Maya Maheswari adalah CEO muda, anggun, dan dingin yang memimpin konglomerat terbesar di Indonesia. Sementara Leo, suami yang dinikahinya lewat perjanjian kontrak, hanyalah mantan prajurit berpenampilan santai yang bekerja sebagai pengawal pribadinya. Dianggap sebelah mata oleh keluarga besar Maheswari, Leo selalu diam dan berdiri tegap satu langkah di belakang sang istri.
Namun, di balik sikap tenangnya, Leo menyimpan identitas rahasia sebagai pendiri jaringan keamanan dan intelijen global yang memegang kendali atas data rahasia para elite dunia. Saat intrik pengkhianatan dari dalam perusahaan mulai mengancam nyawa dan takhta Maya, Leo perlahan membuka topengnya. Demi melindungi wanita yang dicintainya, sang pengawal siap mematahkan setiap konspirasi membuktikan pada dunia siapa penguasa sebenarnya di balik bayangan Sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 6
Maya menatap suaminya tanpa berkedip. Nada suara Leo terdengar begitu santai, lengkap dengan senyum tipis yang biasa ia pamerkan di hadapan orang banyak. Namun, bagi Maya yang terlatih membaca gerak-gerik lawan bicaranya di meja perundingan, senyuman itu tak ubahnya sebuah benteng yang dirancang sangat rapi untuk menyembunyikan kebenaran.
Jalur informasi?" ulang Maya pelan, seraya merapatkan blazer hitamnya. "Leo, jalur informasi biasa tidak bisa membobol rekening rahasia Cayman dalam waktu sepuluh menit, dan tidak bisa menghapus seluruh jejak CCTV area parkir hanya dalam hitungan detik."
Leo membalas tatapan Maya dengan tenang saat ia membawa sedan lapis baja mereka membelok memasuki area pelataran kompleks apartemen eksklusif di kawasan Jakarta Selatan. Pintu gerbang besi yang tinggi terbuka secara otomatis setelah sensor mengidentifikasi plat nomor kendaraan mereka.
"Setiap orang yang bertugas di medan perang punya caranya sendiri untuk bertahan hidup, Maya," sahut Leo seraya memutar kemudi menuju pelataran parkir khusus penthouse di lantai teratas. "Di dunia luar, informasi adalah senjata terbaik. Kalau saya tidak punya akses itu, saya tidak akan pernah berani menerima amanat dari Kakekmu untuk menjagamu."
Sedan hitam itu akhirnya berhenti sempurna di slot parkir pribadi. Mesin V8 yang tadinya meraung halus kini mati, menyisakan keheningan yang pekat di dalam kabin mobil.
Maya tidak langsung keluar. Ia menyandarkan tubuhnya, memperhatikan punggung tegap Leo dari belakang. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk mendesak pria itu lebih jauh, menelanjangi semua rahasia yang ia sembunyikan selama satu tahun pernikahan kontrak ini. Namun, logika dingin Maya menahannya. Dalam situasi di mana pamannya sendiri berusaha menjatuhkannya dan musuh tak dikenal mengincar nyawanya, Leo adalah satu-satunya tumpuan yang bisa ia percaya sepenuhnya.
Leo melepaskan sabuk pengamannya, lalu keluar untuk membukakan pintu bagi Maya. Begitu pintu terbuka, udara malam yang dingin menyapa kulit Maya, membawa aroma basah bekas hujan.
"Terima kasih," gumam Maya pelan saat melangkah keluar dari mobil.
Sudah kewajiban saya, Maya," balas Leo singkat.
Mereka berdua berjalan berdampingan menuju lift khusus yang langsung mengarah ke penthouse lantai 30. Langkah kaki mereka berdua beriringan di atas marmer kilat, menciptakan irama yang teratur. Di dalam lift ber dinding kaca tembus pandang itu, Maya memperhatikan pantulan bayangan mereka. Di sebelah kirinya, berdiri seorang pria tinggi besar berkeahlian tempur luar biasa, yang secara sah di mata hukum dan agama adalah suaminya.
Besok pagi adalah pertarungan sebenarnya," kata Maya memecah keheningan saat indikator lantai lift bergerak naik. "RUPS akan dihadiri oleh seluruh pemegang saham utama. Hendra pasti sudah menyusun rencana cadangan setelah serangannya di basement malam ini gagal."
Saya tahu," sahut Leo datar, matanya menatap angka lantai yang terus bertambah di atas pintu lift. "Pria seperti Hendra kalau sudah terdesak akan bertindak makin liar. Tapi Anda tidak perlu khawatir. Tim kepatuhan yang Anda perintah tadi siang sudah mengunci seluruh akses dokumen internalnya. Dia tidak punya panggung lagi besok."
Bagaimana kalau dia nekat membawa pengacara atau mencoba membatalkan pemungutan suara?"
Leo menoleh pelan, menatap mata kecokelatan Maya yang memancarkan sedikit kecemasan. Tatapannya yang tadi dingin mendadak melunak.
Jika dia membawa pengacara, kita patahkan dengan hukum," ucap Leo halus namun penuh penekanan. "Jika dia membawa ancaman fisik... dia harus berhadapan dengan saya lebih dulu sebelum bisa menyentuh ujung baju Anda."