Indonesia
NovelToon NovelToon
Lilin Terakhir EMEI

Lilin Terakhir EMEI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:600
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.

Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.

Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"

Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.

Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....

Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7. Mount Hua dan Wudang

..."mount hua mengajari kami berdiri, wudang mengajari kami bertahan, emei harus bisa kedua nya"...

pagi hari di kaki gunung, mereka menemukan 2 persimpangan jalan. Kiri menuju wudang, dan kanan menuju mount hua.

Bai ling bertanya "jing yue, mau kemana dulu?"

Jing Yue menatap ke dua jalan, datar dan tenang "kita ke kanan dulu, menuju mount hua"

"kenapa?" ucap bingung bai ling.

"karena kalau pondasi tidak lurus, air tidak akan mengalir. mount hua mengajar kan untuk menjadi lurus. sedangkan wudang mengajar kan agar bisa mengalir, lurus dulu baru mengalir.

bai ling tersenyum " bagus, itu pemikiran seorang pemimpin"

Mereka berdua berjalan ke kanan, meninggal kan jalan menuju wudang untuk nanti.

3 hari kemudian, mereka sampai di bawah tebing dengan 1000 anak tangga. angin berhembus kencang dari atas tebing.

Di atas tebing sudah menunggu tetua feng Qing dengan jubah abu-abu nya, dia berdiri sendiri.

Jing yue dan bai ling menaiki 1000 tangga, dan bertemu tetua feng Qing di atas tebing.

"utusan emei" suara nya berat "berani datang cuma berdua?"

Jing Yue sujud memberi hormat "benar, tetua. kami datang untuk belajar"

Tetua feng Qing melempar satu pedang kayu "buktikan, dengan tiga jurus pedang mu"

Jing Yue menangkap pedang kayu itu dan bersiap untuk menyerang.

Jurus pertama, jing Yue berlari dengan menusuk lurus ke depan, tapi di tangkis.

Jurus kedua, jing Yue melangkah mundur pelan, dan menebas datar, tapi tetua feng Qing menghindar.

Ketika jurus ke dua nya gagal, jing Yue berhenti menyerang, dan menurun kan pedang nya. dia bersujud hormat.

"aku tidak datang untuk menang, tetua. aku datang agar emei belajar berdiri lurus... seperti mount hua"

Hening. lalu tetua feng Qing tertawa.

"20 tahun! baru kali ini ada yang berhenti di jurus ke 3!"

Tetua feng Qing melempar lencana kayu berbentuk pedang "itu tanda kau boleh masuk aula"

Malam nya mereka menginap, makan bubur bersama, dan tidur di lantai baru yang keras.

Pagi hari berikut nya, di gerbang, tetua feng Qing cuma mengangguk.

"jalan mu selanjut nya ke mana?"

"ke wudang, tetua. saya ingin belajar mengalir"

"bagus" kata tetua feng Qing "lurus dan mengalir, cocok untuk emei"

Jing Yue dan bai ling turun gunung.

Di punggung jing Yue ada lencana pedang mount hua. dan di tangan nya ada bekal untuk perjalanan 2 hari ke wudang.

2 hari mereka melakukan perjalanan dari mount hua menuju wudang, dengan hujan gerimis yang mengiringi langkah mereka.

Mereka sampai di depan gerbang wudang. tidak setinggi mount hua, tapi suasana nya tenang.

Ada suara air, dan ada aroma teh.

Di dalam gerbang sudah menunggu 2 orang. nyonya yunshan, dengan jubah biru muda nya. dia tersenyum lembut.

Di samping nya yan shu, 18 tahun. putri angkat ketua aliansi. rambut nya di Jepang satu.

yan shu langsung maju dan menunduk hormat "kak jing Yue! kak bai ling! guru sudah menunggu dari kemarin"

Jing Yue membalas menunduk. datar "terima kasih sudah menunggu, adik yan shu dan nyonya"

Nyonya yunshan mengangguk "masuk, dan keringkan dulu tubuh kalian"

Mereka semua duduk di gazebo, cuma ada teh panas dan 3 cangkir. tidak ada jamuan besar.

Nyonya yunshan menuang teh "dari mount hua?"

Jing Yue mengangguk dan mengeluarkan lencana pedang nya. meletakkan nya di meja.

"kami belajar lurus dulu, nyonya. sekarang... kami ingin belajar mengalir"

Nyonya yunshan menatap lencana itu, lalu menatap jing Yue "bagus, banyak orang ingin langsung menjadi air. tapi mereka lupa, air yang tidak punya baru di bawah nya... akan tumpah"

Nyonya yunshan mendorong cangkir teh ke jing Yue "minum"

Sore nya di sungai di belakang wudang. ada baru besar di tengah aliran.

"lihat" kata nyonya yunshan.

Air kecil terus menetes di satu titik batu. 100 tahun maka baru itu akan berlubang.

"ini wudang" lanjut nya "kami tidak kuat seperti pedang mount hua. kami bertahan. mengalah. mengalir. sampai batu pun kalah"

bai ling bertanya "jadi emei harus menjadi air, nyonya"

Nyonya yunshan menggeleng menatap jing Yue "tidak, emei hari menjadi pedang yang bisa mengalir. lurus saat harus lurus. lembut saat harus lembut.

Yun sha maju, menyerah kan sapu tangan ke jing Yue " kak jing Yue pegang ini. mulai besok aku temani kakak nyapu tempat ini. biar kakak lihat, cara wudang merawat tempat nya"

Jing Yue menerima, dan mengangguk pelan "baik"

1
Oppojaya
👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
ditunggu karya selanjutnya
Oppojaya
🤗
Pena Quality
👍
Oppojaya
Keren... ditunggu lagi lanjutan episode berikutnya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!