Indonesia
NovelToon NovelToon
Senja Untuk Cahaya

Senja Untuk Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romantis
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gosip Itu Menyebar Lebih Cepat dari Sinyal WiFi Kampus

Ada fenomena aneh yang mulai aku sadari di minggu ketiga kuliah.

Orang orang ngeliat aku.

Bukan jenis ngeliat yang normal, bukan tatapan singkat yang biasa orang kasih ke sesama mahasiswa yang kebetulan lewat di jalur yang sama. Ini jenis ngeliat yang beda. Yang disertai bisikan kecil ke orang di sebelahnya. Yang kadang diikutin senyum tanggung yang enggak jelas maknanya. Yang bikin beberapa orang tiba tiba milih rute beda waktu liat aku datang dari ujung koridor, seolah ngehindarin sesuatu, atau justru sebaliknya, sengaja pelanin langkah biar bisa lewat lebih deket.

Aku ngobservasi fenomena ini selama dua hari penuh sebelum nyimpulin ada tiga kemungkinan penjelasan.

Satu: ada sesuatu yang salah sama penampilanku yang enggak aku sadari, noda di baju, rambut berantakan, atau hal semacam itu.

Dua: aku ngalamin episode paranoia ringan gara gara kurang tidur karena begadang baca manga sampe jam dua pagi kemarin.

Tiga: ada sesuatu yang kejadian yang enggak aku ketahui.

Aku udah periksa penampilan di refleksi kaca jendela perpustakaan. Enggak ada noda. Rambut dalam kondisi normal, artinya sedikit berantakan tapi enggak sampe kategori mengkhawatirkan.

Berarti bukan kemungkinan satu.

Aku udah tidur delapan jam semalam setelah nyelesain manga dan mutusin buat enggak begadang lagi buat sementara waktu.

Berarti bukan kemungkinan dua.

Yang tersisa kemungkinan tiga, dan masalah sama kemungkinan tiga adalah itu butuh informasi tambahan yang belum aku punya.

"Bimo," panggilku di sela sesi kelas Matematika Diskrit yang baru aja selesai, waktu sebagian besar orang udah mulai beberes buat istirahat siang. "Ada yang aneh enggak menurutmu akhir akhir ini?"

Bimo, yang lagi masukin buku catatannya ke dalam tas dengan gerakan orang yang udah nemuin sistem pengepakan optimal lewat trial and error tiga minggu kuliah, ngangkat kepala. "Aneh gimana?"

"Orang orang." Aku ngangguk samar ke arah koridor di luar pintu kelas. "Ngeliat ke arahku."

Bimo diem satu detik. Ekspresi di wajahnya berubah jadi sesuatu yang susah aku identifikasi, campuran antara pengen ketawa dan lagi nimbang nimbang apakah ini saat yang tepat buat ketawa.

"Bimo."

"Aku..." Dia berhenti sebentar. "Aku kira kamu udah tau."

"Tau apa?"

Bimo nutup tas, berdiri, dan natap aku dengan ekspresi orang yang lagi nyiapin diri buat nyampein berita yang konsekuensinya enggak sepenuhnya dia bisa prediksi. "Kamu punya akun media sosial?"

"Ada. Enggak aktif."

"Instagram?"

"Ada. Terakhir buka mungkin tiga minggu lalu."

"Coba buka sekarang."

Aku buka Instagram buat pertama kalinya dalam tiga minggu di bangku kantin paling pojok yang aku temuin, dengan Bimo duduk di seberangnya dengan ekspresi orang yang udah makan popcorn secara mental sejak tadi.

Notifikasi yang nyambut aku jumlahnya empat puluh tujuh. Ini udah anomali karena rata rata notifikasi Instagram aku per hari biasanya nol, karena aku enggak ngunggah apapun dan enggak ada yang secara aktif berinteraksi sama akun aku yang isinya empat foto lama dari tiga tahun lalu.

Empat puluh tujuh notifikasi. Semua datang dalam dua hari terakhir.

Hampir semuanya isinya varian dari: "wah kamu yang di foto itu ya?" dan "kirain siapa ternyata rendy" dan "pantesan sering bareng terus" dan beberapa yang cuma isinya emoji hati dalam jumlah yang aku enggak anggep perlu.

Aku buka tab pencarian. Ketik nama kampus kami.

