Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.
Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.
Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zivana 6
"Aku terpaksa pergi, Dil! Aku punya alasan dan kamu tahu betapa besarnya cintaku padamu!" tangis Stela pecah. Wanita itu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka.
"Aku kembali untuk kamu dan anak-anak kita. Kasihan Khaisar dan Amora, Dil... mereka butuh ibu kandungnya, bukan wanita asing yang cuma mantan pegawai di butik ibumu!"
Dari luar ruangan, Zivana merasakan seluruh persendiannya meluruh. Kata-kata Stela menancap tepat di ulu hatinya seperti sembilu yang tajam. Kotak bekal di tangannya bergetar hebat.
"Zivana bukan wanita asing, Stela!" tegur Aidil tegas, namun suaranya tertahan.
"Dia istriku. Dia yang merawat anak-anak saat kamu membuang mereka! Membuang kami..."
"Tapi kamu tidak mencintainya, kan?!" seru Stela histeris. Sebelum Aidil sempat menjawab, Stela maju dan langsung menghambur ke pelukan Aidil. Wanita itu melingkarkan kedua tangannya erat-erat di leher Aidil, menyandarkan kepalanya di dada tegap pria itu sambil menangis sesenggukan.
"Tolong, Dil... beri aku kesempatan kedua. Aku tahu kamu masih menyimpan ruang untukku. Aku mohon... Kita kembali lagi membina rumah tangga demi anak-anak. Aku tak rela membiarkan anak-anak tumbuh dan di rawat oleh wanita asing..."
Di dalam ruangan, Aidil terpaku kaku. Kedua tangannya mengambang di udara, tampak syok dan terombang-ambing oleh benturan emosi masa lalu yang mendadak menyeruak. Ia tidak langsung mendorong Stela, ada jeda beberapa detik di mana pria itu membeku dalam dekapan mantan istrinya.
Dan beberapa detik keheningan itu sudah cukup untuk menghancurkan seluruh dunia Zivana.
Dari balik celah pintu, pandangan Zivana mengabur oleh air mata yang mendadak menumpuk tebal. Matanya menyaksikan dengan jelas bagaimana tubuh suaminya tenggelam dalam pelukan wanita masa lalunya. Wanita yang selama tiga tahun ini selalu menjadi bayang-bayang menakutkan dalam pernikahan mereka. Ciuman hangat di kening, bisikan cinta di atas ranjang, dan janji-janji manis beberapa hari lalu seketika terasa bagai kebohongan besar yang menyayat jiwanya hingga tak tersisa.
Setitik air mata luruh melewati pipi Zivana, mendarat dingin di atas permukaan kotak bekal stainless steel yang ia peluk erat di dadanya. Di dalam ruangan kerja bernuansa gelap itu, bayangan Aidil yang membeku dalam pelukan hangat Stela tercetak begitu jelas di matanya.
Setiap detak detik jam dinding koridor terasa menghantam dadanya seperti palu besi. Tatapan Aidil yang tampak begitu terguncang, tanpa segera mendorong wanita itu, sudah cukup memberikan jawaban atas ketakutan terbesar yang Zivana simpan selama tiga tahun ini. Cinta yang baru saja Mekar beberapa malam lalu, ciuman hangat yang masih berbekas di bibirnya, seketika terasa bagai kepalsuan yang amat menyayat.
Zivana mundur dua langkah sangat perlahan, berhati-hati agar bunyi tumit sepatunya tak memicu derit pintu kayu yang sedikit terbuka. Napasnya naik turun terengah, berusaha keras menahan isak tangis agar tak pecah di sana. Aidil tidak tahu ia berdiri di luar. Pria itu terlalu tenggelam dalam drama masa lalunya yang kini menjelma kembali.
Dengan langkah gemetar dan pandangan yang buram tertutup kabut air mata, Zivana berbalik arah. Ia melangkah cepat menuju meja sekretaris yang berada beberapa meter dari ruangan Aidil.
Mbak Sarah, sekretaris Aidil, menengadah dengan senyum ramah yang langsung surut begitu melihat raut wajah Zivana. Wajah sang istri bos tampak pucat pasi dengan kedua mata yang basah dan merah padam.
