Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6 — Seperti Dulu Lagi?
Panggilan diangkat ketika Adrian hampir menyerah.
“Nara?”
“Perlu apa?”
Adrian menegakkan punggung.
Dimas.
Di seberang sana terdengar bunyi air, lalu suara pintu ditutup.
“Ini Adrian. Nara sudah sampai?”
“Kalau belum, bagaimana ponselnya ada di saya?”
Adrian menatap rumahnya sendiri, memilih kata.
“Tadi hujan deras. Saya mau memastikan.”
“Kamu sekarang ngurus sampai istri orang pulang jam berapa?”
“Dim—”
“Belum capek?”
Suara itu mengecil, justru semakin tajam.
“Masih mau ikut campur hidup saya seperti dulu?”
Adrian diam sejenak. Ia mengenali nada yang belum berubah itu, meskipun bertahun-tahun telah lewat.
“Saya cuma bertanya dia sudah sampai atau belum.”
“Sudah. Sama suaminya. Cukup?”
“Cukup.”
“Bagus. Lukisannya juga sudah selesai, kan?”
Adrian menggenggam ponsel lebih erat.
“Iya.”
“Berarti selesai.”
Panggilan diputus.
Adrian menatap layar sampai padam. Di lantai atas, lampu kamar dimatikan.
Ia tetap duduk beberapa menit, lalu keluar dari mobil dan kembali masuk ke rumahnya sendiri.
* * *
Nara berdiri di ambang kamar mandi dengan handuk di bahu.
Dimas ada di dekat tempat tidur, memegang ponselnya.
Ia pulang ketika Nara masih mandi. Setelah cukup lama mengetuk, ia meminta Nara membuka pintu. Nara membuka sedikit untuk mengatakan akan segera keluar; Dimas mengambil ponsel yang berdering dari wastafel sebelum ia sempat meraihnya.
Sekarang layar itu sudah gelap.
“Kerjaannya sudah selesai, masih dicari juga sampai malam.” Dimas mengangkat ponsel itu sedikit. “Biasanya kalian ngobrol apa jam segini?”
Nara melihat layar yang gelap. Ia ingin tahu apakah Adrian menelepon karena khawatir, tetapi ia tidak berani menanyakannya di depan Dimas.
“Kamu yang angkat. Aku bahkan belum dengar dia mau apa. Kembalikan ponselku.”
Dimas menaruhnya di meja, tetapi tetap berdiri di depannya. Tatapannya beralih ke mata Nara.
“Nangis? Tadi teleponku dimatikan, sekarang keluar begini. Aku yang salah lagi?”
“Mataku kena sabun.” Nara merapatkan handuk di bahunya. “Aku mau tidur, Dim. Tolong.”
Dimas memandangnya beberapa detik, membuatnya ingin mengulang penjelasan tadi. Nara menahannya. Ia sudah terlalu lelah.
Nara berjalan melewatinya. Ia mengambil ponsel dan melihat panggilan masuk Adrian yang baru berakhir.
Dimas memperhatikan wajahnya.
“Sudah kubilang urusannya selesai.”
Nara tidak membuka percakapan. Ia menaruh ponsel di sisinya sendiri, lalu menggantung handuk.
Ia ingin tahu apa yang Adrian katakan, tetapi Dimas masih mengawasinya. Kalau ia bertanya sekarang, suaminya pasti akan mempermasalahkan mengapa ia begitu ingin tahu.
Lampu meja di sisi Dimas masih menyala ketika mereka berbaring. Nara memejamkan mata, pura-pura tidur agar suaminya berhenti bertanya.
* * *
Maya mengajak bertemu keesokan siang.
Bukan di rumahnya. Sebuah kedai kecil dekat tempat kerja Maya, setelah jam makan siang mulai sepi.
Nara tiba lebih dulu. Ia memesan air putih karena tidak yakin bisa menelan apa pun.
Maya datang dengan mata sedikit sembap dan lipstik yang biasa dipakainya saat bekerja. Ia duduk tanpa memeluk Nara.
“Gue mau tanya sesuatu.”
Nara mengangguk.
“Lo sama Adrian belakangan sering ngobrol?”
