Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan yang Tidak Pernah Kami Pikirkan
Ada satu hal yang enggak pernah aku dan Cahaya pikirin sejak kami mutusin buat kuliah di tempat yang sama.
Bahwa orang orang yang enggak kenal kami, yang enggak punya konteks empat belas tahun persahabatan, enggak punya referensi soal gimana kami pertama kali ketemu di TK Tunas Bangsa dengan seragam yang sama dan aku yang nangis karena enggak bisa buka kotak bekal sendirian sementara Cahaya yang duduk di sebelahku buka kotak bekalnya sendiri terus diam diam buka punyaku juga tanpa komentar, bahwa orang orang itu bakal liat kami dari luar.
Dan dari luar, rupanya, kami keliatan kayak sesuatu yang kami sendiri enggak pernah definisiin.
Semuanya mulai hari Selasa di minggu kedua kuliah, di kantin lantai dua gedung B, persis waktu aku lagi nyadar bahwa nasi ayam yang aku pesen punya tingkat kepedasan yang enggak tercantum di papan menu manapun.
Aku minum air putih buat keempat kalinya dalam lima menit terakhir.
"Kamu pilih menu yang ada cabenya sendiri," kata Cahaya dari seberang meja, natap dengan ekspresi orang yang nyaksiin seseorang bikin keputusan buruk dan enggak ngerasa perlu buat pura pura kaget sama konsekuensinya.
"Gambarnya enggak keliatan pedas."
"Ada tiga ikon cabe merah di sampingnya."
"Aku kira itu dekorasi."
Cahaya naruh sendoknya. "Ikon cabe di menu makanan... kamu kira dekorasi."
"Konteks visualnya ambigu."
"Rendy." Dia natap aku dengan tatapan yang udah sangat aku kenal, tatapan yang ngandung campuran kasihan dan enggak percaya dalam proporsi kira kira enam puluh banding empat puluh. "Di semua anime yang kamu tonton, enggak ada satupun episode yang bahas sistem ikonografi menu makanan?"
"Enggak ada yang cukup realistis buat..."
"Sini." Dia geser mangkuk sup bening miliknya ke arahku tanpa ditanya. "Minum ini. Lebih netral."
Aku terima mangkuk itu. "Kamu enggak mau sup kamu?"
"Aku udah minum setengah. Sisanya ambil."
Ini jenis pertukaran yang kejadian gitu aja di antara kami, tanpa negosiasi, tanpa basa basi, kayak sistem yang udah kebentuk sendiri lewat akumulasi kebiasaan selama lebih dari satu dekade. Cahaya ngasih sesuatu, aku terima. Aku butuh sesuatu, Cahaya udah tau sebelum aku ngomong.
Normal. Biasa. Enggak perlu dipikirin lebih jauh.
Yang enggak aku perhitungin adalah bahwa Bimo lagi duduk di meja sebelah kami, gabung sama kami sekitar sepuluh menit lalu atas undangan singkat yang aku sampein dengan cara "ada tempat kosong di sana kalau kamu mau" yang rupanya cukup buat jadi ajakan, dan bahwa dia lagi merhatiin pertukaran itu dengan ekspresi yang agak beda dari ekspresi orang yang lagi makan siang biasa.
"Kalian..." Bimo nggantungin kalimatnya di udara.
Aku noleh. "Apa?"
"Pacaran?"
Hening yang kejadian setelah pertanyaan itu berlangsung sekitar tiga detik.
Tiga detik yang, kalau diukur dalam satuan kecanggungan, kerasa jauh lebih panjang.
Cahaya bereaksi pertama. Dia naruh sendok garpu dengan suara kecil yang kedengeran lebih jelas dari yang seharusnya di tengah kebisingan kantin, terus natap Bimo dengan ekspresi yang gerak dengan sangat cepet lewat beberapa tahap, kaget, enggak percaya, dan akhirnya mendarat di sesuatu yang bisa disebut defensive nonchalance kalau kamu mau pake istilah yang lebih halus dari "panik yang ditutupin sama kepura puraan cuek".
"Ha?" suaranya keluar satu oktaf lebih tinggi dari biasanya.