Dan di situ, di antara foto foto kegiatan mahasiswa dan dokumentasi acara PKKMB yang masih banyak beredar, ada satu unggahan dari akun yang pake nama @infogosip.nusantarajaya dengan caption yang bunyinya:

"bocoran: couple goals baru mahasiswa baru nih 👀 siapa ya? 🤭"

Foto di bawah caption itu nampilin dua orang yang lagi duduk di bangku taman kampus.

Orang pertama: laki laki dengan hoodie abu abu, kepala sedikit nunduk ke arah orang di sebelahnya.

Orang kedua: perempuan dengan rambut dikuncir satu, kepala sandar ke bahu orang pertama, mata terpejam.

Foto itu diambil dari jarak yang cukup jauh dan sudut yang enggak sempurna, tapi cukup jelas buat dikenali siapapun yang kenal sama kedua orang di dalamnya.

Aku natap foto itu selama beberapa detik.

Terus aku inget.

Tiga hari yang lalu. Selasa. Jam dua belas lewat dua puluh menit.

Kami lagi duduk di taman kecil di sisi timur gedung C, area yang enggak terlalu rame karena letaknya agak tersembunyi di balik deretan pohon cemara yang ditanam entah kapan dan udah cukup gede buat ngasih naungan yang layak di siang hari. Aku udah nemuin tempat ini di minggu kedua dan netapinnya sebagai lokasi makan siang default karena memenuhi tiga kriteria utama: teduh, sepi, dan jauh dari titik kumpul utama mahasiswa yang artinya kemungkinan kecil aku harus terlibat dalam obrolan sosial yang enggak aku inisiasi.

Cahaya nemuin aku di situ di hari ketiga aku makein tempat itu. Caranya nemuin tempat tempat yang aku sembunyiin selalu jadi misteri yang belum pernah aku selesain.

Siang itu, Cahaya datang dengan tampilan orang yang baru aja lewatin satu setengah jam kelas yang nguras energi, tas diseret, bukan digendong, rambut sedikit lebih berantakan dari biasanya, dan ekspresi yang spesifik itu yang artinya dia butuh lima menit buat enggak ngomong sama siapapun sebelum balik jadi versi dirinya yang normal.

Aku udah ngenalin ekspresi itu sejak SMP dan udah lama belajar bahwa respons yang tepat adalah diem dan ngasih ruang tanpa harus ninggalin tempat.

Jadi aku tetep di situ, buka bento yang udah aku siapin dari pagi, dan biarin Cahaya duduk di sebelah kiriku tanpa komentar apapun.

Kami makan dalam hening selama beberapa menit. Di atas kami, daun daun cemara gerak pelan kena angin siang. Di kejauhan, suara kantin yang rame cuma kedengeran samar samar dari jarak ini.

"Kelas tadi gimana?" tanyaku akhirnya, waktu kurasa lima menit udah cukup berlalu.

"Presentasi." Cahaya telen suapannya. "Kelompok sebelah aku salah baca data tapi dosennya terlalu sopan buat bilang langsung jadi sesi tanya jawabnya jadi panjang banget."

"Berapa lama?"

"Empat puluh menit buat satu kelompok."

"Dari alokasi berapa menit?"

"Dua puluh."

"Ah."

"Iya." Cahaya hela napas panjang. "Aku ngantuk banget, Ren."

"Tidur semalam berapa jam?"

"Lima."

"Kenapa?"

"Ada tugas esai yang ternyata aku salah baca deadline nya, kirain besok ternyata tadi subuh." Dia rebahin punggung ke sandaran bangku, natap kanopi daun di atasnya. "Udah, jangan ditanya lagi. Biar aku diem dulu bentar."

Aku ngangguk dan balik ke bentoku.

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit.

Di suatu titik antara menit kesepuluh dan kelima belas, aku enggak merhatiin dengan tepat kapan, tekanan di bahu kiriku berubah. Sedikit. Seolah ada sesuatu yang bertumpu di situ dengan pelan.

Aku noleh dengan kecepatan yang enggak buru buru.

Cahaya ketiduran.

Lebih tepatnya: Cahaya ketiduran dengan kepala sandar ke bahuku, dengan napas yang udah berubah jadi ritme yang lebih lambat dan lebih teratur, dan dengan ekspresi wajah yang kehilangan semua ketegangan siang hari dan balik jadi versi yang lebih damai dari dirinya.

