Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PIJATAN PENAKLUK RATU IBLIS

SISTEM PIJATAN PENAKLUK RATU IBLIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Tok... tok... tok...

Suara ketukan pintu kayu itu kembali bergemuruh kasar memecah malam.

Arya mendengus pelan, menaruh mangkuk supnya di meja kecil dengan kasar.

"Sialan, malam-malam begini siapa pula yang cari gara-gara," umpat Arya kesal setengah mati.

Vanya menyipitkan mata merahnya, menatap tajam ke arah pintu kayu yang bergetar.

"Biar aku hancurkan kepala tamu kurang ajar itu sekarang juga," desis Vanya dingin sambil berdiri.

Arya langsung merentangkan tangannya menghalangi langkah sang Ratu Iblis.

"Jangan gegabah, ini daerah pemukiman padat, kalau kamu ngamuk nanti seluruh warga datang," cegah Arya cepat.

Vanya mendengus sebal, namun ia mengurungkan niatnya karena tidak mau repot.

"Cepat buka pintunya sebelum aku kehilangan kesabaran," perintah Vanya ketus.

Arya menarik napas panjang, lalu berjalan pelan mendekati pintu depan kontrakannya.

Ia memutar kunci gembok, lalu menarik daun pintu selebar setengah badan.

Di luar berdiri tiga orang pria berbadan besar dengan tato melingkar di lengan tangan mereka.

"Lama sekali membukanya, apa kamu tuli atau pura-pura mati di dalam?!" bentak pria bertubuh paling gempal.

Arya menyipitkan matanya, mengenali wajah preman pasar langganan tukang palak lokal itu.

"Oh, kalian lagi. Mau nagih apa lagi? Uang sewaku masih minggu depan," jawab Arya sinis.

Pria gempal bernama Budi itu tertawa meremehkan sambil meludah ke tanah di depan pintu.

"Hahaha, bukan urusan uang sewa, kami datang karena diutus seseorang untuk memberi pelajaran padamu," seringai Budi licik.

Di dalam ruangan, Vanya melipat kedua tangannya di dada sambil memperhatikan mereka dengan tatapan jijik.

"Manusia-manusia lemah tapi banyak tingkah," batin Vanya mencibir pelan.

"Siapa lagi yang menyuruh kalian? Tabib tua sialan itu atau selir istana yang sakit-sakitan?" tanya Arya menebak tepat sasaran.

Budi tertegun sejenak, lalu mendengus kasar karena kedoknya langsung terbongkar.

"Tidak penting siapa yang menyuruh, yang jelas bos besar ingin tanganmu patah hari ini supaya tidak bisa memijit lagi!" ancam Budi sambil mengepalkan tinjunya.

Dua orang anak buah di belakang Budi langsung tertawa menyeringai keji sambil mendekati pintu.

"Maju kalian bertiga, aku sedang tidak punya mood buat melayani sampah kota," tantang Arya tanpa rasa gentar sedikit pun.

"Kurang ajar, berani sekali tukang pijit pecat istana sok jagoan!" murka Budi kehilangan kesabaran.

Budi langsung melayangkan pukulan keras mengarah tepat ke wajah Arya.

Bugh...

Suara hantaman kepalan tangan mengenai angin kosong karena Arya dengan cepat melangkah menghindar.

Arya memanfaatkan skill ketahanan fisik tingkat menengah yang diberikan sistem beberapa waktu lalu.

Gerakannya terasa jauh lebih ringan dan gesit dari biasanya saat menghindari serangan berandalan itu.

"Sial, dia bisa menghindar!" kaget anak buah Budi yang melihat kejadian tersebut.

Arya tidak tinggal diam, ia langsung maju satu langkah mendekati perut Budi.

Dengan menggunakan teknik pijit tempur yang disesuaikan, Arya menekan titik saraf tekanan keras di rusuk lawan.

Ugh...

Budi langsung membelalakkan matanya lebar-lebar dengan mulut ternganga.

