Indonesia
NovelToon NovelToon
TERGODA SUAMI SAHABATKU

TERGODA SUAMI SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Pelakor / Disfungsi Ereksi / Saling selingkuh
Popularitas:606
Nilai: 5
Nama Author: Yovan Gunardio Darmawan

Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5 — Kamu Suamiku, Adrian

Lampu kecil di sudut ruang tamu menyala ketika Nara membuka pintu.

Ia sudah melepas sepatu, tetapi belum sempat menaruh tas saat Dimas menelepon.

“Lama sekali. Katanya pengecekan sudah selesai?”

“Nunggu taksi. Hujan, susah dapatnya.”

Nara berjalan ke arah tangga. Rok basahnya menempel pada kaki, dan ia hanya ingin melepas semuanya lalu berbaring.

“Berhenti dulu.”

Ia berhenti. Baru beberapa detik kemudian ia sadar dirinya tepat menghadap kamera.

“Basah begitu kenapa? Ada kantor besar malah nunggu di jalan. Kamu suka sekali bikin hal gampang jadi repot.”

Nara menatap lensa di sudut ruang tamu. Ia masih membawa tas, tetapi Dimas terus bicara seolah ia sengaja berdiri di bawah hujan untuk membuatnya kesal.

“Aku sudah kirim foto halte tadi. Taksi yang kulihat keburu diambil orang.”

“Makanya telepon aku. Kalau sudah ngotot sendiri, begini hasilnya. Aku tanya dari tadi jawabanmu juga pendek-pendek.”

Nara menutup mata sebentar. Ia bisa menjelaskan aplikasi yang terus mencari pengemudi, kenapa ia keluar dari lobi, dan kenapa tidak kembali. Dimas akan mencari satu lagi hal yang menurutnya salah.

“Aku kedinginan, Dim. Bajuku basah. Aku mau mandi dulu.”

“Baru ditanya sudah mau lari. Nanti kalau sakit, aku juga yang—”

Nara mengakhiri panggilan.

Telepon langsung berdering lagi. Ia membiarkannya sampai berhenti, naik ke kamar, mengambil pakaian bersih, lalu masuk ke kamar mandi.

Ia mengunci pintu.

Di ruangan ini tidak ada kamera. Dimas tidak pernah memasangnya di sini. Nara dulu tidak pernah berpikir sebuah kamar mandi akan terasa seperti tempat paling aman di rumahnya.

Ia menyalakan air.

Setelah itu barulah tangisnya keluar, keras dan tersendat, sampai ia harus menekan handuk ke mulut. Ia merosot di depan lemari wastafel, masih memakai rok yang basah.

Dimas akan marah karena teleponnya diputus.

Adrian sekarang tahu semua yang seharusnya ia simpan.

Maya mungkin akan mengiriminya resep atau menanyakan harga bingkai besok pagi, dan Nara harus menjawab seperti biasa.

Ia menangis sampai kepalanya sakit.

Ponselnya diletakkan di wastafel. Beberapa pesan masuk, tetapi ia tidak membacanya. Air terus mengalir. Nara membiarkannya agar tangisnya tidak terdengar dari luar.

* * *

Adrian pulang dengan ujung celana basah. Maya langsung bangkit dari sofa.

“Kok sampai begini? Mobilnya kenapa?”

“Nggak apa-apa. Tadi kehujanan di luar kantor.”

Maya menyentuh lengannya, lalu menyuruhnya mandi sebelum makan. Adrian mengangguk dan naik. Di depan meja rias ia berhenti; ponsel Maya tergeletak di sana, tetapi ia membiarkannya.

Ia menunggu sampai istrinya masuk membawa handuk bersih.

“Kamu menunjukkan video kita ke Nara?”

Maya berhenti di dekat ranjang.

“Nara yang bilang?”

“Aku tanya kamu, May.”

Handuk-handuk itu diletakkan di kasur. Maya merapikan tumpukannya sebentar sebelum mengangkat wajah.

“Dia cuma lihat sebentar. Di ponselku, nggak kukirim. Aku tahu kamu bakal marah, tapi Nara nggak mungkin menyebarkannya.”