Ini bukan kejadian yang sepenuhnya baru. Cahaya emang tipe orang yang bisa ketiduran di mana aja waktu kelelahan udah nyampe ambang batas tertentu, di mobil, di sofa ruang tamu, bahkan pernah sekali di perpustakaan SMA waktu dia ketiduran di atas buku yang lagi dia baca. Aku pernah jadi bantal dadakan minimal tiga empat kali sejak SMP, jadi secara teknis ini bukan preseden baru.

Yang aku lakuin adalah: enggak gerak, nyelesain bento pake tangan kanan aja karena bahu kiri udah keisi, dan buka manga dengan cara yang enggak bakal ganggu Cahaya.

Yang enggak aku lakuin adalah: merhatiin seorang mahasiswa lain yang rupanya lewat di jalur setapak di balik deretan cemara dengan kamera hape yang udah siap.

"Foto itu udah dapet berapa ribu likes?" tanyaku ke Bimo.

Bimo ngintip layar hapenya. "Sekarang... tiga ribu dua ratus tujuh. Dan di repost ke beberapa story."

Tiga ribu dua ratus tujuh.

Aku tutup Instagram dan naruh hape dengan gerakan yang aku usahain keliatan tenang walau di dalam kepala aku lagi mroses beberapa hal sekaligus.

"Komentarnya gimana?" tanyaku.

"Sebagian besar positif. Ada yang udah berhasil identifikasi namamu dan nama Cahaya dari tag beberapa temen. Ada yang bilang kalian couple goals. Ada yang bikin thread 'bukti bukti' berupa foto kalian yang diambil orang lain di berbagai lokasi kampus sejak minggu pertama."

"Thread."

"Thread." Bimo ngangguk pelan. "Tujuh foto. Dengan analisis."

Aku pejamin mata sebentar.

"Rendy."

"Hm."

"Kamu baik baik aja?"

"Lagi mroses."

"Wajar." Bimo ambil minumannya. "Buat apa itu nilainya, fotonya bagus. Komposisinya natural. Kalau aku enggak kenal kalian berdua, aku mungkin juga bakal ngira itu foto pasangan."

Ini enggak bantu proses aku sama sekali, tapi aku enggak sampein itu ke Bimo karena dia nyatainnya dengan niat baik.

Hapeku bergetar.

Satu pesan masuk dari nomor yang kesimpen sebagai "Sasa 🌸 (temennya Cahaya)", kontak yang dia masukin sendiri ke hapeku dua minggu lalu dengan alasan "biar gampang kamu hubungin kalau Cahaya kenapa kenapa" yang waktu itu kerasa kayak alasan yang sedikit berlebihan tapi enggak aku permasalahin.

Pesan dari Sasa isinya dua baris:

"Ren."

"Pergi sekarang ke lantai dua gedung B. Ruang diskusi yang di pojok. Cahaya lagi di sana dan situasinya sedang tidak baik."

Aku nemuin Cahaya di ruang diskusi pojok lantai dua gedung B, duduk di kursi paling jauh dari pintu dengan hape di tangan dan ekspresi di wajahnya yang dalam skala termometer emosi bisa diklasifikasiin sebagai mendekati mendidih.

Sasa duduk di kursi seberangnya dengan sikap orang yang lagi bertugas sebagai pemadam kebakaran sambil diam diam nikmatin tontonan.

"Rendy." Cahaya natap aku waktu aku nutup pintu di belakangku. Suaranya stabil dengan cara yang justru kerasa lebih tegang dari kalau dia ngomong keras. "Kamu udah liat."

"Udah."

"Kamu ada penjelasan?"

Aku naruh tas di kursi kosong deket pintu. "Kamu ketiduran. Aku enggak mau bangunin kamu karena kamu bilang kurang tidur. Saat itu aku enggak nyadar ada orang yang ngambil foto dari balik pohon."

"DARI BALIK POHON."

"Rupanya begitu."

"Itu..." Cahaya hentiin kalimatnya, tekan jari jarinya ke pelipis. "Itu artinya ada orang yang sengaja ngambil foto kita dari balik pohon. Diam diam. Dan ngupload ke akun gosip kampus."

