Indonesia
NovelToon NovelToon
SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas / Orang Disabilitas / Nikah Kontrak
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.

Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.

Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.

Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Tawaran yang Tidak Terduga

Malam itu Alisha baru tiba di rumah sakit setelah menyelesaikan pekerjaannya. Ia bahkan masih mengenakan pakaian kantor. Tasnya diletakkan begitu saja di kursi sebelum ia mendekati ranjang tempat Raka duduk sambil menatap layar laptop.

“Belum tidur?” tanya Alisha lembut meski kelelahan terlihat jelas di wajahnya.

Raka menatap kakaknya sekilas. “Masih ada tugas matematika.”

Alisha melirik jam dinding. Sudah hampir pukul sepuluh malam. “Dilanjut besok aja ya.”

Raka menggeleng. “Besok ada kelas, Kak.”

“Kalo kamu capek, bilang ke guru," kata Alisha. "Kamu lagi sakit, bukan lagi lomba ngejar nilai.”

Raka tersenyum kecil. “Kakak tahu sendiri aku gak suka ketinggalan pelajaran.”

Alisha menghela napas, lalu duduk di samping ranjang. Itulah Raka. Bahkan setelah hampir setahun hidupnya berubah karena penyakit, anak itu masih berusaha mempertahankan hal-hal yang membuatnya merasa normal.

Padahal setahun lalu semuanya bermula dari keluhan sederhana. Raka sering merasa lelah meski tidak banyak beraktivitas. Tubuhnya semakin pucat, beberapa kali demam tanpa sebab jelas, dan lebam muncul di lengan serta kakinya. Awalnya mereka mengira Raka hanya kelelahan karena sekolah. Sampai suatu pagi ia hampir pingsan.

Pemeriksaan darah di rumah sakit menunjukkan jumlah sel darah yang tidak normal. Dokter kemudian menyarankan pemeriksaan lanjutan dan akhirnya mereka mendapat diagnosis yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Leukemia.

Sejak saat itu, hidup mereka berubah. Raka mulai menjalani kemoterapi dan kontrol rutin. Ada masa ketika kondisinya cukup baik sehingga bisa berada di rumah, tetapi ada pula saat ia harus kembali dirawat karena efek pengobatan atau ketika daya tahan tubuhnya menurun.

Sekolah pun tidak mungkin dijalani seperti sebelumnya. Kondisinya tidak selalu memungkinkan untuk hadir secara langsung. Namun pihak sekolah mengizinkannya mengikuti pembelajaran secara daring karena nilai Raka bagus. Raka bahkan tetap berusaha mempertahankan nilainya.

Alisha tahu adiknya sedang berusaha keras untuk tidak membuatnya semakin khawatir. Dan justru itulah yang membuat hatinya semakin berat.

Raka mengangkat kepalanya, menatap gurat lelah di wajah kakaknya. “Kak.”

Alisha terhenyak dari lamunannya. “Hmm?”

Raka bertanya dengan nada suara ragu. “Uang kita masih ada, 'kan?”

Tangan Alisha yang sedang merapikan selimut berhenti sesaat. “Masih.”

Raka menelisik raut muka kakaknya. “Jangan bohong.”

Alisha tersenyum tipis. “Kakak gak bohong kok.”

Padahal ia tahu jawabannya tidak sesederhana itu. Gaji Alisha sebagai staf di perusahaan swasta cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi tidak mungkin menanggung seluruh biaya pengobatan Raka tanpa bantuan tabungan dan aset keluarga.

Raka menundukkan wajah. “Kalo aku gak sakit, Kakak gak perlu kerja keras kayak gini.”

Alisha langsung menggenggam tangan adiknya. “Jangan ngomong kayak gitu.”

“Tapi kenyataannya—”

“Raka...” Nada suara Alisha membuat adiknya terdiam. “Penyakitmu bukan kesalahanmu.”

Raka menggigit bibir. “Aku cuma gak mau Kakak capek dan banyak pikiran karena aku.”

Alisha terdiam beberapa saat sebelum mengusap rambutnya. “Kakak capek karena kerja. Bukan karena kamu.”

