Bagaimana jadinya jika jiwa seorang remaja cewek tomboi modern yang hobi tawuran, bermulut tajam, dan ceplas-ceplos terlempar ke masa lalu? Sialnya lagi, dia bangun di dalam tubuh permaisuri Xia Ruo, wanita paling rapuh dan tertindas di Kekaisaran Han yang baru saja mencoba bunuh diri karena tidak tahan diabaikan oleh kaisar yang penguasa berdarah dingin yang terkenal kejam.
Kini, tidak ada lagi Permaisuri Xia Ruo yang hobi menangis terisak. Yang ada hanyalah permaisuri baru yang berani duduk bersila di atas ranjang sutra sambil memanggil sang Kaisar kejam dengan sebutan "Mas Bro". Didampingi oleh Yuan er, pelayan setianya yang selalu menangis histeris dan berusaha keras mendidik sang permaisuri agar bisa berbicara lembut, Xia Ruo harus memutar otak untuk bertahan hidup. Mulai dari melabrak dapur istana demi makanan enak, melatih fisiknya yang selemah triplek basah, hingga menghadapi Kaisar kejam yang anehnya... justru mulai terobsesi dengan perubahan barbar dirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5 : laporan di ruang kerja kaisar
Kepala Koki Liu gemetaran di tempatnya berdiri. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari pelipisnya, membasahi kerah pakaian kokinya yang mewah. Dia melirik pisau jagal raksasa yang masih bergetar di atas talenan, hanya terpaut satu sentimeter dari jemarinya. Gila! Wanita di depannya ini benar-benar sudah gila!
"Pa-paham, Permaisuri... hamba paham!" cicit Kepala Koki Liu dengan suara bergetar, seluruh keangkuhannya menguap entah ke mana.
Ara mencabut kembali pisau jagal itu dengan satu hentikan santai, lalu mengetuk-ngetukkan mata pisaunya ke telapak tangan kirinya sendiri. "Bagus kalau paham. Sekarang, gak usah banyak bacot. Buruan siapin makanan paling enak di tempat ini. Nasi anget, ayam panggang, sama sayur segar. Gak pake lama. Kalau dalam waktu lima belas menit belum nyampe di meja kamar gua... lu tahu sendiri akibatnya."
"Ba-baik! Segera hamba siapkan!" Kepala Koki Liu langsung berteriak panik ke arah anak buahnya. "Woi! Cepat bakar ayamnya! Masak nasi yang paling pulen! Buruaaan!"
Seluruh dapur istana mendadak super sibuk layaknya pasar kebakaran. Melihat itu, Ara tersenyum puas. Dia melemparkan kembali pisau jagal itu ke atas talenan dengan akurat, lalu berbalik arah dan melangkah pergi dari dapur dengan gaya santai bin angkuh. Di belakangnya, Yuan-er berjalan mengekor sambil menatap sang Permaisuri dengan tatapan penuh pemujaan. Permaisurinya yang dulu selalu ditindas, sekarang justru bisa membuat kepala koki yang paling sombong sekalipun bertekuk lutut!
Sementara itu, di Paviliun Naga Emas ruang kerja pribadi sang Kaisar.
Kaisar Yan sedang duduk di balik meja kayu cendana besarnya, memeriksa tumpukan gulungan laporan militer dari wilayah perbatasan. Namun, fokusnya agak terganggu. Bayangan wajah menantang Xia Ruo di paviliun tadi terus berputar di kepalanya. Bagaimana bisa seorang wanita yang biasanya pingsan hanya karena melihat darah, tiba-tiba berani memajukan lehernya ke arah mata pedangnya yang telanjang?
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruang kerja diketuk dengan terburu-buru. Kasim tua yang mendampingi Kaisar Yan sejak tadi pagi melangkah masuk dengan wajah tegang yang dilapisi keringat.
"Kaisar... hamba membawa laporan mendesak dari istana belakang," ucap Kasim tua itu sambil membungkuk dalam-dalam.
Kaisar Yan bahkan tidak mengangkat kepalanya dari gulungan kertas. "Jika ini soal Selir Agung Li yang merengek minta dibelikan perhiasan baru, usir saja dia."
"Bukan, Kaisar. Ini... ini soal Permaisuri Xia Ruo," cicit Kasim tua itu gugup.
Gerakan tangan Kaisar Yan yang sedang memegang kuas tinta mendadak terhenti. Dia perlahan mengangkat kepalanya, menatap Kasim tua dengan sepasang mata elangnya yang tajam. "Ada apa lagi dengan wanita gila itu? Apa dia mencoba bunuh diri lagi?"
"Tidak, Kaisar. Justru sebaliknya..." Kasim tua itu menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan. "Permaisuri baru saja melabrak dapur utama istana. Beliau mendobrak pintu hingga hancur, melumpuhkan dua pengawal gerbang dengan tangan kosong, lalu mengancam akan memotong leher Kepala Koki Liu menggunakan pisau jagal raksasa jika tidak diberi makanan enak."
Krak!
Kuas tinta di tangan Kaisar Yan patah menjadi dua bagian. Pria penguasa berdarah dingin itu terpaku di tempat duduknya. Melabrak dapur? Mengancam koki dengan pisau jagal? Melumpuhkan pengawal dengan tangan kosong? Apakah dia sedang mendengarkan laporan tentang permaisurinya atau tentang seorang jenderal preman dari wilayah perbatasan?
"Kau tidak sedang bercanda denganku, Kasim Gao?" desis Kaisar Yan, suaranya merendah penuh intimidasi.
"Hamba tidak berani, Kaisar! Saat ini seluruh dapur istana sedang gempar. Kepala Koki Liu bahkan sampai menangis ketakutan karena hampir kehilangan jarinya," jawab Kasim Gao dengan jujur.
Kaisar Yan menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya. Sebuah senyuman miring yang misterius perlahan terukir di bibir tegasnya. Rasa penasaran yang belum pernah dia rasakan sebelumnya mendadak bergejolak di dalam dadanya.
"Menarik..." gumam Kaisar Yan, matanya berkilat penuh minat. "Xia Ruo, permainan apa sebenarnya yang sedang kau mainkan sekarang?"
Paksu Kaisar berharap banget pada ibu negara 🤣🤣🤣
ketawa mulu mah gue
kok nggak ada yg komen ya?
apakah para pembaca pada terhipnotis krn novel ini enakn dibaca ya?
Kayaknya Kaisar Yan akan mendapatkan lawan seimbang
Gue suka mulut Permaisuri yg badas... yg bikin para pejabat pada setrok berjemaah ketika Permaisuri memberikan kuliah subuh 🤣🤣🤣🤣