Indonesia
NovelToon NovelToon
The Shadow'S Sanctuary

The Shadow'S Sanctuary

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Iblis / Akademi Sihir
Popularitas:991
Nilai: 5
Nama Author: Lucius Aurelius

Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5

Bab 5: Batu Hitam, Bisikan di Kegelapan, dan Nilai Setetes Darah

​Pagi itu, perjalanan Wiliam menuju akademi terasa jauh lebih sepi dari biasanya, sebuah jeda singkat yang teramat ia syukuri. Pipi kanannya masih menyisakan sensasi hangat yang samar—ingatan akan ketegasan ibunya yang belum sepenuhnya memudar. Di sepanjang koridor gedung utama, ia melangkah dengan gaya malas yang biasa ia peragakan, membiarkan tubuhnya berbaur sempurna dengan bayang-bayang para siswa lain yang sibuk membicarakan berbagai hal konyol.

​Namun, jauh di balik ketenangan yang tampak di permukaan akademi, di sebuah dimensi saku yang terisolasi dari ruang dan waktu biasa, aura kekuatan yang sanggup meremukkan benua sedang berkumpul.

​Ruang Dimensi Puncak World Pillar

​Di sebuah aula bundar berdinding kristal abadi yang melayang di atas lautan awan kosmik, empat kursi batu raksasa mengelilingi sebuah meja bundar dari obsidian purba. Ini adalah Situs Empat Pilar—tempat berkumpulnya empat entitas terkuat yang memegang keseimbangan dunia, para praktisi yang telah menyentuh batas tertinggi kekuatan: Level 20.

​Tiga dari empat pilar tersebut sudah hadir lebih awal.

​Di sisi utara, duduk seorang pria tua berjanggut putih panjang yang terurai hingga ke pinggang. Pakaian jubah penyihirnya dihiasi oleh matriks elemental yang terus bergeser—api, air, angin, petir, dan tanah berputar secara harmonis di sekitar tubuhnya. Dialah Penyihir Agung Alistair, penguasa elemental murni dan manusia terkuat yang pernah dilahirkan.

​Di sisi timur, berdiri sosok bertubuh kekar setinggi dua setengah meter dengan bulu oranye bergaris-garis hitam yang memancarkan aura ketakutan murni. Wajah harimaunya yang tegas dipenuhi bekas luka pertempuran purba, dan kedua lengan berototnya terlipat kaku di depan dada. Dialah Trigger, raja dari ras Furry (manusia binatang), petarung fisik terkuat yang jarang sekali membuang kata-kata.

​Sementara di sisi barat, duduk seorang wanita bertubuh jenjang dengan gaun merah menyala yang tampak seperti kobaran api hidup. Tangannya yang dipenuhi sisik-sisik emas tipis memutar-mutar sebuah cangkir berisi lahar dingin. Tanduk ganda melengkung di kepalanya serta mata bersirat vertikal yang berkilat membahayakan menandakan identitasnya sebagai penguasa ras naga: Mother of Dragons, Solaria.

​Swoosh!

​Lipatan ruang terkuak di sisi selatan meja. Anastasia melangkah keluar dengan keanggunan seorang dewi, gaun diplomasi peraknya berdesir halus di atas lantai kristal.

​Solaria mendongak, matanya menyempit menatap kedatangan Anastasia seraya mendesis pelan, "Kau selalu terlambat, Anastasia. Apakah ras Elf yang membanggakan kerapihan waktu sekarang mengadopsi kebiasaan pemalas?"

​Anya menyunggingkan senyum santai, melangkah menuju kursinya tanpa menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. "Maafkan aku, Solaria. Aku hanya menemukan beberapa 'hal menarik' sebelum datang ke sini. Sebuah mainan kecil yang sangat berpotensi."

​"Cukup dengan mainan konyolmu," dengus Solaria, uap api tipis menguar dari hidungnya. "Kita berada di sini bukan untuk mendengarkan cerita kekanak-kanakan dari seorang wanita tua yang berpura-pura menjadi gadis muda."

