Indonesia
NovelToon NovelToon
The Artefact Of The Past And The Chosen One'S Destiny

The Artefact Of The Past And The Chosen One'S Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Romansa Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: ARDICK

( upload Senin - Sabtu= 6× dalam seminggu )
( jam upload 3 sore )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny

Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.

Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.

Ater. Mala. Angis. Evir.

Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.

Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.

Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.

Kemudian semuanya berubah.

Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.

Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

{Chapter 6 }:{secret journey }

Zeo pergi ke Alam Ruh.

Ia tidak memberitahu siapa pun. Tidak membawa bekal. Hanya satu keyakinan yang mendorong langkahnya menembus kabut batas dunia: di Alam Ruh, arwah yang belum sepenuhnya pergi masih meninggalkan jejak. Firasatnya berbisik keras, meyakinkannya bahwa Dewi Bulan belum tiada sepenuhnya. Bahwa cahaya itu belum padam, hanya berpindah ke sisi lain tirai kehidupan.

Perjalanan pun dimulai. Zeo melangkah masuk ke celah antara dunia fana dan dunia arwah, melewati gerbang tak kasat mata yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang terpilih. Ia terus berjalan, semakin dalam ke hutan kabut dan cahaya kebiruan, tanpa menyadari bahwa setiap langkah membawanya semakin jauh dari waktu yang ia kenal.

Alam Ruh memiliki aturannya sendiri. Waktu di sini tidak mengalir deras seperti di dunia manusia; ia menggantung, lambat, dan sunyi, seolah setiap detik butuh waktu seabad untuk berlalu. Namun Zeo tidak menyadarinya. Ia terus mencari petunjuk di antara bisikan-bisikan arwah, tidak tahu bahwa di luar sana, di alam fana, hari demi hari terus berganti tanpa dirinya.

Sementara itu, di alam fana, Sora masih belum bisa melupakan.

Ia tiba di tempat tersunyi di alam semesta. Sebuah ruang hampa di antara bintang-bintang, di mana tidak ada angin, tidak ada suara, tidak ada kehidupan. Hanya keheningan yang absolut dan dingin.

"Dewi," ucapnya pada kekosongan. Suaranya tidak bergema. Tidak ada dinding untuk memantulkannya. "Aku akan menunggumu."

Dan Sora mulai membangun. Dengan tangannya sendiri, dengan sisa kekuatan sihir yang masih mengalir di nadinya, ia menciptakan sebuah tempat. Bukan istana megah, bukan kuil berlapis emas. Sebuah ruang kecil, sederhana, yang pintunya hanya bisa dibuka oleh mereka yang memiliki cinta suci dan abadi. Tidak ada kunci besi. Tidak ada gerbang raksasa. Hanya syarat yang tak terlihat namun tak bisa dipalsukan oleh hati yang ragu.

Sora melangkah masuk ke dalamnya.

Dan di dalam ruang itu, ia membeku.

Tubuhnya menjadi patung, matanya terpejam, wajahnya tenang seolah sedang bermimpi indah tentang malam berbintang. Sistem tempat yang Sora bangun sangat rumit; waktu di dalam ruang itu berhenti sepenuhnya. Tidak ada detik yang berdetak. Tidak ada tahun yang menua.

Namun di luar dinding ruang itu, di alam semesta yang terus berputar, waktu berjalan normal. Hari berganti malam. Musim berganti musim. Bintang-bintang lahir dan mati. Dan Sora tetap di sana. Beku. Menunggu bulan menjawabnya.

Di sisi lain, tawa keras mengema di seluruh aula Kerajaan Api. Suaranya memantul di dinding-dinding batu hitam, mengguncang nyala obor yang berjajar di sepanjang lorong.

Raja Api duduk di singgasananya, dagu terangkat, jari-jarinya mengetuk lengan kursi dengan irama lambat. "Berani menolakku dan perintahku..." Senyumnya melebar, memperlihatkan deretan gigi di balik bibir yang menyeringai. "Sama saja kau mengundang kehancuranmu sendiri."

