Indonesia
NovelToon NovelToon
The Artefact Of The Past And The Chosen One'S Destiny

The Artefact Of The Past And The Chosen One'S Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Romansa Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: ARDICK

( upload Senin - Sabtu= 6× dalam seminggu )
( jam upload 3 sore )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny

Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.

Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.

Ater. Mala. Angis. Evir.

Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.

Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.

Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.

Kemudian semuanya berubah.

Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.

Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

{Chapter 5 }:{secret journey }

Bulan berbintang muncul di langit malam itu, cahayanya memantul di permukaan Artefak Kuno, menerangi altar pernikahan dengan kilau keperakan. Sora berdiri di sana, jubahnya sederhana seperti biasa, namun matanya berbinar menatap Dewi Bulan yang melangkah mendekat.

Serangan datang tanpa peringatan. Dari bangsa Sora sendiri—Bangsa Api—pasukan menyerbu masuk ke area pernikahan. Pedang terhunus, api menyala di ujung jari mereka. Alasan mereka jelas: Sora telah menolak menikahi Putri Raja Api.

Sihir api melilit tubuh Sora sebelum ia sempat bereaksi. Tali cahaya membakar pergelangan tangannya, mengikatnya ke tanah. Ia meronta, namun ikatan itu semakin ketat.

Seorang prajurit mengangkat pedang tinggi-tinggi, ujungnya mengarah ke dada Sora.

Dan Dewi Bulan bergerak.

Tanpa pikir panjang, tubuhnya melempar diri ke depan Sora. Pedang itu menembus punggungnya, ujungnya muncul dari dadanya. Darah merekah di gaun pengantinnya yang putih. Tubuhnya limbung, lututnya menyentuh tanah, lalu ia jatuh.

"Tidak... tidak..."

Mata Sora terbelalak. Mulutnya terbuka, namun suara yang keluar hanya bisikan serak. Ia menatap Dewi Bulan yang terkapar di depannya, darah mengalir dari sudut bibir gadis itu, matanya setengah terpejam.

"TIDAK!"

Teriakan Sora memecah udara. Energi meledak dari tubuhnya, dan ikatan sihir api yang membelenggunya hancur berkeping-keping seperti kaca yang dihantam palu. Ia jatuh berlutut di samping Dewi Bulan, mengangkat tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.

Air matanya jatuh tanpa henti, menetes ke wajah Dewi Bulan yang memucat. Tangannya gemetar, mencengkeram tubuh itu seolah takut ia akan menghilang. Amarah dan kehilangan bercampur dalam dadanya, meledak menjadi gelombang energi yang menggetarkan tanah.

Di kejauhan, Negeri Air bergetar. Negeri Api bergemuruh. Negeri Angin menghembuskan badai tanpa sebab. Seolah seluruh elemen merasakan kesedihan yang rasa kan di malam itu.

Zeo datang berlari, napasnya tersengal. Ia melihat Sora berlutut di tengah kehancuran, tubuhnya diselimuti aura merah yang tidak stabil. Zeo melangkah mendekat, tangannya terulur.

Namun energi Sora meledak tanpa kendali. Zeo terpental beberapa meter ke belakang, punggungnya membentur tanah. Ia bangkit, mencoba lagi, namun gelombang itu menghantamnya kembali dengan keras.

Sora berteriak. Menangis. Tubuhnya berguncang dalam pelukan Dewi Bulan yang semakin dingin. Suaranya bukan lagi suara seorang penjaga Artefak, melainkan suara seseorang yang dunianya baru saja runtuh.

Dewi Bulan bergerak.

Matanya terbuka perlahan, pandangannya kabur namun menatap wajah Sora. Bibirnya yang pucat bergerak, suaranya nyaris tak terdengar. "Sora... jangan rasakan kesedihan yang begitu dalam..."

"Sora... "Aku akan selalu setia... hanya untukmu..."

"Cukup. Cukup, Dewi." Sora menggeleng cepat, air matanya mengalir menetas . "Aku akan membawamu ke seluruh negeri. Akan kucari obatnya. untuk mu aku mohon bertahan lah Dewi.