Raka tersenyum kecil, meski matanya mulai berkaca-kaca. “Janji?”

“Janji.”

Alisha kemudian mengambil laptop dari pangkuan adiknya, lalu menutupnya. “Sekarang tidur, jangan membantah.”

“Galak," seloroh Raka mencoba bersikap biasa meski kondisinya tidak baik-baik saja.

“Besok kalau demam lagi, yang repot siapa?”

“Dokter," jawab Raka.

Alisha mengangkat sebelah alisnya. “Yang jagain?”

Raka akhirnya tersenyum. “Kakak.”

“Nah. Jadi nurut.” Alisha menata bantal untuk adiknya.

Raka akhirnya berbaring.

Alisha menarik selimut sampai menutupi tubuh adiknya. Setelah memastikan infus dan beberapa alat di samping ranjang dalam keadaan baik, ia duduk di kursi.

Raka memejamkan mata. “Kak?”

Alisha menoleh. “Ya?”

“Kalau aku sembuh nanti…”

Alisha menunggu kelanjutan kalimat adiknya.

“Aku mau kuliah," lanjut Raka. "Aku mau balikin semua uang Kakak.”

Dada Alisha terasa sesak. Tetapi ia tersenyum sambil mengusap kepala Raka. “Kamu gak perlu balikin apa pun. Buat Kakak, kamu sembuh aja udah cukup kok.”

Raka tidak menjawab lagi. Beberapa menit kemudian napasnya mulai teratur.

Alisha tetap duduk di sampingnya. Di rumah sakit inilah sebagian besar waktunya kini berlalu. Pagi hingga sore di kantor, lalu malam di sisi ranjang Raka. Rumah hanya menjadi tempat singgah untuk mengganti pakaian, mengambil keperluan, atau tidur beberapa jam sebelum kembali menjalani rutinitas yang sama.

Alisha memandangi wajah adiknya yang sudah tertidur. Ia tidak tahu berapa lama lagi tabungan mereka mampu bertahan. Tetapi ada satu hal tidak pernah berubah.

Apa pun yang harus ia korbankan, Alisha akan tetap mencari cara agar Raka mendapatkan pengobatan yang dibutuhkannya.

"Kamu harus sembuh Raka. Kakak gak punya siapa-siapa lagi selain kamu."

Suara Alisha terdengar lirih. Bulir air jatuh dari sudut matanya tanpa bisaa ia tahan.

Alisha akhirnya beranjak dari duduknya, melepas dan meletakkan alat bantu dengarnya di atas nakas. Ia mengambil tikar lipat dari laci nakas, lalu menggelarnya di sisi ranjang. Di situlah ia biasa tidur setiap kali menjaga Raka di rumah sakit. Ia membaringkan tubuh, menatap langit-langit kamar.

Pikirannya kembali pada angka-angka yang sejak beberapa bulan terakhir tidak pernah berhenti menghantuinya.

Tabungan semakin menipis. Biaya kemoterapi, obat-obatan, pemeriksaan darah, kebutuhan selama rawat inap, semuanya terus berjalan. Bahkan ketika kondisi Raka membaik, bukan berarti pengobatannya selesai.

Selama hampir setahun, Alisha sudah menjual berbagai aset peninggalan orang tua mereka, mulai dari motor, investasi, hingga barang-barang berharga yang tersimpan di rumah. Semuanya dilakukan sedikit demi sedikit agar pengobatan Raka tetap berjalan. Kini, hanya rumah yang mereka tinggali yang masih tersisa.

Rumah tempat ia dan Raka tumbuh bersama. Rumah yang menyimpan hampir seluruh kenangan tentang orang tua mereka.

Alisha memejamkan matanya, mencoba menenangkan pikiran yang dipenuhi angka-angka.

Kendati demikian ia tak kunjung terlelap, matanya kembali terbuka. Ia mengangkat kepala saat tanpa sengaja melihat siluet bergerak di celah bawah pintu.

Alisha memastikan Raka masih tertidur sebelum bangkit meraih alat bantu dengarnya dari nakas, memasangnya cepat.

Tok! Tok!

