Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Gudang yang Dibiarkan Terbuka
...#...
...Bima tidak menelepon Pak Darto. Ia menatap layar ponsel sampai layar itu mati sendiri, lalu menekan tombol samping sekali lagi, dan melihat wallpaper kosong yang tidak pernah ia ganti sejak membeli ponsel itu....
..."Kamu mau tetap di sini atau ikut?" tanya perempuan itu....
..."Ikut ke mana?"...
..."Ke tempat yang kamu tanyakan dari tadi."...
...Bima berdiri. Lututnya kaku karena terlalu lama duduk di sofa kulit yang dingin. Ia memegang lengan kirinya dan merasakan perban yang sudah mulai mengeras. Kepalanya masih berdenyut di sisi yang tadi membentur kotak logam....
..."Saya mau bicara dengan Pak Darto dulu."...
..."Dia tidak akan menjawabmu sekarang."...
..."Kenapa?"...
..."Karena sekarang dia sedang ditanya oleh orang yang sama dengan yang tadi malam menanyakanmu."...
...Bima menatapnya. Perempuan itu sudah memakai mantelnya lagi dan merapikan kerahnya dengan dua gerakan singkat, tanpa menunggu jawaban....
..."Mbak bilang Pak Darto aman," kata Bima....
..."Aku bilang ibumu dan adikmu aman. Itu berbeda."...
..."Apa bedanya?"...
..."Ibumu bisa dijaga dengan pintu terkunci. Pak Darto tidak bisa dijaga dengan itu."...
... ...
...Pagi di pelabuhan tidak datang pelan-pelan. Langit masih kelabu ketika mobil kembali melewati deretan kontainer, dan bau solar bercampur asin laut langsung masuk lewat celah jendela yang pecah. Rico tidak bicara sejak mereka keluar dari ruko. Ia hanya menyetir dengan satu tangan, sesekali mengecek kaca spion, lalu menurunkan kaca samping sedikit untuk mendengar sesuatu di luar....
...Bima duduk di belakang dengan lengan kiri ditopang paha. Perempuan itu duduk di sebelahnya, tidak membuka map lagi. Ia menatap jendela seperti sedang menghitung kontainer satu per satu....
..."Namanya siapa?" tanya Bima....
..."Yang mana?"...
..."Mbak."...
...Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia menoleh sedikit, hanya cukup untuk melihat Bima dari sudut matanya....
..."Kamu sudah punya nama untukku sendiri?"...
..."Belum."...
..."Kalau sudah punya, pakai saja."...
...Bima mendengus pelan. "Saya nggak mau bikin nama buat orang yang nggak mau ngaku namanya."...
..."Kalau begitu, kamu tidak akan punya nama untukku sampai kamu tahu apa yang aku mau."...
..."Berarti saya panggil Mbak aja."...
..."Itu lebih jujur."...
...Mobil melewati sebuah pos jaga kecil. Penjaganya, laki-laki gemuk dengan seragam kebesaran, tidak bangun dari kursi. Ia hanya mengangkat tangan sedikit ke arah kaca mobil, lalu kembali menatap televisi kecil di mejanya. Tidak ada yang mengecek plat, tidak ada yang menanyakan tujuan....
..."Dia tidak pernah bertanya?" tanya Bima....
..."Dia tahu jangan bertanya."...
..."Mbak yang bayar dia?"...
..."Tidak. Orang yang bayar dia tidak pernah datang ke pos ini."...
..."Kenapa?"...
..."Karena dia sudah mati."...
...Bima menoleh. Perempuan itu tetap menatap jendela, dan ekspresinya tidak berubah. Ia tidak berusaha membuat kalimat itu terdengar dramatis. Ia mengucapkannya seperti menyebut jam....
..."Mbak serius?"...
..."Aku tidak sering bercanda, Bima."...
..."Terus pos ini masih dijaga siapa?"...
..."Yang masih mau dibayar."...
... ...
...Gudang 4 berdiri di ujung dermaga paling timur, dikelilingi pagar kawat yang sebagian sudah terlepas dari tiangnya. Atapnya seng bergelombang, cat birunya mengelupas seperti kulit kering. Pintu besarnya terbuka setengah, memperlihatkan sisi dalam yang gelap dan berbau besi lembap. Tidak ada garis polisi, tidak ada papan peringatan. Hanya sebuah lampu sorot kecil yang menyala di sudut atap, berkedip pelan seperti ada yang lupa mematikannya....
...Mobil berhenti di depan pagar. Rico turun lebih dulu dan membuka pintu belakang....
...Bima melangkah keluar dan berhenti. Di tanah dekat pintu gudang, ada bekas ban yang masih basah, membentuk pola setengah lingkaran, seperti seseorang berputar tajam di sana beberapa jam lalu. Di sebelahnya ada kaleng kopi yang sudah penyok, dan sebuah sepatu kanvas kecil tergeletak miring, berisi genangan air hujan....
..."Ini tempat ayah saya kerja?" tanya Bima....
