Malam itu, Lorena—seorang perawat yang lelah membanting tulang demi menghidupi rumah tangganya—menemukan seorang pria sekarat berlumuran darah di tepi jalan, dan memilih menyelamatkan nyawanya. Ia tak pernah tahu bahwa pria itu adalah Ravi Dumont: penguasa kasino, seorang Don mafia yang dingin, dan sejak malam itu, terobsesi hanya pada satu perempuan—dirinya.
Ketika suami Lorena yang kecanduan judi terjerat utang setengah juta euro, ia memberikan satu-satunya "harta" yang tersisa untuk melunasinya: istrinya sendiri. Dalam sekejap, Lorena berpindah dari pernikahan yang menghancurkan ke tangan pria yang bersumpah takkan pernah melepaskannya.
Ravi bisa mendapatkan apa pun yang ia mau. Ia membelikan Lorena rumah sakit, menaburinya dengan kemewahan, memujanya seperti ratu—tapi cinta tak bisa dibeli, dan hati Lorena penuh amarah pada pria yang menjadikannya barang dagangan. Di balik senyum tenang Ravi tersembunyi sisi tergelap seorang mafia: kejam pada dunia, namun memuja perempuannya dengan obsesi yang berbahaya.
Di antara kilau meja judi, ancaman para pengkhianat, rahasia keluarga, dan gairah yang perlahan membakar segala pertahanan, kebencian mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menakutkan: keinginan untuk tinggal.
Bisakah cinta tumbuh dari sebuah transaksi? Bisakah seorang perempuan yang pernah dijual belajar mencintai pria yang membelinya—dan bisakah sang Don yang tak kenal ampun membuktikan bahwa perempuannya bukan lagi harta yang dimiliki, melainkan satu-satunya hal yang tak sanggup ia hidupi tanpanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayane Castro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
POV Ravi
Ketika Lorena duduk di pangkuanku atas kemauannya sendiri, dia membangkitkan dalam diriku bara yang membakar dari dalam ke luar. Kucengkeram pinggangnya yang ramping dan kutekan, menariknya lebih ke atas, supaya duduk sempurna di atas kejantananku.
"Jangan memulai permainan kalau tak punya nyali untuk menuntaskannya."
"Kenapa, Ravi? Takut kalah?"
"Ya. Takut memulai lalu kau ingin menyerah di tengah jalan."
Dia membawa tangan kanannya ke kancing pertama kemejaku yang sudah terbuka dan menyusurkan jarinya di dadaku. Lalu, dia turun perlahan, mulai membuka kancing-kancing yang lain. Kuikuti setiap gerakannya dengan tatapan. Ketika dia membuka kancing terakhir, kemejaku terkuak lebar. Lorena mendekatkan wajahnya ke wajahku, tapi alih-alih mencium bibirku, dia mengelak dan beralih ke leherku. Dia tak tahu betapa dia membuatku gila. Andai dia tahu, dia takkan menggodaku seperti ini.
Bibirnya turun ke bahuku, menyusuri dadaku. Aku berdeham, mencoba mengendalikan diri agar tak kehilangan akal seandainya dia memutuskan untuk bangkit dari pangkuanku. Kedua tangannya membelai perutku, meluncur dari pinggangku ke punggungku lalu kembali lagi. Dia mengangkat matanya menatapku sambil terus menggodaku, dengan pandangan menggoda yang membuatku nyaris gila.
Ketika tangan kecilnya menyelinap masuk ke dalam celanaku, dia meremas kejantananku yang sudah mengeras, hanya oleh momen panas di antara kami berdua ini. Tapi kemudian dia melakukan kenakalan besar dengan bangkit dari pangkuanku, membelakangiku, dan berjalan kembali ke tempatnya berganti pakaian tadi.
Aku berdeham sekali lagi, karena interupsi itu membuatku lebih kesal daripada seharusnya. Meski aku sudah tahu dia kemungkinan besar akan melakukan ini, aku tetap tak menganggapnya lucu sama sekali.
"Kau mau aku memakai apa sekarang, Ravi?" tanyanya dengan suara menggoda.
"Aku mau kau lepaskan semua pakaianmu dan kembali ke pangkuanku, seperti tadi."
"Tidak suka permainan? Kukira kau ahlinya. Kau datang kemari, memainkan kartu godaan, lalu pergi begitu saja. Kau kira aku tak akan membalas dengan kartu penentunya?"
"Jadi kita sedang bermain? Bagus kalau begitu." Aku bangkit dari sofa dan memanggil pramuniaga. "Kirim semuanya ke rumahku. Aku akan transfer begitu tiba di sana."
"Baik, Tuan." Kuambil salah satu gaun dan kubawa ke Lorena, kuserahkan ke tangannya.
