Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTANG PARA DEWA

MENANTANG PARA DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"

​Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.

​Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.

​Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.

​"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: MENUNDUKAN KEGELAPAN

​Mo Xie melangkah melewati batas tepi kawah.

​"Aku akan mencoba," ucap Mo Xie sebelum melanjutkan langkahnya.

​Begitu telapak kakinya menyentuh permukaan es hitam yang licin bagai kaca, suara gemeretak dingin yang ganjil langsung merambat naik melintasi tulang kakinya.

​"Akh...!"

​Rasa sakit yang teramat sangat menyergap tanpa ampun. Sensasi itu bukan sekadar rasa dingin biasa yang menusuk kulit, melainkan bagaikan jutaan jarum es yang disuntikkan secara paksa ke dalam aliran darahnya, membekukan pembuluh vena satu demi satu dalam siksaan yang teramat lambat.

​Di bawah lilitan kain hitam yang membungkus pergelangan tangan kanannya, simbol pedang Qi Kegelapan mulai memberontak dan menyebar kembali. Namun, hawa dingin ekstrem dari Kawah Refleksi langsung menekan gejolak tersebut.

​Benturan dua kekuatan ekstrem yang saling bertolak belakang itu mengoyak daging dan urat lengan Mo Xie dari dalam. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti menapak di atas jalinan pecahan kaca membara yang diselimuti jelaga es.

​"Aku... takkan kalah oleh rasa sakit ini..." desis Mo Xie di sela-sela giginya yang bergemeletuk hebat.

​Suaranya yang parau nyaris tenggelam sepenuhnya oleh lolongan badai es yang berputar ganas memutari dinding gua kawah.

​Ia terus memaksakan sepasang kakinya yang kaku untuk melangkah lebih jauh, merangkak perlahan menuju pusat kawah tempat pusaran badai bermula. Namun, Kawah Refleksi Es bukanlah tempat yang dirancang hanya untuk menguji ketahanan daging fana. Ujian sesungguhnya dari neraka beku ini baru saja dimulai.

​Saat Mo Xie menundukkan kepalanya demi memastikan pijakan berikutnya, permukaan es hitam di bawah kakinya yang semula jernih bagai cermin mulai bergoyang tidak stabil. Bayangan yang terbias di atasnya mendadak terdistorsi, memantulkan wujud yang bukan lagi sosok dirinya.

​"Mo Xie... kenapa kau membiarkan mereka mengambilku?"

​Sebuah suara yang teramat sangat ia kenal—suara lembut yang selalu mengetuk dinding halus malam-malam sunyinya—bergaung jernih tepat di dalam tempurung kepalanya. Gaung itu begitu nyata, hingga membuat detak jantung Mo Xie yang membeku terasa seolah terhenti secara mendadak.

​Di dalam cermin es hitam di bawah kakinya, rupa wajah Chu Yurou perlahan muncul.

​Gadis itu tidak lagi tersenyum hangat seperti kenangan indah di bawah naungan pohon oak tua di Lembah Yunlan. Wajahnya tampak pucat pasi, terkelupas dipenuhi luka bakar kehitaman, dengan sepasang mata kosong yang meneteskan air mata darah.

​Kedua tangannya yang fana terulur ke atas dari balik lapisan es, seolah-olah mencoba mencengkeram pergelangan kaki Mo Xie dari kedalaman jurang kematian yang kelam.

​"Dingin, Mo Xie... di sini sangat dingin... Kenapa kau masih hidup sementara aku menderita sendirian di dalam kegelapan?" bisik ilusi Chu Yurou.

​Suaranya merambat naik, menyatu dengan nada melengking dari angin badai yang kian pekat memutari tubuh Mo Xie.

​Mo Xie terpaku di tempatnya. Pandangannya terkunci rapat, napasnya tercekat di tenggorokan.

​Hawa es yang ganas memanfaatkan kelengahannya, merayap cepat naik dari lutut menuju dadanya, perlahan mengubah kulit tubuhnya menjadi putih pucat mengkristal karena fokusnya terpecah oleh rasa bersalah yang teramat mendalam.

​"Yurou..." gumam Mo Xie serak.

​Tanpa sadar, tangan kirinya yang gemetar terulur ke bawah, mencoba menggapai bayangan gadis itu di balik lapisan es hitam.

​Namun, begitu ujung jemarinya yang mati rasa menyentuh permukaan cermin yang dingin, bayangan Chu Yurou seketika pecah dan memudar menjadi debu, menyisakan kegelapan tak berdasar yang kembali menertawakan ketidakberdayaannya.

​Rasa bersalah, penyesalan yang membakar, dan kemarahan atas kelemahannya sendiri datang bertubi-tubi bagai gelombang bah yang menghancurkan benteng kesadarannya. Rantai tak kasat mata dari masa lalu membelenggu jiwanya, mengunci Mo Xie di tengah kawah yang kian mengamuk.

​Kegelapan di lengannya mulai mengikis lebih jauh, melahap setiap inci tubuhnya dan terus menggerogoti celah keraguan di hatinya. Kristal-kristal es merayap cepat, membekukan jubah hitamnya dan mengubur dadanya dalam lapisan batu es yang kaku.