"Kesimpulan yang sama dengan yang aku bikin."

"Dan sekarang ada tiga ribu orang yang ngira kita pacaran."

"Tiga ribu dua ratus tujuh, terakhir aku cek."

Cahaya natap aku.

"Itu angka yang naik dengan cepet," tambahku, karena kayaknya informasi itu relevan.

"Sasa." Cahaya muterin kursinya ke arah Sasa. "Tolong jelasin ke dia kenapa kalimat terakhirnya itu enggak bantu situasi."

Sasa, yang dari tadi merhatiin obrolan kami dengan ekspresi orang yang nonton drama favorit secara langsung, ngangkat kedua tangan. "Rendy, kalimat terakhirmu enggak bantu situasi."

"Aku ngerti konteksnya," kataku. "Aku cuma..."

"Aku tau kamu ngerti konteksnya." Cahaya berdiri, jalan ke arah jendela, mandangin ke luar sebentar sebelum balik badan lagi. "Itu bukan poinnya. Poinnya adalah sekarang setengah angkatan tau nama kita berdua karena foto itu, dan semua orang ngira, ngira kita..."

"Pacaran," selesain Sasa dengan nada yang terlalu membantu.

"Sasa."

"Aku cuma nolong formulasi kalimatnya."

"Enggak perlu." Cahaya hela napas. "Oke. Oke, kita harus pikir ini dengan tenang." Dia mulai jalan bolak balik di sisi ruangan yang enggak keisi kursi, gerakan yang aku kenal sebagai cara Cahaya mikir waktu situasi butuh solusi cepet. "Kita harus klarifikasi."

"Klarifikasi di mana?" tanyaku.

"Di mana pun gosipnya beredar. Grup angkatan. Story. Di manapun."

"Kalau kita klarifikasi secara aktif," kata Sasa pelan, "itu bakal keliatan kayak kita terlalu defensif, yang ironisnya justru bikin orang makin penasaran."

Cahaya berhenti jalan. "Terus kita diem aja?"

"Aku enggak bilang itu solusinya. Aku cuma nyampein salah satu risikonya."

"Sasa."

"Iya?"

"Kamu di sini buat bantuin atau buat komentar?"

Sasa nimbang nimbang pertanyaan ini dengan serius selama dua detik. "Dua duanya, sebetulnya. Tapi komentar dulu karena situasinya terlalu menarik buat enggak dikomentarin."

Klarifikasi resmi, yang akhirnya diputusin Cahaya bakal dilakuin lewat story Instagram pribadi miliknya dengan caption yang dia tulis, hapus, dan tulis ulang sebanyak tujuh kali sebelum akhirnya diposting, bunyinya:

"Hei, untuk yang penasaran soal foto yang beredar: itu aku dan temanku dari TK. Dia cuma jadi bantal dadakan karena aku ngantuk. Tidak ada yang perlu di-baper-in, terima kasih sudah peduli 😊"

Emoji senyum di akhir itu kompromi antara Cahaya yang mau ngakhirin dengan tanda seru dan Sasa yang meyakinin dia bahwa tanda seru bakal keliatan terlalu defensif.

Aku liat story itu tiga menit setelah Cahaya nge-postingnya, dari sudut tempat aku duduk di ruang diskusi yang sama sementara Sasa dan Cahaya masih berdebat soal apa perlu ditambahin sesuatu atau enggak.

Dua menit kemudian, notifikasi mulai masuk ke akun Cahaya dengan kecepatan yang bikin layar hapenya berkedip enggak berhenti.

Sasa, yang ngintip layar hape Cahaya dari sampingnya, ngeluarin suara kecil antara kaget dan geli. "Ca. Ada yang comment 'justru semakin cute karena dari kecil' di story mu."

Cahaya pejamin mata.

"Ada juga yang bikin polling. 'Udah jadian atau belum'. Hasil sementara tujuh puluh dua persen bilang 'udah tapi belum resmi'."

"Sasa, tolong berhenti bacain komentar itu."

"Ada yang..."

"Sasa."

"Iya, berhenti, oke." Sasa naruh hapenya. Terus, setelah jeda dua detik: "Tapi ini menarik secara sosiologis, lho. Gimana satu foto bisa..."

"Sasa."

Hening.

Di sudutku, aku mutusin ini waktu yang tepat buat enggak komentar apapun dan baca situasi dengan teliti.