"Pakai yang ini, tanpa apa pun di dalamnya. Permainan ini baru saja dimulai, dan aku harus memperingatkanmu, aku selalu menang!"
"Dulu selalu menang, karena kau belum pernah bermain denganku. Kita lihat sampai mana kau sanggup bertahan, Ravi." Aku tersenyum melihat keberaniannya menantangku. Tapi Lorena tak tahu betapa tahan bantingnya aku dalam permainan.
"Kita lihat saja nanti, Lorena." Dia mengenakan gaun itu, dan baru setelahnya mulai melepaskan pakaian dalamnya. Aku sudah bisa melihat aku akan sangat menikmati waktu bersamanya.
Kami keluar dari toko dan langsung menuju rumahku. Begitu kuhentikan mobil, kulihat mulutnya menganga terkejut. Aku tersenyum, mengamati reaksinya. Ketika matanya bertemu mataku, Lorena berdeham dan mencoba menyembunyikan kekagumannya pada rumah itu.
"Suka?"
"Lumayan. Tapi ya, untuk seorang pemilik kasino, tak kurang dari ini yang bisa diharapkan, kan?"
"Tepat sekali. Tapi, kalau tidak berkenan di hatimu, akan kubelikan yang lain untukmu. Yang mana pun kaumau." Dia memalingkan wajah ke samping, tersenyum, dan menggeleng. "Ayo masuk. Akan kutunjukkan kamar kita."
Kugenggam tangannya dan kutarik ke dalam. Beberapa pembantu sedang membersihkan rumah, tapi mereka berhenti untuk menatap kami berdua. Lorena balas menatap gadis-gadis itu, dan suasana aneh seolah muncul di antara mereka. Mungkin mereka mengira Lorena cuma perempuan biasa yang lain lagi. Tapi bukan. Dia datang untuk tinggal sebagai istriku, sang pemilik segala yang ada di sini.
Kutarik dia menaiki tangga menuju kamar kami, tapi dia terus menatap gadis-gadis itu sampai anak tangga terakhir. Kutuntun dia ke pintu terakhir di ujung koridor. Begitu kubuka, sekali lagi, dia terpana.
"Astaga. Sama sekali tak terlihat seperti ada yang tidur di sini. Mirip kamar-kamar di sinetron, yang cuma dipajang untuk memperlihatkan salah satu ruangan rumah."
"Yang ini nyata. Dan akan jadi milik kita. Kita akan mengacak-acak ranjang itu setiap hari." Kutarik Lorena mendekat, membuatnya membelakangiku. Kusibakkan rambutnya ke samping dan kuhirup aroma parfumnya yang membuat kecanduan. "Bagaimana kalau kita acak-acak sekarang juga?"
"Aku bahkan takut mengacaknya. Lebih mirip hiasan daripada ranjang sungguhan." Aku tertawa atas komentarnya dan teringat tak ada apa pun di balik gaun itu.
Kuluncurkan tangan menyusuri tubuhnya hingga mencapai kelim kainnya. Tapi, sebelum sempat menariknya, Lorena menjauh dan menatapku dengan hidung terangkat. Dia mundur beberapa langkah, hingga berhenti di dekat ranjang.
"Aku mau ganti baju, karena hari ini aku shift jaga di rumah sakit."
"Kau tak akan pergi sendirian."
"Kau memang membeliku, tapi kau tak berkuasa atas diriku. Kau bukan pemilikku."
"Sekarang kau tanggung jawabku, Lorena. Dan aku tak akan membiarkanmu sendirian."
"Kubetulkan ucapanmu. Aku bukan tanggung jawabmu, aku masalahmu. Kau kira karena telah membeliku aku akan bersikap seperti anjing ras jinak? Yang bisa kaulatih atau kaubelai sesukamu? Ketahuilah, aku jauh lebih dari itu, Ravi. Hidupmu tak akan semudah yang kaukira."
Kucengkeram lengannya dan kutarik dengan kuat, membenturkan tubuh kami. Sesaat, dia tampak ragu, menyadari mungkin dia sudah menggodaku melebihi batas yang seharusnya. Tatapan takutnya tak lagi menggangguku sebesar kata-katanya. Kucengkeram tengkuknya dan kutarik mendekat, kurebut mulutnya dalam ciuman yang intens. Tanpa kelembutan, tanpa romantisme. Ciuman sarat ketegangan, seakan kami sedang bertanding siapa yang akan menyerah lebih dulu.
"Aku menghasratimu sejak hari pertama melihatmu, saat kau menyelamatkan nyawaku. Kau telah menjadi obsesiku, dan apa pun yang kauinginkan, akan kuberikan tanpa ragu. Tapi, sebagai gantinya, aku hanya menginginkanmu. Apa kau bersedia memberiku apa yang kuinginkan juga, Lorena?"