"Ibu Zivana? Ibu tidak apa-apa?" tanya Sarah cemas, refleks berdiri dari kursi kerjanya.
"Ada yang sakit, Bu?"
Zivana buru-buru menyapu air mata di pipinya menggunakan punggung tangan yang bergetar hebat. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis, sebuah senyuman paling hancur yang pernah Sarah lihat sepanjang hidupnya.
"Mbak Sarah..." suara Zivana terdengar begitu parau dan serak, menyiratkan kepedihan yang teramat sangat. Ia meletakkan kotak bekal berisi masakan favorit Aidil dengan pelan di atas meja marmer tersebut.
"Bu Zivana? Kenapa bekalnya di sini? Bapak ada di dalam, Bu, belum keluar kok," ucap Sarah heran, matanya mengarah ke pintu ruang kerja Aidil yang masih tertutup rapat.
Zivana menggelengkan kepalanya pelan, menelan saliva yang terasa sepahit empedu di tenggorokannya.
"Tidak usah, Mbak... Mas Aidil sedang... sedang ada tamu penting. Tolong jangan diganggu."
"Tapi, Bu..."
Zivana memotong ucapan Sarah, menggenggam tepi meja sekretaris itu untuk menopang kakinya yang terasa melumat dan tak bertulang.
"Mbak Sarah, saya minta tolong satu hal... tolong sekali."
"Iya, Bu? Apa yang bisa saya bantu?" tanya Sarah penuh iba, merasakan atmosfer kepedihan yang luar biasa dari wanita di hadapannya.
Zivana menatap mata Sarah dengan tatapan memohon yang sangat dalam. Air matanya kembali menetes tanpa bisa ia bendung.
"Tolong berikan bekal ini pada Mas Aidil saat tamunya sudah pulang. Tapi, tolong katakan kalau bekal ini dikirim lewat kurir atas perintah Ibu mertua. Jangan pernah bilang... kalau saya datang ke sini hari ini. Jangan pernah katakan kalau saya sempat berdiri di depan pintunya."
Sarah membelalakkan mata, menyadari ada sesuatu yang sangat tidak beres sedang terjadi di balik pintu ruangan bosnya.
"Bu Zivana... Bapak pasti lebih senang kalau tahu Ibu sendiri yang mengantarnya..."
"Saya mohon, Mbak Sarah..." potong Zivana dengan bisikan bergetar penuh keputusasaan. Tangannya meremas kain gaunnya sendiri.
"Tolong pegang janji saya. Jangan katakan saya ada di sini. Biarkan Mas Aidil menyelesaikan urusannya."
Melihat ketulusan dan penderitaan yang begitu pasrah di mata Zivana, Sarah akhirnya mengangguk pelan dengan hati berat.
"Baik, Bu... Saya janji. Saya tidak akan memberitahu Pak Aidil kalau Ibu datang."
"Terima kasih banyak, Mbak Sarah..." bisik Zivana lirih.
Ia menatap kotak bekal itu untuk terakhir kalinya, bekal yang rencananya akan mereka makan bersama dari sang ibu mertua. Dengan sisa kekuatan yang ada, Zivana berbalik dan melangkah tergesa-gesa menuju lift.
Begitu pintu lift tertutup rapat dan menyembunyikannya dari ruangan itu, pertahanan Zivana runtuh sepenuhnya. Ia meluruh di sudut dinding lift, mencengkeram dadanya yang terasa sesak luar biasa, membiarkan air mata kepedihan mengalir deras membasahi wajahnya. Bayangan Aidil dan Stela terus berputar di ingatannya, menyadarkan Zivana bahwa kebahagiaan indah yang ia renggut beberapa hari terakhir hanyalah sebuah mimpi semu sebelum takdir merampasnya kembali.
kl ortu berkuasa bisa memiskin kn aidil pasti bisa melindungi khaisar Dan amora.
buktinya mereka gk bisa melindungi khaisar Dan amora.
apa hati mereka gk merasakan pnderitaan cucunya ya.
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu
papa bagas yg urus tuh s pewangi ruangan stela, buka semua borok nya k publik, bayi yg d kandung jg pat bkn bayi nya aidil kan
kasian khaisar n Amora jd broken home