Sejak lahir, Maria Cecília Santana hanya mengenal satu hal: bertahan hidup.
Dibuang di depan gerbang panti asuhan, dibesarkan dalam lapar dan luka, ia belajar bahwa perasaan adalah kemewahan yang tak mampu ia miliki. Namun ketika ia akhirnya berani bermimpi tentang hidup yang biasa-biasa saja, takdir mempertemukannya dengan pria yang seharusnya tak pernah ia sentuh.
Paolo Salvatore. CEO yang dingin, tampan, dan tak tersentuh. Di balik kerajaan bisnisnya, ia adalah Dom—penguasa salah satu famiglia mafia paling ditakuti di Italia. Pria yang tak dilahirkan untuk mencintai, hanya untuk memerintah.
Satu tatapan. Satu sentuhan. Dan dunia keduanya mulai retak.
Tapi Cecília menyimpan rahasia yang bahkan tak ia sadari—sebuah masa lalu yang terkubur, sebuah nama yang hilang, dan kebenaran yang cukup berbahaya untuk menyulut perang antarkeluarga. Ketika bayang-bayang dari masa silam mulai memburunya, Paolo harus memilih: melindungi kerajaannya, atau melindungi satu-satunya wanita yang berhasil menembus dinding hatinya.
Dari yatim piatu yang tak diinginkan… menjadi ratu di sisi seorang raja kegelapan.
Cinta yang berbahaya. Rahasia yang mematikan. Dan seorang wanita yang menolak untuk sekadar bertahan hidup—kali ini, ia akan berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat yang Bukan Duniaku
POV Maria Cecília
Aku selalu bisa mengenali kapan aku tidak termasuk di suatu tempat.
Nyaris seperti naluri.
Sikap orang-orang, suasananya, tatapan-tatapan itu… semuanya membocorkannya. Dan di sana, menyaksikan Luna berjalan menghampiri keluarganya, hal itu terasa semakin nyata.
Mereka… berbeda.
Tinggi. Berwibawa. Anggun secara alami, seolah terlahir untuk mengisi ruang mana pun. Pakaian tanpa cela, sikap tubuh yang mantap, kehadiran yang kuat.
Kaya.
Berkuasa.
Tak tersentuh.
Aku menelan ludah, merasakan ketaknyamanan tumbuh di dadaku.
"Kurasa lebih baik kita tidak ke sana…" gumamku pada Ana Paula.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tidak menjawab dengan lelucon.
"Aku juga merasa begitu," ucapnya, lebih pelan dari biasanya.
Tapi kami tak punya pilihan.
Luna kembali sambil tersenyum, seolah itu hal paling wajar di dunia.
"Keluargaku ingin kalian duduk bersama kami!"
Aku membeku.
"Lu… tak usah…"
"Harus, dong!" katanya, sudah menarik lenganku. "Ayo!"
"Luna…" aku berusaha menolak.
"Ayo, Cissa!"
Lalu ia berseru:
"Ayo, Paulinha!"
Dan selesai sudah.
Kami sudah diseret.
Ketika kami mendekati meja, kurasakan jantungku berdegup kencang. Seakan semua orang di sana bisa melihat persis dari mana asalku. Seakan mereka tahu bahwa aku bukan bagian dari dunia itu.
Luna mulai memperkenalkan kami.
Yang pertama adalah ibunya.
Seorang wanita cantik, anggun… tapi dengan sorot mata yang lembut.
"Senang berkenalan, sayang-sayangku," ucapnya, menggenggam tanganku penuh kasih. "Terima kasih sudah menjaga putriku."
Kalimat itu mengejutkanku.
"Kami yang berterima kasih…" jawabku, agak canggung.
Ayahnya menyusul kemudian.
Serius. Berwibawa. Tapi santun.
"Selamat atas kelulusan kalian. Luna banyak bercerita tentang kalian." Ia berhenti sejenak. "Anggaplah kalian bagian dari keluarga ini."
Bagian dari keluarga.
Aku nyaris tertawa.
Andai ia tahu…
Tapi aku hanya mengangguk, sopan.
Lalu datang Pietro.
Ia menyapaku dengan ramah, senyum tipis… tapi, ketika ia berpaling ke Ana Paula…
Ia terdiam.
Terlalu lama.
Tatapannya terpaku padanya dengan cara yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Dan yang paling aneh?
Ana Paula justru… membisu.
Aku nyaris menoleh untuk memastikan itu benar-benar dia.
Sahabatku, yang tak pernah melewatkan kesempatan untuk bicara, kini sekadar… bungkam.
Itu hal baru.
Sangat baru.
Lalu…
Datanglah dia.
Paolo.
Aku tak siap.
Meski sudah melihatnya di atas panggung… dari dekat rasanya berbeda.
Sangat berbeda.
Pirang.
Tinggi.
Mata biru yang tajam.
Rambut cerah, tubuh penuh tato. (Terlihat dari leher dan tangannya.)
Ia tampak… berbahaya.
Tapi bukan dengan cara yang kentara.
Ada sesuatu yang lebih dalam.
Lebih senyap.
Ia mengulurkan tangan.
