Alfa Rizky Pradana mengalami nasib yang sangat malang. Tak hanya dikhianati istrinya, tetapi juga oleh sahabatnya sendiri -- orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Keduanya bersekongkol merampas seluruh harta dan mencuranginya habis-habisan. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu, anak yang dibesarkannya ternyata hasil perselingkuhan mereka.
"Segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" usir Ammar
"Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu!" ujar Davina pongah.
Diusir seperti sampah, setelah dikhianati serta dicurangi hanya diberi sedikit harta sisa, Alfa pergi tanpa apa-apa lagi selain luka dan dendam. Mampukah Alfa bangkit setelah apa yang terjadi padanya?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Bangkit Setelah Dikhianati" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 05.
Menyadari situasi yang kurang baik, Bu Mala langsung menyela, “Ayo... kita masuk dulu ke dalam, baru ceritakan semuanya. Jangan di depan pintu begini,” ujarnya seraya membantu Alfa berdiri lalu menuntunnya masuk ke dalam. Kemudian duduk di kursi kayu jati tua ruang tamu.
Pak Ikhsan mengikuti di belakang lantas duduk di seberang Alfa. Wajahnya tampak tegang dan penuh tanya, tak sabar menunggu penjelasan. "Sekarang ceritakan yang terjadi sebenarnya... Apa kamu bertengkar dengan istrimu?"
Alfa menarik napas panjang, netranya menatap kedua orangtuanya bergantian—wanita bijaksana yang tak pernah bosan menasihatinya, serta pria tegas yang selalu mengajarkannya arti kejujuran. Perlahan dia pun mulai menceritakan tanpa ditutup-tutupi.
"Tadi setelah mengirim barang aku memutuskan pulang. Tapi, saat sampai di rumah dengan mata kepalaku sendiri aku memergoki Davina dan Amar sedang bercumbu di atas tempat tidurku."
Alfa mengeratkan giginya, rasa marah dan sakit kembali menyergap dada. Bu Mala menutup mulutnya, menatap sang anak dengan mata berkaca-kaca.
Sementara Pak Ikhsan mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Dasar perempuan tak tahu diuntung!" katanya geram.
"Inilah kenapa dulu ayah dan ibumu tidak setuju kamu menikah dengannya. Dia itu...."
"Ayah...sabarlah," potong Bu Mala yang tak ingin suaminya larut dalam emosi.
"Kita dengarkan dulu sampai Alfa selesai menceritakan semuanya," lanjutnya seraya mengusap lengan suaminya.
Pak Ikhsan hanya bisa mengembuskan napas kasar mendengar ucapan istrinya.
Alfa lantas kembali melanjutkan ceritanya, "Mereka tak hanya berkhianat di belakangku, Yah, Bu... Tapi ternyata semuanya sudah mereka rencanakan matang-matang sejak lama. Di saat aku sibuk ke sana ke kemari mencari klien agar usahaku makin berkembang, rupanya mereka diam-diam menguras semua harta dan memindahkan aset berharga lainnya atas nama Davina."
"Rumah, tanah, kendaraan, hingga seluruh aset usaha yang aku bangun dari nol. Semuanya mereka rampas dariku lalu membuangku seperti sampah tak berguna. Selama ini aku terlalu percaya pada mereka sehingga tak menyadari telah menyerahkan segalanya pada mereka dengan tanganku sendiri."
Airmata Alfa kembali jatuh, tetapi kali ini bukan karena lemah, melainkan karena kenyataan yang terlalu pahit untuk diterima akal sehat.
"Dan yang jauh lebih menyakitkan lagi dari sekedar kehilangan harta..." Alfa menatap kedua orangtuanya dengan pandangan hancur. "Naima... anak yang selama ini aku sayangi lebih dari nyawaku, ternyata bukan darah dagingku. Dia anak Davina bersama Ammar."
Pria yang sedang rapuh itu tersenyum getir, bahunya terguncang pelan. Dia pun mengungkap bahwa selama ini Davina telah memberikan obat penurun kesuburan agar tak bisa punya anak karena wanita itu tidak mau mengandung benihnya.
"Kur4ng 4j4r...!!!" Pak Ikhsan benar-benar murka tak terima harga diri anaknya diinjak-injak. Tangannya mengepal lalu memukul meja dengan keras.
Brakkk!!!
Sementara Bu Mala beristighfar berkali-kali lalu merengkuh Alfa dalam pelukan, membiarkannya menangis tersedu-sedu. "Menangislah sepuasmu malam ini. Tumpahkan semua yang kamu rasakan."
"Menangis bukan berarti kamu lemah, tapi ibu tahu kamu sedang rapuh, Nak," bisiknya seraya mengusap punggung anak lelaki kesayangannya.
"Kenapa mereka begitu tega padaku, Bu?" desis Alfa mengeratkan pelukannya pada sang ibu.
