CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lin Yicheng — Pria yang Hidup Hanya untuk Kerja
Bagi seluruh kota, nama Lin Yicheng bukan sekadar nama — itu adalah simbol kekuasaan, kesuksesan, dan ketegasan yang tak tergoyahkan. Di usia dua puluh sembilan tahun, ia memimpin Grup Lin, kerajaan bisnis yang dibangun kakeknya dan dikembangkan ayahnya, kini berada di puncak kejayaan di bawah kendalinya. Orang-orang melihatnya sebagai sosok yang tak tersentuh: kaya, berkuasa, cerdas, tampan — dan sangat dingin. Tidak ada yang berani melawan kata-katanya, tidak ada yang berani menatap matanya terlalu lama, karena di balik tatapan tajam itu, terasakan kekuatan yang menekan siapa pun yang berhadapan dengannya. Bahkan para pejabat tinggi kota, pengusaha besar, bahkan kerabat dekatnya sendiri — semua memperlakukannya dengan rasa hormat bercampur segan, seakan ia bukan manusia biasa, melainkan patung marmer yang dingin dan tak bisa digoyahkan.
Tapi tidak ada yang tahu — bahwa pria yang memiliki segalanya ini, sebenarnya tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Bahwa setiap menit dalam hidupnya sudah dijadwalkan, diatur, dan ditentukan oleh orang lain — oleh ayahnya, oleh tanggung jawabnya, oleh beban menjadi pewaris kerajaan bisnis yang tak pernah ia pilih untuk dimiliki.
Pagi itu, jam menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit saat Yicheng sudah berada di kantor. Ia tidak pernah terlambat, tidak pernah datang terlambat, tidak pernah membiarkan satu menit pun terbuang sia-sia. Baginya, waktu adalah uang, waktu adalah kekuasaan, waktu adalah segalanya — kecuali untuk hal-hal yang berhubungan dengan perasaan, dengan kelembutan, dengan kehidupan di luar tembok kantornya. Ia bangun setiap pagi tepat pukul lima, berolahraga ringan selama tiga puluh menit, mandi, berpakaian rapi tanpa satu pun kerutan di jasnya, membaca berita ekonomi selama dua puluh menit, lalu berangkat ke kantor — selalu pada jam yang sama, selalu dengan rute yang sama, selalu dengan ekspresi wajah yang sama: tenang, tegas, tak terbaca.
Ia duduk di belakang meja kerjanya yang luas, terbuat dari kayu mahoni berwarna gelap yang diimpor khusus dari luar negeri, permukaannya mengkilap tanpa satu pun benda yang tidak pada tempatnya. Semuanya teratur, semuanya terukur, semuanya di bawah kendali — persis seperti hidupnya. Di sampingnya, tumpukan dokumen sudah menunggu setinggi sepuluh sentimeter: laporan keuangan bulanan dari dua puluh cabang perusahaan, rencana ekspansi pasar ke kota-kota baru, kontrak kerja sama dengan mitra asing, rancangan proyek perumahan bernilai ratusan miliar, dan laporan audit internal yang harus ditandatangani sebelum jam sembilan pagi. Hal-hal ini mengisi setiap detik hidupnya, dari mata terbuka hingga terpejam kembali, seolah tidak ada ruang tersisa untuk hal lain — bahkan untuk bernapas dengan tenang.
Pintu kantor diketuk pelan — ketukan tiga kali, ritme yang selalu sama, tepat dan sopan — dan sekretaris pribadinya, Zhang Li, masuk dengan berkas-berkas di tangan. Langkahnya terukur, wajahnya tenang tanpa ekspresi berlebih — ia sudah bekerja bersama Yicheng selama tiga tahun, dan ia tahu betul aturan di sini: jangan bertanya yang tidak perlu, jangan terlambat, jangan berbicara lebih dari yang diminta, jangan menunjukkan emosi, dan jangan pernah membuat kesalahan sekecil apa pun. Ia melihat banyak orang datang dan pergi — asisten, manajer, konsultan — tapi tidak ada yang bisa bertahan lama bekerja di samping Tuan Lin. Standarnya terlalu tinggi, tuntutannya terlalu berat, dan kesabarannya terlalu tipis. Tapi Zhang Li bertahan — karena ia belajar satu hal: Tuan Lin bukan orang jahat, ia hanya orang yang lelah. Sangat lelah.
