Xiao Yu dipaksa ikut pemilihan selir oleh orangtuanya demi mengangkat derajat keluarga. Padahal gadis ini ingin masuk militer.
Akhirnya ia ikut pemilihan selir dengan berpura-pura bodoh. Tapi sungguh suatu hal ajaib. Dia justru terpilih.
Ternyata pangeran Zhang Li sengaja memilih selir bodoh untuk protes pada raja bahwa ia lelah terus disuruh mencari seorang pendamping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6
Xiao Yu melangkah santai menuju jendela kayu, menyibak sedikit kisi-kisinya untuk mengamati rute halaman belakang. Senyum tipis nan tajam terukir di bibirnya.
"Bagus kalau mereka berpikir begitu," sahut Xiao Yu tenang. "Biarkan mereka merasa di atas angin. Makin mereka meremehkan ku, makin leluasa kita bergerak di tempat ini."
Xiao Yu berbalik menatap sahabatnya, mata petarungnya berkilat pelan.
"Sekarang, tinggal menunggu kesempatan untuk bertemu dengan 'Pangeran' itu. Aku ingin tahu apa yang ia katakan tentangku."
*
*
*
Malam akhirnya jatuh menutupi Kediaman Barat. Suasana Paviliun Anggrek terasa sangat sunyi, hanya dihiasi suara jangkrik dan derit pelan lentera kertas yang bergoyang ditiup angin malam.
Di dalam kamar, Xiao Yu sudah menanggalkan gaun selirnya yang merepotkan dan menggantinya dengan pakaian dalam sutra yang lebih longgar. Ia duduk bersila di atas ranjang kayu, menutup mata seraya mengontrol napas. Melatih ketahanan fisiknya seperti biasa.
Di sudut ruangan, Bao'er sibuk merapikan isi lemari seraya terus melirik gelisah ke arah pintu utama.
"Yu'er, ini sudah lewat tengah malam," bisik Bao'er pelan. "Kasim Sun bilang Pangeran mungkin datang. Kalau dia tidak datang malam ini, bagaimana?"
"Bagus kalau dia tidak datang," sahut Xiao Yu tanpa membuka mata. "Aku bisa berlatih lebih tenang tanpa harus berpura-pura konyol di depannya."
Namun, baru saja kalimat itu terlontar, ketukan halus di pintu terdengar. Disusul suara dingin Kasim Sun dari luar.
"Nona Xiao, Pangeran Zhang Li telah tiba."
Bao'er seketika membelalak panik. Ia hampir menjatuhkan gulungan kain di tangannya. Dengan cepat, Xiao Yu membuka mata. Dalam hitungan detik, postur tubuhnya yang tadinya tegap dan siaga seketika melemas. Ia mengendurkan seluruh ketegangan ototnya, mengubah raut wajahnya menjadi bingung dan polos. Sebuah akting sempurna yang sudah ia latih.
Pintu kayu berderit terbuka.
Seorang pria tinggi berbalut jubah sutra hitam berkain sulam naga perak melangkah masuk. Zhang Li. Wajahnya rupawan namun tegas, dengan rahang yang terpahat keras dan pandangan mata tajam yang sanggup menembus niat siapa pun. Udara di dalam kamar seketika terasa makin dingin dan menekan.
Bao'er langsung berlutut hingga dahinya menyentuh lantai, tubuhnya gemetar hebat. Xiao Yu buru-buru turun dari ranjang, membuat gerakannya terikat canggung sebelum ikut menunduk memberi hormat.
"Hamba menyapa... Yang Mulia Pangeran," ucap Xiao Yu pelan dengan nada canggung.
Zhang Li tidak langsung menyuruh mereka berdiri. Ia memberi isyarat tangan agar Kasim Sun dan para pengawal menunggu di luar, lalu mengibaskan jubahnya dan duduk di kursi utama dekat meja. Matanya yang dingin menyapu sekeliling kamar yang sederhana itu, sebelum akhirnya tertuju lurus pada Xiao Yu.
"Berdirilah. Pelayanmu boleh keluar," perintah Zhang Li, suaranya berat dan berwibawa.
Bao'er melirik Xiao Yu dengan cemas, tetapi setelah mendapat anggukan halus yang hampir tak terlihat dari Xiao Yu, ia segera membungkuk. Berjalan mundur keluar kamar lalu menutup pintu rapat-rapat.
Ruangan itu kini hanya menyisakan mereka berdua. Keheningan mencengkeram.
