Malam itu, Lorena—seorang perawat yang lelah membanting tulang demi menghidupi rumah tangganya—menemukan seorang pria sekarat berlumuran darah di tepi jalan, dan memilih menyelamatkan nyawanya. Ia tak pernah tahu bahwa pria itu adalah Ravi Dumont: penguasa kasino, seorang Don mafia yang dingin, dan sejak malam itu, terobsesi hanya pada satu perempuan—dirinya.
Ketika suami Lorena yang kecanduan judi terjerat utang setengah juta euro, ia memberikan satu-satunya "harta" yang tersisa untuk melunasinya: istrinya sendiri. Dalam sekejap, Lorena berpindah dari pernikahan yang menghancurkan ke tangan pria yang bersumpah takkan pernah melepaskannya.
Ravi bisa mendapatkan apa pun yang ia mau. Ia membelikan Lorena rumah sakit, menaburinya dengan kemewahan, memujanya seperti ratu—tapi cinta tak bisa dibeli, dan hati Lorena penuh amarah pada pria yang menjadikannya barang dagangan. Di balik senyum tenang Ravi tersembunyi sisi tergelap seorang mafia: kejam pada dunia, namun memuja perempuannya dengan obsesi yang berbahaya.
Di antara kilau meja judi, ancaman para pengkhianat, rahasia keluarga, dan gairah yang perlahan membakar segala pertahanan, kebencian mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan: keinginan untuk tinggal.
Bisakah cinta tumbuh dari sebuah transaksi? Bisakah seorang perempuan yang pernah dijual belajar mencintai pria yang membelinya—dan bisakah sang Don yang tak kenal ampun membuktikan bahwa perempuannya bukan lagi harta yang dimiliki, melainkan satu-satunya hal yang tak sanggup ia hidupi tanpanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayane Castro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
POV Lorena
Aku menggeleng dan sekali lagi mencoba bangkit dari ranjang, tapi dia menarikku dengan lebih kuat, mengurungku dalam pelukannya. Aku berjuang untuk lepas, dan dia mulai tertawa.
"Ini tidak lucu, lepaskan aku, Ravi!"
"Ciumanku dulu. Aku tak mau pernikahan kita monoton, aku mau gairah membara sejak pagi hari. Jadi satukan bibir itu dengan bibirku dan masukkan lidahmu yang menggoda itu ke dalam mulutku."
Dia mencoba menciumku, tapi aku memalingkan wajah, kucengkeram lengannya dengan gigiku dan kugigit. Seketika, dia melepaskanku sambil memekik kesakitan. Tapi, entah dari mana, si psikopat itu malah tertawa. Aku bangkit dari ranjang dan berdiri menatapnya, yang tampak semakin gila.
"Betina kecil, kau menggigitku?"
"Aku bukan betina kecil. Hormati aku."
"Belum pernah kulihat perempuan menggigit lelaki. Hanya betina yang begitu. Semua ini cuma supaya tak menciumku?"
"Jangan menyentuhku tanpa izinku dan jangan menuntut apa pun dariku. Aku terjebak dalam kekacauan ini cuma gara-gara si tolol itu menjerumuskanku. Aku takkan pernah sudi memandangmu sebagai pria yang akan kunikahi suatu hari."
"Akan kubuat kau berubah pikiran. Ayo pergi. Kita beli beberapa barang untukmu lalu pulang ke rumah kita."
Dia bangkit hanya mengenakan celana dalam, meraih pakaian di atas meja, dan mulai berpakaian. Setelah itu, dia menggenggam tanganku dan menyeretku keluar dari kasino. Beberapa menit kemudian, dia berhenti di depan sebuah toko yang bahkan untuk menginjak trotoarnya pun aku tak akan berani. Kudengar bunyi pintu mobil, dan Ravi memutar untuk membukakannya bagiku.
"Toko ini sangat mahal, Ravi."
"Kau layak mendapat yang terbaik, Lorena. Layak mendapat apa pun yang kauinginkan."
Tanpa memberiku waktu untuk membantah, untuk mengatakan bahwa itu berlebihan, dia menggenggam tanganku dan menariknya masuk ke dalam toko. Seorang pramuniaga menghampiri kami dengan senyum di bibirnya.
"Aku mau lemari busana lengkap untuk tunanganku. Celana, blus, gaun, pakaian dalam, semuanya. Bawa ke ruang VIP, tinggalkan semua di sana untuk dia pilih, lalu tinggalkan kami berdua."
Pramuniaga itu tersenyum semakin lebar. Sudah pasti, Natalnya terjamin cuma dari komisi ini saja. Ravi membuka sebuah pintu, di dalamnya ada sofa dan bilik pas. Seluruh sisi dindingnya berlapis cermin, elegan secara berlebihan. Sekitar sepuluh menit kemudian, pramuniaga itu kembali bersama dua perempuan lain. Mereka menaruh semua yang dibawa di atas sebuah meja panjang lalu keluar, sesuai perintahnya.