"Tuan Lin, jadwal hari ini sudah disiapkan," ucap Zhang Li pelan, suaranya datar namun jelas, meletakkan selembar kertas di sudut meja — tepat di garis yang sudah ditandai, agar tidak mengganggu ruang kerja Yicheng. "Pukul tujuh rapat dengan tim keuangan mengenai laporan kuartal ketiga. Pukul sembilan pertemuan dengan investor asing dari Eropa — mereka sudah tiba kemarin malam dan menunggu konfirmasi. Pukul sebelas Anda akan meninjau langsung lokasi proyek perumahan baru di Distrik Selatan — pengawas proyek sudah menunggu di sana. Siang makan bersama direktur utama bank mitra — ia meminta pertemuan tatap muka secara pribadi. Sore rapat pengembangan teknologi bersama tim riset — mereka melaporkan kendala pada sistem baru. Dan malam acara amal yang sudah dikonfirmasi sejak sebulan lalu — penyelenggara mengonfirmasi kehadiran Anda sekali lagi tadi pagi."
Yicheng melirik jadwal itu sekilas, matanya bergerak cepat membaca setiap baris, lalu mengangguk pelan tanpa mengangkat kepala dari dokumen yang sedang dibacanya. "Batalkan acara amal malam ini — kirimkan sumbangan atas nama saya, tapi saya tidak bisa hadir. Pindahkan rapat pengembangan teknologi ke jam sepuluh pagi besok — beri tahu tim mereka untuk menyiapkan data yang lebih lengkap. Dan siang nanti, tolong siapkan makan siang di sini — roti gandum panggang, telur rebus, dan jus jeruk segar tanpa gula. Saya tidak punya waktu untuk makan di luar."
"Baik, Tuan Lin," jawab Zhang Li, mencatat perubahan itu dengan cepat di buku catatannya, meskipun di dalam hatinya ia sedikit menghela napas. Ia sudah terbiasa — jadwal Yicheng selalu padat, selalu berubah, dan selalu tidak menyisakan waktu untuk istirahat. Kadang ia bertanya-tanya — kapan pria ini beristirahat? Kapan ia menikmati hasil dari semua kerja kerasnya? Ia memiliki kekayaan yang cukup untuk hidup santai selama sepuluh generasi, tapi ia bekerja lebih keras daripada karyawan termurah di perusahaannya. Tapi Zhang Li tidak pernah berani bertanya. Itu bukan urusannya. Ia hanya sekretaris. Tugasnya melaksanakan perintah, bukan bertanya alasan.
"Ada lagi?" tanya Yicheng, menyadari Zhang Li belum pergi.
"Eh, ya… satu hal lagi, Tuan Lin," Zhang Li sedikit ragu, memilih kata dengan hati-hati. "Tentang… anak kecil yang saya sebutkan kemarin. Dia datang lagi hari ini. Berdiri di seberang gedung, di bawah pohon besar itu. Sama seperti kemarin. Keamanan melaporkan dia sudah ada di sana sejak pukul enam pagi. Mereka bertanya apakah harus mengajaknya masuk atau memintanya pergi."
Pena di tangan Yicheng berhenti bergerak. Ia mengangkat wajah perlahan, menatap Zhang Li, matanya yang biasanya tajam dan tegas kini terlihat sedikit lembut, seakan ada sesuatu yang tergerak di dalam dirinya. "Dia sendirian?"
