Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Clara menatap layar ponsel di hadapannya dengan napas yang tertahan.

Tawaran gila dari Stevan masih berputar-putar di dalam kepalanya seperti kaset rusak.

Selama ini, tidak ada satu orang pun yang pernah percaya padanya selain mendiang neneknya.

Dosen-dosennya selalu menyuruhnya menyerah dan mencari karir di belakang panggung saja.

Teman-teman sekelasnya sering menertawakannya setiap kali ia gemetar dan pingsan saat ujian praktik vokal.

"Apakah aku benar-benar bisa melakukannya, Kak?" tanya Clara dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca.

"Bagaimana jika aku mengacaukan lagu buatanmu nanti?"

Stevan menatap mata gadis penakut itu dengan pandangan yang sangat tenang dan meyakinkan.

Ia menarik kembali ponselnya, mengetik beberapa kata dengan cepat, lalu menyodorkannya lagi.

"Kau hanya butuh seseorang yang percaya padamu seutuhnya."

"Dan aku sangat percaya pada suara S-Rank milikmu itu," lanjut tulisan di layar ponsel Stevan.

Air mata yang sejak tadi ditahan oleh Clara akhirnya jatuh membasahi pipi pucatnya.

Ia menghapus air matanya dengan lengan sweter besarnya sambil menganggukkan kepala dengan kuat.

"Aku mau, Kak Stevan," ucap Clara dengan nada yang tiba-tiba terdengar sedikit lebih mantap.

"Aku akan melakukan apa pun yang kakak perintahkan mulai sekarang."

Sudut mata Stevan menyipit, menandakan bahwa ia sedang tersenyum puas di balik maskernya.

Keesokan paginya, matahari belum sepenuhnya terbit saat Stevan tiba di depan Ruang Latihan C.

Ia membawa dua kantong plastik besar berisi alat kebersihan dan beberapa perlengkapan akustik murah.

Uang tabungannya selama menjadi penyanyi trainee hampir habis untuk membeli peralatan rekaman dasar ini.

Srak... srak... srak...

Stevan mulai menyapu lantai kayu yang tertutup debu tebal itu sendirian.

Krieeet...

Pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok Clara yang datang terengah-engah membawa dua gelas kopi hangat.

"Maaf aku terlambat, Kak!" seru Clara panik sambil meletakkan kopi itu di atas meja tua.

"Semalam aku sangat gugup memikirkan hari ini sampai tidak bisa tidur."

Stevan hanya mengangguk pelan dan menunjuk ke arah kain pel di sudut ruangan.

Clara langsung mengerti isyarat itu dan segera membantu Stevan membersihkan tempat tersebut.

Mereka berdua bekerja tanpa banyak bicara selama hampir dua jam penuh.

Ruangan kumuh itu kini terlihat jauh lebih bersih, nyaman, dan layak untuk digunakan sebagai studio rahasia.

Stevan memasang beberapa busa peredam suara murah di celah-celah pintu dan jendela agar suara dari dalam tidak bocor keluar.

Setelah semuanya selesai, Stevan duduk di kursi kayu tepat di depan sebuah piano tua yang sudutnya sudah sedikit keropos.

[TING!]

[Hadiah harian sistem telah tersedia untuk tuan rumah.]

[Apakah tuan rumah ingin mengklaim hadiah harian sekarang?]

Stevan sedikit terkejut karena ia tidak menyangka sistem ini juga memberikan hadiah harian secara cuma-cuma.

"Klaim," batin Stevan tanpa ragu sedikit pun.

[Hadiah berhasil diklaim: Penguasaan Instrumen Piano Tingkat Master.]

Tiba-tiba, aliran informasi yang sangat deras dan hangat masuk ke dalam otak dan kedua lengan Stevan.

Jari-jarinya terasa sedikit kesemutan, namun otot-ototnya seakan memiliki memori dari seorang pianis legendaris yang telah berlatih selama puluhan tahun.