Napas pria gempal itu seketika tersengal-sengal, tubuhnya melemas seketika tanpa tenaga.

"Rasa sakit apa ini... dadaku rasanya mau pecah!" rintih Budi sambil berlutut di tanah berdebu.

Dua anak buahnya panik melihat bos mereka tumbang hanya dalam satu gerakan cepat.

"Bos! Ada apa denganmu?!" teriak anak buah pertama panik setengah mati.

"Bangsat, serang dia bersama-sama!" perintah anak buah kedua kalinya dengan beringas.

Mereka berdua langsung menerjang Arya secara bersamaan dari sisi kanan dan kiri.

Arya mendengus dingin, ia tidak merasa takut lagi menghadapi preman murahan seperti mereka.

[Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis mendeteksi pertempuran fisik pertama Host.]

[Mendapatkan bonus poin sistem: +15 poin tambahan untuk ketahanan tempur.]

Suara dengungan sistem itu berputar di kepala Arya, memberikan tambahan energi refleks yang luar biasa.

Arya menepis tangan preman pertama dengan tangkisan siku yang mantap.

Brak...

Preman itu tersungkur menabrak dinding kayu kontrakan sebelah.

Satu orang tersisa menatap Arya dengan tatapan ngeri luar biasa campur takut.

"Iblis... kamu bukan tukang pijit biasa!" teriak anak buah itu ketakutan setengah mati.

"Baru tahu ya? Makanya jangan suka cari masalah di daerah orang," balas Arya tersenyum miring.

Arya maju selangkah lalu menendang betis preman terakhir itu hingga jatuh terduduk di tanah.

"Pergi dari sini sebelum aku panggil wanita di belakangku untuk merobek kepala kalian!" ancam Arya menunjuk ke dalam ruangan.

Vanya yang berdiri di ambang pintu memunculkan kilatan mata merah menyala yang sangat menakutkan.

Ketiga preman itu melihat sosok Vanya seketika menjerit histeris karena aura pembunuh yang pekat.

"M-Monster! Lariii!" teriak Budi terbirit-birit bangkit sambil menyeret anak buahnya.

Mereka kabur terbirit-birit meninggalkan halaman kontrakan dalam waktu kurang dari sepuluh detik.

Arya menghela napas panjang, lalu menutup kembali pintu kayu kontrakannya dengan rapat.

Ia berbalik badan dan mendapati Vanya sedang menatapnya dengan pandangan penuh selidik.

"Tidak kusangka manusia lemah sepertimu bisa melumpuhkan tiga preman sekaligus," puji Vanya setengah mengakui.

"Yah, hidup di jalanan mengajarkan banyak hal yang tidak dipelajari di istana," jawab Arya santai sambil merapikan bajunya.

Vanya terdiam sejenak, ada rasa hormat kecil yang mulai tumbuh di relung hatinya untuk si tukang pijit.

"Sudahlah, lebih baik kita lanjut makan malam yang sempat tertunda tadi," ajak Arya kembali ke meja.

Vanya mengangguk pelan, lalu duduk kembali tanpa mengeluarkan bantahan sedikit pun.

1
gofur
mantap kaka karya kamu🥰
Anton barly
💟💟💟💟
Shinta geol
🥰🥰🥰🥰🥰
nurul khusna
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘
Antoni gergio
💞💓💗💖💝
samuel df
😍🤩🤩🤩🤩
Jangkar pion
iblis yg cantik😘
yudi permana
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
nabila
🤩🌹😘😍🥰
putri andini
😍🥰
asyifa fauziah
🌹😘🥰😘
setiawan
pijatan yang mematikan sang ratu
yani
keren kaka semangat berkarya🥰
sasa
💞💕💞💞💞💞💞
fitri
🥰😘🥰😘🥰🤩🤩
pricilia
🌹🌹🌹🌹🌹
Angel
🌟🥳🤠
clara
hebatkaka
Yono Haryono
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!