Respons dari klarifikasi Cahaya kebagi jadi beberapa kategori yang aku identifikasi lewat observasi selama sisa hari itu.

Kategori pertama: orang orang yang nerima klarifikasi dengan wajar dan lanjutin hidup mereka. Ini kelompok yang paling sedikit nimbulin konsekuensi dan sayangnya bukan kelompok yang paling vokal.

Kategori kedua: orang orang yang baca klarifikasi, ngangguk anggukin kepala, dan terus tetep percaya sama narasi original karena "gerak gerikya mencurigakan", kutipan langsung dari komentar yang Sasa baca dengan suara keras walau udah diminta berhenti.

Kategori ketiga: orang orang yang enggak tertarik sama apapun soal foto itu tapi jadi tertarik setelah ada klarifikasi, karena klarifikasi itu sendiri jadi topik diskusi tersendiri.

Kategori keempat, dan ini yang paling enggak aku antisipasi: orang orang yang sekarang tiba tiba pengen kenalan sama aku secara langsung berdasarkan asumsi bahwa seseorang yang couple goals sama Cahaya Kusuma Dewi pasti orang yang menarik buat dikenal.

Ini termasuk Fajar dari jurusan Sistem Informasi yang nemuin aku di koridor dengan jabat tangan lebih antusias dari yang situasinya perlukan, dan Tiara dari jurusan Desain Komunikasi Visual yang tiba tiba duduk di meja aku di perpustakaan dan buka obrolan dengan "kamu Rendy kan, yang di foto sama Cahaya?" dengan nada yang ngandung campuran kagum dan penasaran yang enggak sepenuhnya aku ngerti sumbernya.

Aku ngerespons Fajar dengan jabatan tangan yang sepadan dan satu kalimat.

Aku ngerespons Tiara dengan jawab pertanyaannya secara faktual dan terus balik baca.

Keduanya keliatan sedikit enggak puas sama interaksi tersebut tapi aku enggak yakin apa yang seharusnya aku lakuin beda.

Jam tiga sore, Cahaya kirim pesan ke grup yang cuma isinya aku, Cahaya, dan Sasa, grup yang Sasa bikin di minggu kedua dengan nama "trio pak tarno" karena alasan yang sampe sekarang enggak sepenuhnya aku ngerti:

"Gimana situasi dari sisi kalian"

Sasa bales duluan: "Dari sisiku menyenangkan. Ada drama baru setiap lima belas menit."

Aku ketik: "Dua orang baru kenalan dengan aku hari ini karena foto itu. Sejauh ini aku tidak membuat kesalahan fatal dalam percakapan tersebut."

Cahaya bales: "Sejauh ini."

Aku: "Itu apresiasi terhadap progres, bukan keraguan."

Sasa: "Ren, ada yang nanya ke aku soal kamu tadi"

Aku: "Tanya apa?"

Sasa: "Katanya 'Rendy itu orangnya gimana sih sebenernya'. Aku bilang 'dia baik, cuma lebih nyaman sama karakter 2D daripada manusia tapi itu justru charming kalau dipikir pikir'"

Cahaya: "Sasa kamu ngomong apa"

Sasa: "Yang jujur dong. Itu nilai jual yang unik"

Aku: "Aku bukan produk yang memerlukan nilai jual."

Sasa: "Semua orang secara tidak langsung adalah produk dalam konteks interaksi sosial, Rendy. Kamu lagi di jurusan apa coba kalau bukan yang bakal ngerti ini"

Aku nimbang nimbang argumen itu selama beberapa detik dan enggak berhasil nemuin sanggahan yang memuaskan, yang mungkin artinya ada sesuatu yang valid di situ atau mungkin artinya aku terlalu capek buat ngedebatnya.

Cahaya kirim stiker kucing cemberut.

Jam lima sore, waktu sebagian besar gedung kampus udah mulai sepi dan arus mahasiswa gerak ke arah gerbang keluar, aku nemuin Cahaya lagi duduk sendirian di kantin yang udah hampir kosong, dengan satu gelas minuman dingin yang udah enggak terlalu dingin lagi berdasarkan kondensasi di luar gelasnya, natap layar hape dengan ekspresi yang udah jauh lebih tenang dari jam dua belas tadi.