Jari Nara berhenti pada gelas.
“Soal lukisan.”
“Cuma itu?”
Maya belum marah. Nara justru merasa lebih takut karena sahabatnya tampak sedang menahan sesuatu agar tidak keluar dengan cara yang buruk.
“Kadang bercanda.”
“Seperti apa?”
Nara mengeluarkan ponsel.
“Lo mau lihat?”
Maya menatap benda itu, kemudian menatapnya.
“Gue nggak mau jadi Dimas.”
“Gue yang nawarin.”
Nara membuka percakapan Adrian dan menggesernya ke awal. Semua masih ada: pengiriman, harga yang dirujuk dalam dokumen, lelucon soal kopi, foto pemasangan, ucapan terima kasih.
Percakapan di halte tidak tercatat di sana. Maya tidak akan menemukan pengakuan tentang video itu atau perasaan Nara kepada Adrian.
Ia meletakkan ponsel di tengah meja.
Maya membaca. Kadang jarinya berhenti pada pesan yang membuat Nara mengingat betapa lama ia menunggu balasannya.
Di layar, semua itu tampak begitu biasa.
“Lo pernah ketemu dia di luar kerjaan?”
“Nggak. Selain di rumah lo.”
“Kemarin?”
“Dia nyusul waktu gue nunggu taksi.”
“Dia bilang lo nangis.”
Nara mengangguk.
“Gue cerita soal rumah.”
Maya menggeser ponsel kembali.
“Ada sesuatu yang sudah terjadi?”
Nara merasa pipinya panas.
“Kami nggak pernah ciuman, May.”
Maya menarik napas tajam, seolah baru menyadari sejak tadi ia menahannya.
“Gue nggak bilang kalian sudah…”
Kalimatnya menggantung.
Nara menunduk. Tidak ada satu pun kata bohong dalam jawaban itu. Justru karena itu, ia merasa semakin sulit bernapas.
“Gue nggak pernah sengaja mau ngerusak rumah tangga lo.”
Maya melihatnya lama.
Kemarin malam, Adrian tidak bisa menjawab apakah ia jatuh cinta. Sekarang perempuan di depannya menyodorkan ponsel tanpa menyembunyikan apa pun, setidaknya apa pun yang bisa Maya lihat.
Maya memercayainya.
Ia tetap merasa kalah.
Bahkan tanpa berbuat apa-apa, bahkan dalam keadaan berantakan, Nara masih bisa membuat suaminya diam pada pertanyaan yang seharusnya paling mudah dijawab.
Maya meraih gelas, lalu meletakkannya lagi.
“Gue minta lo berhenti ngobrol pribadi sama dia.”
Nara mengangkat kepala.
“Kerjaannya sudah selesai. Kalau ada urusan administrasi, lewat stafnya. Jangan malam-malam, jangan saling kirim foto cuma karena kepikiran.”
Nara menatap bekas air di meja.
“Iya.”
“Gue serius, Na.”
“Gue juga.”
Maya mengangguk. Bahunya turun sedikit, tetapi tangannya masih mengepal di pangkuan.
“Gue minta maaf soal videonya.”
Nara tidak sanggup menjawab.
Maya mengusap mata dengan ujung jari, berhati-hati agar riasannya tidak luntur.
“Gue bodoh. Harusnya nggak begitu.”
“Sudah, May.”
“Belum sudah buat gue.”
Nara mengangkat wajah. Maya sedang melihat cincin di tangannya sendiri.
Mereka duduk sampai pelayan bertanya apakah ingin memesan makanan.
Maya menggeleng. Nara juga.
Di luar kedai, Maya memeluknya singkat. Nara membalas dan menahan air mata. Ia tidak mau Maya harus menghiburnya lagi, apalagi untuk kesedihan karena harus menjauhi suaminya.
“Jangan bikin gue nyesel percaya sama lo,” bisik Maya.
Nara mengangguk di bahunya.
Sepanjang perjalanan pulang, ia tidak membuka percakapan Adrian.
Ia terus teringat wajah Maya saat meminta mereka berhenti berhubungan. Kalau ia menghubungi Adrian lagi, ia tahu siapa yang akan disakitinya.