Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Suara yang Sudah Lama Dikenal
...#...
...Bima tidak menjawab. Ia menatap punggung perempuan di depannya, lalu ke celah pintu yang memantulkan cahaya abu-abu dari luar. Gelang perak itu masih ada di genggamannya, dan ujung logamnya mulai terasa hangat....
...Perempuan itu tidak bergerak. Ia tidak menoleh, tidak juga memberi isyarat. Hanya tangannya yang tadi memegang senter sekarang diam di sisi tubuh, dan Bima melihat ujung jarinya mengetuk sisi paha sekali. Pelan. Lalu berhenti....
..."Kamu kenal dia?" bisik Bima....
..."Kenal."...
..."Siapa?"...
..."Jangan bersuara dulu."...
...Suara di luar terdengar lagi, lebih dekat. Sepatu kulit menginjak genangan. "Aku tahu kamu di dalam. Mobilmu diparkir di tempat yang salah untuk sembunyi, Bima. Dan Rico itu terlalu banyak bergerak untuk orang yang tidak punya urusan di sini."...
...Rico, di belakang mereka, tidak mengatakan apa-apa. Bima mendengar napasnya pelan, dari arah pintu kecil. Ia berdiri lebih dekat ke dinding....
..."Sekarang keluar," kata suara itu. "Kita bicara seperti orang dewasa. Aku bawa kopi."...
...Bima menelan ludah. Kopi. Seseorang yang akan membunuh orang bisa saja membawa kopi....
...Perempuan di depannya akhirnya bergerak. Ia melangkah keluar dari ruangan kecil itu tanpa tergesa, membuka pintu dengan dorongan ujung sepatu. Cahaya pagi menyapu wajahnya, dan Bima melihat ekspresinya tetap sama. Tidak ada senyum, tidak ada kaget....
..."Kamu terlambat," katanya....
..."Aku tidak pernah terlambat, Nona. Aku hanya lebih lambat dari yang orang kira."...
...Bima menyusul keluar dengan langkah pelan. Di depan pagar kawat, berdiri seorang laki-laki yang sudah agak berumur. Rambutnya putih di pelipis, disisir rapi ke belakang. Jasnya abu-abu gelap dan tidak basah, padahal jalan masih lembap. Ia memegang dua gelas kopi plastik, satu di setiap tangan, dan tersenyum ke arah Bima seperti bertemu kenalan lama di pasar....
..."Kamu mirip ayahmu," katanya. "Terutama di bagian rahang. Dia juga suka berdiri seperti itu. Seperti mau menantang tapi takut ketahuan."...
..."Anda siapa?"...
..."Panggil saja Om Gio. Teman lama ayahmu. Kami dulu sering minum kopi di dermaga. Dia pakai gula dua sendok, aku tidak pernah bisa minum itu."...
...Bima tidak menyambut gelas yang disodorkan. Laki-laki itu tidak tersinggung. Ia meletakkan gelas itu di atas kap mobil terdekat, lalu menoleh ke perempuan di sebelah Bima....
..."Dia masih belum percaya padamu?" tanyanya....
..."Dia tidak pernah percaya siapa pun," kata perempuan itu. "Itu bagus."...
..."Itu melelahkan."...
..."Untuk kamu."...
...Laki-laki itu tertawa kecil, lalu mengusap sisi mulutnya dengan jari. "Dulu kamu tidak sekeras ini, Alessia."...
...Bima menoleh cepat. Nama itu baru pertama kali ia dengar, dan rasanya tidak cocok dengan perempuan di sampingnya. Terlalu lembut. Terlalu berbeda dari cara perempuan itu berdiri....
...Perempuan itu tidak menoleh ke arah Bima, tapi bahunya sedikit mengeras. "Jangan panggil itu di depan dia."...
..."Kenapa? Dia sudah tahu banyak, kan? Kamu yang membawanya ke sini."...
..."Dia belum tahu banyak."...
..."Tapi dia sudah pegang gelang adiknya."...
...Bima merasakan darahnya turun. Ia membuka tangan kanan, melihat gelang perak itu masih tergenggam di telapaknya. Laki-laki bernama Om Gio melirik benda itu sebentar, lalu kembali menatap Bima dengan ekspresi yang sulit dibaca. Tidak terkejut, tidak juga senang. Seperti seseorang yang sedang memeriksa apakah barang yang ia tinggalkan sudah ditemukan....
..."Dari mana kamu dapat itu?" tanyanya ramah....
..."Di meja," jawab Bima. "Di dalam."...
..."Berarti Dimas sudah pernah ke sini."...
..."Dia nggak pernah ke sini."...
..."Tapi gelangnya ada di sini."...