"Ya, Tuan. Sendirian. Tidak ada orang dewasa yang menemaninya. Dia hanya berdiri di sana, menatap ke atas ke arah lantai ini. Tidak mengganggu siapa pun, tidak meminta-minta, hanya… berdiri dan melihat."
Yicheng terdiam sejenak, pikirannya kembali melayang ke sosok kecil yang dilihatnya kemarin — mata besar yang berbinar tajam, seakan bisa melihat lurus ke dalam dirinya, seakan tahu persis di mana ia berada. Ia tidak tahu mengapa, tapi gambaran anak itu terus muncul di kepalanya, berulang kali, seakan takdir sengaja menempatkannya di sana untuk alasan tertentu.
"Biarkan dia," jawab Yicheng akhirnya, suaranya tenang namun tegas. "Beritahu keamanan — jangan mengusirnya, jangan mengganggunya. Pastikan dia aman, tapi jangan menghampirinya kecuali dia membutuhkan bantuan. Kalau dia ingin berdiri di sana dan melihat gedung ini… biarkan dia melihat."
Zhang Li tertegun sedikit, matanya sedikit melebar karena terkejut. Selama tiga tahun bekerja di sini, ia belum pernah melihat Tuan Lin bersikap seperti ini — membiarkan orang asing, apalagi anak kecil, berada di dekat gedung tanpa pengawasan ketat, tanpa pertanyaan, tanpa alasan yang jelas. Biasanya ia akan langsung memerintahkan untuk mengusir siapa pun yang mencurigakan. Tapi hari ini, suaranya lembut, matanya menatap ke arah jendela seakan ia sedang melihat anak itu melalui dinding kaca tebal ini.
"Baik, Tuan Lin. Saya sampaikan keamanan," jawab Zhang Li, lalu mundur perlahan dan menutup pintu kantor, meninggalkan Yicheng sendirian kembali di ruangan yang luas dan sunyi itu.
Yicheng meletakkan pena di atas meja, berdiri, dan berjalan perlahan menuju jendela besar di hadapannya. Dari ketinggian empat puluh lantai, dunia di bawah sana tampak begitu kecil — mobil-mobil seperti semut yang bergerak pelan, gedung-gedung lain tampak seperti mainan, orang-orang seperti titik-titik yang tak berarti. Ia bisa melihat segalanya dari sini — jalan, taman, toko, sungai yang membelah kota — tapi ada satu hal yang tidak bisa ia lihat: sosok anak kecil yang berdiri di seberang jalan, di bawah pohon rindang itu. Jaraknya terlalu jauh, ketinggiannya terlalu tinggi, tapi ia tahu anak itu ada di sana. Ia merasakannya.
Ia berdiri diam di sana cukup lama, menatap ke bawah, pikirannya melayang ke tempat yang ia coba hindari selama lima tahun terakhir. Kalau Su Wan tidak pergi… kalau mereka tetap bersama… apakah mereka akan memiliki anak seusia itu? Apakah anak itu akan memiliki mata yang sama dengannya, senyum yang sama dengan Su Wan? Apakah ia akan berdiri di sana, menatap ayahnya dari kejauhan, menunggunya menyadari keberadaannya?
Hati Yicheng terasa sesak. Ia tidak tahu bahwa bayangan yang ia bayangkan itu bukan sekadar khayalan — itu kenyataan. Bahwa di seberang gedung itu, anak laki-lakinya benar-benar berdiri, menunggunya, mencarinya, dan bertekad menyatukan keluarga yang terpisah.
Jam menunjukkan pukul dua belas siang. Yicheng belum makan siang. Ia duduk kembali di meja kerjanya, memeriksa laporan keuangan yang tebalnya dua ratus halaman, sementara di meja samping, makan siang yang dipesan Zhang Li sudah dingin — roti gandum yang belum tersentuh, telur rebus yang sudah mengeras, jus jeruk yang sudah kehilangan kesegarannya. Ia lupa makan. Sering seperti ini — saat ia terfokus pada pekerjaan, hal lain seakan tidak ada. Rasa lapar, rasa lelah, rasa kantuk — semuanya hilang, seakan tubuhnya berhenti merasakan kebutuhan dasar karena pikirannya terlalu sibuk mengurus ribuan hal sekaligus.