..."Ini tempat ayahmu terakhir kali menulis sesuatu."...
...Mereka berjalan melewati pagar. Rico berjalan di depan dengan langkah yang tidak tergesa, tapi Bima melihat tangannya tidak pernah jauh dari pinggang. Di dalam gudang, udara terasa lebih dingin. Ada rak besi bertingkat, sebagian sudah rebah ke samping, dan di lantai bertebaran kertas basah yang menempel satu sama lain....
...Bima mengambil satu lembar dari lantai. Tulisannya luntur, hanya beberapa angka yang masih bisa terbaca. Ia mengenali pola tulisan itu. Miring. Naik sedikit ke kanan....
..."Ini tulisan bapak," katanya....
..."Iya."...
..."Kenapa semuanya rusak?"...
..."Karena ada yang tidak ingin tulisan itu bisa dibaca."...
...Bima memasukkan kertas itu ke saku, tanpa bertanya. Ia tidak tahu kenapa, mungkin hanya karena tangannya ingin memegang sesuatu yang berasal dari ayahnya....
...Di ujung gudang, ada pintu kecil dengan kunci yang sudah rusak, tergantung ke samping. Perempuan itu berjalan ke sana tanpa ragu. Ia membuka pintu dengan dorongan pelan dan menyalakan senter kecil dari saku mantelnya....
...Di dalam ruangan itu hanya ada meja kayu panjang dan satu kursi yang kakinya tidak sama tinggi. Di atas meja, ada kotak kayu terbuka. Di dalamnya, buku-buku kecil bersampul hitam tersusun rapi, tapi tiga di antaranya hilang dan meninggalkan celah kosong yang masih berdebu di sekelilingnya....
...Bima berdiri di ambang pintu dan merasakan bulu kuduknya berdiri....
..."Ada yang ambil," katanya....
..."Ya."...
..."Kapan?"...
..."Dua hari lalu, mungkin tiga."...
..."Siapa?"...
..."Kalau aku tahu, kita tidak perlu datang ke sini."...
...Bima melangkah masuk. Ia mengusap debu dari tepi meja dan melihat bekas jari di sana, lebih kecil dari jarinya sendiri. Ada juga goresan panjang di kayu, seperti seseorang menyeret sesuatu yang berat dan tergesa-gesa....
...Lalu ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti....
...Di sudut meja, di bawah lipatan kain kanvas yang sudah kaku, ada sebuah gelang kecil berwarna perak. Tipis. Bentuknya sederhana, dengan ukiran yang hampir habis. Gelang itu tampak tidak cocok berada di gudang seperti ini....
...Bima mengambilnya. Di bagian dalam, ada inisial yang diukir sangat kecil. *D.A.*...
...Dimas Ardhana....
...Bima tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggenggam gelang itu lebih erat, sampai ujung-ujung logamnya menekan telapak tangannya....
..."Itu punya adikmu?" tanya perempuan itu dari belakang....
..."Dia nggak pernah ke sini."...
..."Kamu yakin?"...
..."Dia bahkan nggak tahu gudang ini ada."...
..."Tapi dia tahu cara ke pelabuhan. Kamu sendiri yang bilang dia suka lewat jalur belakang pasar ikan."...
...Bima menoleh tajam. "Saya nggak pernah bilang itu ke Mbak."...
...Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya mengarahkan senter ke lantai, di dekat pintu. Ada jejak sepatu sekolah dengan sol karet yang tipis, lalu dua jejak lain yang lebih besar dan berat, saling menimpa....
...Bima merasakan dadanya menyempit....
..."Mereka bawa dia ke sini," katanya pelan....
..."Belum tentu. Bisa saja dia datang sendiri, atau diminta seseorang."...
..."Diminta siapa?"...
..."Itu yang harus kita cari tahu sebelum pagi berikutnya."...
...Di luar gudang, suara mesin mobil terdengar mendekat dari arah jalan. Rico berhenti bicara di telepon dan menoleh ke arah pintu. Perempuan itu mematikan senter....
...Ruangan jadi gelap, hanya sisa cahaya abu-abu dari celah pintu yang memanjang sampai ke meja....
..."Kamu tetap di belakangku," kata perempuan itu....
...Bima tidak menjawab. Ia mengepalkan gelang itu di tangan kanannya, lalu berdiri di belakang bahu perempuan itu, cukup dekat untuk merasakan hawa dingin dari mantelnya, dan cukup jauh supaya tidak terlihat seperti orang yang takut....
...Di luar, mesin mobil berhenti tepat di depan pagar....
...Pintu mobil terbuka. Lalu ditutup lagi. Lalu terdengar langkah pelan di atas aspal basah, satu orang, berhenti di depan pintu gudang yang setengah terbuka....
...Sebuah suara laki-laki memanggil, ramah dan pelan, seperti sedang memanggil seseorang yang sudah lama ia kenal....
..."Bima? Kamu masih di dalam, kan?"...