Namun tidak ada satu pun obat yang bisa menyembuhkan luka itu. Tidak di Negeri Air. Tidak di Negeri Bumi. Tidak di mana pun. Wajah Sora semakin hari semakin putus asa mencari obat agar luka Dewi bulan sembuh . Keringat menetes bercampur dengan air mata menetes tanpa henti di pipinya. Tangannya yang awal nya kuat kini gemetar setiap kali mengangkat tubuh Dewi Bulan.

Dan saat Sora merasa hampir, Sora teringat kepada zeo. zeo aku tau zeo akan bisa menyembukan Dewi bulan .

aku harus cepat pergi menemui zeo . Tampa lama Sora pergi menuju zeo dengan , tubuh Dewi Bulan di pelukannya.

"Cukup, Sora..." Dewi Bulan berkata , dengan suara nya yang lemah. "Aku mohon... aku tidak sanggup melihatmu begini..."

"Aku mohon, Dewi." "Biarkan aku membawamu kepada Zeo."

Dewi Bulan menatapnya . Lalu, dengan sisa tenaga yang tersisa, ia tersenyum. "Baiklah, Sora. Aku ikuti maumu."

Sepanjang perjalanan, dalam pelukan Sora yang berlari tanpa henti, Dewi Bulan menatap wajah suaminya. Dengan senyum manis, namun wajahnya semakin memucat, seolah cahaya bulan perlahan meninggalkannya.

Sora sampai di tempat Artefak Kuno. Ia mendobrak pintu tanpa peduli, tubuhnya terluka , napasnya tersengal.

"ZEO!" teriaknya, suaranya menggema di seluruh ruangan. "Zeo! Cepat ke sini! Zeo, aku mohon... sembuhkan Dewi bulan , Zeo! Aku mohon keluar lah.!

Di pelukannya, Dewi Bulan mengangkat tangan nya menyentuh pipi Sora. Jari-jarinya yang dingin.

"Sora..."Sudah. Biarkan aku pergi.

Sora menggeleng. Air matanya jatuh ke wajah Dewi Bulan. Tangannya mencengkeram tubuh itu lebih erat, seolah bisa menahannya di dunia ini dengan kekuatan fisiknya saja.

"Tidak," ucapnya, suaranya pecah. "Tidak akan kubiarkan kau meninggalkanku sendiri.”

Pintu di belakang Artefak Kuno terbuka dengan hentakan keras. Zeo muncul, langkahnya tergesa, jubahnya belum sempat terikat sempurna. Namun sebelum satu pertanyaan sempat keluar dari bibirnya, Sora sudah bergerak.

"Zeo!" Sora menyeret tubuh Dewi Bulan yang masih terkulai di pelukannya, darah merembes di antara jari-jarinya. "Aku mohon, Zeo. Aku mohon."

Kakinya lemas. Tubuhnya jatuh—bukan berlutut, melainkan bersujud di kaki Zeo. Dahinya menyentuh lantai batu yang dingin. Tangannya mencengkeram ujung jubah Zeo, seluruh tubuhnya bergetar hebat.

"Sembuhkan Bulan," bisiknya. Hanya itu. Satu kalimat yang keluar dari mulutnya, diulang seperti mantra yang putus asa. "Aku mohon."

Zeo menunduk, menatap sahabatnya yang tersungkur di kakinya. Rahangnya mengeras. "Apa yang kau lakukan, Sora? Aku mohon, berdiri. Aku akan mencobanya."

Sora mengangkat wajahnya. Matanya merah, bengkak, penuh harap yang rapuh seperti kaca.

Zeo berlutut di samping Dewi Bulan. Kedua telapak tangannya terangkat, cahaya lembut mengalir dari ujung jarinya. Namun cahaya itu menyentuh luka di dada Dewi Bulan—dan padam. Zeo mencoba lagi. Dan lagi. Cahaya itu tidak pernah menembus luka itu.

Tangan Zeo turun. Ia terdiam. Lama.

"Aku tidak bisa, Sora."