Aku tarik kursi di seberangnya tanpa ditanya dan duduk.

"Situasinya mereda," katanya tanpa nengok.

"Udah cek?"

"Ada topik baru yang lebih menarik. Rupanya ada pasangan tingkat tiga yang ketahuan pacaran diam diam dan itu lebih menarik dari foto kita karena ada dramanya."

"Berita baru nggeser berita lama."

"Siklus gosip kampus." Cahaya naruh hapenya ngadep bawah di meja. "Dua belas jam. Segitu umur sebuah gosip sebelum digantiin yang lebih baru."

"Kamu udah ngelakuin riset?"

"Aku ngelakuin observasi. Dari total gosip yang beredar di angkatan kita sejak PKKMB, rata rata umurnya delapan sampe empat belas jam sebelum ada yang baru." Dia akhirnya natap aku. "Aku banyak waktu nunggu tadi."

Aku ngangguk. "Jadi ini udah selesai."

"Hampir." Cahaya mainin ujung sedotan gelasnya. "Masih ada beberapa orang yang kayaknya bakal terus terusan punya asumsi yang salah, tapi itu udah di luar yang bisa aku kendaliin."

"Kamu keberatan?"

Pertanyaan yang keluar gitu aja, lebih langsung dari yang aku rencanain, dan aku enggak sepenuhnya yakin kenapa aku nanya itu sebelum nanya.

Cahaya natap aku dengan ekspresi yang enggak langsung bisa aku baca. Ada sesuatu dalam dua tiga detik setelah pertanyaanku yang kerasa kayak jeda yang sedikit lebih panjang dari yang dibutuhin buat mroses pertanyaan sederhana.

"Keberatan sama apa?" tanyanya balik. Nada suaranya netral, terlalu netral dengan cara yang enggak sepenuhnya aku ngerti.

"Sama orang orang yang ngira kita pacaran."

Dua detik.

"Ya iyalah keberatan," kata Cahaya. "Itu informasi yang salah."

"Iya. Tapi di luar aspek faktualnya, apa kamu keberatan dengan..."

"Rendy." Cahaya ambil gelasnya, minum sebentar. "Kamu lagi mau ngomong apa sebenernya."

Aku nimbang nimbang ini. "Aku enggak sepenuhnya yakin."

"Kalau enggak yakin, jangan mulai kalimatnya."

"Itu kebijakan yang masuk akal."

"Makasih." Dia naruh gelas. "Dan enggak, aku enggak..." Dia berhenti. Mulai lagi. "Aku keberatan karena informasinya salah. Itu aja. Enggak ada alasan lain."

Aku ngangguk. "Oke."

"Oke."

Hening sebentar yang enggak sepenuhnya nyaman tapi enggak cukup enggak nyaman buat perlu diintervensi.

"Rendy."

"Hm?"

"Foto itu..." Cahaya mandang ke sisi lain kantin yang kosong. "Kamu enggak harusnya biarin aku ketiduran di situ."

"Kamu bilang kamu kurang tidur."

"Iya, tapi..."

"Kalau aku bangunin kamu dan kamu enggak cukup tidur, itu kontraproduktif buat kesehatanmu."

"Ada hal yang lebih penting dari itu dalam situasi tersebut..."

"Kayak apa?"

Cahaya buka mulut. Nutup lagi. Buka lagi. "Kayak... kemungkinan ada orang yang lewat."

"Itu variabel yang enggak aku pertimbangin secara adekuat," akuiku. "Bakal aku perhitungin buat situasi serupa di masa depan."

"'Situasi serupa'." Cahaya ngulang kalimat itu dengan nada datar. "Kamu udah ngategoriinnya sebagai jenis situasi yang mungkin berulang."

"Secara statistik, kalau udah kejadian sekali..."

"Enggak bakal ada situasi serupa karena aku enggak bakal ketiduran lagi di tempat umum."

"Kamu bilang hal yang sama setelah insiden perpustakaan SMA."

Cahaya tutup matanya sebentar. "Aku lupa soal itu."

"Kamu tertidur di atas buku biologi dan ada pulpen yang ninggalin bekas di pipimu selama dua jam."

"Aku bilang aku lupa soal itu, Rendy."

"Aku ngingetin kamu sebagai referensi pola perilaku."