"Aku nanya kalian pacaran," ulang Bimo dengan nada yang kedengeran sangat polos buat seseorang yang baru aja lempar pertanyaan yang rupanya punya dampak setara granat emosional. "Soalnya dari tadi keliatannya..."
"Enggak." Cahaya motong. Tegas. Satu kata. "Enggak sama sekali. Kami temen. Temen dari kecil. Itu aja."
"Oh." Bimo ngangguk, enggak keliatan terganggu sama sekali sama penjelasan itu. "Pantesan."
"Pantesan apa?" tanya Cahaya, yang walau baru aja ndeklarasiin bahwa pertanyaan itu enggak relevan, rupanya masih cukup tertarik buat tau kelanjutannya.
"Pantesan keliatan natural banget. Kayak yang udah lama banget saling kenal." Bimo angkat bahu. "Aku kira itu cuma bisa keliatan kalau orang pacaran atau temen lama. Ternyata temen lama."
"Iya." Cahaya ngangguk, udah lebih terkontrol. "Kami temen lama. Sejak TK."
"Sama kayak kakak adik dong?"
Kali ini Cahaya enggak langsung jawab.
Selisih satu detik itu, satu detik yang mungkin enggak bakal diperhatiin siapapun yang belum kenal Cahaya cukup lama buat hafal ritme bicaranya, tapi aku merhatiinnya. Bukan karena aku nyari sesuatu, tapi karena itu ada.
"Iya," jawabnya akhirnya. "Kurang lebih."
Aku alihin pandangan balik ke piring nasiku. Mutusin buat enggak ngerespons pertanyaan soal apa aku punya pendapat sendiri soal analogi kakak adik itu, karena secara teknis pertanyaan itu enggak pernah langsung diarahin ke aku.
"Kamu sendiri ada temen lama enggak di sini?" tanya Cahaya ke Bimo, dengan nada yang jelas ngasih sinyal bahwa topik sebelumnya udah ditutup.
"Ada satu. Dari SMA yang sama, tapi beda jurusan." Bimo nyebutin nama yang enggak aku kenal. "Tapi dia sibuk di UKM nya. Kita enggak terlalu sering ketemu."
"UKM apa?"
Dan obrolan pindah ke topik lain dengan mulus, kayak air yang nemuin jalur baru setelah hambatan sementara.
Aku lanjut makan.
Enggak mikirin satu detik itu lebih jauh.
Tapi terus pertanyaan serupa dateng lagi.
Kali ini dari arah yang beda.
Hari Kamis, di sela sela pergantian jadwal antara mata kuliah Kalkulus dan Pengantar Pemrograman, dua puluh menit jeda yang sebagian besar orang pake buat ke kantin atau sekadar duduk di koridor sambil main hape, aku lagi sandar di dinding koridor lantai tiga gedung Teknik, earphone di telinga, nunggu kelas berikutnya buka.
Cahaya muncul dari arah tangga sekitar lima menit kemudian, hal yang enggak biasa karena gedung Komunikasi ada di sisi lain kampus dan secara logistik butuh waktu sekitar tujuh menit jalan cepet dari sana ke sini, artinya dia udah berangkat dari sana bahkan sebelum jeda resmi mulai.
Dia duduk di sebelahku di lantai koridor, buka tas, keluarin kotak makan. "Belum makan?"
"Enggak sempet."
"Kelas kamu jam berapa tadi selesai?"
"Sebelas."
"Sekarang jam sebelas dua puluh." Dia buka kotak makannya, nasi dengan lauk yang keliatannya dia siapin dari rumah, karena wadah pembungkusnya kotak makan plastik abu abu yang udah aku liat di dapur keluarganya selama bertahun tahun. "Kamu punya dua puluh menit dan milih berdiri di sini sambil dengerin musik daripada ke kantin."
"Antrian kantin jam segini panjang."
"Jadi kamu milih enggak makan sama sekali."
"Aku milih nunggu."