Tawanya kembali pecah—angkuh, memenuhi setiap sudut ruangan. Siapa pun yang berdiri di hadapannya harus menunduk. Harus berlutut. Padahal, dulu tubuhnya cacat, lemah, tak mampu mengangkat pedang. Namun sejak kesembuhannya, ia merasa darahnya mendidih oleh kekuatan yang tak tertandingi. Ia bukan lagi raja yang rapuh. Ia adalah penguasa. Yang terkuat. Di atas siapa pun.

"Garha!" panggilnya, suaranya menggema seperti perintah perang.

Dari balik tirai api yang menyala di ujung aula, sosok itu muncul. Garha—penjaga Api Abadi. Sosok yang tidak akan pernah mati, hanya terus bereinkarnasi dari satu zaman ke zaman berikutnya. Ia berlutut, satu lutut menyentuh lantai. "Iya, Raja Api. Ada apa memanggilku?"

Raja Api menyandarkan punggungnya ke singgasana. Jari-jarinya bertaut di depan dada. "Aku ingin memberimu kabar gembira."

Garha mengangkat wajah. "Apa, Raja? Kabar gembira apa itu?"

Raja Api mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya berkilat, suaranya turun menjadi bisikan yang lebih tajam dari pedang. "Garha. Akulah yang membunuh Dewi Bulan. Dengan tanganku sendiri."

Tubuh Garha membeku. Rahangnya mengeras. Urat di lehernya menegang, dan tangannya yang terkepal di sisi tubuh bergetar. "Apa kau sangat kejam, Raja Api?!" Suaranya naik, memecah keheningan aula. "Kau benar-benar seperti monster! Kau harus pergi dan dipenjara dalam Penjara Api Abadi! Kau—"

Belum kata terakhir keluar dari mulutnya, Raja Api bergerak. Tangannya meraih pedang yang tersandar di sisi singgasana dan melemparkannya dalam satu ayunan. Bilah itu membelah udara.

Kepala Garha terpisah dari raganya.

Tubuh tanpa kepala itu ambruk. Darah menyembur, membasahi lantai batu. Namun Raja Api hanya tertawa. Tawa yang sama—angkuh, tanpa penyesalan.

"Tidak akan ada yang bisa mengaturnya," ucapnya pada tubuh yang kini tak bernyawa itu. "Sekalipun penjaga Artefak."

Di Alam Ruh, Zeo masih berjalan.

Kabut menyelimuti setiap langkahnya. Cahaya kebiruan berpendar redup di antara pepohonan yang tidak memiliki daun. Matanya merah, napasnya tersengal, namun kakinya tidak berhenti. Ia mencari petunjuk—kapan waktu berbintang itu tiba, bagaimana cara mengembalikannya. Berapa lama lagi? Ia tidak tahu. Yang ia tahu hanya terus melangkah, terus mencari, hingga dunia asli di luar sana perlahan memudar dari ingatannya. Wajah-wajah yang pernah ia kenal, suara-suara yang pernah ia dengar—semuanya mengabur, tertelan oleh kabut Alam Ruh.

Di tempat tersunyi alam semesta, di dalam ruang kecil yang ia ciptakan sendiri, Sora masih membeku. Matanya terpejam. Namun di balik kelopak itu, pikirannya masih hidup. Masih berjalan. Masih menyebut satu nama yang tidak akan pernah ia lepaskan.

Dewi Bulan.

Di Kerajaan Api, Raja Api berjalan menyeret tubuh Garha yang telah tak berdaya. Darah menetes dari sisa leher itu, meninggalkan jejak merah di sepanjang koridor istana.

Pintu ruang takhta terbuka. Elara berdiri di sana—istri Raja Api, putri dari raja sebelumnya yang mewariskan kerajaan ini kepadanya. Matanya membelalak saat melihat suaminya menyeret tubuh tanpa kepala. Tangannya mencengkeram kusen pintu hingga buku-buku jarinya memutih.

"Apa yang kau lakukan?!" Suaranya bergetar, namun bukan oleh ketakutan. Oleh amarah. "Kau sangat kejam!"

Tanpa pikir panjang, Elara menyerang. Sihir api menyala di kedua telapak tangannya, melesat ke arah suaminya. Bukan untuk membunuh—untuk mempertahankan. Untuk menjaga kerajaan yang ayahnya wariskan, dari tangan monster yang kini duduk di singgasananya.