Bu Mala mengeratkan pelukannya, seolah ikut merasakan sakit yang Alfa rasakan. Namun, ia berusaha menahan gejolak hatinya agar tetap terlihat tegar di hadapan Alfa.
"Jangan tanya kenapa mereka tega. Karena hati nurani mereka telah dibutakan oleh nafsu dan keserakahan. Tapi mereka lupa bahwa setiap perbuatan pasti akan ada balasannya."
Alfa melonggarkan pelukan, mengangkat wajahnya menatap sang ibu. Airmata masih membasahi pipinya, tetapi tatapannya mulai berubah. “Semua yang Ayah dan Ibu khawatirkan dulu ternyata benar. Tapi aku yang tidak mau mendengar. Aku terlalu percaya pada Davina sampai tak pernah berpikir dia akan menghancurkan hidupku seperti ini,” ucapnya lirih lantas mengusap wajahnya yang basah.
Bu Mala mengusap kepala Alfa dengan lembut. “Jangan menyalahkan dirimu terus-menerus, Nak. Kesalahanmu hanya karena terlalu baik dan percaya kepada orang yang sama sekali tak pantas menerima kepercayaanmu.”
"Sekarang sudah malam, sebaiknya bersihkan dirimu dan beristirahat. Kita bicarakan masalah ini besok lagi dengan kepala dingin," lanjutnya bijak.
Alfa mengangguk lemah, lalu perlahan bangkit berdiri. Dia melangkah gontai menuju kamarnya, meskipun sempit tak seperti kamar di rumahnya, tetapi terasa jauh lebih nyaman. Dipandanginya ruangan yang masih sama persis saat terakhir kali dia tinggalkan.
Sesaat kemudian setelah membersihkan dirinya serta mengobati luka di wajah, Alfa membaringkan tubuhnya berusaha menenangkan hati dan pikirannya. Namun, satu hal yang mulai dia pahami bahwa dirinya tidak sendirian. Masih ada orangtua yang akan selalu mendukungnya. Dan itu cukup menjadikannya alasan untuk bisa bangkit kembali.
Sementara itu, di dalam kamarnya, Pak Ikhsan dan Bu Mala masih duduk diam di tepi ranjang. Tak ada kata-kata yang terucap, tetapi tatapan keduanya sama-sama menyimpan amarah dan kesedihan mendalam. Hati mereka perih melihat anak yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang harus menerima luka sedalam itu. Setelah kejadian ini mereka tak akan membiarkan anak lelaki satu-satunya itu terus larut dalam duka nestapa. Alfa harus bangkit dan membuktikan bahwa dia bukan pencundang melainkan seorang pemenang.
.
.
.
Di sisi lain, begitu sosok Alfa hilang ditelan kegelapan malam, Ammar langsung merangkul Davina masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rapat-rapat. Kemudian pria itu duduk bersandar nyaman di sofa ruang tamu. Wajahnya yang tadi tegang seketika berubah, tersenyum puas penuh kemenangan. Sementara Davina membuka lemari mengambil kotak P3K.
"Akhirnya kita berhasil menyingkirkan dia. Siapa suruh jadi orang terlalu baik dan polos. Bukan salahku kalau akhirnya merampas semua darinya."
Sama sekali tak ada rasa bersalah ataupun raut penyesalan dari setiap kata yang terlontar dari mulut wanita itu. Ia Lantas duduk di samping Ammar lalu membersihkan luka dan mengobatinya.
Ammar tertawa kecil, lantas meraih tangan wanitanya dan menggenggamnya erat. Kemudian menceritakan rencana liciknya meski tak berjalan mulus.
"Kamu tahu nggak? Sebenarnya sebelum Alfa berangkat tadi pagi, aku sengaja mengendorkan sedikit tutup lubang angin pada ban belakang truknya."
Ammar tersenyum miring, matanya berkilat jahat saat mengenang rencananya itu. "Tujuanku hanya satu; supaya nanti pas bannya kempes di jalan, dia terpaksa pulang lagi untuk mengambil ban serep.
Dia menggelengkan kepalanya, ada nada kesal bercampur heran. "Tapi sayang sekali... dia bukannya pulang ke rumah, seperti yang aku harapkan, malah langsung membawa truknya ke bengkel untuk diperbaiki. Padahal kalau dia pulang ke rumah, aku sudah siapkan kejutan buat dia."
"Jadinya aku terpaksa mengubah rencana secepatnya. Aku sengaja menyuruh Pak Jaya ke bengkel, memintanya ngomong supaya Alfa hati-hati, jangan terlalu percaya sama orang dekat, takutnya malah jadi bumerang buat diri sendiri."
"Aku yakin pasti dia kepikiran sama omongan Pak Jaya makanya langsung pulang setelah kirim barang."
Davina mendengarkan dengan mulut sedikit terbuka, takjub bercampur kagum luar biasa. "Astaga... Jadi semua itu rencanamu, Mas?"