Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTANG PARA DEWA

MENANTANG PARA DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"

​Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.

​Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.

​Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.

​"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: AMBANG GERBANG AULA AGUNG

​"Baiklah..." ucap Mo Xie.

​Nada suaranya bergetar rendah, mengakui realitas pahit yang kini menghantam kesadarannya. Rasa sakit yang menjalar di lengan kanannya menjadi bukti fisik yang tak terbantahkan bahwa ia masih sangat lemah, dan jalan untuk membalas dendam serta membawa Chu Yurou kembali masih membentang sangat panjang di hadapannya.

​Ia mengepalkan tangan kirinya yang bebas, merasakan dinginnya udara Benteng Es Abadi yang menusuk tulang. Mo Xie kemudian mengalihkan tatapannya dari jendela, menatap langsung ke arah mata biru es milik Xue Qingyue.

​"Apakah Benua Tianlan bisa kembali?" tanya Mo Xie.

​Xue Qingyue menarik kembali jemarinya dari lengan Mo Xie, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap ke luar jendela yang buram oleh badai salju.

​"Benua Tianlan yang kau kenal sudah hancur," jawab Xue Qingyue datar.

​"Tiga perempat dari wilayah sembilan benua telah runtuh ke dalam celah dimensi. Sisa-sisa dunia ini kini terfragmentasi menjadi pulau-pulau melayang yang perlahan ditarik oleh gravitasi kehampaan. Kekacauan merajalela di wilayah luar; Entitas void terus bermunculan dari retakan langit, memburu siapa pun yang mencoba bertahan hidup."

​Ia berbalik, gaun peraknya berdesir pelan di atas lantai batu yang membeku.

​"Jadi begitu..." ucap Mo Xie rendah. "...bukan hanya lembah tempat tinggal ku."

​"Mengenai Sekte Es Abadi..." lanjut Xue Qingyue. "Yang tersisa hanyalah segelintir kultivator elit yang menolak untuk menyerah pada takdir buruk ini. Kami bertahan di benteng utara ini karena Dao Es Abadi adalah satu-satunya yang mampu memperlambat korosi dari kegelapan luar. Kami tidak merekrut sembarang orang—hanya mereka yang memiliki tekad untuk bertahan hidup dan kekuatan untuk bertarung yang kami izinkan menginjakkan kaki di Sekte Es Abadi ini."

​Mo Xie tertegun. Dulu, Sekte Es Abadi adalah sekte nomor satu dengan ribuan kultivator yang bermimpi ingin bergabung.

​Xue Qingyue melangkah mendekati meja batu di sudut ruangan, mengambil sebuah mangkuk berwarna biru jernih yang memancarkan uap dingin, lalu meletakkannya di meja samping ranjang Mo Xie.

​"Minum ini. Ini akan membantu menstabilkan aliran Qi es di dalam tubuhmu untuk meredam kegelapan itu," perintah Xue Qingyue.

​Mo Xie mengangguk lalu meminumnya hingga tuntas. Aliran spiritual yang pekat langsung mengalir menembus setiap pembuluh darah dan Dantiannya.

​"Setelah kau bisa berdiri tanpa gemetar, aku akan membawamu menemui Ketua Agung kami. Dia yang akan menentukan apakah kau cukup layak untuk tetap hidup, atau hanya akan menjadi beban yang harus kami eliminasi."

​Mo Xie tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya mengangguk pelan sembari merasakan cairan spiritual yang tadi ia minum. Rasa dingin yang pekat langsung menjalar dari tenggorokannya, menyebar ke seluruh rongga dada, dan menjinakkan sisa-sisa rasa terbakar yang menyiksa urat-urat darahnya.

​"Kalau begitu, istirahatlah," ujar Xue Qingyue. Sambil berbalik, ia melangkah meninggalkan ruangan dingin itu.

​Hari-hari berlalu di dalam keheningan Benteng Es Abadi yang membeku. Badai salju di luar kastil terus menderu tanpa henti, seolah-olah waktu telah berhenti di ujung dunia yang sekarat ini.

​Di bawah pengawasan dingin Xue Qingyue, Mo Xie menghabiskan waktunya untuk memulihkan kondisi fisiknya yang hancur. Setiap tarikan napasnya kini terasa lebih stabil, dan kekosongan di dalam dadanya mengkristal menjadi tekad yang tak tergoyahkan.

​Hingga pada suatu pagi yang sunyi, lengannya telah kembali pulih sepenuhnya. Ia merasa kekuatan fisiknya telah menembus ke lapisan Peak Mortal.