​Anya memiringkan kepalanya, mata birunya berkilat membahayakan saat aura ruang-waktu di sekitarnya mendadak memadat. "Apa kau bilang, Naga Merah? Kau mau menguji apakah sisik emasmu itu bisa menahan gesekan distorsi dimensi?"

​"Coba saja kalau kau berani, Elf!" bentak Solaria, berdiri dari kursinya hingga aura api raksasa terproyeksi di belakang punggungnya.

​BOMM!

​Sebelum benturan sihir antara kedua wanita itu meledak, sebuah getaran gravitasi yang sangat berat menghantam meja obsidian. Trigger, yang sejak tadi diam bagaikan patung batu, cukup menghentakkan satu telapak kakinya ke lantai.

​"Duduk," ucap Trigger. Suaranya rendah, serak, dan bergetar bagaikan benturan dua benua. Ia tidak memandang Anya maupun Solaria, matanya yang berwarna kuning keemasan tetap menatap lurus ke tengah meja.

​Solaria menyipitkan mata, namun perlahan menarik kembali aura apinya dan duduk kembali. Anya hanya terkekeh kecil, merapikan gaunnya, lalu menyandarkan punggungnya secara anggun. Jika Trigger sudah mengeluarkan suaranya, bahkan penguasa naga sekalipun tahu kapan harus menahan diri.

​Alistair menghela napas panjang, meraba janggut putihnya. "Sudah, sudah... mari kita mulai rapat ini. Energi kita terlalu berharga untuk dibuang dalam percekcokan konyol. Jadi, apa yang kau temukan di wilayah selatan, Anastasia?"

​Raut wajah Anya berubah menjadi lebih serius, menghilangkan kesan jenaka yang biasa ia tunjukkan. Ia meletakkan sebuah kristal rekam sihir di atas meja.

​"Sebuah sekte gelap," kata Anya, memproyeksikan rekaman energi belerang dan lingkaran sihir panggil yang ia temukan di dalam gua kemarin malam. "Mereka bukan sekadar pemuja biasa. Mereka adalah pengikut faksi iblis dimensi luar yang aktif bergerak di bawah tanah ibu kota. Kemarin malam, mereka berhasil membuka celah ruang dan memanggil seorang Bangsawan Iblis Level 15."

​Alistair memicingkan matanya menatap proyeksi tersebut. "Level 15... celah dimensi semacam itu membutuhkan pengorbanan darah dalam jumlah besar dan koordinasi dari dalam kerajaan."

​"Dan ada hal lain," tambah Anya seraya menyunggingkan senyum penuh arti. "Ada sesosok entitas independen yang bertarung melawan Bangsawan Iblis itu sebelum aku tiba. Seorang manusia pengguna sihir kegelapan dan teknik pernapasan fisik yang sangat langka."

​Solaria tertawa mengejek. "Manusia? Teknik pernapasan fisik? Paling-paling hanya serangga kebetulan yang memiliki sedikit keberuntungan."

​"Serangga yang kau sebut itu mampu menahan serangan Bangsawan Iblis Level 15 dan memproyeksikan Domain Expansion secara sempurna di Level 12," potong Anya dingin, membuat Solaria terdiam seketika.

​Trigger menaikkan pandangannya sedikit. "Domain Expansion... di Level 12?"

​"Ya," kata Anya. "Dunia ini mulai bergerak menuju kekacauan, dan para iblis bukan lagi satu-satunya variabel yang harus kita waspadai."

​Alistair mengangguk pelan, wajah tuanya tampak semakin dalam berkerut. "Kita harus memperketat pengawasan di batas dimensi. Trigger, pantau pergerakan ras binatang di perbatasan selatan. Solaria, awasi gunung berapi utara. Anastasia, tetaplah berada di sekitar ibu kota dan selidiki sekte ini hingga ke akarnya."

​"Dengan senang hati," jawab Anya seraya tersenyum manis, pikirannya seketika melayang kembali pada sosok pemuda berambut hitam yang sedang berada di akademi.

​Akademi Sihir Kerajaan — Waktu Istirahat

​Di area taman belakang akademi yang rindang, Leo dan Reno sedang sibuk melahap roti isi daging mereka di atas bangku kayu. Di samping mereka, Wiliam sedang berdiri merapikan tasnya.