Bibir Sora bergetar. Matanya menatap Zeo, mencari kebohongan di sana, mencari celah, mencari harapan. "Apa yang kau katakan, Zeo?" Suaranya nyaris tak terdengar. "Apa maksudmu?"

Tidak ada jawaban.

Tubuh Sora jatuh ke lantai. Punggungnya membentur batu. Matanya terbuka, menatap langit-langit Artefak Kuno yang tak berujung, namun tidak melihat apa-apa. Kosong.

Di belakang Zeo, dua penjaga lain—Asta dan Sikir—melangkah maju. Wajah mereka berat. "Kita memang terpilih," ucap salah satu dari mereka, suaranya rendah. "Tapi kita tidak bisa mengubah takdir yang sudah ada."

"Diam kau!" Sora tidak menoleh. Matanya tetap kosong menatap langit-langit. "Aku hanya meminta kepada Zeo."

Zeo menelan ludah. Ia menunduk kembali, telapak tangannya sekali lagi terangkat di atas luka Dewi Bulan. Cahaya mengalir—lebih kuat kali ini, lebih dalam. Namun luka itu tetap menganga, menolak menutup. Zeo menurunkan tangannya. Gelengannya pelan, namun pasti.

Sora meraih tangan Zeo. Jari-jarinya mencengkeram, memohon, gemetar. "Aku mohon, coba lagi, Zeo. Coba lagi."

Zeo menatap Sora lama. Matanya berkaca-kaca, namun suaranya keluar tenang, datar, seperti seseorang yang telah menimbang setiap kata sebelum mengucapkannya.

"Sora. Hanya ada satu jalan untuk menyembuhkan Dewi Bulan." Ia berhenti. Menelan ludah. "Menukar nyawa untuk menyelamatkannya."

Keheningan menyebar. Bukan keheningan biasa—keheningan yang menekan dada, yang membuat udara terasa tebal. Waktu seakan berhenti di dalam ruangan Artefak Kuno. Tidak ada angin. Tidak ada suara. Hanya gema kata-kata Zeo yang masih bergantung di udara.

Sikir melangkah maju, matanya membelalak. "Apa kau gila, Zeo? Siapa yang akan mengorbankan nyawanya untuk ini? Siapa?"

"Aku."

Satu kata. Tanpa ragu. Tanpa jeda.

Sora tersentak. Tubuhnya yang tadi lemas tiba-tiba menegak. "Tidak. Zeo, tukarkan nyawaku untuk Dewi Bulan. Kau tak harus—" Suaranya tercekat. "Kau tak harus menangis untuk ini."

Zeo tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum kecil, tenang, seperti seseorang yang telah memutuskan sesuatu yang tidak bisa diganggu gugat. Ia berlutut di samping Dewi Bulan, kedua telapak tangannya terangkat, dan cahaya mulai mengalir—bukan dari luar, melainkan dari dalam dadanya sendiri. Cahaya kehidupan.

"Kau gila, Zeo!" Sikir berteriak, suaranya memecah keheningan. "Kau memiliki istri! Dewi Bunga! Kau akan meninggalkannya!"

Zeo tidak menjawab. Matanya terpejam. Cahaya dari dadanya semakin terang, mengalir masuk ke tubuh Dewi Bulan. Wajahnya fokus. Tenang. Seolah dunia di luar proses itu tidak ada.

Sikir dan Asta saling berpandangan. Satu anggukan. Dan mereka menyerang.

Energi menghantam punggung Zeo dari dua arah sekaligus. Tubuhnya terpental, proses penukaran terputus di tengah jalan. Cahaya yang mengalir dari dadanya padam seketika. Zeo jatuh membentur lantai, kesadarannya terenggut oleh serangan mendadak itu. Tubuhnya tidak bergerak.

Asta dan Sikir menyeret tubuh Zeo yang tak sadarkan diri, membawanya menjauh dari Artefak Kuno. Langkah mereka cepat, tanpa menoleh ke belakang.

Mereka meninggalkan Sora. Sendirian. Dengan Dewi Bulan yang semakin dingin di pelukannya.

