Menikah muda dan Kirana menyerahkan seluruh masa depannya untuk menjadi penopang di balik kesuksesan Gibran. Lima belas tahun ia setia mengabdi sebagai ibu rumah tangga, merawat anak-anak dan memastikan nama suaminya bersinar sebagai pria sempurna yang dipuja publik.
Namun, ketika harta dan tahta telah tergenggam, Gibran justru menganggap Kirana bab lama yang harus dibuang demi wanita lain.
Surat gugatan cerai dilayangkan. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali.
Gibran mengira Kirana akan menangis mengemis cinta. Betapa naifnya. Bagi Kirana, ketenangannya bukanlah kepasrahan, melainkan strategi catur dingin.
Saat Gibran sibuk bertarung di ruang sidang, Kirana melangkah anggun menikmati masa mudanya yang tertunda. Kirana sengaja menjaga nama baik suaminya tetap bersih memastikan aset yang dibangun bersama berada di puncak nilai tertinggi.
Ketika Gibran mulai kehabisan napas, Kirana melayangkan pukulan balik. Ia mengincar delapan puluh lima persen harta gono-gini dan secara takt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan
Malam beranjak makin larut. Di dalam kamar utama yang luas dan berlantai kayu hangat, aroma minyak esensial lavender menguar lembut dari humidifier di sudut ruangan. Keheningan kamar ini menjadi ruang perlindunganku setelah seharian harus menghadapi ketegangan di meja makan dan ruang tengah.
Aku duduk anggun di depan meja rias berlampu sorot hangat. Menggunakan gaun tidur berbahan sutra lembut berwarna merah marun, jemariku bergerak mengoleskan urutan skincare malam di wajah. Esens, serum, hingga pelembap berkualitastinggi kuusap perlahan di kulit pipi dan leherku dengan gerakan memijat yang amat tenang.
Sejak Gibran membawa amplop putih tebal itu ke rumah, status kami di bawah atap ini berubah. Kami resmi pisah kamar. Namun, aku bukanlah tipe wanita yang akan mengalah, membiarkan suaminya yang berkhianat terus menikmati fasilitas terbaik sementara dirinya menyingkir ke kamar yang lebih kecil. Tidak. Akulah yang memaksa Gibran angkat kaki dari kamar utama yang super mewah ini.
Kupastikan pakaian harian dan barang-barang pribadinya dipindahkan ke salah satu kamar tamu entah di lantai satu atau lantai dua, aku bahkan tak bersusah payah untuk memikirkannya. Jika ia ingin mencari kehancuran rumah tangga, maka dialah yang harus mengangkat kakinya dari tahta utama.
BRAK!
Pintu tebal kamar utama mendadak didorong kasar dari luar hingga membentur dinding kayu di belakangnya. Suara dentumannya menggelegar, merusak ketenangan aroma lavender di ruangan ini.
Aku tidak tersentak. Jemariku yang sedang mengusap krim mata tetap bergerak perlahan, menatap pantulan bayangan di cermin besar di hadapanku. Dari cermin itu, kulihat Gibran berdiri di ambang pintu dengan napas berburu.
Kemejanya agak kusut dan wajahnya dipenuhi rasa gusar yang memuncak.
"Kau tidak punya tata krama lagi, Gibran?" tanyaku sangat tenang melalui pantulan cermin. "Ketuk pintu dulu sebelum masuk ke ruang pribadi orang lain."
"Ruang pribadi?!" gertak Gibran seraya melangkah masuk dengan hentakan kaki yang berat. "Ini rumahku, Kirana! Dan kau masih istriku jika kau lupa! Aku cuma mau mengambil jas pentingku yang tertinggal di walk-in closet untuk rapat besok pagi."
Gibran menghentakkan kakinya melintasi kamar menuju ruang penyimpanan pakaian yang luas di balik pintu kaca es. Namun, saat melewati meja riasku, langkahnya terhenti. Matanya melirik deretan botol skincare mahal perancis milikku yang berjejer rapi di atas meja.