​"Kau mau ke mana, Wil?" tanya Leo dengan mulut penuh roti. "Sebentar lagi jam pelajaran Sihir Terapan milik Profesor Balthazar mulai. Kalau kau bolos lagi, dia bakal menyuruhmu membersihkan laboratorium ramuan seminggu penuh!"

​"Aku ada urusan mendadak," jawab Wiliam datar seraya menyampirkan tasnya ke bahu. "Katakan pada Balthazar aku ketiduran di perpustakaan jika dia menanyakanku."

​Reno menatap teman dekatnya itu dengan curiga. "Urusan? Urusan apa? Sejak kemarin kau aneh sekali, Wil. Ditambah lagi... pipimu itu kenapa merah begitu? Seperti bekas tamparan seseorang."

​Wiliam meraba pipi kanannya yang masih sedikit ngilu. "Nyamuk. Nyamuk ukuran raksasa menamparku tadi pagi."

​Sebelum Leo dan Reno sempat mengajukan pertanyaan lebih lanjut, Wiliam sudah berbalik dan melangkah cepat melintasi pagar belakang akademi, menyusup keluar menuju Distrik Bawah tanah ibu kota.

​Bengkel Pandai Besi — Distrik Bawah

​Distrik Bawah adalah area kumuh yang jarang terjangkau oleh hukum kerajaan. Di ujung lorong yang gelap dan berbau jelaga, berdiri sebuah bengkel tua beratap seng tebal. Dentuman besi dihantam palu bergema ritmis dari dalam ruangan yang dipenuhi hawa panas menyengat.

​Wiliam mendorong pintu kayu tebal bengkel tersebut.

​Di depan landasan besi raksasa, berdiri seorang pria kerdil dengan tubuh yang sangat berotot, janggut merah tebal yang dikepung jelaga, dan dada bertelanjang yang dipenuhi bekas luka bakar. Dialah Jeck, seorang master blacksmith dari ras Dwarf.

​Jeck tidak menghentikan ayunan palunya. BAM! BAM! BAM! Percikan api melayang di udara sebelum akhirnya ia mencelupkan sebilah besi panas ke dalam tong air. Uap putih meledak membumbung tinggi.

​"Kau terlambat dua minggu, Hantu Topeng," kata Jeck tanpa menoleh, suaranya parau dan berat bagaikan gesekan batu karang.

​Wiliam melangkah mendekat, melepas ilusi matanya sehingga warna merah menyalanya terekspos di kegelapan bengkel. "Ada sedikit gangguan di lapangan, Jeck. Topengku hancur semalam."

​Jeck menghentikan kegiatannya, membalikkan badan seraya menyapu keringat di dahinya dengan kain lusuh. Mata kecilnya memindai Wiliam dari atas ke bawah. "Pantas saja auramu berantakan. Kau bertarung dengan sesuatu yang di luar jangkauanmu lagi?"

​"Bangsawan Iblis Level 15," sahut Wiliam singkat seraya bersandar pada meja alat. "Dan pedang hitam yang kau buatkan tahun lalu... pecah menjadi belasan keping."

​Jeck mendengus kasar, melemparkan palunya ke meja hingga berdentang keras. "Sudah kubilang, besi karbin biasa yang dicampur mana kegelapan tidak akan sanggup menahan kepadatan Pernapasan Pedang-mu jika kau memaksakannya bertarung di atas Level 12! Kau membutuhkan wadah baru. Wadah yang sanggup menampung daya rusak yang lebih gila."

​"Makanya aku di sini," kata Wiliam. "Aku butuh topeng baru yang lebih kuat, jubah pelindung yang tahan benturan energi, dan sebilah pedang baru. Aku ingin pedangnya dirancang lebih ramping, panjang, namun memiliki kepadatan massa yang sanggup memotong pelindung mana pasif."

​Jeck memegangi janggut merahnya, memikirkan permintaan Wiliam sejenak. "Untuk membuat peralatan dengan spesifikasi segila itu... aku membutuhkan bahan-bahan yang tidak ada di pasar pasar biasa, Nak."

