Indonesia
NovelToon NovelToon
Mantan Oh Mantan

Mantan Oh Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lipstik di Dashboard dan Cemburu yang Meledak

Dania adalah seorang perencana yang teliti. Dia tahu betul bahwa menghadapi Valerie tidak memerlukan strategi korporat yang rumit. Valerie adalah gadis yang ekspresif, impulsif, dan selalu bertindak menggunakan perasaan. Untuk menghancurkan orang seperti itu, Dania hanya perlu memicu sumbu emosinya sampai gadis itu meledak sendiri di depan Dean—pria yang paling membenci drama dan ketidaklogisan.

Dua minggu setelah bekerja di kantor Dean, Dania mulai melancarkan aksi kecil yang sengaja dirancang untuk meninggalkan jejak.

Sore itu, hujan rintik-rintik kembali membasahi ibu kota. Sesuai instruksi Timoty, Dean bersedia memberikan tumpangan kepada Dania untuk pulang karena arah apartemen Dania kebetulan searah dengan rute jalan yang akan dilewati Dean menuju lokasi pertemuan bisnisnya. Bagi Dean, ini hanyalah sebuah efisiensi waktu dan bentuk kepedulian logis kepada adik sahabatnya. Tidak lebih.

"Terima kasih banyak ya, Pak Dean. Saya benar-benar merepotkan Anda hari ini," ucap Dania lembut saat dia duduk di kursi penumpang depan mobil sedan hitam milik Dean.

"Tidak masalah. Ini searah," jawab Dean datar tanpa menoleh. Pandangannya fokus membelah kemacetan jalanan Jakarta.

Selama tiga puluh menit perjalanan, Dania terus mengamati gerak-gerik Dean. Pria itu sama sekali tidak berniat membuka obrolan pribadi. Fokusnya hanya pada jalanan atau sesekali mendengarkan berita ekonomi di radio mobil. Ketika mobil akhirnya berhenti di depan lobi gedung apartemen Dania, wanita itu bersiap turun. Namun, sebelum membuka pintu, dia sengaja menjatuhkan sebuah benda kecil dari dalam tas kosmetiknya ke celah sempit di bawah dashboard, tepat di samping tuas transmisi.

Sebuah lipstik berwarna merah muda dengan merek yang cukup mencolok—warna yang sangat kontras dengan interior mobil Dean yang serbahitam dan maskulin.

"Sekali lagi terima kasih, Pak Dean. Hati-hati di jalan," ujar Dania dengan senyum manisnya yang paling lugu sebelum menutup pintu mobil.

Dean hanya mengangguk sekali, lalu segera melajukan mobilnya kembali tanpa menyadari sepotong jebakan telah tertinggal di dalam kendaraannya.

Keesokan harinya adalah hari Sabtu. Sesuai jadwal rutin yang sudah disepakati, Dean akan menjemput Valerie di gedung apartemennya untuk mengantarkan gadis itu berbelanja buku referensi kuliah di salah satu mall besar.

Valerie melangkah keluar dari lobi apartemennya dengan semangat yang sedikit kembali. Hari ini dia mengenakan gaun kasual berwarna kuning cerah, mencoba melupakan rasa gundah akibat kejadian kotak makan siang dua minggu lalu yang menurut Dania 'lupa disampaikan karena Dean sangat sibuk'. Valerie ingin mengawali hari ini dengan energi positif.

"Pagi, Kak Dean!" sapa Valerie ceria saat dia membuka pintu mobil dan langsung duduk di kursi penumpang depan—kursi yang sama yang diduduki Dania semalam.

"Pagi," jawab Dean singkat. Pria itu melirik penampilan Valerie sejenak. "Kamu terlihat lebih segar hari ini. Masalah kuliahmu sudah selesai?"

"Sudah dong! Makanya hari ini aku mau cari beberapa buku baru," sahut Valerie riang.

Mobil mulai berjalan membelah jalanan kota yang cukup lengang di akhir pekan. Valerie sibuk bercerita tentang dosennya yang menyebalkan di kampus dengan gaya bicaranya yang ekspresif dan tangan yang bergerak-gerak. Namun, di tengah-tengah ceritanya, saat dia hendak menaruh botol air mineralnya di cup holder dekat tuas transmisi, matanya mendadak menangkap sekelebat warna asing di bawah celah dashboard.

Valerie menghentikan kalimatnya. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil benda tersebut.

Sebuah lipstik.

Jantung Valerie berdesir hebat. Dia menatap lipstik merah muda di tangannya dengan dahi berkerut. Valerie tahu pasti ini bukan miliknya. Dia adalah tipe perempuan yang lebih suka memakai lip tint tipis atau lip balm tanpa warna. Warna merah muda menyala seperti ini... sangat familier di matanya. Ini adalah warna lipstik yang dipakai oleh Dania saat mereka bertemu di kantor dua minggu lalu.

"Kak Dean," panggil Valerie, nada suaranya mendadak berubah drastis dari ceria menjadi dingin dan menuntut.

"Ya?" Dean menyahut tanpa menoleh, masih fokus memperhatikan lampu lalu lintas di depan.

Valerie mengangkat lipstik itu tepat di depan wajah Dean. "Ini punya siapa?"

Dean melirik benda di tangan Valerie sejenak, lalu kembali menatap jalanan dengan ekspresi yang sama sekali tidak berubah bersalah—karena dia memang merasa tidak melakukan apa-apa. "Oh, itu mungkin punya Dania. Semalam dia menumpang mobil saya saat pulang kantor karena hujan deras dan searah dengan lokasi pertemuan bisnis saya. Mungkin terjatuh dari tasnya."

