Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.
Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.
Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 – Rahasia yang Sedang Disiapkan
“Sering kali, kita salah menilai seseorang karena tak pernah tahu kejutan apa yang sedang ia siapkan.”
--
Jakarta diguyur hujan sejak dini hari. Butiran airnya membasahi jalanan ibu kota, meninggalkan jejak-jejak tipis pada dinding kaca gedung Adhyaksa Jewellery. Langit yang biasanya cerah berubah menjadi abu-abu, membuat pagi terasa lebih tenang dari pada biasanya.
Dari balik jendela ruang kerjanya, Alina memandangi hujan yang belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Ia selalu menyukai hujan, ada sesuatu yang menenangkan dari suara rintiknya, seolah dunia sedang dipaksa berjalan lebih lambat dan memberi kesempatan bagi setiap orang untuk bernapas sejenak di tengah kesibukan yang tak pernah benar-benar selesai.
Pagi itu, pikiran Alina sama sekali tidak setenang hujan yang sedang turun. Tangannya memang sibuk menyelesaikan beberapa revisi desain Aurora. Pensil mekanik yang ia genggam bergerak lincah di atas kertas, menghapus satu garis lalu menggantinya dengan lengkungan yang lebih lembut.
Pikiran Alina terus melayang, bukan pada desain yang tengah ia kerjakan, melainkan pada beberapa hari terakhir yang terjadi pada dirinya, pada Celine, pada pelukan singkat yang tanpa sengaja ia saksikan, dan juga pada dirinya sendiri yang mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini tak pernah ia ragukan.
“Aku ini kenapa?” Batinnya seraya menghela napasnya panjang dan ia memejamkan mata beberapa saat.
Pertanyaan itu kembali muncul, lima tahun bersama Birendra bukan waktu yang sebentar. Selama lima tahun itu, pria itu tidak pernah sekali pun memberinya alasan untuk meragukan kesetiaannya.
Birendra tidak pernah menyembunyikan telepon yang tengah ia terima, tidak pernah menghilang tanpa kabar dan tidak pernah membuat Alina merasa harus bersaing dengan wanita lain. Tapi sekarang, hanya karena seseorang dari masa lalu kembali, kenapa hatinya menjadi begitu gelisah?
Jawabannya mungkin bukan karena Birendra berubah, melainkan karena Alina baru menyadari satu hal, tak peduli sedekat apa pun dua orang, selalu ada bagian dari masa lalu yang tidak bisa mereka miliki.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi ketika ruang rapat utama kembali dipenuhi jajaran direksi. Di meja panjang berlapis kayu walnut itu, berbagai dokumen dan contoh desain telah tersusun rapi.
Hari itu agenda mereka cukup padat, selain membahas peluncuran koleksi Aurora, perusahaan juga tengah merancang proyek baru yang akan menjadi kolaborasi pertama Adhyaksa Jewellery dengan rumah desain internasional.
Birendra duduk di kursi paling depan, setelah jas hitam yang dikenakannya tampak sederhana, tetapi pembawaannya selalu berhasil membuat seluruh ruangan fokus setiap kali ia berbicara. Ia bukan tipe pemimpin yang banyak meninggikan suara, justru karena nada bicaranya teralu tenang, setiap keputusan yang keluar dari mulutnya terasa memiliki bobot.
Di sisi kanan meja, Celine sedang mempresentasikan beberapa referensi desain dari Milan. Layar besar di belakangnya berganti-ganti menampilkan koleksi berbagai rumah perhiasan dunia.
“Pasar Asia mulai kembali menyukai desain klasik dengan sentuhan modern,” jelasnya. “Kalau kita hanya mengikuti trend, koleksi ini akan cepat dilupakan. Tapi kalau kita menciptakan identitas sendiri, orang akan mengingat Adhyaksa Jewellery sebagai penciptanya.” Terangnya lagi.
Beberapa direktur mengangguk setuju dengan presentasi yang dibawa oleh Celine, Birendra pun memperhatikan setiap penjelasan tanpa memotong sedikit pun. Sesekali ia mencatat sesuatu di buku kecil yang selalu dibawa kemana pun.
Alina yang duduk tak jauh dari sana ikut menyimak, ia pun harus mengakui satu hal, bahwa Celine memang berbakat. Cara perempuan itu menjelaskan filosofi desain hampir sama seperti dirinya.
Celine bukan hanya membahas soal bentuk, tetapi juga cerita dibalik sebuah karya, dan itulah yang membuat Alina semakin sulit membenci wanita itu. Semakin mengenalnya, ia semakin sadar bahwa Celine bukanlah ancaman, ia hanya seseorang yang kebetulan hadir pada waktu yang kurang tepat.
Rapat berakhir hampir menjelang siang, satu per satu peserta mulai meninggalkan ruangan. Alina berniat kembali ke divisinya, namun dengan cepat Birendra menghentikan langkahnya.
“Ada waktu nanti sore?” Alina langsung menoleh mendengar pertanyaan itu.
“Kenapa?”
“Aku mungkin pulang agak malam.” Hanya kalimat sederhana. Namun entah kenapa, Alina tengah menunggu penjelasan berikutnya. Sayangnya, penjelasan itu tidak datang. “Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan.” Ucapnya lagi.
“Baik.” Jawab Alina singkat.
