Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 HASRAT LIAR SANG PEREWANGAN
Mendengar jawaban telak dari tuannya, Sekar Mayang nyatanya tak mau menyerah begitu saja.
Meski sebagian besar energi gaibnya baru saja terhisap habis oleh dominasi aura sang tuan, perewangan itu justru melancarkan serangan godaan yang jauh lebih gila.
Namun... bukan melalui gerakan erotis tubuh gaibnya.
Bukan pula dengan melucuti helaian kain yang membalut tubuhnya.
Melainkan lewat untaian kata yang membius.
Masih dalam posisi terperangkap, di mana kedua lengan Zaki mengunci erat pinggangnya, tubuh Sekar Mayang memutar perlahan.
Kini, punggung wanita gaib itu bersandar di dada tuannya. Jemari lentiknya merayap, mengusap lembut punggung tangan Zaki yang masih melingkar di perutnya.
Lalu... bibir merahnya membisikkan sesuatu. Suaranya mengalun sangat lembut, merdu, namun penuh bisa.
"JIKA KAU INGIN HIDUP BERSAMA NISA KELAK, MAKA KAU HARUS MELEPAS IKATANMU DENGANKU..."
"BUKANKAH SELAMA INI AKU YANG SELALU MENEMANIMU DALAM SEPI?"
"BUKANKAH WUJUDKU INI YANG DITITIPKAN OLEH KEDUA ORANG TUAMU UNTUK MENJAGAMU?"
"BUKANKAH... SELAMA INI KAU MERASA BAHAGIA BERSAMAKU, ZAKI?"
Zaki hanya diam. Bibirnya terkatup rapat.
Wajahnya kini bertumpu tepat di atas pundak kiri Sekar Mayang.
Dari jarak sedekat ini, panca inderanya disuguhi pemandangan kulit pundak dan leher sang perewangan yang putih mulus tak bernoda, membayang di balik helaian rambut hitam panjangnya yang tergerai.
Hawa di sekitar mereka kian memabukkan, disesaki semerbak aroma bunga kantil merah yang menguar pekat dari tubuh Sekar Mayang.
Dan tentu saja... sudut mata Zaki bisa menangkap dengan sangat jelas siluet lekuk tubuh serta belahan dada milik Sekar Mayang dari posisinya saat ini.
Sungguh, andai laki-laki biasa dengan iman yang ala kadarnya saja berada di posisi ini, disuguhkan sosok lelembut semenggoda Sekar Mayang... bisa dipastikan ia akan langsung terjerembab ke dalam kubangan hawa nafsu gaib yang mematikan.
Namun... sekali lagi, Zaki membuktikan mutlaknya kodrat semesta.
Ia memamerkan dengan angkuh bahwa kedudukan bangsa manusia, sang khalifah bumi, berada jauh di atas derajat bangsa lelembut—bahkan dari entitas sekelas perewangan sekalipun.
Zaki akhirnya bersuara.
Nadanya begitu tenang dan pelan, namun efeknya terasa bagaikan tetesan bongkahan es yang menusuk kulit pundak Sekar Mayang, merayap dingin hingga ke ulu hatinya.
"Iya... Memang kaulah yang selama ini menemaniku...."
"Memang kaulah yang dititipkan padaku oleh Bapak dan Ibu...."
"Dan aku... memang bahagia bersamamu selama ini...."
"Tapi...."
Zaki menggantung kalimatnya. Ia menahan senjata pamungkasnya, sengaja memutarbalikkan permainan psikologis untuk menyerang balik ego Sekar Mayang. Ia memancing perewangan itu agar terbakar rasa penasaran.
Dan benar saja... Sekar Mayang seketika terpancing.
"Tapi? Tapi apa, Tuanku sayaaang?" desaknya manja.
Tangan kanan wanita gaib itu menahan lengan Zaki agar tetap merengkuh tubuhnya dari belakang, sementara tangan kirinya terulur ke belakang, membelai mesra rahang dan pipi pemuda itu.
"TAPI... JIKA AKU HARUS MEMILIH... AKU AKAN TETAP MEMILIH NISA DARIPADA DIRIMU, SEKAR MAYANG...."
Gerakan jemari lentik Sekar Mayang mendadak kaku.
Belaian lembutnya terhenti seketika, membeku tepat di pipi kiri Zaki.
Zaki tersenyum penuh kemenangan di dalam hati, merasa ucapan telaknya telah meruntuhkan ego sang perewangan.
Akan tetapi... manuver yang jauh lebih gila dan di luar nalar kembali dilancarkan oleh Sekar Mayang.
Secara tiba-tiba, Sekar Mayang memutar paksa tubuhnya, melepaskan diri dari rengkuhan lengan Zaki. Kini ia sepenuhnya menghadap pemuda itu, memamerkan raut wajah gaibnya yang berkali-lipat lebih menggoda, nyaris bersentuhan dengan wajah Zaki.
Sekar Mayang menatap tajam langsung ke dasar kornea mata Zaki.
Sepasang bola matanya yang berwarna merah cerah kini menyala terang, seakan siap menelan kewarasan siapa pun.
Tatapan wanita gaib itu lalu turun, mengunci bibir Zaki yang terkatup rapat.
Perlahan, jemari lentiknya terulur, mengusap belahan bibir pemuda itu dengan belaian yang luar biasa erotis...
Bersamaan dengan itu... ia sengaja mencondongkan tubuh, menempelkan puncak buah dadanya tepat ke dada Zaki.
Sekar Mayang berbisik, memancarkan resonansi gaib yang sangat merdu, lembut, dan mematikan.
"BENARKAH KAU AKAN LEBIH MEMILIH NISA DARIPADA AKU?"
"BENARKAH KAU RELA MELEPASKU SEBAGAI PEREWANGANMU?"
"PADAHAL... AKU BISA BERKALI-KALI LIPAT MEMBERIKAN KEPUASAN UNTUKMU, TUANKU SAYANG...."
Sekar Mayang sangat yakin, permainan gila gaib tingkat tinggi ini pasti akan merontokkan sisa-sisa keteguhan batin tuannya.
Akan tetapi... perkiraannya meleset total.
Alih-alih memalingkan wajah atau tergoda, Zaki justru membalikkan keadaan. Ia menantang balik godaan maut itu tanpa ampun.
Tangan kanannya mencengkeram lembut pinggul sang perewangan, sementara tangannya yang lain merayap turun menyusuri punggung wanita gaib itu, dan perlahan merosot membelai lekuk pahanya.
Tepat saat Sekar Mayang terkesiap oleh sentuhan tak terduga itu, Zaki menyeringai tipis dan mendesis tajam.
"AKU TIDAK AKAN PERNAH TERGODA OLEHMU, SEKAR MAYANGKU.... AKU MANUSIA, DAN KAMU BANGSA LELEMBUT. AKU ADALAH TUANMU, DAN KAMU HANYALAH PELINDUNGKU... PAHAM?!"
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya