GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Calon Mertua dan Drama Sadboy TikTok
Dua minggu berlalu sejak insiden gudang. Utang kepada Siska berhasil dicicil setelah Gala menjual motor kesayangannya dan Senja mengambil tiga proyek film sekaligus. Secara tersirat, perjanjian "satu bulan putus" telah batal dengan sendirinya. Namun, jika Gala ingin benar-benar mengikat Senja agar tak ada lagi kata putus, ia harus melewati ujian terakhir yang paling menakutkan: meresmikan hubungan mereka di depan Pak Broto, ayah Senja.
Pak Broto adalah legenda hidup. Mantan marinir, mantan instruktur silat militer, dan pria dengan prinsip sekeras baja. Tingginya hampir seratus sembilan puluh sentimeter, dan mesku usianya sudah kepala enam, posturnya masih sekokoh pohon beringin. Pertemuan mereka diatur di halaman belakang rumah Pak Broto di pinggiran kota yang sengaja diubah menjadi padepokan silat berpasir.
Sore itu, Gala datang membawa parcel buah besar yang ia peluk erat-erat bagai perisai. Keringat dingin membasahi kemeja batiknya.
"Jadi, kamu Gala, jurnalis yang sering bawa anak saya masuk kantor polisi dan rumah sakit?" Suara Pak Broto menggelegar, bergema di halaman. Ia sedang bertelanjang dada, memperlihatkan otot kawatnya, sibuk mengasah sebilah golok panjang di atas batu asah.
Gala menelan ludah. "S-siap, Pak! Nama saya Gala. Saya ke mari dengan niat baik... ingin melamar Senja secara resmi."
Pak Broto berhenti mengasah goloknya. Ia menatap Gala dari atas sampai bawah, mendengus meremehkan. "Tubuhmu kerempeng. Tulangmu kecil. Mana bisa kamu melindungi anak saya kalau ada preman menyerang? Senja itu bar-bar, butuh laki-laki yang bisa mengimbanginya."
"Saya jurnalis investigasi, Pak. Saya pakai otak, bukan otot," bantah Gala, ego lelakinya sedikit tersentil.
"Oh ya? Kita buktikan," Pak Broto menaruh goloknya dan melangkah ke tengah arena berpasir. "Syarat restu dari saya cuma satu. Masuk ke arena ini. Bertahan lawan saya selama tiga menit penuh. Tidak perlu menang, kamu cukup memastikan dirimu tidak pingsan atau menangis minta ampun."
Gala melirik ke arah teras. Di sana, Senja duduk santai bersila di atas tikar, asyik memakan kuaci bawang bersama ibunya. Bukannya memberikan tatapan mendukung, Senja malah memberikan gestur jempol ke bawah, mengejeknya. Sialan, batin Gala.
"Baik, Pak. Saya terima." Gala melepas sepatunya, menggulung lengan kemejanya, dan masuk ke arena berpasir.
Begitu jam weker di meja ditekan, Pak Broto melesat maju dengan kecepatan yang mustahil untuk pria seusianya. Gala, yang sadar betul bahwa satu pukulan dari calon mertuanya bisa membuat tulang rusuknya jadi bubuk, langsung mempraktikkan jurus rahasia yang ia pelajari di jalanan: lari terbirit-birit.
Selama dua menit pertama, halaman itu berubah menjadi panggung komedi. Gala berlari zig-zag, melompat melewati pot tanaman, merangkak di bawah jemuran baju, menghindari tangkapan tangan raksasa Pak Broto.
"Ayo, Gal! Masa lari doang?! Tangkap tangannya!" sorak Senja dari teras, menyemburkan kulit kuaci.
Memasuki menit terakhir, stamina Gala habis. Napasnya putus-putus. Pak Broto yang merasa bosan bermain kucing-kucingan akhirnya melepaskan sebelah sandal bakiak kayu yang ia kenakan. Dengan presisi seorang penembak jitu, ia melemparkan bakiak itu melayang di udara bak bumerang mematikan.
PLAK! Bakiak kayu itu mendarat telak di dahi Gala. Pria malang itu terhuyung, matanya berkunang-kunang, bumi seolah berputar. Ia mundur tiga langkah dan jatuh telentang menabrak kandang ayam kosong. Bertepatan dengan itu, jam weker berdering panjang. Tiga menit selesai.
Pak Broto berjalan mendekati Gala yang terkapar menatap langit. Ia tersenyum tipis. "Lemah. Fisik payah. Tapi pantang menyerah. Kamu berani maju meski tahu bakal kalah." Pak Broto mengulurkan tangannya yang besar, menarik Gala berdiri. "Saya pegang kata-katamu, Jurnalis. Jaga anak saya. Restu saya turunkan."
Gala tersenyum bangga, meski malam itu ia harus pulang dengan koyo cabai menutupi jidatnya yang benjol sebesar telur puyuh.
Namun, rintangan belum berakhir. Di saat Gala baru saja lega, masa lalunya yang singkat selama masa "putus" kembali menghantui. Rian, sang anak mafia bertubuh lembek, menolak menerima penolakan Senja. Karena jalur kekerasan ayahnya gagal total (dan markas mereka sudah diobrak-abrik Siska), Rian beralih profesi. Ia menjadi influencer galau di TikTok.
Dengan julukan "Duta Sadboy Nasional", Rian mengunggah video-video puitis meratapi cintanya pada Senja. Video puncaknya adalah sebuah live streaming yang ditonton lima juta orang. Di video itu, Rian yang bertelanjang dada (menampilkan tato temporer bergambar naga yang luntur terkena keringat), menunjuk ke arah kamera dengan mata sembab.
"Untuk jurnalis pengecut yang bersembunyi di balik otot bidadariku! Aku menantangmu! Hari Minggu, jam dua siang! Adu panco laki-laki sejati! Kalau kau kalah, lepaskan Senja. Buktikan kau pantas untuknya di depan seluruh negeri!"
Tantangan itu viral. Akun media sosial Gala diserbu netizen yang menyuruhnya mundur. Tentu saja, gengsi Gala yang mematikan itu menolak untuk diam. Ia menerima tantangan tersebut.
Pertandingan panco akbar diatur di garasi sempit indekos Gala, disiarkan langsung oleh kru bodyguard Rian. Tapi, hal yang paling absurd dari hari itu bukanlah pertandingannya, melainkan wasitnya. Di tengah meja, berdiri Siska dengan seragam wasit garis-garis hitam putih, wajahnya sedatar papan catur.
Rupanya, Siska telah dibayar oleh kedua belah pihak secara rahasia. Rian menyuapnya tiga juta agar menyabotase kursi Gala. Senja menyuapnya empat juta agar melindungi tangan Gala dan menginjak kaki Rian. Dihadapkan pada konflik instruksi, prosesor logis Siska mengambil keputusan mutlak.
Tepat saat pertandingan dimulai, Siska mengangkat kaki kanannya, dan dengan tendangan axe kick vertikal yang mengerikan, ia membelah meja kayu jati itu menjadi dua bagian. KRAAK! Meja hancur berkeping-keping. Gala dan Rian jatuh tersungkur ke lantai.
"Arena hancur. Pertandingan dibatalkan force majeure. Bayaran tidak dapat dikembalikan," ucap Siska ke arah kamera live streaming, lalu berjalan pergi begitu saja, meninggalkan Rian yang menangis karena kuku kelingkingnya patah, dan Gala yang kebingungan setengah mati.