"Salam kenal."
Ketika jemari kami bersentuhan…
Perasaan merinding itu kembali.
Lebih kuat.
Dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Aku nyaris menarik tanganku, tapi aku menahan diri.
"Salam kenal…" jawabku, berusaha tampak biasa saja.
Tapi aku tahu.
Itu tidak biasa.
Kami masih berdiri ketika aku menyadari sesuatu.
Luna.
Tatapannya terpaku pada seorang pria lain di meja itu.
Tinggi.
Kuat.
Rambut pirang.
Raut wajah serius.
Ia juga tampak… berbahaya.
Tapi dengan cara yang berbeda dari Paolo.
Lebih lugas.
Lebih kasar.
"Ini Lutero," ucap Luna, dengan suara yang berbeda.
Aku memandangnya.
Dan aku mengerti.
Saat itu juga.
Ia… benar-benar telah menyerahkan hatinya.
Cara matanya berbinar, cara tubuhnya seolah bereaksi hanya karena berada di dekat pria itu…
Itu adalah cinta.
Lalu aku teringat.
Sebuah percakapan lama.
Suatu malam biasa, ketika ia berkata bahwa ia mencintai seseorang… tapi itu mustahil. Terlarang.
Dan di sanalah pria itu.
Aku merangkai semuanya.
Anak buah keluarga.
Ia… putri sang majikan.
Tentu saja.
Itu tak akan pernah berhasil.
Malam pun berlanjut.
Ringan.
Tak disangka-sangka ringan.
Di suatu titik, Pietro mengajak Ana Paula berdansa.
Ia menerima.
Masih agak canggung.
Lutero meminta izin kepada kedua orang tua Luna.
Mereka mengizinkan.
Dan keduanya menuju lantai dansa.
Aku mengamati.
Cara ia menuntun Luna… mantap, tapi penuh perhatian.
Dan cara Luna seolah pas berada dalam pelukannya…
Indah.
Menyakitkan.
Tapi indah.
Lalu…
"Mau berdansa?"
Aku membeku.
Aku menoleh perlahan.
Paolo.
"Aku…" aku menelan ludah. "Aku tak bisa berdansa."
Ia memandangku.
Tanpa menghakimi.
"Aku yang menuntun."
"Aku bisa saja menginjak kakimu…"
"Aku tak peduli."
"Aku…"
"Ayo."
Itu bukan permintaan.
Tapi juga bukan perintah.
Dan, entah kenapa…
Aku pun ikut.
Lantai dansa terasa lebih luas.
Atau mungkin cuma perasaanku saja.
Ia meletakkan tangannya di pinggangku.
Aku merasakannya.
Kehangatan itu.
Ketegasan itu.
"Santai saja," ucapnya pelan.
Aku mencoba.
Sungguh-sungguh.
Tapi jantungku berpacu kencang.
Tinggiku 1,65.
Ia pasti hampir 1,90.
Aku merasa… kecil.
Lalu ia melakukan sesuatu yang tak terduga.
Ia mengangkatku sedikit dan meletakkan kedua kakiku di atas kakinya.
"Begini lebih mudah."
Aku membelalak.
"Aku akan menggencetmu."
"Tidak akan."
Lalu…
Ia mulai bergerak.
Dan aku ikut bergerak bersamanya.
Seolah aku tak punya pilihan.
Seolah tubuhku memahami iramanya, meski aku tak tahu apa-apa.
Ia berdansa dengan sempurna.
Ringan.
Seolah sedang… melayang.
Dan aku…
Belum pernah kurasakan hal seperti itu sebelumnya.
Aroma tubuhnya harum.
Lengan yang melingkariku terasa… melindungi.
Nyaman.
Salah.
Semua itu salah.
Tapi, meski begitu…
Aku tak ingin ini berakhir.
Ketika musiknya berhenti…
Ia melepaskanku.
Dan kekosongan itu datang.
Seketika.
Aku turun dari kakinya, agak bingung harus menaruh tanganku di mana.
"Lihat?" ucapnya. "Tidak sulit, kan?"
Aku tak menjawab.
Karena ini bukan soal dansa.
Kami kembali ke meja.
Dan pesta berlanjut.
Tapi, bagiku…
Ada sesuatu yang telah berubah.
Hari sudah larut ketika rasa lelah mulai membebani.
Aku tidak terbiasa.
Aku tak pernah begadang selarut itu atas kemauanku sendiri.
Aku mencari Ana Paula.
"Aku mau pulang," ucapku, di sebuah sudut.
"Aku juga," jawabnya seketika.
Kami kembali ke meja.
"Lu, kami pamit dulu…"
Ibunya mengernyitkan dahi.
"Sendirian? Selarut ini?"
"Kami naik taksi saja…"
"Sama sekali tidak," ia memotong, tegas tapi lembut. "Kami yang mengantar kalian."
"Tak usah…"
"Harus."
Tak ada celah untuk berdebat.
Luna muncul entah dari mana:
"Kalian bisa menginap di rumahku!"
"Lu…"
"Tak ada tapi-tapian."
Dan begitulah…
Kami pun berangkat.
