Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Panggil Aku 'Ibu'
Mireya tersenyum. “Belum tentu. Kalau kita tanam sendiri, kamu pasti akan sangat menyukainya.”
Elden menggeleng. “Tidak mungkin.”
“Kita lihat saja nanti.”
Mereka terus berjalan. Mireya memperhatikan tanah di sekelilingnya. Semakin jauh dari rumah utama, semakin jelas terlihat beberapa bagian perkebunan yang kurang terawat.
Banyak tanaman tumbuh tidak beraturan. Sebagian lahan bahkan tampak kosong.
Mireya berhenti. Ia mencoba berjongkok untuk memeriksa kondisi tanah di sana.
Namun baru setengah turun, gerakannya melambat.
“Ah…” Mireya mengernyit.
Ternyata posisi sesederhana itu tidak semudah yang ia bayangkan. Ia akhirnya berhasil berjongkok, meskipun harus menahan napas sejenak.
“Entah sejak kapan jongkok saja jadi sesulit ini,” gumamnya.
Elden memperhatikannya dari samping. Kepalanya miring. Kemudian ia menatap boneka gajah kecil yang tadi dibawanya.
Boneka itu ia dudukkan di tanah. Elden menatap bonekanya.
Kemudian menatap Mireya. Lalu membandingkan keduanya. Matanya membesar.
“Mireya…”
“Hm?”
“Kamu lucu.”
Mireya menoleh. “Kenapa?”
Elden menunjuk boneka gajahnya. “Kamu mirip dia kalau duduk.”
Mireya terdiam. Kemudian wajahnya langsung berubah. “Elden!”
Anak itu tertawa. “Hahaha!”
“Kamu tidak boleh menertawakan orang yang sedang bekerja!”
“Tapi kamu sangat lucu! Mirip sekali dengan Bona gajah kecilku.”
Mireya mendengus. “Biar saja. Yang penting aku tetap bisa mendapatkan uang.”
Namun, Elden tidak memahami yang dibicarakan kembaran Bona itu.
Ia akhirnya fokus kembali pada tanah di depannya. Tangannya menyentuh permukaan tanah.
'Masih terasa lembap.'
Mireya mengambil sedikit tanah, lalu meremasnya di antara jari. Ia mengamati teksturnya beberapa saat. Matanya perlahan berbinar.
“Hmm…”
Elden yang tadi tertawa langsung mendekat. “Kenapa?”
Mireya menunjukkan tanah di tangannya. “Bagus.”
"Apanya?" tanya Elden bingung. Tangannya ikut mengaduk-aduk tanah yang ada dalam genggaman Mireya.
“Tanahnya ...” ucap Mireya singkat.
“Oooo...” Bibir Elden membulat. “Memangnya tanah bisa bagus?”
Mireya tersenyum. “Bisa. Tanah yang baik itu penting kalau kita mau mendapatkan tanaman yang bagus.”
Elden mengangguk-angguk meskipun tampaknya belum benar-benar mengerti.
Mireya menatap lahan di sekelilingnya. “Sayang sekali…”
“Kenapa?”
“Tanah sebagus ini dibiarkan.”
Elden memiringkan kepala. “Mireya bisa memperbaikinya?”
Mireya tersenyum. “Tentu.”
“Kalau begitu, perbaiki ya ...”
Mireya tertawa. “Memangnya kamu pemilik kebunnya?”
Elden mengangkat dagu. “Ini semua milik ayahku.”
Mireya langsung terdiam. Ia perlahan berdiri dan menatap perkebunan yang terbentang luas di hadapannya. Kemudian pandangannya beralih ke rumah besar di kejauhan.
'Berarti semua ini benar-benar milik Tuan Arven?'
Mireya belum tahu seberapa luas sebenarnya tanah yang dimiliki pria itu.
Namun satu hal langsung muncul dalam pikirannya. Kalau ia benar-benar akan tinggal di sini… ia tidak mungkin membiarkan tanah sebagus ini terus terbengkalai.
Mireya menepuk-nepuk tangannya. Begitu juga tangan Elden yang sempat ikut memainkan tanah. “Elden.”
“Hm?”
“Besok kita mulai.”
“Mulai apa?”
“Berkebun.”
Elden tersenyum. “Baik ... Nanti kita akan tanam semua ya? Bona juga mau aku tanam. Biar bisa tumbuh kayak Mireya.”
Mireya menatap Elden. Matanya sedikit menyipit. "Bocah, kamu tak boleh memanggil namaku seperti itu."
Elden tampak sedikit terkejut. "Lalu aku panggil apa?"
"Aku ke sini untuk menjadi ibu. Jadi, kamu harus memanggilku dengan 'Ibu.' Coba panggil aku 'Ibu'!" perintahnya.
"Ibu," ucap Elden.
Mireya menahan senyumnya. Lima tahun pernikahan dengan Syahzan, tak pernah memiliki kesempatan untuk dipanggil 'ibu.'
Yang ada hanya lah hinaan dari Syahzan dan ibunya, yang menyebutnya 'Si Gendut Mandul.'
Mendengar Elden memanggilnya dengan “Ibu” ternyata membuat dadanya terasa hangat.
"Besok Elden dan Ibu akan berkebun," ucap Mireya kembali.
Kemudian Elden mengulurkan kelingking. “Janji?”
Mireya tersenyum lalu mengaitkan kelingkingnya. “Janji.”
Elden bersorak kecil. “Besok kita tanam bayam!”
Mireya tertawa. “Boleh. Tapi saat panen, kamu harus mau makannya ya.”
Elden langsung menggeleng. “Tidak mau.”
“Katanya mau menanam.”
“Menanam boleh. Makan tidak.”
Mireya memegang dahinya. “Anak ini…”
Dari kejauhan, tanpa mereka sadari, Arven sedang berdiri di teras rumah. Tatapannya tertuju kepada keduanya.
Perempuan itu baru datang beberapa jam. Namun sudah berhasil membuat Elden tersenyum. Sekarang dia bahkan ingin mengurus perkebunan.
Arven menghela napas pelan. “Perempuan aneh.”
Namun sudut bibirnya terangkat sangat tipis. Hanya sesaat. Sebelum kembali datar seperti biasa.
Tidak ada yang menyadari bahwa sejak hari itu, kehidupan rumah Zarreti tidak akan pernah sama lagi.
Perempuan yang awalnya datang hanya untuk mencari pekerjaan… perlahan akan menjadi satu-satunya perempuan yang ada di rumah itu.
Dan bagi Elden, Mireya bukan lagi sekadar pengasuh.
Mireya adalah ibu yang ia pilih.
*bersambung*
Ditunggu cerita selanjutnya
ini cerita tee realistis yg pernah aku baca di sepanjang baca pernovelan si.
kenapa?
karena untuk bahagia itu sebenarnya sederhana.
kita ga perlu merubah orang lain atau memaksa keadaan yg penuh problematika biar lepas dr masa lalu.
cukup jadi diri sendiri dan merubah mindset kita sendiri si.
terimakasih atas cerita indah nya Thor.
mungkin Se savage aku mesti belajar jadi orang woles yaa🤣🤣
kalau aku udah bertanduk itu...
tapi ga bikin puas ya
kalau begini mereka yg malu sendiri
Sekarang kalau mereka tahu Mireya hamil....bakalan heboh.
kira² gmn reaksi keluarga mantan jika tau mireya hamil?
bahagia itu sederhana ya ven
gaya hidup lu yg dulu,yg bebas bisa ga ngasih kebahagiaan kyk gini?