​"Bahan apa?" tanya Wiliam.

​Jeck mengambil selembar perkamen lusuh dan pena bulu, lalu menuliskan beberapa poin dengan kasar sebelum melemparkannya ke dada Wiliam.

​"Ini yang kubutuhkan," kata Jeck dingin.

​Wiliam menerima kertas itu dan memindai tulisan di dalamnya:

​Sisik Naga Emas / Merah (untuk ketahanan panas jubah)

​Taring Naga (untuk bahan campuran inti pedang)

​Obsidian Purba (untuk struktur dasar topeng)

​Batu Kristal Mana Hitam Pekat (untuk penyerap energi)

​Murni beberapa tetes Darah Elf (sebagai zat pengikat sihir dan pelarut matriks esensi).

​Wiliam membelalakkan matanya menatap daftar tersebut, wajahnya memucat. "Jeck... kau gila?! Sisik Naga? Taring Naga? Darah Elf?! Bisakah kau meminta bahan-bahan yang lebih masuk akal?! Dari mana aku bisa mendapatkan barang-barang tingkat mitologi seperti ini?!"

​Jeck terkekeh kasar, memamerkan giginya yang berwarna keemasan. "Kau minta senjata yang bisa memotong pelindung Bangsawan Iblis, tapi kau mau bahan kelas pasar kaget? Itu pun kalau kau mau kualitasnya bagus, Hantu Topeng! Jika kau memberiku bahan sampah, aku hanya bisa membuatkanmu mainan yang bakal patah lagi di pertarungan berikutnya!"

​Wiliam mengepalkan tangannya kencang, menatap daftar itu dengan napas terengah. Sisik dan taring naga... Kristal mana hitam... Darah Elf...

​"Baiklah," kata Wiliam akhirnya dengan nada pasrah dan tegang. "Aku akan menyetujuinya. Aku akan mencari bahan-bahan ini secepatnya."

​"Bagus," puji Jeck seraya kembali mengangkat palunya. "Bawa bahan-bahannya ke sini, dan aku akan menemparmu peralatan terkuat yang pernah ada di benua ini."

​Kediaman Utama Pendragon — Ruang Penyimpanan Harta

​Sore harinya, Wiliam menyelinap kembali ke mansion keluarganya. Suasana mansion tampak sepi karena sebagian besar pengawal dan keluarganya sedang sibuk dengan agenda diplomatik bersama pihak kerajaan.

​Memanfaatkan keahlian menyusupnya, Wiliam merayap menembus lorong-lorong bawah tanah mansion, menuju ke Ruang Penyimpanan Harta Keluarga Pendragon. Pintu besi berlapis formasi sihir pengunci berhasil ia retas menggunakan jepitan mana kegelapan tipis tanpa memicu alarm.

​Swoosh...

​Pintu raksasa bergeser perlahan. Wiliam melangkah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh peti-peti emas, pajangan zirah antik, dan batu-batu permata bernilai jutaan koin emas. Namun, Wiliam tidak tertarik pada emas atau perhiasan biasa. Ia mencari bahan-bahan langka yang mungkin pernah dikumpulkan oleh leluhurnya.

​Saat ia melangkah melewati deretan rak batu tua di pojok ruangan, insting Pernapasan Pedang Kegelapan-nya mendadak bergetar hebat. Sebuah tarikan energi yang sangat asing dan pekat memanggilnya dari sudut bawah rak yang berdebu.

​Wiliam mendekati sudut tersebut, menyingkirkan beberapa tumpukan kain tua.

​Di sana, tergeletak sebuah bongkahan bijih logam sebesar kepala manusia. Logam itu berwarna hitam yang sangat pekat—begitu pekat hingga tidak memantulkan sinar lampu minyak di dinding, melainkan seolah-olah menyerap cahaya di sekitarnya ke dalam kegelapan abadi.

​"Apa ini...?" gumam Wiliam heran.

​Ia mencoba menyalurkan mana kegelapan ke jemarinya dan memukul bongkahan itu dengan tenaga penuh.