Gibran tertawa kecil sebuah tawa sinis yang sarat akan ejekan. Ia menyilangkan tangan di depan dadanya, menatapku dari atas ke bawah lewat cermin.
"Pantas saja rumah ini makin hambar," sindir Gibran dengan suara tajam yang disengaja. "Istri di rumah sibuk berdandan, pakai perawatan wajah berlapih-lapis tiap malam, tapi buat siapa? Buat cermin? Luar biasa pemborosanmu."
Aku menghentikan gerakan jemariku, mengambil selembar tisu bersih, lalu mengusap sisa krim di jari-jariku tanpa terburu-buru.
"Kau mau tahu kenapa aku tidak betah berlama-lama di rumah ini, Kirana?" lanjut Gibran, makin berani mengumbar kekesalannya. "Pria itu pulang kerja butuh ketenangan, butuh kehangatan, bukannya dapat istri yang setiap malam sibuk mengurusi mukanya sendiri dan memandang suaminya seperti musuh. Kau yang bikin suasana rumah ini jadi kayak neraka."
Aku meletakkan tisuku ke dalam kotak sampah kecil di samping meja, lalu memutar kursi riasku secara perlahan. Kini aku berhadapan langsung dengannya, menatap matanya yang menyipit sengit.
Aku menyunggingkan senyum paling tipismsenyum anggun yang justru terasa lebih dingin daripada es di kutub.
"Mau betah bagaimana, Gibran?" balasku dengan nada suara yang sangat halus, mengalun begitu santai namun setiap katanya terukur tajam. "Bagaimana seorang pria bisa betah di rumah, kalau setiap kali dia pulang, dia membawa rasa bersalah dan kebohongan di dalam dadanya?"
Gibran tersentak, rahangnya mengeras. "Apa maksudmu?!"
"Setiap pria yang bekerja dengan jujur dan pakai hati untuk keluarganya, akan menemukan kedamaian saat melihat istrinya berhias di rumah," lanjutku, melangkah berdiri dengan keanggunan seorang Ratu yang tak tersentuh. "Tapi untuk pria yang pikirannya sudah bercabang... yang di luar sana sibuk membagi hati dan bermain gila dengan wanita lain... melihat istrinya yang sah justru menjadi beban pikiran. Karena setiap kali kau menatap mataku, kau sedang melihat cermin dari dosa-dosamu sendiri."
"Kirana! Jaga bicaramu!" gertak Gibran dengan wajah memerah padam, jarinya menunjuk lurus ke arah mukaku. "Jangan selalu mengaitkan ketidaknyamanan ini dengan tuduhan murahanmu!"
"Tuduhan murahan?" tanyaku lembut sembari melangkah satu tapak mendekatinya. "Lalu bagaimana kau menyebut hubunganmu dengan Melani? Kerja sama bisnis yang membutuhkan pertemuan privat di lounge hotel hingga larut malam?"
"Sudah kubilang berkali-kali, Melani itu cuma rekan kerja!" elak Gibran cepat, matanya bergoyang gelisah menghindari tatapan mataku yang menelusuri kebohongannya. "Dia profesional. Dia membantu tim pemasaran NexTech Group. Kau saja yang berpikiran sempit dan selalu terbakar cemburu buta!"
Aku tertawa kecil suara tawa yang begitu murni tanpa sedikit pun beban emosi.
"Rekan kerja, Gibran?" bisikku seraya miringkan kepala. "Sejak kapan seorang rekan kerja mendapatkan fasilitas apartemen penthouse dari rekening pribadi CEO-nya? Sejak kapan rekan kerja mendapatkan hadiah perhiasan dan jam tangan mewah dari anggaran operasional yang kau samarkan? Kau pikir aku tidak memegang bukti-bukti transaksi itu?"
Wajah Gibran seketika pucat pasi. Bibirnya terkunci rapat, tak mampu mengalirkan satu pun kata pembelaan. Kebohongan yang ia susun rapi mendadak hancur berkeping-keping di depan fakta yang kubuka tanpa cela.