Pintu kantor terbuka lagi, dan kali ini bukan Zhang Li yang masuk — melainkan ayahnya, Lin Zhenhua, pria berusia enam puluh tahun yang masih berdiri tegak seperti pohon tua yang tak tergoyahkan, wajahnya penuh kerutan yang menunjukkan pengalaman, kekuasaan, dan ketegasan yang tak pernah luntur. Ia berjalan masuk tanpa mengetuk — ia tidak pernah mengetuk pintu anaknya, karena baginya, seluruh gedung ini adalah miliknya, dan ia bisa masuk ke mana pun ia mau, kapan pun ia mau. Ia duduk di kursi di seberang meja Yicheng, meletakkan tangannya di atas meja, menatap putranya dengan tatapan yang sulit dibaca — bangga, tapi juga penuh tuntutan, penuh harapan yang berat, penuh tekanan yang tak pernah berhenti.
"Kamu belum makan?" tanya Lin Zhenhua, melirik makanan yang belum tersentuh itu dengan kerutan di dahi.
"Belum. Sedang sibuk," jawab Yicheng singkat, matanya tetap pada layar komputer, jari-jarinya terus mengetik tanpa berhenti.
"Kamu selalu sibuk," kata ayahnya, suaranya datar namun berat, seakan setiap kata memiliki beban sendiri. "Itu bagus. Seorang pemimpin tidak boleh lemah, tidak boleh santai. Tapi kamu juga tidak boleh melupakan tanggung jawab lain. Usiamu sudah dua puluh sembilan tahun, Yicheng. Di usia itu, kakekmu sudah memiliki tiga anak dan membangun gedung pertama perusahaan ini. Ayahmu sudah menikah dan siap mewarisi bisnis keluarga. Kamu? Kamu memiliki segalanya — kekayaan, kekuasaan, posisi — tapi kamu tidak memiliki penerus. Tidak memiliki keluarga. Dan itu adalah kegagalan terbesarmu."
Yicheng berhenti mengetik. Perlahan ia menurunkan tangannya, mengangkat wajah, dan menatap ayahnya. Topik ini selalu sama, selalu muncul berulang kali setiap kali mereka bertemu, dan selalu berakhir dengan perdebatan yang tidak pernah selesai. Setiap kali, ayahnya menuntut hal yang sama — menikah, memiliki anak, melanjutkan garis keturunan, menyatukan kekuatan bisnis melalui pernikahan yang menguntungkan. Dan setiap kali, Yicheng menolak — bukan karena ia tidak ingin menikah, tapi karena satu-satunya wanita yang ingin ia nikahi, sudah pergi.
"Ayah, aku sudah bilang berkali-kali — aku tidak akan menikah hanya karena kewajiban," jawab Yicheng tenang, tapi tegas, suaranya tidak meninggi namun penuh ketegasan. "Pernikahan bukan urusan bisnis. Bukan kontrak kerja sama. Aku tidak akan menikah dengan wanita yang tidak aku cintai, hanya untuk melanjutkan nama keluarga atau memperluas kekuasaan perusahaan."
"Pernikahan adalah urusan keluarga, dan keluarga adalah fondasi bisnis ini," balas Lin Zhenhua, suaranya sedikit meninggi, matanya menatap tajam ke arah putranya. "Kamu pikir kakekmu menikah dengan nenekmu karena cinta? Ayah menikah dengan ibumu karena cinta? Tidak! Kami menikah karena itu yang terbaik untuk keluarga, untuk masa depan, untuk stabilitas bisnis! Cinta bisa tumbuh kemudian. Tapi fondasi yang kuat tidak bisa dibangun hanya dengan perasaan! Ada banyak wanita dari keluarga terhormat yang siap menjadi istrimu — putri pengusaha sukses, keluarga pejabat, garis keturunan mapan. Wanita yang pantas, yang bisa menduduki posisi nyonya keluarga Lin, yang bisa membantumu memperluas pengaruhmu. Bukan… wanita yang tidak punya latar belakang, tidak punya koneksi, tidak punya apa-apa — yang hanya akan menjadi beban dan merusak nama baik keluarga!"