“Kita sepakat nggak ada orang lain yang boleh lihat. Kamu ingat waktu itu kamu bilang apa? Cuma buat kita.” Adrian menatapnya. “Aku percaya.”

“Iya. Aku salah.” Maya mengambil ponselnya. “Aku hapus sekarang. Kamu lihat sendiri.”

Ia membuka folder, menghapus video itu, lalu mengosongkan folder sampah. Sesudahnya ia menyodorkan layar kepada Adrian, menunggu.

Adrian tidak mengambilnya.

“Kenapa harus Nara?”

“Karena dia yang sedang sama aku waktu itu. Aku nggak mengumpulkan orang buat nonton, Adrian.”

Nada jengkel itu membuat Adrian semakin sulit menahan marah. Ia teringat makan malam beberapa bulan lalu: Maya ikut merayakan pesanan besar Nara, lalu sepanjang perjalanan pulang mengeluh karena semua orang bertanya soal lukisan, bukan acara yang ia kerjakan.

“Waktu dia dapat pesanan besar itu, kamu kesal karena orang-orang terus memujinya. Apa video ini juga begitu? Kamu ingin dia iri?”

Maya menurunkan ponsel.

“Jadi keluhanku di mobil masih kamu simpan? Aku cerita sama suamiku, sekarang dipakai buat membuktikan aku teman yang busuk?”

“Aku ingin tahu kenapa kamu merasa perlu memperlihatkan itu.”

“Aku sudah minta maaf dan sudah hapus. Kamu masih mau dengar apa?”

“Bahwa kamu paham kenapa aku marah, bukan cuma ingin aku berhenti membahasnya.”

Maya melempar ponsel ke ranjang. Benda itu memantul di selimut.

“Baik. Aku ingin dia iri. Puas?”

Adrian terdiam. Maya tertawa sekali, pendek, lalu mengusap matanya dengan kesal.

“Sekali saja aku mau jadi orang yang punya sesuatu lebih baik dari dia. Bukan soal lukisan, bukan soal siapa yang disukai semua orang. Aku punya suami yang sayang sama aku. Apa salah kalau aku bangga?”

“Bangga sampai perlu menunjukkan kita di ranjang?”

Maya memalingkan wajah. Pertanyaan itu membuat pipinya panas, tetapi ia telanjur mengatakan terlalu banyak untuk mundur.

“Kamu nggak kenal aku waktu kecil. Setiap ada Nara, orang langsung tahu harus memuji siapa. Bahkan kalau kami sama-sama mengerjakan sesuatu, yang ditanya pasti dia dulu.” Ia mengusap pipi lagi. “Aku senang dia berhasil. Aku yang carikan koneksi galeri. Waktu kamu butuh lukisan, siapa yang menyebut namanya?”

Adrian memandangnya tanpa menjawab. Maya meraih ujung selimut dan meremasnya.

“Aku tahu rumah tangganya nggak bahagia. Dan iya, kadang itu bikin aku merasa hidupku nggak kalah-kalah amat. Jelek? Aku tahu. Tapi cuma itu. Aku nggak pernah berharap Dimas menyakitinya.”

“Kamu tahu dia sedang susah, tapi tetap mau membuatnya merasa kalah.”

“Dia tetap bisa telepon aku kapan saja! Aku yang dengar dia nangis, aku yang jemput kalau mobilnya dipakai Dimas. Semua itu jadi nggak ada artinya cuma karena aku pernah iri?” Suaranya naik. “Aku nggak bikin pernikahannya berantakan. Aku juga nggak menyuruh Dimas memperlakukan dia seperti itu. Apa aku pernah benar-benar merusak hidupnya?”

Adrian menggeleng pelan.

“May, dia percaya sama kamu. Kamu malah memakai hal yang bikin dia sedih buat menyenangkan dirimu sendiri.”

“Memakai?” Maya mundur sedikit. “Enak sekali kamu ngomong. Dia cerita apa sampai kamu menatapku begitu?”

“Aku menyusul dia ke halte. Dia menangis. Di situ dia cerita soal video.”

Maya berhenti meremas selimut.

“Tunggu. Kamu menyusul dia?”

“Dia kehujanan.”