​Klang!

​Tidak ada goresan sedikit pun. Bahkan mana kegelapan Wiliam justru terserap masuk ke dalam bongkahan logam tersebut tanpa bekas.

​Wiliam memicingkan mata. Ia melepaskan seluruh penguat mana di tubuhnya, berniat mengangkat bongkahan besi hitam itu murni dengan kekuatan otot fisiknya.

​Ia menggenggam bongkahan tersebut dan menariknya ke atas.

​"Ugh?!" Wiliam terperanjat.

​Otot kakinya menegang, dan lantai batu di bawah pijakannya mendadak retak tipis! Logam sebesar kepala manusia itu memiliki bobot yang sangat tidak masuk akal—terasa seberat beberapa ton batu gunung!

​Ini... ini bukan besi biasa! batin Wiliam berdecak kagum, matanya berkilat gembira. Ini adalah Logam Kehampaan Purba! Bahan yang bahkan lebih langka dari obsidian! Jika aku memberikan ini pada Jeck, struktur dasar pedang dan topengku akan jauh lebih gila!

​Wiliam memompa mana fisiknya untuk memasukkan bongkahan berat itu ke dalam kantong penyimpanan ruang miliknya. Ia sempat mencari-cari barang bernilai tinggi lainnya di dalam ruangan itu, namun tidak menemukan bahan mitologi lain yang cocok dengan daftar Jeck.

​Kamar Tidur Wiliam

​Setelah berhasil menyelinap keluar dari ruang penyimpanan harta, Wiliam merayap naik ke kamarnya melalui jendela lantai dua. Ia mendarat di atas karpet dengan sangat tenang.

​Namun, saat ia mendongak dan merapikan pakaiannya...

​Di sana, duduk santai di atas tempat tidurnya seraya membaca buku sihir milik Wiliam, adalah Anya. Gaun putih ringkasnya terurai indah, dan rambut peraknya berkilau disiram cahaya sore.

​Wiliam membeku di dekat jendela.

​Melihat sosok sang Wanita Suci Bangsa Elf yang duduk begitu dekat dengannya, ingatan Wiliam seketika melayang kembali pada poin kelima di perkamen tulisan tangan Jeck:

​5. Murni beberapa tetes Darah Elf.

​Raut wajah Wiliam yang biasanya datar mendadak berubah. Sebuah ide gila merayap di otaknya. Ulas senyuman licik, misterius, dan agak 'jahat' perlahan terukir di bibirnya seraya ia menatap Anya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

​Anya yang menyadari kehadiran Wiliam mendongak dari bukunya. Melihat perubahan ekspresi wajah Wiliam yang menatapnya dengan senyuman seram dan pendar mata merah yang aneh, Anya seketika tersentak.

​Anya melompat mundur ke sudut tempat tidur, menyilangkan kedua lengan mulusnya di depan dada untuk menutupi tubuhnya seraya menatap Wiliam dengan pandangan penuh kewaspadaan konyol.

​"K-Kau... kenapa kau tersenyum-senyum seperti orang mesum begitu?!" jerit Anya dengan nada panik yang menggemaskan. "Wiliam! Kau masih belum kapok ya ditampar ibumu tadi pagi?!"

​Wiliam terkekeh pelan, melangkah mendekati tempat tidur dengan gerakan pelan yang disengaja untuk menakut-nakutinya. "Ini bukan senyuman mesum, Anya..."

​"Jangan mendekat!" gertak Anya, memanggil pendar cahaya kosmik kecil di jarinya. "Aku ini Wanita Suci! Kalau kau mencoba melakukan hal aneh-aneh lagi, aku akan—"

​Wiliam membungkukkan tubuhnya, memotong jarak di antara mereka dalam sekedip mata, lalu mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga lembut berujung runcing milik Anya.

​"Anya..." bisik Wiliam dengan suara rendah dan dalam. "...bolehkah aku meminta beberapa tetes darahmu?"

​Keheningan melingkupi ruangan itu selama setengah detik.

​Anya membelalakkan mata birunya, memproses ucapan yang sangat menakutkan itu di dalam kepalanya.