Suara ketukan terdengar, ia pun berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan.

Seorang pria dengan setelan jas rapi berdiri di luar. “Maaf, dengan Nona Alisha Prameswari?”

Alisha menatapnya penuh tanya. “Ya, saya sendiri.”

Pria itu mengangguk sopan. “Saya datang untuk menyampaikan tawaran dari majikan saya.”

Alisha mengernyit. “Tawaran?”

Pria itu mengangguk. “Majikan saya mengetahui keadaan keluarga Anda, termasuk kondisi adik Anda.”

Seketika sikap Alisha berubah waspada. “Siapa majikan Anda?”

. 

...✨“Ketika seseorang sudah tidak punya banyak pilihan, sebuah tawaran bisa terasa seperti pertolongan sekaligus ujian. Ia bisa menjadi harapan yang menyelamatkan, atau justru harga yang terlalu mahal untuk dibayar.”✨...

.

To be continued

1
Dek Sri
lanjut
Cicih Sophiana
lumayan bagus dan masuk akal alasan Aisha kerja...biar ada bohong nya lumayan🫢 😂
Cicih Sophiana
Alisha seperti nya tdk seperti cewek lain yg mendekati Ares... yg matre, celamitan minta ini minta itu... bukti nya Alisha anteng anteng aja tuh gak macam...
Ass Yfa
rencana Arga berhasil menyakiti Ares
Cicih Sophiana
klo semua orang takut menikah Res dunia sepi dong... gak ada anak untuk penerus manusia... orang jg mungkin malas kerja dan beraktifitas untuk apa?
abimasta
puas yaa kamu arga
Cicih Sophiana
klo udah cemburu berarti udah ada rasa ya Res... jujur aja napa Res gapapa kok klo jujur jg Alisha seperti nya jg suka kamu deh...
Puji Hastuti
kamu selamat alisha
Cicih Sophiana
cie cie ada yg cemburu nih yeh... tp gak berani bilang cemburu... padahal jujur aja gak usah malu mas Ares 🫢
Cicih Sophiana
betul kak Nana bukan tempat yg membuat tenang tp seseorang yg tulus...
Cicih Sophiana
Ares kamu sdh ketergantung aroma tubuh Alisha...klo Alisha pergi meninggalkan kamu gimana coba..
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Cicih Sophiana
kasian yah Alisha masa mata dan kuping nya harus di tutup... itu maksud nya Alisha gak boleh liat Ares takut Alisha jatuh cinta gitu yah 🫢
Fadillah Ahmad
Hoooh, sekarang aku tau kenapa Ares tidak ingin terlalu drkat dengan Alisha atau sampai mencintai Alisha. Karena Ares tau, bahwa itu bisa menjadi kelemahan terbesarnya uang bisa di manfaatkan oleh Pesaing bisnis seperti Arga... 😂😂😂 Karena, tidak di dunia ataus ataupun dunia bawah sekalipun, kelemahan terhadap Wanita itulah yang paling di cari oleh lawan... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Cicih Sophiana
Ares nyaman yah memeluk Alisha... sape di lepas aja gak mau
Fadillah Ahmad
Hahaha, itulah bodohnya kau Arga! 😂😂😂 mungkin selama ini, Ares sudah terlalu baik padamu. Membuatmu berada di atas angin. 😁😁😁 Tapi sekarang? Lihatlah langkah yang di ambil Ares? 😂😂😂 Kau sendiri pun lengah kan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Itu adalah langkah yang bagus Alisha... 😂😂😂 Maka, untuk selanjutnya berhati-hatilah... 😂😂😂 Karena, sesungguhnya dunia bisnis itu amatlah kejam. Tidak sesederhana seperti yang terlihat di permukaan... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Benar sekali Alisha... 😂😂😂 maka, berhati-hatilah pada setiap Pertanyaan Arga yaaa 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Arga itu, terlalu lihai dalam menyusun kalimay Alisha... 😂😂😂 Hingga kamu sendiri pun nggk nyadar, bahwa jawaban kamu itu membawa lerugian bagi perusahaan suamimu sendiri... 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!