Cahaya hela napas dengan ekspresi orang yang udah nerima bahwa beberapa aspek dari keputusan orang di sebelahnya enggak akan pernah bisa dilogikain sepenuhnya. Terus dia ambil satu onigiri dari dalam kotak makannya, dibungkus plastik rapi, jenis yang beli jadi dari minimarket atau dibungkus sendiri, aku enggak tau mana, dan sodorin ke arahku.
"Ini."
"Kamu bawa dua?"
"Aku bawa tiga. Satu buat aku, dua sisanya buat..." Dia berhenti sebentar. "Buat jaga jaga."
"Jaga jaga apa?"
"Jaga jaga kamu enggak sempet makan."
Aku natap onigiri di tangannya. "Kamu udah tau aku enggak akan sempet makan?"
"Kamu enggak pernah sempet makan kalau ada dua kelas berturutan dan jedanya kurang dari tiga puluh menit. Ini pola yang udah berlangsung sejak kelas sebelas."
Ini, secara teknis, fakta yang akurat. Aku terima onigiri itu.
"Makasih."
"Sama sama. Makan yang bener, jangan cuma itu doang kalau masih laper."
Aku buka bungkusnya, mulai makan. Di koridor sekitar kami, beberapa mahasiswa lain duduk berpencar, beberapa sendiri sama hapenya, beberapa berkelompok dua tiga orang. Enggak ada yang secara aktif merhatiin kami, atau minimal aku enggak ngerasa ada yang merhatiin.
"Eh."
Suara dari kiri, dua anak perempuan yang lagi duduk sekitar empat meter dari kami, yang tadi fokus ke hape masing masing, sekarang ngomong dengan suara yang cukup pelan buat kesan privat tapi enggak cukup pelan buat bener bener privat.
"Itu siapa yang sama anak Teknik itu?"
"Yang cewek? Entah. Keliatannya bukan anak Teknik."
"Pacar kali."
"Hmm." Suara nimbang nimbang. "Kayaknya iya deh. Liat, bawa bekel buat dia."
Aku denger obrolan itu. Cahaya juga, aku tau karena gerakan tangannya sedikit berhenti sekitar setengah detik sebelum balik ke ritme normal.
Enggak ada yang kami komentarin.
Sampe dua anak perempuan itu pergi ke arah tangga, dan Cahaya, tanpa noleh ke arahku, bilang dengan nada yang sangat datar:
"Aku bawa onigiri ini bukan karena aku pacar kamu."
"Aku tau."
"Aku bawa karena kamu emang enggak bisa ngurus jadwal makan kamu sendiri."
"Aku tau."
"Dan karena aku kebetulan lewat sini."
Gedung Komunikasi ada di sisi lain kampus. Ini bukan rute yang "kebetulan dilewatin" buat tujuan apapun yang masuk akal secara geografis. Tapi aku enggak ngomongin itu, karena Cahaya udah tau aku tau, dan ngomongin hal yang udah sama sama kami tau kerasa kayak langkah yang enggak perlu.
"Iya," jawabku aja.
"Iya." Dia tutup kotak makannya. "Bagus."
Aku lanjut onigirinya.
Di luar dua insiden itu, ada hal ketiga yang sifatnya lebih... sistemik.
Namanya grup chat gosip angkatan, dan itu kerja dengan kecepatan dan efisiensi yang, kalau diterapin ke hal hal yang lebih produktif, mungkin bisa nyelesaiin beberapa masalah ekonomi global.
Aku tau soal itu hari Jumat malam, waktu Bimo kirim screenshot ke chat pribadi kami, ya, kami akhirnya tukeran nomor hari Rabu dengan cara Bimo yang langsung bilang "eh, boleh minta nomor?" tanpa basa basi yang aku enggak tau harus dimulai dari mana, disertai pesan:
"Ren. Ini dari grup angkatan Informatika. Kamu masuk grup ini belum?"
Screenshot itu potongan obrolan dari sebuah grup dengan nama "INFORMATIKA 2024 🔥" yang ternyata udah ada sejak sebelum kuliah mulai dan yang aku enggak tau eksistensinya sampe sekarang karena enggak ada yang ngasih tau aku dan aku juga enggak pernah secara aktif nyari.