Kata-kata itu — "wanita yang tidak punya latar belakang" — langsung menghantam hati Yicheng lebih tajam daripada pukulan tinju. Ia tahu ayahnya merujuk pada Su Wan. Selama hubungan mereka lima tahun lalu, ayahnya selalu menentang, selalu meremehkan, selalu mengatakan Su Wan tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Lin. Ia selalu mengatakan Su Wan hanya menginginkan kekayaan dan status, bahwa ia tidak tulus, bahwa ia akan meninggalkan Yicheng saat ia menyadari tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan mungkin… mungkin ayahnya benar. Mungkin itulah alasan Su Wan pergi. Mungkin ia lelah, mungkin ia tidak kuat menghadapi tekanan, mungkin ia menyadari bahwa dunia tempat Yicheng berada terlalu berat untuknya.
Hati Yicheng terasa perih, berdenyut sakit di dalam dada. Ia ingin membela Su Wan, ingin berteriak bahwa wanita itu lebih berharga daripada semua wanita kaya yang ayahnya sebutkan, bahwa kebaikan hatinya, kelembutannya, ketulusannya — semuanya jauh lebih berharga daripada semua harta yang dimiliki keluarga ini. Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan, berat, sulit diucapkan. Karena ayahnya tidak akan mengerti. Karena di mata ayahnya, nilai seseorang diukur dari kekayaan, status, dan koneksi — bukan dari kebaikan hati, bukan dari ketulusan, bukan dari cinta.
"Ayah," ucap Yicheng pelan, suaranya sedikit bergetar namun ia berusaha tetap tenang, "Su Wan bukan beban. Dia adalah… satu-satunya orang yang pernah melihat aku bukan sebagai pewaris Grup Lin, bukan sebagai CEO, tapi hanya sebagai Yicheng. Hanya Yicheng. Dan itu lebih berharga bagiku daripada semua kerja sama bisnis yang bisa dibawa oleh wanita mana pun."
Lin Zhenhua tertawa sinis, gelak tawa yang penuh ketidakpercayaan dan penolakan. "Melihatmu sebagai Yicheng? Dan apa gunanya itu? Apakah itu bisa menjaga perusahaan tetap berdiri? Apakah itu bisa memberi makan ribuan karyawan? Apakah itu bisa melindungi masa depan keluarga ini? Jangan menjadi naif, Yicheng. Dia pergi, bukan? Dia pergi tanpa pesan, tanpa kabar, tanpa jejak. Apakah itu tanda wanita yang tulus? Apakah itu tanda wanita yang ingin bersamamu? Dia tahu dia tidak pantas untukmu, dan dia pergi. Dia tahu tempatnya bukan di sini."
Yicheng terdiam. Kata-kata ayahnya menyakitkan karena sebagian besar benar — Su Wan memang pergi, memang tidak meninggalkan pesan, memang menghilang tanpa jejak. Selama lima tahun, ia mencari ke mana-mana, bertanya ke semua kenalan, menyewa penyelidik swasta — tapi tidak ada jejak, tidak ada kabar, tidak ada petunjuk. Seakan bumi terbelah dan menelannya. Kadang ia bertanya-tanya — apakah ayahnya benar? Apakah Su Wan memang tidak pernah benar-benar mencintainya? Apakah semua kebahagiaan yang mereka miliki dulu hanyalah kebohongan?