Dua mobil.
Yang pertama: kedua orang tua dan kakak-kakaknya.
Yang kedua: aku, Ana Paula, Luna… dan Lutero.
Perjalanan berlangsung senyap.
Tegang.
Ketika kami tiba…
Kukira aku salah paham.
Itu bukan apartemen.
Itu adalah mansion.
Besar sekali.
Seperti di film-film.
Mobil masuk lewat sebuah gerbang besar, terparkir di garasi raksasa. Di sampingnya, sebuah taman yang seakan tak berujung.
Aku terdiam sesaat.
"Ayo," ucap Luna, menarik tanganku.
Kami masuk.
Dan saat itulah aku menyadarinya.
Kakiku sakit.
Sangat sakit.
Aku sudah mulai terpincang-pincang.
Sepatu hak itu menyiksaku.
"Lepas itu."
Suara berat di sisiku membuatku berhenti.
Paolo.
"Kita sudah di rumah."
"Tak apa-apa," jawabku. "Aku kuat."
Ia memandangku.
Lalu melakukan sesuatu yang tak pernah kubayangkan.
Ia menggendongku.
"Hei!"
Aku tak sempat bereaksi.
Ia membawaku ke sebuah bangku dekat taman dan mendudukkanku di sana.
Ia berlutut.
Dan melepaskan sandalku.
Jantungku berpacu.
"Kau tidak terbiasa," ucapnya, mengamati kakiku.
Aku menunduk.
Sebuah lepuh besar.
"Kakimu halus."
Aku langsung merona.
Ia menaruh sandal itu ke tanganku.
"Masuklah."
Ketika kami berbalik…
Semua orang sedang memandang.
Semuanya.
Termasuk kedua orang tuanya.
Aku ingin menghilang.
Kurasakan wajahku membakar.
Tapi aku menarik napas dalam-dalam.
Sikap tubuh.
Selalu.
Luna menggenggam tanganku.
Ia juga bertelanjang kaki.
Ana Paula pun begitu.
Kami menaiki tangga.
Kamarnya…
Lebih besar dari seluruh rumahku.
Ranjangnya muat untuk enam orang dengan mudah.
Lemari pakaiannya…
Seukuran kamarku.
Mungkin lebih besar.
Aku bahkan tak tahu harus memandang ke mana.
Ia menyerahkan handuk kepada kami.
"Pilih piama yang kalian mau."
Aku memilih yang sederhana.
Yang tidak mencolok.
Kamar mandinya…
Kejutan lagi.
Kami mandi, membersihkan riasan, lalu berbaring.
Ranjangnya… sempurna.
Empuk.
Seolah aku sedang melayang.
Dan aku pun tertidur.
Ketika aku terbangun, kedua sahabatku masih tidur.
Aku bangkit perlahan.
Aku ke kamar mandi.
Sikat gigi baru.
Kupakai.
Kucuci wajahku.
Ketika aku keluar, Luna sudah bangun.
"Selamat pagi…"
"Selamat pagi, Cissa."
Ia tersenyum.
"Kau boleh pilih baju."
"Aku pakai gaun ini saja…"
"Jangan konyol," ia tertawa. "Aku punya banyak baju yang belum pernah kupakai. Sekarang jadi milikmu juga."
Aku tak membantah.
Kupilih yang sederhana.
Sebuah gaun lurus.
Sandal teplek.
Ketika aku keluar, Ana Paula juga sudah siap.
Kami turun.
Semua sudah berkumpul di meja.
"Selamat pagi," ucap Luna.
"Selamat pagi…" jawabku dan Ana Paula, malu-malu.
Ibunya tersenyum.
"Duduklah."
Aku mulai makan perlahan.
Dengan hati-hati.
Aku tidak terbiasa.
Kurasakan tatapannya.
Paolo.
"Kau selalu begini?"
Aku mengangkat pandangan.
"Begini bagaimana?"
"Makan sedikit… atau kau sedang malu?"
Sebelum aku sempat menjawab—
"Paolo!" tegur Luna. "Dia memang makannya sedikit. Biarkan saja."
Ia tak menjawab.
Menghabiskan sarapannya.
Lalu pergi.
Aku menghela napas.
Tanpa sadar, aku tadi tegang.
Ayah Luna menawarkan mobil.
Aku menolak.
Ia bersikeras.
Luna bilang ia akan ikut bersama kami.
"Tinggallah," kata ayahnya. "Aku rindu padamu."
"Hanya kalau mereka juga tinggal."
Aku menggeleng.
"Aku harus pulang…"
"Baju itu hadiah," ucap Luna. "Dan kalian tinggal. Ayo nikmati hari ini."
"Lu…"
"Tak ada tapi-tapian."
Aku memandang Ana Paula.
Ia mengangkat bahu.
"Kita kan sudah di sini…"
Aku mendesah.
"Ya sudah."
"Bagus!" Luna tersenyum. "Berenang, lalu makan siang… setelah itu kalian boleh pulang."
Aku tak tahu persis apa yang sedang terjadi.
Tapi aku tahu satu hal.
Hidupku…
Sedang berubah.
Dan terlalu cepat.