Xiao Yu tetap berdiri menunduk, menyatukan kedua jemarinya di depan dada dengan gelisah. Sebuah akting yang sangat terlatih. Namun di balik tundukan kepalanya, pendengaran Xiao Yu aktif sepenuhnya. Ia bisa mendengar irama napas Zhang Li yang sangat teratur dan langkah kakinya yang hampir tanpa suara.
Pangeran ini bukan sekadar bangsawan manja, batin Xiao Yu menajam. Langkahnya amat ringan. Dia juga seorang petarung yang menguasai ilmu bela diri tinggi.
Zhang Li menuang teh dingin di atas meja ke dalam cangkir porselen, meminumnya perlahan tanpa mengalihkan pandangan dari Xiao Yu.
"Apa yang kamu lakukan saat ujian di aula istana kemarin cukup bagus hingga membuat para menteri tertawa," ujar Zhang Li tiba-tiba, nada suaranya datar tanpa emosi.
Bagus? Aku tarik ucapanku. Dia bodoh. Xiao Yu menipiskan bibirnya samar.
Xiao Yu berpura-pura makin panik. Ia menunduk lebih dalam. "M-mohon ampun, Yang Mulia! Hamba memang bodoh dan tidak terbiasa dengan kemegahan istana... Hamba tidak bermaksud merusak ujian..."
"Tidak apa-apa. Aku paham kamu datang jauh dari desa perbatasan," kata Zhang Li
Keheningan mencengkeram ruangan itu. Zhang Li menuang teh dingin ke dalam cangkir porselen, meminumnya perlahan tanpa mengalihkan pandangan dari Xiao Yu.
Zhang Li meletakkan cangkirnya, lalu bangkit dan melangkah mendekat. Ia berdiri di hadapan Xiao Yu, menatap gadis itu dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang sangat dingin.
Sebenarnya, ada sesuatu yang terasa janggal bagi Zhang Li. Keanehan kecil saat ujian kemarin sempat melintasi benaknya. Bagaimana bisa seorang gadis begitu berturut-turut melakukan kecerobohan dengan timing yang terkesan 'pas'?
Namun, menatap Xiao Yu yang berdiri kaku dan menunduk pasrah di hadapannya saat ini, Zhang Li menepis keraguan kecil itu.
Berbeda dengan Selir Kui atau Selir Huo Yan yang dikelilingi faksi menteri ambisius dan sarat intrik berbahaya. Gadis di depannya ini tidak punya latar belakang yang memberi ancaman politik apa pun. Zhang Li memilih mengabaikan keanehan kecil Xiao Yu. Karena itu lebih praktis.
"Aku membawamu ke kediaman ini bukan untuk mendengar alasan mu," kata Zhang Li pelan, suaranya menusuk mempertegas jarak. "Ingat posisimu di Paviliun Anggrek. Jaga sikapmu, banyaklah diam, dan jangan sekali-kali mencampuri urusan apa pun di tempat ini."
Xiao Yu menunduk makin dalam, mempertahankan keheningan dan raut patuh di wajahnya.
"Hamba mengerti, Yang Mulia. Hamba akan patuh," jawab Xiao Yu pelan.
Zhang Li menatapnya sekilas. Ia puas bahwa wanita ini juga patuh padanya. Perintahnya selalu sama pada setiap selir yang dipilih. Terutama tidak mencampuri urusan apapun di tempat ini.
Setelah itu lalu berbalik dan melangkah keluar dari paviliun tanpa membuang kata lagi.
Bao'er yang ada tak jauh di depan pintu menundukkan kepala bersikap hormat.
Di seberang pelataran batu tempat empat bangunan berdiri saling berhadapan mengelilingi satu taman tengah, suasana malam yang tampak tenang sebenarnya menyimpan gelombang kecemburuan yang mendadak reda menjadi kepuasan dingin.
Tata letak kediaman yang terbuka membuat setiap langkah kaki, bayangan lentera, dan derit pintu utama di Paviliun Anggrek terpancar jelas ke segala arah.
Di balik kisi-kisi jendela Paviliun Timur, bayangan sosok wanita berdiri kaku dengan napas memburu. Pelayan kepercayaan Selir Huo Yan merapatkan tubuhnya di balik tiang teras, menyipitkan mata memperhatikan rute pengawal Pangeran seraya menghitung waktu.
Begitu sosok tinggi Pangeran Zhang Li melangkah keluar dari gerbang Paviliun Anggrek dengan jubah hitamnya yang megah, pelayan itu buru-buru berbalik dan menyelinap masuk ke dalam kamar majikannya.
selama ini tk ada yg mencurigakan🤔
apa mrk gk lapor klu majikan'a tdk disamping'a? 🙄