"Pikirkan baik-baik, Yicheng," lanjut Lin Zhenhua, berdiri dari kursinya, menatap putranya dengan tatapan yang campur antara kekecewaan dan harapan yang belum hilang. "Jangan biarkan bayangan wanita yang sudah pergi menghancurkan masa depanmu. Kamu memiliki tanggung jawab besar di pundakmu — untuk perusahaan, untuk keluarga, untuk ribuan orang yang bergantung padamu. Jangan buang waktumu untuk hal yang tidak akan pernah kembali. Dan jangan lupa — keluarga Lin butuh penerus. Dan itu bukan permintaan. Itu perintah."
Lin Zhenhua berjalan menuju pintu, langkahnya berat dan berwibawa, lalu berhenti sejenak di ambang pintu, menoleh ke belakang sekali lagi. "Acara makan malam dengan keluarga Chen minggu depan — kamu harus hadir. Putri mereka baru pulang dari luar negeri, cerdas, berpendidikan, berasal dari keluarga yang setara dengan kita. Kesempatan yang baik. Jangan membuat alasan."
Pintu tertutup. Bunyi "klik" yang halus namun tegas, seakan menutup juga pintu pada kebebasan Yicheng.
Yicheng duduk sendirian di kursi kerjanya, merasakan beban kata-kata ayahnya yang menekan dadanya, berat, sulit bernapas. Dia tidak akan kembali. Tempatnya bukan di sini. Apakah ayah benar? Apakah Su Wan benar-benar tidak akan pernah kembali? Apakah ia harus berhenti menunggu, berhenti berharap, dan menjalani hidup sesuai dengan keinginan ayahnya?
Ia meraih dompetnya dari laci meja, membukanya dengan tangan yang sedikit gemetar, dan di kantong terdalam, foto kecil itu masih ada — foto Su Wan, tersimpan rapi, tidak pernah pindah, tidak pernah hilang, wajahnya tersenyum cerah seakan menertawakan keraguannya. Ia menyentuh wajah wanita itu di atas kertas, jari-jarinya yang biasanya kuat dan tegas kini bergerak lembut, penuh kerinduan yang tak terucap.
"Katakan padaku, Su Wan… katakan padaku kalau kamu masih memikirkanku," bisiknya pelan, suaranya pecah di keheningan ruangan. "Katakan padaku kalau kamu pergi karena terpaksa, bukan karena kamu tidak mencintaiku. Katakan padaku bahwa aku bukan satu-satunya yang terjebak di masa lalu ini."
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan ruangan yang luas, hanya pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela — pria yang tampan, berkuasa, dicemburui semua orang, tapi hatinya kosong, sepi, dan penuh luka yang tak kunjung sembuh.
Ia menutup dompet itu, meletakkannya kembali ke laci, menguncinya rapat-rapat — seakan mengunci juga perasaannya, agar tidak meluap dan menghancurkan segalanya. Ia tidak punya waktu untuk merasa sedih. Ia tidak punya waktu untuk meratapi masa lalu. Ia harus bekerja. Ia harus memimpin. Ia harus menjadi kuat — karena itu satu-satunya hal yang diharapkan semua orang darinya. Karena itulah satu-satunya hal yang membuatnya merasa berharga — meskipun hanya untuk sesaat.
Sore itu, matahari mulai turun ke arah barat, menyinari kota dengan cahaya jingga keemasan yang hangat, tapi di kantor Yicheng, suasananya tetap dingin dan serius. Jam menunjukkan pukul lima sore — jam pulang kerja bagi kebanyakan orang — tapi lampu di kantornya masih menyala terang, dokumen di mejanya masih setengah selesai, jadwalnya masih penuh hingga larut malam. Zhang Li mengetuk pintu beberapa kali untuk mengingatkan waktu makan malam, tapi Yicheng hanya menggeleng, memintanya melanjutkan pekerjaan, memintanya menunda semua hal yang tidak mendesak. Ia tidak ingin pulang. Karena pulang berarti kembali ke rumah besar yang sunyi — rumah yang penuh barang mewah, tapi tidak ada kehidupan, tidak ada suara tawa, tidak ada siapa pun yang menunggunya. Lebih baik tinggal di kantor, dikelilingi pekerjaan, dikelilingi orang — setidaknya ia tidak sendirian. Setidaknya ia merasa berguna.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Gedung kantor sudah sepi — sebagian besar karyawan sudah pulang, lampu di lantai-lantai bawah sudah mulai padam, hanya tersisa penjaga keamanan dan petugas kebersihan. Tapi di lantai empat puluh, cahaya lampu kantor masih menyala terang, menembus kegelapan malam, seperti bintang yang tak pernah berhenti bersinar — meskipun sendirian di langit yang gelap.
