Indonesia
NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6 - Kotak Ajaib di Lemari Kakek

Intan mengerutkan kening tipis, lalu mencuci tangan dengan patuh. Dalam benaknya satu perhitungan menyala: Ibu pergi ke warung desa, jauh dan lama; ia tidak akan kembali secepat itu. Intan pun berlari kembali ke dalam kamar dan bergegas memeriksa isi lemari tua itu.

Kakek sudah lama tiada, tetapi kebiasaannya menyimpan apa saja masih hidup di dalam lemari itu: plester, tambalan roda sepeda, kancing cadangan, sampai obeng yang jarang dipakai. Kakak dan Ibu sering mengeluh lemari itu tidak beraturan; namun setiap ada barang yang hilang, barang itu selalu ditemukan di sana. Maka ketika jarinya terluka, Intan langsung teringat lemari itu.

Dulu, ketika masih kecil, ia sering tidur di balai-balai kamar ini ketika dibawa menginap ke kampung. Kakek biasanya duduk di tepi, merapikan kelambu sambil bercerita tentang kebun yang pernah ditanaminya di belakang rumah. Cerita-cerita itu sudah memudar dari ingatan; yang tersisa hanyalah bau kapur barus yang sama dan raut wajahnya yang tenang.

Rumah tua itu sunyi seperti kuburan. Suara jangkrik bahkan terdengar jelas walau hari masih terang, dan setiap langkah Intan menimbulkan gemerisik debu di lantai kayu. Tidak ada yang mengawasi; siapa pun yang lewat kampung mengira rumah ini kosong. Itulah sebabnya Intan tahu ia bisa bergerak bebas, mencari plester tanpa takut ketahuan orang.

Dalam ingatannya, kakek selalu menyimpan plester. Dahulu di desa ini, siapa pun yang terluka cukup menempelkan plester; tidak perlu repot dengan perban atau obat merah macam-macam.

Kamar itu sudah bertahun-tahun tidak dimasuki orang. Debu menumpuk tebal di setiap sudut sampai warna asli perabotan nyaris tidak terbaca. Udara di dalamnya terasa menyengat, bercampur bau kayu lapuk dan kapur yang remuk. Cahaya hanya masuk lewat celah jendela yang sebagian papan kayunya sudah longgar, melukis garis-garis bayangan yang bergerak pelan di lantai. Intan menahan napas sebentar, membiasakan matanya pada gelap, lalu melangkah mendekati lemari tua itu. Balai-balai kayu tempat tidur kakek kini kosong, hanya menyisakan papan tidurnya. Di sebelahnya berdiri sebuah lemari laci tua gaya zaman kolonial; terlihat dari bentuk dan ukiran halus di sisi-sisinya. Menyebut soal zaman, lemari itu memang warisan keluarga sejak dahulu kala.

Intan menarik laci paling atas. Masih ada beberapa barang di dalamnya — sebagian besar peninggalan kakek semasa hidup: karet gelang, kancing baju, uang logam tua yang sudah kusam. Benda-benda kecil tak berharga yang tidak ada orang mau mengurusnya. Beberapa uang logam di antaranya sudah kehitaman sampai tidak terbaca tahunnya; Intan memungut satu, menggosoknya dengan ujung baju, lalu mengembalikannya. Tidak ada plester di laci paling atas.

Agar tidak menghirup terlalu banyak debu, Intan menarik seluruh laci keluar sambil membalikkan isinya ke lantai. Lemari laci itu memiliki empat laci. Bagian paling bawah berupa kabinet dua pintu, biasa dipakai menyimpan barang yang lebih besar; plester pasti tidak ada di sana, jadi Intan tidak membukanya. Ia hanya berdiri menatap keempat laci itu.

Benda-benda tumpah menyebar ke lantai, tersebar tanpa aturan. Intan bersimpuh, memilah satu per satu dengan jari yang bergetar karena menahan debu. Ia bekerja pelan namun teliti, takut meleset dari tempat plester itu bisa saja tersimpan.

"Hah?"

Di antara barang-barang kecil itu, ada satu hal yang membuat Intan berhenti. Di dalam laci kedua, sebuah kotak kayu tergeletak terbalik. Dan yang benar-benar membuatnya terpana: di permukaan bagian dalam kotak itu terukir pemandangan pegunungan yang hidup. Aliran mata air di antara celah-celah batu berkelok dan mengalir seolah nyata. Pohon-pohonnya berdiri demikian wajar, dan gunungnya menjulang dengan bayangan yang dalam.

Kotak itu ringan di tangan. Intan membolak-balikkannya pelan, menelusuri setiap lekukan ukirannya seperti orang membaca peta buta. Ada sesuatu yang membuatnya ingin terus menatap — mata air itu seolah mengalir ke arah tertentu, dan ia tidak bisa berhenti mengikuti arah itu sampai penglihatannya harus berkedip. Ia menyeka debu dengan lengan, takut salah gerak merusak kayu yang sudah menua itu.

Berdasarkan kilap dan serat kayunya, Intan menebak kotak itu jauh lebih tua daripada lemari penyimpannya. Kayunya berat, gelap, dan halus seperti diberi perlakuan khusus — tidak seperti kayu bangunan biasa yang kasar. Wajar jika barang semacam ini disembunyikan, bukan dipajang di ruang tamu.

Intan takjub sejenak. Ia mengerjap keras-keras, lalu menatap lagi. Bukan penglihatannya yang bermasalah — ukiran itu memang janggal. Kayu tempat pemandangan itu diukir terlihat berbeda dari kayu lain di sekelilingnya, seakan sengaja ditempel penuh perhitungan, rapi dan tersembunyi.