Isinya, yang relevan:
RaissaFTI: eh btw yang anak Teknik Info yang selalu bareng cewek Komunikasi itu siapa tau gak
AldiFTI: yang mana?
RaissaFTI: yang hoodie item, rambutnya agak acak2an, earphone mulu
DitaFTI: OH yang itu. Rendy kayaknya. Rendy Alamsyah
AldiFTI: yang pacaran sama anak Komunikasi itu?
DitaFTI: gatau sih mereka pacaran apa bukan tapi keliatannya deket banget
RaissaFTI: iya makanya nanya. soalnya tadi di kantin si ceweknya kayak ngambilin dia minum gitu
BayuFTI: bukan pacaran kayaknya. denger2 temen dari kecil
DitaFTI: temen dari kecil tapi segitu deketnya? itu levelnya udah lebih dari temen deh kayaknya
AldiFTI: atau emang mereka deket aja. ada orang yang emang gitu sama temen lamanya
RaissaFTI: iya sih. tapi tetep aja keliatannya beda hehe
BayuFTI: gue pernah liat mereka jalan dari gerbang bareng, si ceweknya ngomel2 sambil jalan tapi tetep nemenin sampe gedung Teknik padahal arah Komunikasi berlawanan
DitaFTI: awww
RaissaFTI: AWWW
AldiFTI: kalian lebay
Aku baca screenshot itu dua kali.
Terus ketik ke Bimo: "Ini grup yang beda dari yang aku masuk?"
"Kamu masuk grup angkatan?"
"Ada satu grup yang aku masuk. Yang namanya 'Info Kampus Baru 2024'."
"Itu beda. Yang itu grup resmi dari jurusan. Yang ini grup yang dibuat sendiri sama anak2. Lebih rame tapi juga lebih random isinya."
"Oh."
"Kamu mau dimasukin?"
Aku nimbang nimbang ini sekitar dua menit. Pada dasarnya, gabung ke grup obrolan yang udah aktif artinya masuk ke tengah tengah konteks yang udah jalan tanpa aku, yang secara sosial setara sama datang ke bioskop setelah film udah jalan tiga puluh menit dan harus cari tau sendiri apa yang udah kejadian.
"Enggak perlu buat sekarang," balasku. "Makasih udah kasih tau."
"Oke. Btw soal yang di screenshot itu, kamu enggak keberatan kan?"
"Kenapa harus keberatan?"
"Ya... mereka ngomongin kamu."
"Mereka enggak ngomong sesuatu yang enggak bener."
Tiga detik. Terus: stiker Bimo, emoji ketawa, masuk tanpa komentar tambahan.
Aku taruh hape, balik ke laptop yang udah kebuka di depanku dengan referensi mata kuliah Pengantar Pemrograman di tab sebelah kiri dan episode terbaru anime yang lagi aku ikutin di tab sebelah kanan. Prioritas pengerjaan masih bisa didiskusiin.
Yang enggak aku lakuin malam itu adalah mikirin lebih jauh soal apa yang orang orang di grup itu tulis. Bukan karena aku enggak merhatiin, tapi karena aku enggak tau harus naruh perhatian itu ke dalam kategori apa.
Mereka enggak salah, secara faktual. Cahaya emang selalu ada. Jarak antara gedung Komunikasi dan gedung Teknik emang enggak deket. Dan Cahaya emang, dalam beberapa minggu terakhir, lebih dari sekali bikin jarak itu seolah enggak relevan.
Aku cuma enggak pernah mikirinnya sebagai sesuatu yang perlu dipikirin.
Senin berikutnya, masalah ini, atau lebih tepatnya, pertanyaan ini, dateng dari arah yang paling enggak aku antisipasi: Sasa.
Salsabila Anggraini, yang udah sejak perkenalan pertamanya sama aku di minggu pertama kuliah nunjukin bahwa dia jenis orang yang nyampein pendapatnya dengan presisi tinggi dan tanpa banyak basa basi, duduk di seberang meja di kafetaria kecil deket perpustakaan dengan ekspresi yang aku identifikasi sebagai "lagi punya sesuatu buat diomongin dan lagi mutusin cara terbaik buat ngomonginnya".