"Aku mau kau berganti pakaian di depanku. Semua yang kau kenakan dan kau sukai akan kita bawa pulang."
Aku menatap gunungan pakaian di atas meja itu dan sadar aku bakal terjebak di sini seharian penuh. Aku tak pernah malu dengan tubuhku. Dan, kalau dia begitu ingin melihat, ya akan dia lihat. Kuambil pakaian dalam pertama beserta sebuah gaun. Kulepaskan seluruh pakaianku sambil menatap matanya. Ravi membenahi posisi duduknya di sofa, hampir-hampir mencondongkan tubuh ke depan. Matanya tak lepas dari kulitku, dan kurasa, seumur hidupku, aku tak pernah merasa sediinginkan ini seperti saat Ravi memandangku.
"Kau perempuan paling menggairahkan yang pernah kulihat seumur hidupku." Belum lagi kata-katanya, yang selalu berhasil membuat perasaanku melambung. "Aku tak menyesal sedikit pun atas semua yang kulakukan untuk mendapatkanmu di sini bersamaku. Untuk bisa menyaksikan pemandangan ini." Aku mengernyit, apa gerangan yang telah dia lakukan untuk membawaku kemari? "Kenakan pakaiannya, aku mau lihat bagaimana tampaknya padamu."
Aku mengenakan pakaian dalam lalu gaunnya. Dia bangkit, mendekat, dan memutar tubuhku hingga membelakanginya, membuatku menghadap cermin. Kedua tangannya meluncur di pinggangku lalu naik menyusuri lenganku. Satu tangan berhenti di bahuku, sementara yang lain merambat ke leherku, membuatku mendongakkan kepala.
"Lihat, betapa cantiknya dirimu. Tapi lihat juga betapa serasinya kita berdua."
Dia tampak nyaris dua meter tingginya, sementara aku cuma seratus enam puluh lima sentimeter. Aku tak habis pikir bagaimana dia bisa bilang kami serasi. Lalu Ravi memutar tubuhku kembali menghadapnya, sedikit membungkuk, dan menggendongku. Takut jatuh, aku melingkarkan kedua kakiku di pinggangnya, sementara dia menahanku dengan tangan di bokongku. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku untuk menciumku, tapi aku menarik tubuh sedikit ke belakang. Ravi tersenyum dan mencoba lagi, dan lagi-lagi aku mengelak. Dia berjalan membawaku hingga punggungku menyentuh cermin. Dengan satu tangan, dia melepaskan kakiku dan mencengkeram daguku.
"Kurasa sudah waktunya kau berhenti lari dan menyerah pada hasrat kita."
"Siapa yang bilang aku menghasratimu?" tanyaku, mempertahankan tatapan tegas ke matanya, seakan aku benar-benar bisa berbohong tentang apa yang kurasakan saat ini.
"Matamu, napasmu, dan tubuhmu. Lihat keadaanmu sekarang. Berbohong padaku bukan pilihan terbaik, Lorena. Aku bisa membaca orang, dan kau sedang tergila-gila ingin kusetubuhi di sini juga, di toko ini. Mau bilang aku bohong?"
"Kau bohong!" Dia memberiku senyum kecil penuh sarkasme dan membawa tangannya ke tengkukku. Saat aku paling tak menyangka, dia menarikku bertubrukan dengan bibirnya.
Kali ini, aku tak sanggup melawan dan akhirnya menyerah pada ciuman itu. Tangannya meremas tengkukku sedikit lebih kuat, menarikku semakin dekat. Sial. Aku seharusnya tak menikmati ini, tapi seluruh tubuhku seolah mengkhianatiku. Ketika dia semakin merapatkanku ke tubuhnya, kulitku meremang, dan ciuman itu menguat, membuatku semakin kehilangan arah. Tapi kemudian, tiba-tiba, Ravi menarik wajahnya dan menurunkanku ke lantai, meninggalkanku terhuyung.
"Aku suka pakaian ini. Ayo coba yang lain." Dia mengecup bibirku sekilas lalu berbalik, kembali ke sofa.
Tapi apa yang barusan terjadi di sini? Kenapa satu sentuhan darinya membuatku jadi begini? Aku tak pernah merasakan hal semacam ini dengan Jorge, padahal dialah lelaki pertamaku. Ravi duduk dengan senyum di bibirnya, jelas puas telah berhasil menggodaku, tapi yang tak dia tahu, akulah ratu segala godaan. Kulepaskan gaun itu dan mendekat ke arahnya, duduk di pangkuannya. Kita lihat saja siapa yang keluar dari sini hari ini dalam keadaan paling gila.