Intan mengulurkan tangan penasaran untuk mengusap debu yang menempel. Seketika itu kilau cahaya menyilaukan menyambar dari permukaan kayu, dan jari telunjuknya yang terluka ikut memanas sekejap. Intan terkejut; tanpa sadar ia menarik tangan kembali dan menatap kotak itu lagi. Namun kali ini getaran hidup seperti lukisan itu sudah hilang. Yang tersisa hanyalah kotak kayu tua berukir pemandangan biasa.

Namun batin Intan sudah terlanjur berteriak. Makin ia ingin memutuskan bahwa tadi hanya kilauan debu yang melintas, makin jujur pula hati kecilnya menolak. Tangan kecilnya gemetar sedikit; ia buru-buru melonggarkan cengkeramannya pada kotak, takut sesuatu di dalamnya ikut terbangun. Angin masuk lewat celah jendela, membuat bayangan di lantai bergeser, dan Intan menarik napas panjang untuk menenangkan diri.

"Hantu apa ini!"

Intan menggumam pelan. Udara di kamar mendadak terasa dingin, padahal hari masih siang dan terik menyengat di luar. Jantungnya berdegup kencang, dan punggungnya terasa merinding sampai ke tengkuk. Setelah mengatur napas, ia buru-buru menyelipkan kotak kayu itu di balik bajunya, dekat dadanya, agar tidak terlihat oleh siapa pun. Plester yang dicarinya tidak ketemu; satu tangan terlanjur menyerbu debu. Ia menatap jari telunjuknya yang masih mengeluarkan darah, ingin menangis tetapi air matanya tak kunjung keluar.

Di sumur kecil dekat dapur, Intan membasuh tangannya beberapa kali sampai airnya jernih. Darah tipis itu luntur, tetapi sedikit perih masih terasa. Ia menekan lukanya dengan ujung kuku jarinya sebagai penahan darah, mengingat nasihat kakek bahwa luka kecil tidak perlu dibesar-besarkan; biarkan saja kering sendiri.

Di ambang pintu ia berhenti sekali lagi. Bukan ketakutan yang kemudian menguasainya, melainkan rasa ingin tahu yang jauh lebih kuat. Jika ukiran itu benar-benar hidup sesaat, pasti ada sesuatu di baliknya — dan rumah tua ini menyimpan rahasia yang tidak pernah diceritakan siapa pun.

Sebelum keluar, ia mengunci kembali kamar kakek. Sekarang hatinya berdebar — bukan karena terluka, melainkan karena sesuatu yang aneh baru saja ditemuinya di balik laci lemari tua itu. Sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun, setidaknya belum.

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
ternyata Vino ini pengkhianat sepertinya 🤔dan Intan sudah mulai pasang taktik strategi sendiri untuk membalas Vino
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana: iya betul sekali.intan akan mengubah nasibnya dan keluarganya
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
wah mungkin umpatanmu malah berbalik loh
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
sudah salah kok malah nantang bertengkar
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
muantap intan. tambah maju terus
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
betul itu. jangan sampai sekolahmu terbengkalai ya
☪︎⃟⃝𝐇𝐅ᴀ͡ɢᴜᷯsͥᴛᷤ͜ᴅͦ✰͜͡𝐯𐝃🐸
reinkarnasi atau time travel nih kk
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana: time travel. kembali ke masa mudanya lagi
total 1 replies
Ay
semoga saja air itu bisa membuat tubuh ayah dan ibumu sehat tan
Ay
bu si intan itu sbnrnya org dewasa yg terjebak di raga Abegeh🤭
Ay
Astaga bu, ya kali gk bs bedain gula dan garam. mgkn klo ketumbar dan merica msih oke lh ya, gula dan garam kn pengetahuan basic/Facepalm/
Xlyzy
Kali ini di antar bapak jadi kamu harus bisa berjuang lah intan dalam ujian mu
Fairuz
Bagian kembalinya Intan ke masa lalu terasa emosional dan penuh misteri, apalagi kemunculan ibunya membuat penasaran tentang kesempatan kedua untuk mengubah takdir.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana: makasih ya sudah mampir
total 1 replies
Myz Pena
kalau benar adanya seeprti itu berarti emang pak sutrisno anak sekaligus saudara yang egois.. karena saat lebih memilih menikah dengan istrinya sri rahayu ia rela memutus kontak dengan ayahnya.... pantas aja pak sudarmo nggak terlalu prhatian dan sayang kepada sutrisno
Myz Pena
bapaknya sangat perhatian pada intan.. untung aja intan sudah mulai belajar menata hidupnya kembali.. agar bisa lebih kuat dan nggak manja👍
Arsya12
💪👍👍👍
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana: ok. thanks sudah mampir
total 1 replies
☠ ✮⃝🍌 ᷢ ͩAti⁵⁰☕︎⃝❥ѕ⍣⃝✰ˢ⍣⃟ₛ ♱
semangat thorr
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana: ok. makasih ya sudah mampir
total 1 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ Ney
hadirr di cerita mu
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana: ok makasih sudah mampir
total 1 replies
ginevra
ya elah... orang cuma bisa mencibir. pas tau bahan gosipnya menjadi lebih baik, jadi kepanasan sendiri
ginevra
seneng banget liat intan semangat banget hari ini... semua jadi lebih cerah kalau kita semangat memulai hari 🥳🥳🥳🥳
Miu.Nuha
masa depan emang siapa yg tau ya, In 😭 tpi kamu dpt kesempatan kedua untuk kembali ke masa lalu. aku jadi pingin, hiks...

semoga kali ini bisa bener2 kamu genggam ya itu takdir, supaya enggk kayak 15 di masa depan itu...
Putry Chan
bertengkar aja lah padahal cuman Masalah sepele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!