Stevan membuka penutup tuts piano tua itu dengan perlahan.

Tuk... tuk...

Ia menekan beberapa tuts secara acak untuk memeriksa nadanya.

"Piano ini sedikit fals di nada oktaf ketiga, tapi masih bisa kugunakan," batin Stevan setelah mendengar suaranya dengan kemampuan Pendengaran Absolut.

Clara berdiri tidak jauh dari sana, memperhatikan seniornya dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Kak Stevan, apa kakak sedang mencari inspirasi melodi?" tanya Clara dengan hati-hati.

Stevan tidak membalas lewat ponsel kali ini.

Ia memejamkan matanya, membiarkan perasaannya mengambil alih, lalu kedua tangannya mulai menari di atas tuts piano.

Ting... neng... ting...

Sebuah melodi yang sangat indah, melankolis, namun dipenuhi oleh rasa sakit yang mendalam mengalun memenuhi ruangan.

Jari-jari Stevan bergerak dengan kecepatan dan kelembutan yang sangat tidak masuk akal untuk seorang pemula.

Clara terpaku di tempatnya, mulutnya sedikit terbuka karena takjub.

"Ini... indah sekali," gumam Clara tanpa sadar.

"Melodi ini terasa seperti seseorang yang sedang menangis dalam diam."

Stevan terus bermain selama tiga menit penuh sebelum akhirnya mengakhiri lagu itu dengan satu dentingan lembut.

Ia segera mengambil sebuah buku catatan kosong dan pulpen dari dalam tas ranselnya.

Sret... sret... sret...

Tangan Stevan bergerak liar menuliskan deretan notasi balok dan lirik lagu dengan kecepatan yang mengerikan.

Inspirasi mengalir di kepalanya bagaikan bendungan yang baru saja jebol.

Emosi pengkhianatan dari Natasha dan Dion ia tuangkan seluruhnya ke dalam lirik lagu tersebut.

Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Stevan untuk menyelesaikan sebuah lagu utuh.

Ia merobek kertas itu dari bukunya dan menyodorkannya kepada Clara yang masih berdiri mematung.

Clara menerima kertas itu dengan kedua tangan yang sedikit gemetar.

Ia mulai membaca lirik yang tertulis di sana dengan suara pelan.

"Bayanganmu memudar di ujung jalan... meninggalkan luka yang tak sempat terucap..."

Clara menelan ludah, ia bisa merasakan emosi yang sangat gelap dan pedih dari susunan kata-kata tersebut.

"Ini sangat dalam dan menyedihkan, Kak," ucap Clara sambil menatap Stevan dengan pandangan iba.

Stevan meraih ponselnya dan mengetik sebuah instruksi tegas.

"Jangan hanya dibaca. Masuk ke bilik rekaman darurat di sudut sana dan nyanyikan dari bait pertama."

Clara mengangguk patuh dan melangkah masuk ke sudut ruangan yang sudah dipasangi mikrofon dan busa peredam.

Ia memakai headphone murah yang terhubung ke laptop bekas milik Stevan.

"A-aku siap, Kak," ucap Clara melalui mikrofon, suaranya terdengar ragu dan bergetar.

Stevan memberi aba-aba dengan jarinya, lalu mulai memainkan melodi intro menggunakan piano tua tersebut.

Clara menarik napas panjang dan mulai menyanyikan lirik pertama.

"Bayanganmu... memudar di ujung jalan..."

Brak!

Stevan menghantam tuts piano dengan sangat keras hingga menciptakan suara bising yang memekakkan telinga.

Clara terlonjak kaget dan nyaris menjatuhkan headphone dari kepalanya.

"Ada apa, Kak?!" seru Clara dengan wajah pucat pasi.

Stevan mengetik di ponselnya dengan kasar lalu menunjukkannya dari balik kaca bilik rekaman.