​Mo Xie berdiri di tengah kamarnya yang sunyi, perlahan membuka lilitan kain yang selama ini membebat lengan kanannya. Lembar demi lembar kain itu jatuh ke lantai batu yang dingin.

​Ketika kain terakhir terlepas, Mo Xie tertegun menatap pergelangan tangannya.

​Kulitnya yang pucat kini kembali normal. Namun di sana—tepat di atas urat nadinya—tergambar sebuah tanda baru. Sebuah simbol pedang hitam kecil yang tampak seperti tato legam, terpahat dengan presisi yang sempurna. Simbol itu tidak lagi berdenyut liar atau menyebarkan rasa sakit, melainkan diam membisu, menyimpan potensi yang sewaktu-waktu bisa memakan jiwanya kembali.

​"Simbol itu adalah segel pembatas," suara Xue Qingyue tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk aula yang terbuka.

​Wanita itu berdiri di sana dengan gaun perak kebiruannya yang indah, menatap tajam ke arah pergelangan tangan Mo Xie.

​"Kau telah berhasil melaluinya tanpa kehilangan akal sehatmu. Sekarang, bersiaplah," lanjut Xue Qingyue, berbalik memunggungi Mo Xie untuk menuntun jalan. "Ketua Agung sudah menunggumu di Aula Utama sekte. Saatnya membuktikan apakah tekadmu itu nyata, atau hanya sekadar kesombongan yang sia-sia."

​"Baiklah," sahut Mo Xie singkat.

​Sebelum melangkah, ia mengambil sehelai kain hitam yang tergeletak di atas meja batu. Dengan gerakan cepat dan cekatan, ia melilitkan kain tersebut erat-erat pada pergelangan tangan kanannya, menyembunyikan simbol pedang hitam kecil itu dari pandangan.

​Setelah memastikan segel itu tertutup rapat, ia melangkah lebar mengikuti Xue Qingyue keluar dari kamar pemulihannya.

​Lorong-lorong Sekte Es Abadi yang luas terasa begitu sunyi dan dingin, hanya menyisakan gema langkah kaki mereka berdua yang berbenturan dengan lantai es. Mo Xie berjalan beberapa langkah di belakang Xue Qingyue.

​Sambil melangkah, matanya yang tajam tanpa sadar mulai mengamati sosok wanita di hadapannya dari belakang.

​Bagaimana rambut putih salju itu berkibar lembut seirama dengan langkah kakinya. Tinggi tubuhnya yang ramping, warna kulitnya yang pucat, hingga garis rahang dan profil samping wajahnya saat wanita itu sedikit menoleh...

​Yurou...?

​Jantung Mo Xie berdegup kencang secara mendadak. Untuk sekian detik, ilusi masa lalu yang hangat seolah berputar di depan matanya, memproyeksikan sosok gadis yang sangat ia cintai pada diri peri es yang dingin ini. Refleks tubuhnya hampir saja membuat tangannya terulur untuk meraih bahu Xue Qingyue.

​Namun, Mo Xie segera memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya dengan kasar, mengusir paksa bayangan itu dari benaknya.

​Tidak mungkin. Jangan bodoh, Mo Xie... batinnya memperingatkan diri sendiri dengan getir.

​Kepribadian Xue Qingyue sangat dingin, tajam, dan penuh perhitungan—berbanding terbalik dengan Chu Yurou yang selalu hangat, lembut, dan penuh tawa murni. Lagipula, Yurou hanyalah seorang gadis fana biasa dari Lembah Yunlan yang tidak memiliki bakat Dao es sehebat ini.

​Kemiripan fisik itu hanyalah permainan kejam dari pikirannya yang merindukan sosok yang telah tiada.

​Xue Qingyue mendadak menghentikan langkahnya tepat di depan sepasang pintu gerbang es raksasa yang dipenuhi ukiran naga salju kuno. Aura spiritual yang sangat pekat dan menekan berembus keluar dari celah pintu tersebut, membuat bulu kuduk siapa pun merinding.

​Tanpa menoleh ke belakang, Xue Qingyue bersuara, "Kita sudah sampai. Di balik gerbang ini adalah Aula Agung. Jaga ucapan dan sikapmu di hadapan Ketua Agung. Kehidupanmu di Sekte Es Abadi ditentukan oleh apa yang kau tunjukkan di dalam sana."

​Dengan satu dorongan tangan Xue Qingyue, gerbang es raksasa itu perlahan terbuka lebar, mengeluarkan kepulan uap dingin yang tebal ke arah mereka.

1
Septiana Athorid
Bagus dan menarik
Day Chuk
Novel yang Rekomen
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Pena Quality
keren
Kausafiksi: terimakasih 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
best
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!