“Dan kamu ikut keluar sampai basah begini.” Maya memandang kemejanya, baru kemudian kembali ke wajahnya. “Tadi kamu bilang kehujanan di kantor.”

“Memang dari kantor. Jangan pindahkan masalahnya—”

“Aku baru tahu suamiku mengejar perempuan lain sampai kehujanan, masa aku nggak boleh tanya?”

Adrian hendak menjawab, tetapi Maya mengangkat tangan, meminta ia diam.

“Kalau kamu marah karena aku melanggar janji soal video, aku terima. Aku memang salah. Tapi dari tadi kamu bicara soal betapa kasihan Nara, betapa dia percaya padaku. Kamu bahkan ingat keluhanku berbulan-bulan lalu untuk membelanya.”

“Aku juga ada dalam video itu, May.”

“Lalu kenapa yang kamu tuntut dari tadi perasaanku pada Nara?”

Adrian tidak langsung menjawab. Ia masih marah kepada Maya, tetapi pertanyaan itu membuatnya teringat rasa senang di halte ketika Nara mengaku terus memikirkannya. Ia belum mengatakan bagian itu kepada istrinya.

Maya memperhatikan keraguannya.

“Aku ini istrimu, Adrian. Kamu pulang, aku khawatir lihat kamu basah. Aku bahkan belum tahu kamu habis mengejar dia, dan sekarang aku yang harus dengar betapa buruknya aku memperlakukan temanku sendiri.” Suaranya pecah. “Kamu jatuh cinta sama dia?”

Ia menunggu.

Adrian melihat mata istrinya yang merah, tetapi yang teringat justru Nara berusaha berhenti menangis agar bisa bicara. Ia seharusnya mengatakan tidak. Hanya itu yang diminta Maya.

“Adrian.”

Panggilan kedua lebih pelan. Ia mengangkat wajah, dan Maya menatapnya seperti baru melihat sesuatu yang mengerikan.

“Ya Tuhan. Aku sampai cerita semua itu ke kamu…”

“May, aku belum—”

“Belum apa?” Maya menunggu lagi. “Selesaikan. Belum apa?”

Adrian tidak bisa meneruskannya. Maya menyambar bantal dan melemparkannya ke lantai.

“Jangan sentuh aku.”

Ia belum bergerak, tetapi kini benar-benar tidak berani mendekat.

“Aku nggak bilang kita—”

“Kita siapa?” Maya menatapnya tajam. “Aku dan kamu? Atau kamu sama dia?”

Adrian mengatupkan mulut. Air mata Maya turun semakin deras; ia menghapusnya dengan marah, seolah tidak mau menangis di depannya.

“Tadi aku merasa menjijikkan karena pernah senang pernikahanku lebih baik. Kamu biarkan aku cerita. Kamu dengarkan semuanya.” Ia tertawa pahit. “Ternyata aku bahkan nggak tahu apa yang sedang kupamerkan.”

“May…”

“Sudah. Aku nggak sanggup dengar kamu mengucapkan namaku begitu lalu tetap nggak menjawab.”

Maya berbalik dan menekan kedua tangan ke meja rias. Adrian tetap di dekat ranjang. Ia ingin mengatakan sesuatu untuk menenangkan istrinya, tetapi ia tidak punya jawaban yang dimintanya.

“Aku di bawah sebentar.”

Maya tidak menoleh. Tangisnya masih terdengar ketika ia keluar.

* * *

Adrian duduk di mobil yang masih terparkir di halaman. Ia tidak menyalakan mesin.

Rumah di depannya terang. Di lantai atas, tirai kamar bergerak sedikit, lalu diam.

Ia memegang ponsel di pangkuan.

Nara belum memberi kabar. Ia pun tidak pernah memintanya. Perempuan itu pergi sebelum mereka selesai bicara. Adrian teringat cerita tentang kamera dan pemeriksaan ponselnya; ia khawatir Dimas akan kembali memarahinya karena pulang terlambat.

Ia membuka nomor Nara.

Ia hanya perlu tahu ia sudah sampai.

Adrian mengulang alasan itu sekali lagi sebelum menekan tombol panggil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!