Alina tidak bertanya lebih jauh, selama ini memang begitu, mereka tidak pernah saling menuntut untuk menceritakan semua hal, karena hubungan mereka dibangun di atas rasa percaya. Tetapi hari itu, untuk pertama kalinya, Alina berharap Birendra menjelaskan sedikit lebih banyak.
Waktu sore telah tiba, sebagian dari karyawan pun mulai meninggalkan kantor. Lantai desain yang sejak pagi dipenuhi suara diskusi kini perlahan menjadi lengang. Alina masih berada di mejanya, ia tengah memperbaiki detail terakhir sebuah liontin ketika tanpa sengaja melihat ke arah jendela.
Di halaman parkir belakang, sebuah mobil hitam baru saja keluar. Di balik kaca mobil itu, ia melihat Birendra duduk di kursi pengemudi, dan dikursi sebelahnya? Celine, wanita itu bersama dengan Birendra.
Mobil itu melaju perlahan, menghilang di balik gerbang utama. Alina memandanginya cukup lama, tidak ada ekspresi marah di wajahnya, hanya sebuah helaan napas yang terasa sedikit lebih berat dari biasanya.
Alina terus mencoba untuk berpikir positif melihat kebersamaan mereka, mungkin saja mereka sedang melakukan pekerjaan atau ada klien yang harus ditemui diluar, karena ia tidak ingin membangun prasangka dari sesuatu yang bahkan belum ia ketahui.
Di sisi lain kota, mobil Birendra berhenti di depan sebuah bangunan tua bergaya kolonial. Bangunan itu bukan restoran maupun hotel, melainkan sebuah butik perhiasan yang sudah berdiri lebih dari lima puluh tahun.
Tidak semua orang bisa masuk ke tempat itu, sebagian besar pelanggannya datang melalui rekomendasi pribadi. Seorang pria paruh baya menyambut mereka dengan ramah.
“Sudah selesai?” Birendra mengangguk pelan.
“Sebagian.” Pria itu kemudian mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dari dalam brankas. Saat kotak itu dibuka, kilauan berlian langsung memenuhi ruangan. Celine memperhatikannya untuk beberapa saat sebelum menggeleng pelan.
“Belum.” Sahut Celine tiba-tiba, dan hal itu langsung membuat Birendra menatapnya.
Celine memutar cincin itu perlahan dibawah cahaya lampu, kilauan berliannya nyaris sempurna, potongannya presisi, lengkungannya terlihat begitu elegan, bahkan tidak ada satu pun pengrajin yang akan menemukan cacat pada karya itu. Namun Celine tetap menggeleng pelan.
“Masih ada yang kurang.” Gumam Celine.
“Apa yang kurang?” Celine tersenyum tipis mendengar kalimat itu.
“Perasaannya.” Ucap Celine. “Cincin ini indah, kalau ini dibuat untuk pelanggan, mereka pasti akan menyukainya. Tapi ini bukan untuk pelanggan, ini untuk wanita yang kau cintai.” Ia mengembalikan cincin itu ke tangan Birendra dan pria itu menatapnya cukup lama.
“Lalu menurutmu, apa yang harus ditambahkan?” Celine langsung mengangkat kedua bahunya.
“Sesuatu yang hanya dimengerti oleh kalian berdua.” Birendra terdiam untuk sejenak, kemudian ujung bibirnya terangkat pelan.
“Aku tahu.” Celine menatapnya penuh dengan selidik.
Birendra mengingat sesuatu, ia mengingat tentang wanita yang selalu menggambar kelopak melati di sudut buku sketsanya, tentang wanita yang pernah mengatakan bahwa ibunya begitu menyukai bunga melati dan tentang wanita yang selalu percaya bahwa bunga melati adalah lambang ketulusan.
“Aku ingin mengubah dudukan berliannya menjadi kelopak melati.” Birendra menatapi cincin ditangannya dan hal itu membuat Celine ikut tersenyum.
“Nah. Sekarang itu baru cincin untuk Alina.”
Tak seorang pun tahu pertemuan itu. Tidak ada satu karyawan pun yang tahu bahwa selama beberapa hari terakhir, alasan Birendra sering pergi bersama Celine bukanlah karena masa lalu mereka, melainkan karena seorang pria yang tengah berusaha menyiapkan hari paling bahagia dalam hidupnya.
Malam telah tiba, Alina yang pada saat itu baru tiba dirumah dengan lampu teras yang masih menyala. Dari dalam terdengar suara tawa Keira dan Raka yang sedang memilih foto-foto bulan madu mereka.
Sesaat setelah membuka pintu, Alina memandangi keduanya. Raka tengah bercanda hingga Keira tertawa seraya memukul pelan lengannya. Momen itu mungkin terlihat sederhana, namun membuat Alina tersenyum saat menyaksikannya.
Di tengah kegelisahan yang memenuhi pikirannya sepanjang hari, setidaknya pemandangan itu sedikit mengingatkannya bahwa cinta tidak selalu harus dipenuhi jawaban. Kadang, cukup dengan keyakinan bahwa orang yang kita cintai akan selalu menemukan jalan pulang.
Tanpa ia sadari, di waktu yang sama, beberapa kilometer dari rumahnya, sebuah cincin perlahan mulai disempurnakan. Cincin yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru, namun takdir telah lebih dulu menyiapkan akhir bagi kebahagian itu.