Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.
Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.
Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Revan Sangat Mencintai Kekasihnya
Setelah menunaikan shalat Dzuhur, aku berniat untuk membereskan beberapa alat tulis dan buku yang aku pakai untuk besok mengajar. Sebelum sampai rumah tadi, aku singgah sejenak di toko buku untuk membeli beberapa alat tulis.
Klek...
Suara pintu terbuka, disusul dengan kemunculan Kak Revan di sana. Sontak aku yang sedang melepas tali mukena pun kembali memakainya lagi. Tersenyum pada Kak Revan saat tatapan kami bertemu, hanya sejenak karena dengan cepat Kak Revan memalingkan wajahnya dariku.
Cepat sekali Kak Revan sampai rumah, bukannya tadi ia sedang jalan bersama kekasihnya.
Aku melangkah mendekat ke arahnya, mengulurkan tangan hendak mencium punggung tangannya. Tapi niat itu teralihkan menjadi meraih tas kerja Kak Revan.
Sejenak kami berhadapan, aku bisa mendengar helaan napas lelah dari Kak Revan.
"Biar aku bereskan alat kerjanya, Kak" kataku dengan suara pelan dan hati-hati. Kak Revan melirik sekilas tas kerjanya, kemudian melepaskan begitu saja. Wajahnya yang teramat dingin terlihat sangat serius.
Aku membalikkan tubuh, berniat untuk melangkah. Tapi...
Set.
Tubuhku limbung dan kaku, tersandung oleh rok mukena yang masih aku pakai. Untung saja... tangan Kak Revan mencengkeram erat lenganku. Jika tidak, mungkin tubuhku sudah ambruk dan menimpanya.
"Maaf, Kak..." Lagi-lagi aku harus mendapatkan tatapan sinis darinya.
Kak Revan berdecak pelan.
"Mana ponselmu?" tanya nya tanpa menoleh ke arahku. Aku hendak mengambil ponsel, tapi cekalan tangan Kak Revan masih berada pada lenganku.
"Maaf, Kak... ini tangannya..."
Kak Revan tersadar dan segera melepaskan tanganku.
Akhirnya aku paham. Kak Revan menolongku bukan karena takut aku jatuh menimpanya, melainkan sebuah perbuatan alami, karena mungkin ia sering menolong banyak orang.
Aku mengambil ponsel yang berada di atas nakas lalu menyerahkannya pada Kak Revan. Untuk apa dia meminjam ponselku?
Kak Revan mengamati ponselku, mengetik sesuatu lalu menunggunya beberapa menit. Aku hanya bisa berdiri mematung di sini, memperhatikan wajah Kak Revan yang tampak serius dengan layar ponselku.
"Nih, aplikasi ojek online. Kamu bisa menggunakannya. Tidak perlu menunggu angkot seperti tadi..."
Deg.
Benar Kak Revan melihat keberadaanku tadi siang, tapi dia begitu cuek seperti tidak peduli sama sekali.
"Makasih, Kak, tapi aku lebih nyaman naik angkutan umum dibanding ojek online."
Kak Revan melirikku dengan tatapan tajamnya. Rahangnya mengeras serta alisnya berkerut.
"Kamu senang digoda laki-laki asing seperti tadi?"
Aku terperanjat dengan kalimatnya yang sedikit terhentak, bukan bentakan keras. Hanya sebuah kalimat yang dipertegas pada akhirnya.
"Jika Kak Revan tahu, mengapa Kak Revan tidak menolongku?" Aku menatap wajahnya dengan sorot mata sendu. Sangat kontras dengan sorot tajam laki-laki di hadapanku.
"Karena aku harus menjaga perasaan kekasihku, Alya." Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya, membuat hati ini berdenyut perih.
Aku memalingkan wajah, berusaha untuk menutupi lelehan air mata yang mulai keluar membasahi pipi.
"Istirahatlah, Kak, mandi dulu. Aku akan menyiapkan pakaian ganti. Kamu sudah makan siang, kan, dengan kekasihmu? Jika sudah, aku tidak perlu lagi menyiapkannya."
🌸🌸🌸
Malam harinya, seperti biasa aku akan duduk di depan jendela kamar, menikmati hembusan angin malam dan deretan bintang yang menghiasi langit malam.
"Iya, sayang, malam ini aku ada jaga malam. Jadi maaf tidak bisa menjenguk ibumu. Sampaikan salamku padanya."
Aku melirik Kak Revan yang sedang berbicara lembut di seberang telepon dengan kekasihnya. Tidak ada kata ketus, semuanya terlihat sangat hangat. Bahkan senyum manis mengembang pada wajah pria itu. Padahal kekasihnya tidak akan melihat wajah manisnya itu.
"Iya, beb, aku usahakan untuk mampir sejenak. Mau titip apa?"
"Oke, siap, nanti aku bawakan."
Aku terus memperhatikan gerak-gerik Kak Revan, ia memakai kemeja kerja yang telah aku siapkan tadi. Kemudian ia menuju kastop tempat jas putih nya yang tadi siang ia simpan.
"Jas putihnya pakai yang ada di lemari aja, Kak, yang tadi aku cuci dulu."
"Aduh, Alya... di saku jas itu ada kertas penting, kenapa kamu main cuci saja?"
Kak Revan menatapku tegas, tapi aku menanggapinya dengan tenang. Melangkah pelan mendekat ke arah nakas, membuka laci nakas dan meraih kertas yang tadi kusimpan di sana, kemudian menyerahkannya pada Kak Revan.
Tanpa banyak kata pria itu menerimanya, kemudian melangkah dan mengambil tas kerja yang sudah aku siapkan dengan rapi.
"Terlihat sayang sekali pada kekasihmu kak, kenapa kalian tidak memutuskan untuk menikah?"
Kak Revan yang sedang merapikan rambutnya sontak menghentikan pergerakannya. Pria itu menghela napas pelan lalu mengembuskannya kasar. Seperti ingin melepaskan beban berat yang menghimpit dadanya.
"Bukan urusanmu, tidak ada hak untuk kamu mengetahui urusan pribadiku," ujarnya dengan suara yang begitu datar dan dingin.
"Aku istrimu, Kak..." kataku datar, tanpa ekspresi apa pun. Bahkan senyum manis yang sering ku berikan padanya aku tunda dulu sejenak, takut jika dia berpikir aku sedang menggodanya.
Terdengar senyum getir dari Kak Revan. Bahunya bergetar naik turun.
"Apa yang kamu harapkan dengan pernikahan ini, Alya...?"
"Hemm, aku hanya ingin menjadi istri yang baik untukmu, Kak."
Kak Revan kembali tertawa getir, seperti tawa yang menyepelekan kalimat yang terucap dari mulutku.
"Tidak perlu, Alya, karena itu percuma. Hatiku sudah terpaut dengan kekasihku. Dan tidak akan pernah berpaling sedikit pun darinya...."
Kak Revan pergi begitu saja, meninggalkan aku yang berdiri di kamar. Kepergiannya menjejakkan sebuah keraguan yang kini menguasai diriku.
Apa kau yakin bisa bertahan dengan seorang pria yang hatinya sudah terisi seorang wanita yang teramat ia cintai?
Sangat terlihat sekali, cinta Kak Revan begitu besar pada kekasihnya.
Ya Tuhan, pernikahan ini baru berjalan satu minggu, tapi mengapa aku mulai terasa rapuh dan ragu? Kuatkan aku, ya Tuhan...
Bersambung
Tinggalkan like dan komen ya readers 🤩