Kami bertiga ada di situ, aku, Cahaya, dan Sasa, karena Cahaya yang ngusulin makan siang bareng dan Sasa yang konfirmasi dengan antusias yang, aku curigain, bukan semata mata karena antusias sama makan siang.
"Jadi," kata Sasa, setelah beberapa menit obrolan soal hal hal lain yang aku sekarang enggak inget dengan jelas. "Rendy."
"Hm?"
"Kamu tau enggak ada rumor soal kamu dan Cahaya?"
Cahaya, yang lagi nyuap makanannya, berhenti.
"Tau," jawabku.
"Dari mana?"
"Bimo kasih tau. Ada yang screenshot dari grup angkatan."
Sasa ngangguk pelan, lirik ke arah Cahaya sebentar. "Terus?"
"Terus apa?"
"Kamu enggak ada reaksi?"
Aku mikirin pertanyaan ini dengan serius. "Reaksi apa yang diharepin?"
"Ya..." Sasa gerakin tangannya, nyari kata yang tepat. "Enggak tau. Klarifikasi? Atau... apapun?"
"Mereka nanya apa aku dan Cahaya pacaran. Jawabannya enggak. Klarifikasi apa yang perlu ditambahin?"
"Kamu enggak... terganggu?"
"Kenapa harus terganggu? Mereka ngobservasi sesuatu dan ngajuin hipotesis berdasarkan observasi itu. Hipotesisnya salah, tapi prosesnya logis."
Sasa natap aku dengan ekspresi yang punya beberapa lapisan yang enggak semuanya bisa aku baca. Terus dia noleh ke Cahaya. "Kamu kasih makan dia vitamin apa sejak kecil?"
"Pertanyaan yang aku juga enggak tau jawabannya," jawab Cahaya, yang udah lanjutin makannya tapi dengan gerakan yang sedikit lebih lambat dari biasanya.
"Cay," panggil Sasa.
"Apa?"
"Kamu sendiri gimana? Soal rumor itu?"
Cahaya naruh garpu. "Gimana apanya?"
"Ya... kamu enggak terganggu? Atau..."
"Aku enggak pacaran sama Rendy." Nada suaranya datar, faktual. "Jadi enggak ada yang perlu dipertanyain lebih jauh."
"Iya, itu yang kamu bilang." Sasa ngangguk pelan, tapi dengan ekspresi yang enggak keliatan sepenuhnya nerima jawaban itu sebagai penutup obrolan. "Tapi kan..."
"Sas."
"Apa?"
"Makan."
Sasa nutup mulutnya. Liat ke piringnya. Terus, sangat pelan, nyendok makanannya.
Hening sekitar dua puluh detik.
Terus Sasa noleh ke arahku lagi. "Rendy."
"Hm?"
"Kamu pernah kepikiran enggak, bahwa cara kamu sama Cahaya tuh... ya, keliatan kayak bukan cuma temen?"
Aku nimbang nimbang pertanyaan ini.
Ini pertanyaan yang beda dari pertanyaan "apakah kalian pacaran?", yang jawabannya faktual dan bisa dijawab dengan iya atau enggak. Ini pertanyaan soal persepsi, soal gimana sesuatu keliatan dari luar, yang jawabannya lebih kompleks karena melibatkan perspektif yang bukan milikku.
"Aku ngerti kenapa orang lain mungkin nginterpretasiinnya kayak gitu," jawabku akhirnya. "Kedekatan yang berasal dari waktu yang sangat panjang bareng emang bisa keliatan beda dari kedekatan yang lebih baru. Tapi interpretasi orang lain enggak ngubah apa yang sebenernya ada."
Sasa natap aku.
Terus natap Cahaya.
Terus balik ke aku.
"Kamu," katanya dengan nada yang kedengeran kayak seseorang yang baru aja mutusin bahwa dia enggak bakal menangin argumen ini hari ini, "adalah orang yang sangat membingungkan buat diajak ngomong soal hal kayak gini."
"Makasih."
"Itu bukan pujian."
