Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.
Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.
Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?
Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Nada Pertama dan Panggilan Khusus
Panggilan "Ketua" kini resmi menjadi sebutan khusus dari mulut Alee untuk Ramaditya. Bagi anak-anak kelas 10 MIPA 1 yang lain, Rama dipanggil "Ram" atau "Rama". Namun, Alee selalu punya cara sendiri untuk menunjukkan keberadaannya. Tiap kali Alee memanggilnya di koridor, di kelas, maupun via pesan singkat, kata "Ketua" selalu meluncur mulus dengan nada khasnya yang lantang. Rama sendiri hanya bisa menggeleng pelan pasrah, sudah terbiasa dengan panggilan yang dibuat-buat oleh mantan teman sebangkunya itu.
Janji Sabtu sore untuk belajar gitar akhirnya terealisasi. Namun, sebelum sesi latihan pertama dimulai, ada satu kendala utama: Alee sama sekali tidak punya gitar di rumahnya.
"Masa gue belajar pakai gitar bayangan, Ketua?" omel Alee via telepon sore itu.
Rama di ujung telepon terkekeh halus. "Ya udah, Sabtu ini kita ke toko musik aja dulu. Saya bantuin pilih gitar akustik yang pas buat pemula, biar jarinya nggak gampang kapalan."
Sore itu menjadi momen perdana Alee jalan berdua dengan Rama di luar jam sekolah. Di sebuah toko instrumen musik yang hangat, Rama dengan telaten memetik beberapa gitar akustik kayu, mengecek ketinggian senar, serta kualitas suaranya. Sementara Alee hanya berdiri di samping Rama, bersedekap dada sambil pura-pura paham, padahal matanya terus mencuri pandang ke jemari Rama yang menari lincah di atas fretboard.
Setelah memilihkan satu gitar akustik bernuansa cokelat kayu alami yang ukurannya pas di genggaman Alee, gitar itu pun resmi berpindah tangan. Hari itu, Alee pulang dengan perasaan membumbung tinggi—bukan hanya karena punya gitar baru, tetapi karena gitar itu dipilihkan langsung oleh sang Ketua Kelas.
---
Proses belajar gitar Alee ternyata tidak hanya berlangsung secara tatap muka. Mengingat kesibukan Rama sebagai ketua kelas dan anggota OSIS, Rama berinisiatif mengirimkan materi belajar secara online.
Hampir setiap dua hari sekali, ponsel Alee bergetar menerima notifikasi video pendek dari Rama via WhatsApp.
Dalam video-video berdurasi satu hingga dua menit itu, Rama memutar kameranya ke arah tangan dan senar gitar. Suara beratnya yang tenang menjelaskan kunci-kunci dasar dengan sangat rinci.
> "Lee, ini bentuk kunci C. Jari telunjuk kamu di senar nomor dua kolom pertama, jari tengah di senar nomor empat kolom kedua... perhatikan posisi jempol saya di belakang neck ya. Coba kamu ikuti di rumah."
Alee bisa memutar video kiriman Rama itu puluhan kali di dalam kamarnya. Bukan cuma untuk belajar menekan senar hingga jarinya agak memerah, tapi juga untuk mendengarkan suara Rama yang sengaja ia putar berulang-ulang sebelum tidur. Bagi Alee, video-video tutor singkat dari Rama adalah "asupan wajib" yang paling ia tunggu-tunggu setiap malam.
Ia bahkan membalasnya dengan mengunggah video latihan jarinya yang masih kaku.
> Alee: [Mengirim Video] Ketua! Lihat nih, kunci C gue udah nggak fals kan? Walaupun jari gue serasa mau putus!!
> Rama: Udah lumayan, Lee. Jari tengahnya kurang menekan dikit lagi biar suaranya jernih. Tapi kemajuannya cepat kok. Bagus.
Dapat pujian singkat "Bagus" dari Rama saja sudah cukup membuat Alee berguling-guling gembira di atas kasurnya.
---
Sejak punya gitar sendiri, penampilan Alee di sekolah bertambah satu aksesori wajib: tas gitar hitam yang selalu tersampir di bahunya. Alee dengan bangga membawa gitar barunya itu ke SMA Nusantara Jaya hampir setiap hari.
Saat jam istirahat pertama berbunyi, Alee kerap mengeluarkan gitarnya dari tas. Ia duduk di atas meja di pojok belakang kelas, memangku gitar cokelatnya, lalu mulai memetik senar satu per satu mencoba memainkan perpindahan kunci C ke G yang diajarkan Rama.
Teng... plok... teng...
Suara petikan Alee sesekali masih sumbang dan kaku, membuat beberapa teman di kelas tertawa kecil.
"Busyet, Alee! Sejak kapan lu jadi anak indie bawa gitar ke sekolah?" goda Rendy dari meja tengah.
"Biarin! Gue lagi dalam proses menjadi musisi hebat!" balas Alee ceplas-ceplos tak mau kalah. Matanya lalu melirik ke meja depan, tempat Rama sedang merapikan lembar jawaban murid. "Iya kan, Ketua? Guru gitar gue aja di depan tenang-tenang aja tuh!"
Rama yang merasa dipanggil menoleh ke belakang. Ia mengulum senyum tipis melihat Alee yang memegang gitar dengan posisi agak canggung.
"Jari telunjuknya jangan terlalu miring, Alee. Tegakkan dikit biar senar bawahnya nggak tertekan," sahut Rama memberi saran dari jauh.
"Siap, Pak Guru!" panggil Alee seraya membetulkan posisi jarinya dengan semangat membara.
Nara yang duduk tak jauh dari Alee hanya bisa menopang dagu sambil mengamati interaksi itu. Teka-teki tentang alasan Alee pindah ke belakang dan mendadak rajin membawa gitar mulai memperlihatkan titik terang di pikiran Nara, meski Alee masih terus bersikap pura-pura biasa saja.
---
Momen yang paling Alee favoritkan adalah saat bel pulang sekolah telah berbunyi dan kelas mulai sepi. Sebelum melangkah pulang, Alee sengaja meminta Rama menahannya sebentar di kelas untuk mengevaluasi hasil latihannya hari itu.
Sore itu, kelas 10 MIPA 1 sudah kosong. Sinar matahari senja berwarna keemasan menerobos masuk lewat jendela kaca, menciptakan suasana yang hangat dan tenang.
Rama berdiri di samping meja Alee, memperhatikan jemari gadis itu yang sedang berjuang memainkan nada sederhana.
"Kunci Am ke F-nya masih agak lambat, Ketua," keluh Alee sambil mendengus pelan, menatap jarinya yang agak memerah di bagian ujung. "F-nya susah banget, senarnya keras!"
Rama terkekeh pelan. Ia mengambil kursi di depan Alee lalu duduk berhadapan. "Awal-awal memang gitu. Jari kamu belum terbiasa kapalan. Sini, saya contohkan transisinya."
Rama meraih bagian *neck* gitar milik Alee, memosisikan jemari Alee secara perlahan. Saat jemari Rama yang hangat dan tegas menyentuh kulit jarinya untuk membetulkan letak kunci F, jantung Alee seketika berdegup kencang tak beraturan. Jarak wajah mereka yang cukup dekat membuat Alee bisa mencium aroma wangi yang khas dari seragam Rama.
Mulut Alee yang biasanya bagaikan mercon banting seketika terkunci rapat. Ia tidak berani bersuara sedikit pun, takut jika ia bernapas terlalu keras, rasa salah tingkahnya akan terbongkar.
"Nah, posisinya begini. Coba petik," bisik Rama pelan sambil menatap jari Alee.
Alee memetik senarnya. Suara yang keluar terdengar bersih dan jernih tanpa fals.
"Tuh kan, bisa," ucap Rama sambil mendongak, menatap mata Alee dan tersenyum tulus dari jarak dekat. "Kamu pintar kok, cepat pahamnya."
Alee menahan napasnya sejurus. Tatapan mata cokelat Rama yang teduh dan senyuman tulus itu seolah melumpuhkan seluruh pertahanan gengsi yang selama ini ia bangun.
"Y-ya jelas lah! Alee gitu lho!" sahut Alee cepat, berusaha sekuat tenaga menetralkan suaranya yang hampir terbata-bata. Ia menarik tangannya pelan sambil mengalihkan pandangan ke luar jendela. "Pokoknya Sabtu besok gue harus udah bisa mainin satu lagu penuh! Lu wajib dengar, Ketua!"
Rama tertawa kecil, suara tawanya terdengar begitu renyah di dalam kelas yang hening. Ia berdiri dari kursinya lalu mengacak rambut Alee pelan sebuah gestur spontan yang membuat dada Alee makin bergemuruh hebat.
"Oke, saya tunggu penampilannya, Alee. Sekarang ayo pulang, udah sore," kata Rama tenang sambil merapikan tasnya sendiri.
Alee memasukkan gitarnya ke dalam tas hitam dengan tangan yang masih sedikit gemetar bahagia. Panggilan Ketua, video-video latihan di ponselnya, serta petikan gitar di kelas senja itu telah menjadi simfoni baru yang membuat perasaan Alee pada Ramaditya semakin melambung tinggi tanpa arah jalan pulang.