​"KYAAAAA! KAU BENAR-BENAR GILA DAN MENAKUTKAN, WILIAM!" jerit Anya histeris.

​PLAAAKKK!

​Sebuah refleks tangan kosong bertenaga sihir kosmik dari sang Wanita Suci melayang kilat, mendarat telak di pipi kiri Wiliam!

​"Aww!" Wiliam terlempar dan jatuh terduduk di atas lantai karpet, memegangi pipi kirinya yang kini ikut membengkak merah—melengkapi cetakan tamparan ibunya di pipi kanan.

​"Anya! Dengarkan aku dulu!" ringis Wiliam seraya menatap wanita Elf itu dengan kesal. "Ini bukan seperti yang kau pikirkan! Aku tidak sedang mencoba melakukan sihir voodoo atau bertindak mesum!"

​Anya masih berada di sudut kasur, memegang dadanya yang berdetak kencang seraya menunjuk Wiliam dengan telunjuknya yang gemetaran. "Kau... kau membisikkan kata-kata horor seperti itu dengan wajah seram! Siapa pun pasti berpikiran kau mau menumbalkanku!"

​Wiliam menghela napas panjang, meraba kedua pipinya yang kini terasa simetris panasnya. "Aku membutuhkan beberapa tetes darahmu untuk bahan pembuatan senjata baruku, Bodoh!"

​Anya mengerjap, rasa paniknya perlahan menghilang berganti dengan rasa ingin tahu yang besar. "Senjata baru? Bahan pengikat sihir?"

​"Ya," desah Wiliam pasrah seraya bangkit berdiri. "Tukang besi milikku membutuhkan zat pelarut esensi tinggi agar bisa memadukan Logam Kehampaan Purba dengan sihir kegelapanku. Dan darah dari seorang Elf murni—terutama dari level pilar sepertimu—adalah bahan terbaik di dunia."

​Anya menatap Wiliam sejenak, lalu mendengus pelan seraya melipat tangannya kembali di depan dada. "Ooh... jadi begitu. Tapi kenapa kau tidak mengatakannya baik-baik dari awal, dasar Hantu Topeng Mesum?"

​"Siapa yang mesum?!" protes Wiliam dengan wajah memerah tahan malu. "Kau sendiri yang berpikiran aneh-aneh!"

​Anya terkekeh gembira, melompat turun dari tempat tidur dan menghampiri Wiliam. Ia menatap kedua pipi Wiliam yang kini sama-sama memerah bekas tamparan.

​"Pfft... maaf ya," kata Anya seraya menyentuh lembut pipi kiri Wiliam dengan ujung jari lentiknya. Pendar sihir penyembuh berwarna emas menyusup hangat, seketika meredakan rasa sakit dan memar di wajah Wiliam. "Habisnya gaya bicaramu tadi seram sekali."

​Wiliam merasakan kehangatan sihir Anya yang menyembuhkan pipinya, membuat ketegangannya perlahan luntur. "Jadi... kau mau memberikanku beberapa tetes darahmu?"

​Anya menyunggingkan senyum manis yang sangat anggun. "Tentu saja boleh. Tapi ingat... tidak ada yang gratis di dunia ini, Wiliam Pendragon."

​Wiliam memicingkan matanya. "Syarat apa lagi yang kau mau?"

​Anya memajukan wajahnya, menatap lurus ke dalam mata merah Wiliam dengan pendar gembira. "Malam ini, kau harus membawaku jalan-jalan ke festival pasar malam Distrik Bawah secara rahasia! Dan kau harus mengajariku sesi kedua Pernapasan Pedang Kosmik milikku!"

​Wiliam menatap wanita Elf berusia ribuan tahun di depannya ini dengan menggelengkan kepala pelan. Namun di balik kecerdasannya yang mengerikan, ada rasa ketertarikan dan kehangatan samar yang mulai tumbuh di hati sang pengeksekusi malam itu.

​"Baiklah," kata Wiliam pelan. "Janji."

1
Ed Troivan
lnjt👍
Ed Troivan
👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!