"Cahaya juga pernah bilang hal yang sama. Aku udah nerima bahwa itu kayaknya adalah perspektif umum."
Sasa tutup matanya sebentar dengan ekspresi orang yang lagi berdamai sama sesuatu. Terus buka matanya, natap ke langit langit kafetaria sebentar, dan bilang ke Cahaya: "Cay, aku serius salut sama kamu bisa temenan sama orang ini selama empat belas tahun."
"Kadang aku juga heran sama diriku sendiri," jawab Cahaya.
"Kebanyakan orang udah nyerah di tahun kedua."
"Aku juga sempet mau nyerah."
"Kapan?"
"Waktu kelas tiga SD dia dengan serius jelasin selama dua puluh menit kenapa sistem permainan petak umpet punya design flaw fundamental." Cahaya angkat satu alis. "Dua puluh menit, Sas. Ke anak anak kelas tiga SD lain yang cuma mau main."
"Sistemnya emang punya masalah mendasar," kataku.
Keduanya natap aku.
"Area persembunyian yang enggak terdefinisi dengan jelas nciptain ambiguitas dalam aturan main yang..."
"Rendy," potong Cahaya.
"Apa?"
"Makan."
Aku makan.
Sasa ketawa kecil, tawa yang kali ini kedengeran lebih tulus, lebih ringan dari tawa tawa sebelumnya dalam obrolan ini. "Oke, aku paham sekarang. Kalian emang cuma temen. Temen yang sangat, sangat spesifik."
"Apa maksudnya 'sangat spesifik'?" tanya Cahaya.
"Maksudnya kalian punya sistem sendiri yang enggak perlu dijelasin ke siapapun." Sasa angkat bahu. "Itu rare. Jarang ada orang yang punya itu sama temennya."
Cahaya enggak langsung jawab.
Aku juga enggak.
Sasa lanjutin makannya dengan ekspresi yang aku enggak bisa baca sepenuhnya, tapi yang ngandung sesuatu yang kerasa kayak tau sesuatu yang belum diketahui orang lain, ekspresi yang, aku perhatiin, sering muncul di wajah Sasa dalam beberapa minggu terakhir, dan yang sampe sekarang aku enggak tau harus aku taruh di kategori apa.
Selasa siang, dua hari kemudian, insiden keempat kejadian.
Dan ini yang paling langsung, paling enggak bisa diabaikan, dan, dalam retrospeksi yang baru bisa aku lakuin jauh setelah kejadiannya, mungkin juga yang paling ngandung sesuatu yang seharusnya aku perhatiin lebih teliti.
Kami lagi di perpustakaan. Aku, Cahaya, dan Bimo yang gabung belakangan karena tugasnya kebetulan butuh referensi yang sama. Meja kami ada di sudut, cukup jauh dari meja sirkulasi, cukup deket sama jendela yang ngadep ke halaman tengah kampus.
Tugas Kalkulus. Soal nomor tujuh belas yang melibatkan integral lipat yang, setelah aku coba empat pendekatan beda, masih ngasilin jawaban yang beda dari kunci yang ada di buku.
Cahaya ada di sebelah kiriku. Dia lagi baca referensi buat tugasnya sendiri, sesuatu soal teori komunikasi yang buku referensinya lebih tipis tapi keliatannya enggak kalah rumit berdasarkan ekspresi wajahnya tiap beberapa menit. Di sebelah kananku, Bimo lagi ngitung sesuatu di kalkulator dengan kepala sedikit nunduk.
"Ren." Cahaya enggak noleh dari bukunya.
"Hm?"
"Nomor tujuh belas kamu udah?"
"Belum. Jawabannya selalu beda dari kunci."
"Coba liat." Dia julurin tangan ke arahku tanpa noleh, gestur yang ngasih sinyal kasih liat kerja soalmu dengan cara yang udah sangat familiar.
Aku geser kertas kerjaku ke arahnya.
Dia akhirnya noleh, ambil kertas itu, baca selama sekitar empat puluh detik sambil satu jari nelusurin baris baris hitunganku.
"Baris ketiga dari bawah," katanya. "Kamu balik batas integrasinya."