..."Itu yang saya tanyakan dari tadi," kata Bima, lebih keras. Ia tidak sadar suaranya meninggi sampai Rico bergerak sedikit di belakangnya. "Kalian semua ngomong seolah saya udah tahu apa-apa. Saya nggak tahu apa-apa. Adik saya hilang atau nggak, saya nggak tahu. Ibu saya di rumah orang, saya nggak tahu. Bapak saya—"...
...Ia berhenti. Kata berikutnya tersangkut di tenggorokan....
...Om Gio memiringkan kepala, memperhatikannya dengan sabar. "Bapakmu apa?"...
..."Dia bukan..." Bima menelan ludah. "Dia tukang sate. Dia nggak pernah cerita apa-apa."...
..."Dia memang tukang sate," kata Om Gio pelan. "Setelah dia berhenti dari sini. Sebelum itu, dia menghitung kontainer. Dan dia sangat baik dalam hal itu. Sampai ada yang merasa perlu menghentikannya."...
..."Siapa?"...
...Om Gio menatap perempuan di samping Bima. Hanya sebentar, tapi cukup untuk membuat Bima menyadari bahwa perempuan itu tidak menjawab tatapan itu. Ia hanya diam, dan diamnya terasa seperti sesuatu yang sudah disepakati sejak lama....
..."Pertanyaan yang bagus," kata Om Gio akhirnya. "Tapi bukan hari ini."...
... ...
...Di dalam gudang, sesuatu jatuh. Bunyi logam pendek, lalu sunyi....
...Rico langsung menoleh ke pintu. Tangannya bergerak ke pinggang, dan Bima melihat laki-laki tadi di depan pagar ikut menegang, menggeser berat badannya ke kaki belakang. Om Gio tidak bergerak sama sekali....
..."Tikus," katanya santai. "Di gudang ini banyak tikus."...
..."Bukan tikus," kata perempuan itu....
...Ia berjalan melewati Bima, melewati pagar yang terbuka, dan masuk kembali ke pintu gudang tanpa ragu. Bima ingin menahannya, tapi lengannya terasa berat dan kakinya tertinggal sepersekian detik....
...Di dalam, di balik rak besi yang rebah, ada seseorang yang sedang berusaha merangkak keluar. Laki-laki kurus dengan jaket basah dan wajah penuh lebam. Ia memegang perutnya sambil menatap ke arah pintu dengan mata yang melebar....
...Bima mengenalinya. Pelan-pelan, seperti mengenali wajah dari foto yang terlalu lama tidak dilihat....
...Itu Pak Darto....
...Bukan Pak Darto yang tadi pagi berdiri di gudang warung dengan ember di tangan. Ini Pak Darto yang lebih tua, lebih kurus, dengan rambut yang sudah berantakan dan bibir pecah di sudut....
..."Mas..." katanya dengan suara serak. "Maaf..."...
...Bima tidak bisa bergerak. Ia melihat perempuan itu berlutut di depan Pak Darto, menyentuh bahu laki-laki itu dengan satu tangan, dan memeriksa lukanya dengan gerakan yang tenang dan terlatih....
..."Siapa yang bawa kamu ke sini?" tanya perempuan itu....
...Pak Darto menggeleng pelan. "Bukan..." Ia batuk, lalu meringis. "Bukan saya yang bawa dia. Dia yang ikut saya."...
..."Dimas?"...
..."Dia bilang dia mau tahu kenapa Mas Bima pulang basah..."...
...Bima merasakan lututnya lemas. Ia berpegangan pada pintu gudang, dan kayu itu terasa dingin dan kasar di telapak tangannya....
..."Dimas di mana?" tanyanya. Suaranya nyaris tidak terdengar....
...Pak Darto menatapnya dengan mata yang sudah basah. Lalu ia menunjuk ke arah dermaga, ke ujung tempat deretan kontainer berhenti dan air laut mulai bergerak lebih keras....
..."Dibawa ke kapal," bisiknya. "Kapal yang sandar di Dermaga Tiga. Mereka bilang... mereka cuma mau nukar dia dengan buku itu."...
...Perempuan di samping Pak Darto bangkit perlahan. Ia tidak menoleh ke Bima. Ia hanya menatap Om Gio yang masih berdiri di depan pagar dengan kopi di tangannya, dan untuk pertama kalinya sejak Bima mengenalnya, perempuan itu tampak benar-benar marah....
...Bukan dengan teriakan. Bukan dengan kata-kata. Hanya dari rahangnya yang mengeras, dan tangannya yang mengepal sangat pelan di sisi tubuh....
..."Kamu sudah tahu dari awal," katanya pelan....
...Om Gio mengangkat bahu, lalu menyeruput kopinya. "Aku tidak tahu siapa yang akan dibawa. Hanya tahu siapa yang akan kena."...
...Bima menatap ke arah dermaga. Di balik deretan kontainer, di ujung dermaga yang sepi, sebuah kapal kecil dengan lampu merah di buritan mulai menyalakan mesinnya....