Indonesia
NovelToon NovelToon
Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Action / Nikah Kontrak
Popularitas:949
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Gudang yang Dibiarkan Terbuka

...#...

...Bima tidak menelepon Pak Darto. Ia menatap layar ponsel sampai layar itu mati sendiri, lalu menekan tombol samping sekali lagi, dan melihat wallpaper kosong yang tidak pernah ia ganti sejak membeli ponsel itu....

..."Kamu mau tetap di sini atau ikut?" tanya perempuan itu....

..."Ikut ke mana?"...

..."Ke tempat yang kamu tanyakan dari tadi."...

...Bima berdiri. Lututnya kaku karena terlalu lama duduk di sofa kulit yang dingin. Ia memegang lengan kirinya dan merasakan perban yang sudah mulai mengeras. Kepalanya masih berdenyut di sisi yang tadi membentur kotak logam....

..."Saya mau bicara dengan Pak Darto dulu."...

..."Dia tidak akan menjawabmu sekarang."...

..."Kenapa?"...

..."Karena sekarang dia sedang ditanya oleh orang yang sama dengan yang tadi malam menanyakanmu."...

...Bima menatapnya. Perempuan itu sudah memakai mantelnya lagi dan merapikan kerahnya dengan dua gerakan singkat, tanpa menunggu jawaban....

..."Mbak bilang Pak Darto aman," kata Bima....

..."Aku bilang ibumu dan adikmu aman. Itu berbeda."...

..."Apa bedanya?"...

..."Ibumu bisa dijaga dengan pintu terkunci. Pak Darto tidak bisa dijaga dengan itu."...

... ...

...Pagi di pelabuhan tidak datang pelan-pelan. Langit masih kelabu ketika mobil kembali melewati deretan kontainer, dan bau solar bercampur asin laut langsung masuk lewat celah jendela yang pecah. Rico tidak bicara sejak mereka keluar dari ruko. Ia hanya menyetir dengan satu tangan, sesekali mengecek kaca spion, lalu menurunkan kaca samping sedikit untuk mendengar sesuatu di luar....

...Bima duduk di belakang dengan lengan kiri ditopang paha. Perempuan itu duduk di sebelahnya, tidak membuka map lagi. Ia menatap jendela seperti sedang menghitung kontainer satu per satu....

..."Namanya siapa?" tanya Bima....

..."Yang mana?"...

..."Mbak."...

...Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia menoleh sedikit, hanya cukup untuk melihat Bima dari sudut matanya....

..."Kamu sudah punya nama untukku sendiri?"...

..."Belum."...

..."Kalau sudah punya, pakai saja."...

...Bima mendengus pelan. "Saya nggak mau bikin nama buat orang yang nggak mau ngaku namanya."...

..."Kalau begitu, kamu tidak akan punya nama untukku sampai kamu tahu apa yang aku mau."...

..."Berarti saya panggil Mbak aja."...

..."Itu lebih jujur."...

...Mobil melewati sebuah pos jaga kecil. Penjaganya, laki-laki gemuk dengan seragam kebesaran, tidak bangun dari kursi. Ia hanya mengangkat tangan sedikit ke arah kaca mobil, lalu kembali menatap televisi kecil di mejanya. Tidak ada yang mengecek plat, tidak ada yang menanyakan tujuan....

..."Dia tidak pernah bertanya?" tanya Bima....

..."Dia tahu jangan bertanya."...

..."Mbak yang bayar dia?"...

..."Tidak. Orang yang bayar dia tidak pernah datang ke pos ini."...

..."Kenapa?"...

..."Karena dia sudah mati."...

...Bima menoleh. Perempuan itu tetap menatap jendela, dan ekspresinya tidak berubah. Ia tidak berusaha membuat kalimat itu terdengar dramatis. Ia mengucapkannya seperti menyebut jam....

..."Mbak serius?"...

..."Aku tidak sering bercanda, Bima."...

..."Terus pos ini masih dijaga siapa?"...

..."Yang masih mau dibayar."...

... ...