Aku liat ke titik yang dia tunjuk. Emang.
"Oh."
"Itu kesalahan yang sama yang kamu bikin di soal nomor dua belas."
"Polanya konsisten."
"Itu bukan hal yang bagus buat dibanggain." Dia balikin kertas itu. "Coba lagi dari baris itu."
Aku mulai ngerjain ulang dari titik yang dia tunjukin.
Bimo, dari sisi kananku, lirik ke kiri. Terus balik ke kalkulatornya. Terus lirik lagi.
"Kalian belajar bareng terus ya?" bisiknya ke arahku, cukup pelan buat enggak ganggu ketenangan perpustakaan.
"Enggak selalu," balasku dengan volume yang sama. "Kadang jadwalnya beda."
"Tapi kalau jadwalnya sama, kalian bareng?"
"Biasanya iya."
Bimo ngangguk pelan, balik ke kalkulatornya. Tapi dua menit kemudian dia bisik lagi: "Ren."
"Hm?"
"Itu normal enggak sih, dua orang yang beda jurusan ngerjain tugas bareng? Soalnya tugasnya kan beda."
Aku nimbang nimbang pertanyaan ini. "Kami enggak ngerjain tugas satu sama lain. Kami cuma ada di tempat yang sama waktu ngerjain tugas masing masing."
"Oh." Bimo keliatan lagi mroses ini. "Jadi... kalian sama sama butuh ada di deket satu sama lain waktu ngerjain tugas?"
"Bukan butuh." Aku cari kata yang tepat. "Lebih ke... udah terbiasa. Sejak SMA kami belajar bareng. Kebiasaan itu kebawa."
"Kebawa ke jurusan yang beda."
"Iya."
Bimo enggak nanya lebih lanjut. Tapi ada sesuatu di cara dia ngangguk yang, aku perhatiin, mirip sama cara Sasa ngangguk waktu dia mutusin buat enggak lanjutin sebuah argumen di saat itu.
Ekspresi yang ngandung: aku enggak bakal ngomong apa apa, tapi aku punya pendapat.
Sepulang dari perpustakaan, Cahaya dan aku jalan ke arah parkiran, Cahaya yang hari itu bawa motor karena ada keperluan setelah kuliah, dan di tengah perjalanan itu, dia nanya sesuatu yang enggak aku antisipasi.
"Rendy."
"Hm?"
"Orang orang yang nanya kita pacaran itu..." Dia enggak selesain kalimatnya langsung, jalan terus beberapa langkah sebelum lanjut. "Kamu enggak risih?"
"Udah aku jawab ke Sasa..."
"Bukan soal risih atau enggaknya." Cahaya berhenti di deket pohon di tepi jalan setapak, balik badan sedikit ke arahku. Ada sesuatu di ekspresinya yang lebih serius dari nada obrolan kami sampe tadi. "Maksudku... kamu enggak ngerasa itu... aneh? Bahwa orang orang langsung asumsi kayak gitu?"
Aku mikirin pertanyaan itu.
"Enggak aneh," jawabku akhirnya. "Kalau diliat dari sudut pandang orang yang enggak punya konteks soal kami, pola interaksi kami mungkin emang keliatan kayak sesuatu yang beda dari pertemanan biasa. Itu bukan asumsi yang enggak berdasar."
"Tapi menurut kamu itu enggak bener."
"Kami bukan pacaran, jadi enggak."
"Bukan itu yang aku tanya."
Ada nada di kalimat itu yang bikin aku berhenti sebentar. Bukan nada marah, bukan nada kesel. Sesuatu yang lebih datar, lebih hati hati, kayak seseorang yang lagi milih kata dengan sangat cermat buat pertanyaan yang udah lama mereka pikirin.
"Lalu apa yang kamu tanya?" aku balik nanya.
Cahaya natap aku beberapa detik. Ekspresinya gerak, kayak ada beberapa hal yang lagi dipertimbangin di baliknya, dihitung, ditimbang.
Terus dia palingin pandangan.
"Enggak jadi." Dia lanjutin jalan ke arah parkiran. "Lupain."