"Kau... kau memata-matai rekening pribadiku?" bisiknya dengan suara bergetar menahan malu dan amarah yang bertabrakan.
"Aku tidak perlu memata-matai pria yang kehilangan kecerdasannya hanya demi wanita muda," balasku dingin. "Kau yang menaruh semua celah itu di depan mataku. Jadi berhenti bersikap seolah-olah kau adalah korban yang tersiksa di rumah ini, Gibran."
Gibran mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya naik turun menahan gumpalan frustrasi yang membakar harga dirinya. Ia tahu, di dalam ruangan ini, di hadapan wanita yang telah mendampinginya selama lima belas tahun, ia telah kalah telak secara mental.
"Terserah apa katamu, Kirana," gertak Gibran, berusaha mengumpulkan sisa-sisa wibawanya yang sudah runtuh. Ia berbalik kasar menuju pintu walk-in closet, menarik gagang pintunya dengan emosi yang meledak. "Aku tidak punya waktu melayani pikiran picikmu."
Ia mengambil jas hitamnya yang tergantung rapi, lalu melangkah lebar kembali menuju pintu keluar kamar utama tanpa berani memandang mataku lagi.
Saat langkah kakinya menyentuh ambang pintu, aku memanggil namanya dengan suara yang sangat tenang namun bergema menghentikan langkahnya.
"Gibran..."
Gibran menghentikan langkahnya tanpa menoleh, tubuhnya kaku membelakangiku.
"Ambil semua barang yang kau butuhkan malam ini," ucapku sangat pelan, menyilangkan tangan di depan dada. "Karena mulai besok, aku akan mengganti kunci kamar utama ini dengan sistem pemindai sidik jari pribadi. Jangan pernah berani melangkah masuk ke kamar ini lagi tanpa izin dariku."
Gibran memutar tubuhnya perlahan, menatapku dengan mata yang membelalak tak percaya. "Kau mengusirku dari kamar milikku sendiri?."
"Ini kamar istri sah CEO NexTech Group," balasku dengan sunggingan senyum paling anggun. "Dan karena kau memilih tidur di kamar tamu, maka hormatilah batasan itu. Selamat malam, Suamiku."
Tanpa menunggu balasannya, aku melangkah mendekati pintu tebal tersebut, lalu menggesernya perlahan hingga tertutup rapat tepat di depan wajahnya yang kaku. Kudengar suara kunci otomatis berbunyi klik dari dalam.
Di balik pintu yang terkunci, terdengar hembusan napas kasar Gibran sebelum langkah kakinya yang berat dan frustrasi akhirnya terdengar menjauh, menyusuri lorong menuju kamar tamunya di ujung koridor.
Aku kembali melangkah menuju meja riasku, duduk tenang di depan cermin, dan melanjutkan usapan skincare malamku yang sempat tertunda. Pendar cahaya lampu sorot memantulkan ketenangan di mataku.
Gibran mengira ia bisa menekan mentalku dengan gertakan dan ancaman gugatan cerai. Namun ia tidak sadar, semakin ia menyerang, semakin banyak celah dan kelemahannya yang terbuka lebar di tanganku. Malam ini, bukan cuma kamar utama yang berhasil kukunci dari jangkauannya... tapi juga seluruh permainannya yang kini sepenuhnya berada di dalam genggamanku.
mreka jd ank yg pntr dn soleh krna ddikn ibunya,beda sm bpknya yg jhat dn hnya bsa mnykti mreka....
jd skrng,trima aja smua hkuman....
mga bnrn tobat biar bs hdp lbh baik...
Dlu aja bngga slingkuh....skrng mlah sling cakar,smp s pelakor bbak belur....🙄🙄🙄...
beda sm sng mntan yg lg ibadah,bkin hti adem plus nmbah pahala....mga kirana jg ktmu jdoh trbaiknya....