Yicheng berdiri di depan jendela, menatap ke bawah, ke arah jalanan kota yang mulai sepi, lampu-lampu kendaraan yang bergerak pelan seperti sungai cahaya. Pikirannya kembali melayang ke anak kecil yang berdiri di seberang gedung tadi pagi. Ia sudah pergi sekarang, tentu saja. Hari sudah gelap, anak seusia itu seharusnya sudah di rumah, bersama orang tuanya, makan malam, bersiap tidur. Tapi Yicheng tetap berdiri di sana, menatap ke bawah, seakan berharap melihat sosok kecil itu muncul lagi di bawah pohon besar itu, menatap ke atas, melambaikan tangan, tersenyum.
Ia tidak tahu bahwa di rumah kecil di pinggir kota, seorang anak laki-laki sedang duduk di meja belajarnya, menyelesaikan tugas sekolah dengan cepat dan rapi — matematika, sains, bahasa — semua selesai dalam waktu singkat, dengan nilai sempurna. Setelah selesai, ia membuka laci meja, mengeluarkan foto ayahnya dari saku jaket, meletakkannya di samping buku, dan tersenyum kecil sebelum mengambil selembar kertas dan pensil. Ia mulai menulis — menulis surat yang belum siap dikirim, surat untuk ayahnya, yang ia harap akan segera membacanya.
"Ayah, hari ini aku melihatmu. Aku tahu kamu melihatku juga. Aku berdiri di seberang gedung, menatap ke atas, dan aku merasa kamu melihat ke bawah. Aku merasa kamu tahu aku ada di sana. Ayah, aku pintar matematika, sama seperti Ibu bilang kamu pintar. Aku juga suka membaca buku, sama seperti kamu. Aku harap kamu tidak terlalu lelah bekerja. Aku harap kamu punya waktu untuk beristirahat. Ayah, aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin kita makan bersama, berjalan bersama, bermain bersama. Aku ingin kamu tahu — aku ada di sini. Aku menunggumu. Anakmu, Xiaoqi."
Xiaoqi melipat surat itu dengan hati-hati, menyimpannya di dalam amplop kecil, dan menuliskan di atasnya: Untuk Ayah — Di Gedung Tertinggi, Lantai Paling Atas. Ia menyimpannya di laci rahasia mejanya, bersama gambar keluarga yang ia buat, bersama foto ayahnya. Ia tahu belum waktunya mengirimnya. Tapi waktunya akan datang. Cepat atau lambat.
Xiaoqi tidak tahu bahwa ayahnya bekerja sampai larut malam, tidak tahu bahwa ayahnya tidak punya waktu untuk dirinya sendiri, tidak tahu bahwa ayahnya hidup di bawah tekanan yang berat. Tapi ia tahu satu hal — ayahnya bekerja keras, ayahnya kuat, dan suatu hari nanti, ia akan menunjukkan pada ayahnya bahwa bekerja keras itu baik, tapi memiliki keluarga jauh lebih berharga. Bahwa harta dan kekuasaan bisa hilang, tapi kasih sayang keluarga akan tetap ada selamanya. Bahwa warisan terbesar bukanlah gedung tinggi atau uang di bank, tapi hati yang saling terhubung, cinta yang tidak terpisahkan oleh jarak atau waktu.