"Cahaya."
"Motorku diparkir di sana." Dia nunjuk ke arah yang beda dari yang aku tuju. "Kamu ke kiri, aku ke kanan. Sampe besok."
"Kamu enggak mau lanjutin..."
"Rendy." Dia berhenti, setengah noleh, profil wajahnya di cahaya sore yang udah mulai miring ke barat. "Ada hal yang kalau kamu enggak bisa jawab dengan bener, lebih baik enggak ditanya dulu."
Sebelum aku sempet mroses apa yang baru aja dia bilang, dia udah jalan ke arah parkirannya dengan langkah yang lebih cepet dari biasanya.
Aku berdiri di titik itu beberapa detik lebih lama.
Ada hal yang kalau kamu enggak bisa jawab dengan bener, lebih baik enggak ditanya dulu.
Kalimat itu muter muter di kepalaku sepanjang perjalanan pulang. Bukan karena aku enggak ngerti kata katanya secara individual, aku ngerti tiap kata, tapi karena kombinasinya ngasilin sesuatu yang, kalau aku coba terjemahin ke dalam pertanyaan yang lebih konkret, enggak ngasilin satu pertanyaan yang jelas.
Pertanyaan apa yang enggak bisa aku jawab dengan bener?
Pertanyaan soal kami? Soal apa kami itu satu sama lain?
Tapi aku udah jawab itu. Kami temen. Temen yang udah lama. Itu fakta yang enggak ambigu.
Kecuali...
Aku hentiin jalan pikiran itu di situ, bukan karena aku udah sampai di kesimpulan tapi justru karena aku belum, dan lanjutinnya tanpa data yang cukup kerasa kayak nyoba nyelesain soal nomor tujuh belas dari awal tanpa benerin dulu kesalahan di baris ketiga dari bawah.
Enggak produktif.
Malam itu, aku rebahan di kamar dengan langit langit yang sama dan pikiran yang, beda dari malam malam sebelumnya, enggak bisa diarahin ke hal hal yang lebih sederhana.
Hape bergetar.
Pesan dari Bimo: "Btw Ren, tadi aku denger dari Raissa, yang di grup itu, dia bilang kamu dan Cahaya ketemu lagi di perpustakaan abis kelas. Sekarang pada penasaran beneran deh orang orang."
"Kami emang ke perpustakaan. Ada tugas."
"Beda jurusan tapi ke perpustakaan yang sama."
"Perpustakaan itu fasilitas publik. Enggak eksklusif buat satu jurusan."
Tiga detik. Terus stiker Bimo, emoji ketawa, masuk tanpa komentar tambahan.
Aku taruh hape.
Di luar jendela kamarku, langit udah gelap penuh. Dari arah rumah Cahaya dua nomor di kiri, enggak ada tanda tanda apapun yang bisa diobservasi dari posisi ini.
Aku mikirin pertanyaannya tadi sore.
Bukan yang dia urungin di akhir. Tapi yang sebelumnya, kamu enggak ngerasa itu aneh?
Dan jawaban jujur yang baru sekarang, sendirian di kamar ini, bisa aku rumusin dengan lebih akurat:
Enggak. Enggak kerasa aneh.
Tapi bukan karena enggak ada yang bisa dipertanyain. Tapi karena selama ini, pertanyaan itu enggak pernah kerasa perlu diajukan.
Mungkin karena jawabannya kerasa udah jelas.
Atau mungkin, dan ini kemungkinan yang lebih enggak nyaman buat dipikirin, karena aku enggak pernah bener bener berhenti buat nanya.
Aku hela napas, raih earphone dari meja samping, pasang, dan nyalain playlist.
Ada soal Kalkulus yang masih perlu diselesaiin.
Itu hal yang bisa aku kerjain malam ini.
Yang lainnya, pertanyaan pertanyaan yang enggak berbentuk soal matematika, yang enggak punya kunci jawaban di halaman belakang buku, yang entah kapan mulai ngambang di tempat yang sebelumnya selalu kosong, bisa nunggu.
Atau minimal, begitu yang aku bilang ke diri sendiri.