...Gudang 4 berdiri di ujung dermaga paling timur, dikelilingi pagar kawat yang sebagian sudah terlepas dari tiangnya. Atapnya seng bergelombang, cat birunya mengelupas seperti kulit kering. Pintu besarnya terbuka setengah, memperlihatkan sisi dalam yang gelap dan berbau besi lembap. Tidak ada garis polisi, tidak ada papan peringatan. Hanya sebuah lampu sorot kecil yang menyala di sudut atap, berkedip pelan seperti ada yang lupa mematikannya....

...Mobil berhenti di depan pagar. Rico turun lebih dulu dan membuka pintu belakang....

...Bima melangkah keluar dan berhenti. Di tanah dekat pintu gudang, ada bekas ban yang masih basah, membentuk pola setengah lingkaran, seperti seseorang berputar tajam di sana beberapa jam lalu. Di sebelahnya ada kaleng kopi yang sudah penyok, dan sebuah sepatu kanvas kecil tergeletak miring, berisi genangan air hujan....

..."Ini tempat ayah saya kerja?" tanya Bima....

..."Ini tempat ayahmu terakhir kali menulis sesuatu."...

...Mereka berjalan melewati pagar. Rico berjalan di depan dengan langkah yang tidak tergesa, tapi Bima melihat tangannya tidak pernah jauh dari pinggang. Di dalam gudang, udara terasa lebih dingin. Ada rak besi bertingkat, sebagian sudah rebah ke samping, dan di lantai bertebaran kertas basah yang menempel satu sama lain....

...Bima mengambil satu lembar dari lantai. Tulisannya luntur, hanya beberapa angka yang masih bisa terbaca. Ia mengenali pola tulisan itu. Miring. Naik sedikit ke kanan....

..."Ini tulisan bapak," katanya....

..."Iya."...

..."Kenapa semuanya rusak?"...

..."Karena ada yang tidak ingin tulisan itu bisa dibaca."...

...Bima memasukkan kertas itu ke saku, tanpa bertanya. Ia tidak tahu kenapa, mungkin hanya karena tangannya ingin memegang sesuatu yang berasal dari ayahnya....

...Di ujung gudang, ada pintu kecil dengan kunci yang sudah rusak, tergantung ke samping. Perempuan itu berjalan ke sana tanpa ragu. Ia membuka pintu dengan dorongan pelan dan menyalakan senter kecil dari saku mantelnya....

...Di dalam ruangan itu hanya ada meja kayu panjang dan satu kursi yang kakinya tidak sama tinggi. Di atas meja, ada kotak kayu terbuka. Di dalamnya, buku-buku kecil bersampul hitam tersusun rapi, tapi tiga di antaranya hilang dan meninggalkan celah kosong yang masih berdebu di sekelilingnya....

...Bima berdiri di ambang pintu dan merasakan bulu kuduknya berdiri....

..."Ada yang ambil," katanya....

..."Ya."...

..."Kapan?"...

..."Dua hari lalu, mungkin tiga."...

..."Siapa?"...

..."Kalau aku tahu, kita tidak perlu datang ke sini."...

...Bima melangkah masuk. Ia mengusap debu dari tepi meja dan melihat bekas jari di sana, lebih kecil dari jarinya sendiri. Ada juga goresan panjang di kayu, seperti seseorang menyeret sesuatu yang berat dan tergesa-gesa....

...Lalu ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti....

...Di sudut meja, di bawah lipatan kain kanvas yang sudah kaku, ada sebuah gelang kecil berwarna perak. Tipis. Bentuknya sederhana, dengan ukiran yang hampir habis. Gelang itu tampak tidak cocok berada di gudang seperti ini....

...Bima mengambilnya. Di bagian dalam, ada inisial yang diukir sangat kecil. *D.A.*...

...Dimas Ardhana....

...Bima tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggenggam gelang itu lebih erat, sampai ujung-ujung logamnya menekan telapak tangannya....

..."Itu punya adikmu?" tanya perempuan itu dari belakang....

..."Dia nggak pernah ke sini."...

..."Kamu yakin?"...

..."Dia bahkan nggak tahu gudang ini ada."...

..."Tapi dia tahu cara ke pelabuhan. Kamu sendiri yang bilang dia suka lewat jalur belakang pasar ikan."...

...Bima menoleh tajam. "Saya nggak pernah bilang itu ke Mbak."...

...Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya mengarahkan senter ke lantai, di dekat pintu. Ada jejak sepatu sekolah dengan sol karet yang tipis, lalu dua jejak lain yang lebih besar dan berat, saling menimpa....

...Bima merasakan dadanya menyempit....

..."Mereka bawa dia ke sini," katanya pelan....

..."Belum tentu. Bisa saja dia datang sendiri, atau diminta seseorang."...

..."Diminta siapa?"...

..."Itu yang harus kita cari tahu sebelum pagi berikutnya."...

...Di luar gudang, suara mesin mobil terdengar mendekat dari arah jalan. Rico berhenti bicara di telepon dan menoleh ke arah pintu. Perempuan itu mematikan senter....

...Ruangan jadi gelap, hanya sisa cahaya abu-abu dari celah pintu yang memanjang sampai ke meja....

..."Kamu tetap di belakangku," kata perempuan itu....

...Bima tidak menjawab. Ia mengepalkan gelang itu di tangan kanannya, lalu berdiri di belakang bahu perempuan itu, cukup dekat untuk merasakan hawa dingin dari mantelnya, dan cukup jauh supaya tidak terlihat seperti orang yang takut....

...Di luar, mesin mobil berhenti tepat di depan pagar....

...Pintu mobil terbuka. Lalu ditutup lagi. Lalu terdengar langkah pelan di atas aspal basah, satu orang, berhenti di depan pintu gudang yang setengah terbuka....

...Sebuah suara laki-laki memanggil, ramah dan pelan, seperti sedang memanggil seseorang yang sudah lama ia kenal....

..."Bima? Kamu masih di dalam, kan?"...

1
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
siapa tuh penasaran banget deh.. kenapa jadi misterius ya.. 🤔🤔🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu judes sekali sih mbak.. 🤭🤭
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: waahh kayak siapa ya.. 🤔😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
lah terus yang katanya sudah meninggal terus dimandikan itu jenazah siapa dong? 🤔🤔🤔 wah ini yang aku suka dari novel kak Andri.. selalu tidak tertebak... kadang aku suka salah tebak..😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bisa aja kak... 😂😂😂 apanya uang mau digadaikan 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
tegang cuy... 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ya ampun bu.. kenapa juga mesti ditampar sih.. 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kamu suka ngeyel klau dibilangin tuh Bima ih... kalau kamu bisa bela diri, minimal kamu bisa menolong orang tanpa menyusahkan orang lain.. sedangkan ini, kamu sendiri saja hampir mati tadi kan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
apa bedanya sama orang yang sudah tahu api memilih diam...apakah itu masih sama 🤔🤔🤔
tania Weh
Kakkkkk 😭❤️ bikin deg-degan aja! Aku bingung mau nyelametin Axel atau meluk Kenzo duluan 😩🔥 Tapi kalau Kak Author yang nyulik hati aku, aku nggak mau diselamatkan deh, maunya langsung dibawa ke pelaminan! 🤭💋🤣❤️
Silva Ggggjg
luar biasa... cerita terbaik
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu juga kan berdiri.. seperempat berdiri 😅😅 kalau bungkuk kan setengah berdiri... 😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
nah itu berarti kapal nya ayahnya...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
gila tegangan tinggi cuy.. 😱😱😱
tuti raniati
oalah nenek plenger rupanya Thor 🤭
EVandri Beloved❤❤: iya 🤣
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
Mungin maksudnya tikus negara kali ya...😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
terus nama yang cocok buatnya siapa kira² menurut kamu Bima... apakah Surti.. Siti... satu.. 😂😂
EVandri Beloved❤❤: atau siapa???
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu sepertinya yang disimpan di belakang pinggangnya pasti cuman pistol yang keluar gelembung kan.. 😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan siapa dia 😂😂😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mau kaget tapi malah jadi pengen ketawa... kamu jawabnya watados sekali mbak... 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bukan.. yang sama mah mangtados.. baru adik kaka mereka 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
duh pasti malu banget deh 😅😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
baru tahu. ternyata mobil bisa terpeleset.. aku kir hanya manusia saja.... kak authornya bisa ae.. 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan hanya kak author yang bisa seperti itu 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
jawaban yang pintar😂😂 ditanya pucat karna hanya tersorot lampu jalan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: siapa tuh...
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!