Namun Raja Api menangkisnya dengan satu kibasan tangan. Api Elara padam sebelum menyentuhnya.

Raja Api melangkah mendekat. Bukan sebagai raja. Bukan sebagai penguasa. Sebagai suami. Sebagai ayah dari anak Elara. Dan ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan.

Tangannya menembus dada Elara. Jari-jarinya mencengkeram sesuatu yang hangat, berdetak, hidup. Dan ia menariknya.

Jantung Elara keluar dari rongga dadanya, masih berdenyut di genggaman suaminya.

Mata Elara terbuka lebar. Mulutnya terbuka, namun tidak ada suara yang keluar. Hanya napas terakhir yang menguap dari bibirnya. Tatapannya—bukan marah, bukan takut. Tidak percaya. Seolah otaknya menolak menerima bahwa tangan yang kini merenggut nyawanya adalah tangan yang pernah menggenggamnya di altar pernikahan.

Tubuh Elara retak. Dari dalam, cahaya api menyala—bukan api kehidupan, melainkan api yang membakar habis. Perlahan, dari ujung jari hingga ke ujung rambut, tubuhnya berubah menjadi abu. Debu api yang berhamburan ke udara, tertiup angin koridor istana, dan lenyap.

Tiada.

Raja Api berdiri di tengah abu yang masih beterbangan. Tangannya masih terangkat, masih basah oleh darah. Dan di wajahnya—tidak ada apa-apa. Tidak ada penyesalan. Tidak ada keraguan. Tidak ada setetes pun air mata.

Bibirnya menyungging. Matanya berbinar. Dan tawanya pecah—keras, memenuhi koridor yang kini kosong. Tawa seorang pria yang merasa puas. Yang merasa menang. Yang merasa dunia ada di bawah telapak kakinya.

1
Ronggo Lasem
mampir nih bang jn lupa mampir balik😄
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: siap ka
total 1 replies
Jeffie Firmansyah
hadir semangat Thor,
jangan putus di tengah jalan ya💪💪💪
MOBIL Le
selamat malam semngat trus
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: malam juga 🤣
total 1 replies
Penulis2426
mampir nih
CNNTAYY
ini cerita nyaa seruu! semangat yaa/Smile//Smile/
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: serius ka 🥺
total 1 replies
CNNTAYY
kak ayokk saling support..
buat yang mau baca mampir
💪💗💗
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: siap ka
total 1 replies
yodi gaming
ada romance ny kh ini?🗿
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: ini lagi menceritakan masa lalu dulu flashback
total 2 replies
yodi gaming
gpp semangat terus ya nulisnya🙌✨
yodi gaming
penulisan kamu bagus😳
yodi gaming: iya, tulisan aku aja masih berantakan😅
total 2 replies
yodi gaming
jangan lupa mampir di novel kubya😚✌️
yodi gaming: iya tentang kehidupan kerja juga, tp ad penghianat ny
total 2 replies
yodi gaming
keren🙌
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
halus
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
maaf kalo Nulisan nya terlalu pendek aku lagi sakit jadi nulis nya dikit dikit
dan maaf bilah kurang haku
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: 👍👍💪 semngat pasti tapi sistem
total 2 replies
Nazzzwa
👍👍👍
Nazzzwa: okeyy
total 2 replies
Chaniaa12
seru jugaa
Chaniaa12
menarik nih
MOBIL Le
kaya iya dan ia mending di hapus satu ka biar mengalir
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: laksanakan
total 1 replies
MOBIL Le
lanjutin terus semangat nulis nya klo ada waktu lanjutin baca . aku mau tanya menurut kalian yang baca novel ini Giman . seru apa gak?

ayo teman teman kita dukung setiap ada karya baru. biar mereka bisa berkembang dalam setiap langkah nya . dan meningkatkan alur cerita nya
CNNTAYY: tolong support aku juga kak💗
total 1 replies
vania_
Keren, Kak. Aku mampir nih🤗
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: ka bisa saling favorit biar bisa sering
total 2 replies
Karang Birru
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!