"Tidak..." Sora mencengkeram rambutnya sendiri, jarinya menarik hingga kulit kepalanya sakit. Tubuhnya berguncang. "Kejadian ini begitu cepat. Alam semesta..." Suaranya pecah, menjadi isakan yang tidak bisa ia tahan. "Apa dosaku hingga takdirku harus seperti ini?"

Di pelukannya, jari-jari Dewi Bulan bergerak. Lemah. Sangat lemah. Namun bergerak.

"Sora..."

Sora menunduk cepat. Matanya yang bengkak menemukan mata Dewi Bulan yang setengah terbuka, pandangannya kabur namun masih ada. Masih menatapnya.

"Iya, Dewi. Aku di sini. Aku mohon, bertahan."

Dewi Bulan tersenyum. Senyum yang sama seperti malam pertama mereka bertemu. Namun kini bibirnya pucat, nyaris transparan. "Tidak, Sora. Aku tidak bisa menahan ini lagi."

"Tidak. Dewi, tidak—"

"Sora." Suaranya nyaris seperti bisikan angin. Jari-jarinya yang dingin menyentuh pipi Sora, mengusap air matanya. "Aku mencintaimu."

"Dewi—"

"Kembalilah, Sora." Matanya mulai bercahaya—bukan cahaya kehidupan, melainkan cahaya perpisahan. "Aku mencintaimu."

Tubuh Dewi Bulan memancarkan cahaya. Lembut. Hangat. Seperti bulan purnama yang turun ke bumi. Cahaya itu semakin terang, semakin terang, hingga Sora harus memejamkan mata. Dan ketika ia membukanya kembali, pelukannya kosong.

Yang tersisa hanya partikel-partikel cahaya yang melayang ke atas, perlahan, seperti kunang-kunang yang kembali ke langit. Indah. Sunyi. Dan pergi.

1
Siti Aisyah
Yuk kak saling support baca juga novelku ya ka🙏
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: aku mampu ya k 🙏
total 1 replies
Ronggo Lasem
mampir nih bang jn lupa mampir balik😄
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: siap ka
total 1 replies
Jeffie Firmansyah
hadir semangat Thor,
jangan putus di tengah jalan ya💪💪💪
MOBIL Le
selamat malam semngat trus
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: malam juga 🤣
total 1 replies
Penulis2426
mampir nih
CNNTAYY
ini cerita nyaa seruu! semangat yaa/Smile//Smile/
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: serius ka 🥺
total 1 replies
CNNTAYY
kak ayokk saling support..
buat yang mau baca mampir
💪💗💗
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: siap ka
total 1 replies
yodi gaming
ada romance ny kh ini?🗿
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: ini lagi menceritakan masa lalu dulu flashback
total 2 replies
yodi gaming
gpp semangat terus ya nulisnya🙌✨
yodi gaming
penulisan kamu bagus😳
yodi gaming: iya, tulisan aku aja masih berantakan😅
total 2 replies
yodi gaming
jangan lupa mampir di novel kubya😚✌️
yodi gaming: iya tentang kehidupan kerja juga, tp ad penghianat ny
total 2 replies
yodi gaming
keren🙌
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
halus
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
maaf kalo Nulisan nya terlalu pendek aku lagi sakit jadi nulis nya dikit dikit
dan maaf bilah kurang haku
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: 👍👍💪 semngat pasti tapi sistem
total 2 replies
Nazzzwa
👍👍👍
Nazzzwa: okeyy
total 2 replies
Chaniaa12
seru jugaa
Chaniaa12
menarik nih
MOBIL Le
kaya iya dan ia mending di hapus satu ka biar mengalir
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: laksanakan
total 1 replies
MOBIL Le
lanjutin terus semangat nulis nya klo ada waktu lanjutin baca . aku mau tanya menurut kalian yang baca novel ini Giman . seru apa gak?

ayo teman teman kita dukung setiap ada karya baru. biar mereka bisa berkembang dalam setiap langkah nya . dan meningkatkan alur cerita nya
CNNTAYY: tolong support aku juga kak💗
total 1 replies
vania_
Keren, Kak. Aku mampir nih🤗
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: ka bisa saling favorit biar bisa sering
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!