

Bianca melayangkan tamparan, Plak! Plak!

"Dengar ya baik-baik ya, gembel," desis Bianca, mencengkeram rahang Lyn kasar. "Lo itu nggak level buat dekat-dekat dengan Alaric. Paham?"

Lyn menatap mereka bertiga dengan tatapan datar sambil menahan rasa sakit yang menjalar di kepalanya.

"Kalau gue nggak mau?"

Ucapan itu membuat Geng Aster naik pitam.

Bugh!

Clarisa menendang dada Lyn, membuatnya terhuyung.

"Uhuk..." Lyn terbatuk dan mengeluarkan darah.

Bugh! Bugh!

Selena juga ikut menendang Lyn.

"Dasar jalang sialan!"

"Ini peringatan terakhir untuk lo."

"Kalau lo berani dekati Alaric lagi..." Clarisa menjeda, menatapnya tajam. "Usaha Ibu lo akan hancur!"

Deg!

Tangan Lyn mengepal erat, ia menatap tajam Clarisa.

"Guys cabut!" pinta Clarisa.

"Cuma segini doang, Cla?" ucap Selena.

"Kita lanjut nanti!"

Geng Aster siap meninggalkan ruangan. Namun, tepat saat Bianca membuka pintu—

"BRENGSEK!"

Suara teriakan Lyn menggema, memantul dinding ruang olahraga yang sunyi.

Lyn bangkit secepat kilat, matanya memerah menahan amarah yang selama ini terpendam. Satu per satu, ia menendang mereka hingga tersungkur ke lantai.

Bugh! Bugh! Bugh!

Suara benturan keras memenuhi ruangan, disusul erangan kesakitan. Lyn menghajar Clarisa tanpa ampun, seolah semua luka dan amarah yang selama ini ia tahan tumpah dalam sekejap.

"Beraninya lo bawa nama Ibu gua, bangsat!"

Clarisa mencoba membalas, namun Lyn lebih dulu bergerak, mencakar wajahnya tanpa ragu. Clarisa menjerit tak karuan, namun Lyn sama sekali tidak peduli.

"Selama ini gue tetap diam," desis Lyn. "Tapi kali ini, gue nggak akan tahan lagi, bangsat!"

Melihat Clarisa dihajar, habis-habisan.

Selena dan Bianca bangkit, bersiap menerjang Lyn dari dua arah. Namun, sebelum mereka sempat bergerak, Lyn menyambar bola terdekat dan melemparkannya kuat-kuat ke arah mereka, membuat keduanya kembali terjungkal ke lantai.

Ruang olahraga yang biasanya riuh oleh tawa kini berubah menjadi saksi bisu, betapa sadisnya seorang gadis yang telah kehabisan kesabaran.

1
Anne Rukpaida
smngat lyn 💪
Nona Jmn: Terima kasih
total 1 replies
Anne Rukpaida
akhirnya lyn ketemu juga 😇
Nona Jmn: Akhirnya🫰😁...
Ikutin terus yah... masih ada plot twist kebelakangnya🤭
total 1 replies
Anne Rukpaida
critanya luar biasa keren 😎
Nona Jmn: Terima kasih🫰🫰
total 1 replies
Anne Rukpaida
smangat ka, jadi smkin penasaran ma jln ceritanya asal muasal ortunya Lyn bisa punya keahlian bela diri gitu🔥
Nona Jmn: Sabar yah🤭🤭😁😁
total 1 replies
Anne Rukpaida
ceritanya bkin deg²n 🔥 smangat ka
Nona Jmn: Terima kasih kak😊😊🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!