"Aku enggak perlu referensi pola perilaku soal kebiasaan burukku sendiri dari kamu."

"Siapa lagi yang punya datanya selengkap aku?"

Cahaya natap aku dengan tatapan yang udah enggak lagi bisa aku identifikasi sebagai jenis tatapan apa karena ngandung terlalu banyak komponen sekaligus. Terus, dalam durasi yang cukup panjang buat aku perhatiin tapi terlalu singkat buat aku analisis lebih jauh, sesuatu di ekspresinya berubah, enggak banyak, dan enggak ke arah yang bisa aku namain dengan presisi.

"Bodo amat," katanya akhirnya.

"Itu respons yang enggak jawab pertanyaanku."

"Aku tau."

Dia berdiri, ambil tasnya, dan jalan ke arah tempat sampah buat buang gelas minumannya. Aku berdiri juga, ambil tasku sendiri dari sandaran kursi.

"Pulang?" tanyaku.

"Pulang." Dia nengok setengah badan. "Dan Rendy."

"Hm?"

"Lain kali kalau aku ketiduran di tempat umum..."

"Aku bakal bangunin kamu."

"Bangunin aku."

"Udah aku bilang."

"Dengan cara yang enggak mendramatisir situasi."

"Aku enggak mendramatisir situasi tadi. Situasinya yang berkembang ngelebihin..."

"Rendy."

"Iya."

"Diem dan jalan."

Di luar gedung, langit udah mulai berubah ke warna yang lebih gelap di sisi timur walau sisi barat masih nyimpen sedikit cahaya jingga. Kami jalan keluar lewat gerbang samping, rute yang sedikit lebih panjang tapi ngehindarin area parkir depan yang masih rame.

Deket halte bus, kami papasan sama dua mahasiswa yang aku enggak kenal, yang waktu liat kami berdua langsung bisik bisik ke satu sama lain sambil senyum dengan cara yang udah terlalu familiar sepanjang hari ini.

Cahaya natap lurus ke depan dengan ekspresi yang udah terlatih buat enggak ngerespons situasi semacam ini.

Aku natap lurus ke depan karena itu emang arah yang perlu aku tuju.

Kami lewatin mereka.

"Rendy," kata Cahaya waktu kami udah cukup jauh.

"Hm?"

"Ini nyebelin."

"Iya."

"Dan lucu sekaligus."

Aku nimbang nimbang ini. "Secara objektif, iya. Kalau ini kejadian ke orang lain dan aku yang ngobservasi, mungkin aku juga bakal nganggepnya lucu."

Cahaya ketawa kecil, tawa yang pelan, yang bukan buat audiens manapun selain angin sore dan jalanan yang setengah sepi. "Dasar."

"Itu deskripsi yang enggak spesifik."

"Aku tau." Dia nyesuaiin tali tasnya. "Udah, jalan."

Kami lanjutin perjalanan.

Di belakang kami, di dalam ekosistem digital kampus yang enggak pernah bener bener tidur, foto itu masih ada, tiga ribu sekian likes, komentar komentar yang terus berdatangan walau dengan kecepatan yang mulai melambat, dan thread analisis tujuh foto yang kemungkinan besar bakal tetep ada buat waktu yang enggak bisa aku prediksiin.

Tapi itu urusan dunia maya.

Di sini, di jalan ini, kami jalan kayak biasa, setengah langkah di belakang Cahaya, nyocokin ritme dengan cara yang udah enggak lagi butuh usaha sadar.

Beberapa meter sebelum belokan pertama, hapeku bergetar.

Pesan dari Sasa: "Guys. Update. Foto kalian sekarang di repost ke akun gosip kampus universitas lain."

Diikutin dengan: "Kalian famous sekarang selamat"

Diikutin dengan tiga emoji tepuk tangan.

Aku masukin hape ke saku tanpa bales.

Cahaya, yang kedengeran kayak hapenya juga baru bergetar, jalan sedikit lebih cepet.

Dan di suatu tempat di koridor kampus yang udah sepi, di ruang diskusi pojok lantai dua gedung B yang tadi kami tinggalin, foto itu masih terpajang di layar seseorang yang baru aja nemuinnya dan lagi ngetik komentar pertama mereka.

Roda gosip berputar.

Dan kami jalan pulang.

1
Pena Quality
up, saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!