"Terlalu lemah! Kau menyanyi seperti orang sakit yang belum makan, bukan seperti orang yang hatinya hancur!"

"Gunakan diafragmamu dan keluarkan resonansi suaramu!"

Clara menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena sudah mengecewakan seniornya di percobaan pertama.

"M-maaf, Kak. Ayo kita ulangi lagi," ucap Clara dengan suara parau.

Stevan kembali memainkan intro piano dari awal dengan tempo yang sedikit lebih menekan.

Clara mencoba menyanyi lebih keras kali ini.

"Bayanganmu memudar di ujung jalan..."

Brak!

Lagi-lagi Stevan menghentikan permainannya dengan kasar dan menatap tajam ke arah Clara.

"Emosimu palsu!" ketik Stevan di layar ponselnya dengan huruf kapital semua.

"Kau memiliki suara S-Rank, tapi kau menyia-nyiakannya dengan teknik bernapas yang buruk!"

"Bayangkan kau baru saja dibuang oleh orang yang paling kau sayangi di dunia ini!"

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Clara.

Ia tidak pernah dibentak atau ditekan sekeras ini oleh dosen mana pun sebelumnya.

Namun, entah kenapa, melihat mata tajam Stevan yang menuntut kesempurnaan membuatnya tidak ingin menyerah.

Ia mengingat bagaimana tatapan jijik teman-temannya saat ia pingsan di panggung.

Ia mengingat rasa sakit karena selalu dianggap tidak berguna.

"Aku akan mencobanya lagi, Kak!" teriak Clara tiba-tiba, mengejutkan dirinya sendiri.

"Tolong mainkan sekali lagi!"

Stevan tersenyum tipis di balik maskernya.

Ia mengangguk dan mulai memainkan piano dengan intensitas yang jauh lebih dalam dari sebelumnya.

Clara memejamkan matanya rapat-rapat, mengabaikan ketakutannya, dan membiarkan emosinya mengambil alih.

"Bayanganmu memudar di ujung jalan!"

Suara Clara kali ini keluar dengan ledakan tenaga yang luar biasa, jernih, dan menyayat hati.

Resonansi suaranya bergetar sempurna di udara, menghidupkan setiap kata dari lirik yang ditulis Stevan.

Lagu itu mengalir dengan magis, memadukan kejeniusan komposisi Stevan dan anugerah vokal Clara yang tak tertandingi.

Saat Clara mencapai nada tinggi di bagian chorus, suaranya terdengar seperti jeritan keputusasaan yang sangat indah.

Stevan terus mengiringinya dengan piano, membiarkan gadis itu melepaskan semua belenggu di dalam hatinya.

Ketika nada terakhir selesai ditekan, Clara membuka matanya sambil terengah-engah mencari udara.

Keringat dingin membasahi pelipisnya, namun ada perasaan lega yang luar biasa di dadanya.

Ia baru saja menyanyikan lagu tersulit dalam hidupnya tanpa merasa takut sedikit pun.

Stevan berdiri dari kursi pianonya, menatap Clara dari balik kaca, lalu perlahan mengangkat ibu jarinya tinggi-tinggi.

Clara tersenyum sangat lebar hingga air mata kebahagiaan mengalir deras di pipinya.

Langkah pertama dari rencana balas dendam yang akan mengguncang industri hiburan akhirnya telah resmi dimulai.

1
Rifqy Channel
nah gini dong 😭🙏🤣🤣
Rifqy Channel
tolong dong itu the zeros mereka harus ungkap identitas biar supaya mereka shock itu. jangan pelit dengan hadiah nya lah.
Nissa Safira: Sabar yaa kak🤣🙏
Aku mau mereka shocknya pas lagi di atas tahta, bukan pas masih di tangga. Tunggu final, hadiahnya bukan cuma identitas yang kebuka, tapi satu industri yang runtuh. Janji deh gak bakal pelit hadiahnya🤣🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!