Mendengar nama Dania diucapkan dengan begitu santai dari mulut Dean, emosi Valerie yang selama ini sudah menumpuk akibat rasa tidak aman langsung meledak seketika. "Menumpang? Kakak memberi tumpangan pada sekretaris baru Kakak di kursi depan ini? Kursi yang seharusnya jadi tempatku?!"

Dean mengernyitkan keningnya, merasa reaksi Valerie sangat berlebihan dan tidak masuk akal. "Valerie, dia adalah adik Timoty. Di luar hujan deras dan arahnya searah. Secara logika, meninggalkan dia sendirian di kantor saat saya bisa memberinya tumpangan adalah tindakan yang tidak efisien dan tidak sopan kepada sahabat saya sendiri. Mengapa kamu harus meributkan hal sepele seperti kursi mobil?"

"Hal sepele?!" suara Valerie meninggi, air matanya mulai menggenang di sudut mata karena rasa cemburu dan sakit hati yang bercampur menjadi satu. Pria di sampingnya ini benar-benar tidak paham ego seorang wanita. "Bagi Kakak ini sepele, tapi bagi perempuan lain, meninggalkan lipstik di mobil pria yang punya pacar itu adalah sebuah kesengajaan! Dia sengaja, Kak! Dia sengaja memancingku!"

Dean menghela napas panjang, menepikan mobilnya ke bahu jalan secara perlahan agar mereka tidak berdebat di tengah jalur yang ramai. Setelah mobil berhenti sempurna, Dean memutar tubuhnya menghadap Valerie dengan tatapan matanya yang sedingin es dan sarat akan penilaian rasional.

"Valerie, hentikan sikap kekanak-kanakanmu ini," ucap Dean dengan suara rendah namun menekan. "Dania adalah karyawan profesional di kantor saya. Dia gadis yang sopan dan pemalu, dia bahkan tidak berani menatap mata saya jika tidak membicarakan pekerjaan. Tuduhanmu bahwa dia sengaja menjatuhkan lipstik hanya untuk memancingmu adalah sebuah asumsi yang tidak berdasar dan penuh prasangka buruk."

"Aku tidak menuduh tanpa bukti, Dean! Insting perempuanku tahu kalau dia punya niat buruk!" jerit Valerie, air matanya kini benar-benar luruh membasahi pipinya. Dia benci melihat bagaimana Dean langsung pasang badan membela Dania seolah Valerie adalah pihak yang jahat dan pembuat keonaran di sini. "Kakak selalu membela dia! Kemarin kotak makan siangku juga tidak Kakak makan karena kata Dania Kakak sedang marah, dan sekarang Kakak bawa dia masuk ke ruang privat kita di mobil ini?!"

Dean memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening. Skema berpikir Valerie yang didominasi oleh emosi murni selalu membuat energinya terkuras habis. "Kotak makan siang apa? Saya tidak pernah tahu kamu mengantarkan makanan dua minggu lalu, Valerie. Dan stop mengaitkan semua hal dengan Dania. Jika kamu terus-menerus memelihara sifat cemburu buta dan blak-blakan tanpa logika seperti ini, hubungan kita tidak akan pernah sehat."

Valerie tertegun. Dean tidak tahu tentang kotak makan siang itu?

Logika Valerie langsung menyambungkan titik-titik manipulasi Dania. Wanita licik itu sengaja membuang makanannya dan berbohong padanya! Namun, melihat bagaimana wajah Dean yang kini menatapnya dengan pandangan penuh kejengahan dan kelelahan, Valerie tahu, apa pun yang dia katakan sekarang hanya akan dianggap sebagai dongeng fiksi seorang gadis kampus yang sedang mengamuk karena cemburu.

"Turunkan aku," bisik Valerie dengan suara bergetar, meremas lipstik Dania di dalam genggamannya sebelum melemparnya ke lantai mobil.

"Valerie, jangan mulai lagi dengan drama menepi di pinggir jalan—"

"Aku bilang turunkan aku, Dean!" teriak Valerie histeris.

Dean menatap Valerie dengan pandangan sedingin salju, kekakuannya kembali ke tingkat maksimal. Tanpa sepatah kata pun lagi, Dean menekan tombol unlock pada pintu mobil. "Pulanglah ke apartemenmu. Tenangkan pikiranmu dulu. Saya tidak bisa berkomunikasi dengan orang yang menolak menggunakan akal sehatnya."

Valerie membuka pintu mobil dengan gerakan kasar, melangkah keluar ke trotoar jalan yang panas tanpa menoleh lagi. Pintu mobil ditutup dengan dentuman keras. Sesaat kemudian, mobil sedan hitam milik Dean langsung melesat pergi meninggalkan Valerie yang berdiri sendirian di pinggir jalan, menangis tergugu di bawah terik matahari Jakarta.

Di seberang jalan, dari dalam sebuah taksi yang sengaja membuntuti mereka sejak dari apartemen Valerie, Dania duduk manis sambil menurunkan kaca jendela sedikit. Dia menyaksikan seluruh adegan pertengkaran itu dengan senyum kemenangan yang mengembang sempurna di bibirnya. Target pertamanya sukses besar: Valerie telah meledak, dan Dean telah mulai merasa jengah dengan kekasihnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!