Malam semakin larut. Di kantor Grup Lin, Yicheng akhirnya menutup komputernya. Ia meraih tas kerjanya, mematikan lampu ruangan yang luas itu, dan berjalan keluar menuju lift. Langkahnya berat, bahunya terasa tegang, matanya terlihat lelah — kelelahan yang bukan hanya karena bekerja seharian, tapi karena beban yang dipikulnya selama lima tahun, sendirian, tanpa ada tempat untuk bersandar.
Lift turun perlahan, membawanya dari lantai empat puluh ke lobi bawah. Saat pintu lift terbuka, udara malam yang sejuk menyambutnya, berhembus lembut di wajahnya, membuatnya sedikit terjaga. Ia berjalan keluar dari gedung, berdiri di depan pintu utama, dan menatap langit malam yang gelap, dihiasi bintang-bintang yang terlihat samar di antara cahaya kota yang terang. Mobil pribadinya sudah menunggu di depan, sopirnya membukakan pintu, menunggu perintah untuk berangkat.
Yicheng berhenti sejenak, menatap ke seberang jalan, ke arah pohon besar tempat anak kecil itu berdiri tadi pagi. Tempat itu kosong, sepi, gelap — tidak ada siapa pun di sana. Tapi di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu — kehangatan yang samar, harapan yang mulai tumbuh perlahan, seakan ada sesuatu yang berubah, seakan takdir sedang bergerak, seakan ia tidak akan sendirian lebih lama lagi.
Ia masuk ke dalam mobil, duduk di kursi belakang, dan saat mobil melaju membelah jalanan kota yang sepi, ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menutup matanya sejenak. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, wajah Su Wan muncul — senyumnya, suaranya, cara ia menatapnya seakan ia adalah orang paling berharga di dunia. Dan di sampingnya, muncul wajah anak kecil yang dilihatnya tadi pagi — mata yang tajam dan berbinar, persis seperti matanya sendiri, senyum yang hangat dan tulus, persis seperti senyum Su Wan.
"Kalau aku punya anak… apakah dia akan tersenyum seperti itu?" bisiknya pelan, hanya untuk dirinya sendiri, suaranya hampir hilang ditelan deru mobil. "Apakah dia akan membuatku sadar bahwa hidup bukan sekadar bekerja? Bahwa ada hal yang jauh lebih berharga daripada semua ini?"
Ia tidak tahu jawabannya. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang berubah — sedikit saja, tapi berubah. Ia mulai merasa ada yang hilang, ada yang kosong, ada yang selama ini ia lewatkan di tengah kesibukannya yang tak pernah berhenti. Ia mulai menyadari bahwa kesuksesan yang dibangun sendirian terasa hampa, bahwa kekayaan yang tidak dibagi dengan orang yang dicintai tidak berarti apa-apa, bahwa waktu yang dihabiskan hanya untuk bekerja adalah waktu yang terbuang — karena waktu seharusnya dihabiskan bersama orang yang membuat hidup menjadi berarti.
Mobil melaju membelah malam, membawa pria yang hidupnya hanya untuk kerja, menuju rumah yang sunyi, menuju tidur yang singkat, menuju hari esok yang akan datang dengan jadwal yang sama padatnya. Tapi malam ini, di dalam hatinya, ada secercah harapan — harapan bahwa suatu hari nanti, ia akan berhenti berlari, berhenti bekerja, dan akhirnya menemukan apa yang selama ini ia cari namun tidak pernah bisa temukan: kehangatan keluarga, senyum anak, dan cinta yang tulus.
Dan di tempat yang tidak jauh dari sana, di rumah kecil yang hangat, seorang anak laki-laki memeluk foto ayahnya di bawah bantal, tersenyum dalam tidurnya, seakan tahu bahwa ayahnya sedang berpikir tentangnya, seakan tahu bahwa pertemuan mereka semakin dekat, seakan tahu bahwa takdir tidak akan membiarkan mereka terpisah selamanya.