​Di tepi kawah, Xue Qingyue yang menyaksikan adegan itu merasa cemas. Jemarinya mencengkeram erat gagang pedang kristalnya.

​"Jangan biarkan dirimu tenggelam dalam penyesalan, Mo Xie!" teriak Xue Qingyue, mendobrak deru angin. "Cari jangkarmu, atau es dan kegelapan itu akan merenggut jiwamu selamanya!"

​Mo Xie berdiri mematung dalam cengkeraman masa lalunya untuk waktu yang terasa bagai keabadian. Di dalam kegelapan pikirannya yang pekat, ia kembali menyaksikan momen paling menyakitkan dalam hidupnya: saat jemari hangat Chu Yurou mendingin dan tubuhnya terurai menjadi abu di depan matanya.

​Rasa sakit itu... penderitaan mutlak itu... ia sadar bahwa ia tidak boleh membiarkannya menjadi akhir dari perjalanan ini. Rasa kehilangan tidak boleh membunuhnya; rasa kehilangan itu harus menjadi bahan bakar bagi dirinya.

​Setelah keheningan yang mencekik, Mo Xie perlahan membuka matanya kembali.

​Sorot mata yang tadinya meredup ditelan keputusasaan kini menyala kembali dengan kobaran dendam yang jauh lebih dingin, tajam, dan mengerikan daripada badai es di sekelilingnya.

​"Tunggu aku, Yurou..." bisik Mo Xie dengan nada yang bergetar penuh tekad.

​Ia mengertakkan giginya dengan sangat keras hingga darah segar merembes dari bibirnya, memutus secara paksa seluruh jalinan ilusi dan rantai penyesalan yang membelenggunya.

​Bersamaan dengan kembalinya kendali penuh atas jiwanya, energi kegelapan dari simbol di pergelangan tangannya menyusut kembali. Aura ungu pekat mengalir deras menyelimuti tubuhnya, menghancurkan seluruh kristal es dan kegelapan yang sempat membekukan fisiknya hingga pecah berkeping-keping menjadi debu di udara.

​Mo Xie kembali berdiri tegak di pusat kawah, napasnya memburu tebal, menatap lurus ke depan dengan pandangan yang membuktikan bahwa jiwanya tidak mudah ditundukkan oleh bayang-bayang masa lalu.

​Namun, Mo Xie tidak berniat berhenti hanya sampai di situ.

​Dengan tekad yang telah mengkristal menjadi baja, ia kembali mengayunkan kakinya, melangkah jauh lebih dalam menuju titik paling pekat di pusat Kawah Refleksi Es. Setiap pijakannya kini meninggalkan retakan bening yang menyebarkan jelaga hitam—benturan nyata antara Qi Kegelapan di dalam tubuhnya dan kehendak es di sekelilingnya.

​Akan tetapi, saat ia kian dekat dengan pusat badai, rintangan baru yang jauh lebih mengerikan melompat keluar dari kegelapan.

​Udara di sekeliling Mo Xie mendadak mendesis panas, memberikan anomali yang kontras dengan temperatur tempat ini.

​Dari balik kabut es yang tebal, bayangan hitam yang kental dan cair merayap naik dari es di bawah kakinya. Bayangan itu bergeliat, memadat, hingga membentuk wujud replika yang sempurna dari diri Mo Xie sendiri—namun seluruh tubuh bayangan itu terbalut zirah kegelapan yang mengerikan, dan sepasang matanya menyala merah darah tanpa belas kasihan.

​Itu adalah manifestasi murni dari Pedang Kegelapan yang haus akan dominasi total atas wadah barunya.

​"Manusia fana yang menyedihkan..." suara sosok gelap itu bergaung berat tepat di dalam batin Mo Xie, membawa keangkuhan purba dan rasa lapar yang tak terbatas.

​"Kau menginginkan kekuatan untuk menghancurkan langit, tapi kau terlalu rapuh untuk menampung keagunganku. Serahkan tubuhmu... serahkan jiwamu yang hancur itu kepadaku. Aku yang akan membantai para Dewa untukmu, sementara kau bisa membusuk dengan tenang bersama gadis fanamu itu di dalam kegelapan."

​Sosok kegelapan itu melangkah maju. Ia mengangkat tangan kanannya, yang seketika menjelma menjadi sebilah pedang hitam besar yang memancarkan pendar ungu mematikan.

​CRAAAK!

​Rasa sakit yang luar biasa menghantam tempurung kepala Mo Xie, seakan-akan otaknya dihantam oleh palu godam.

​Simbol pedang di pergelangan tangannya memancarkan pendar ungu yang menyilaukan, merayap naik menembus leher hingga menyelimuti separuh wajahnya, mencoba merebut kendali tubuh Mo Xie secara paksa. Kesadaran murninya mulai terkikis perlahan, ditarik masuk ke dalam jurang Kegelapan milik sang pedang mati.

​"Jangan... bermain-main denganku!" raung Mo Xie.

​Suaranya pecah di antara deru angin badai. Urat-urat hitam di leher dan wajahnya berdenyut kencang, memancarkan aura ungu yang berkilat tajam di tengah kelabu badai.

​Rasa sakit di kepalanya begitu hebat hingga membuat pandangannya berputar dan kabur. Tubuhnya nyaris roboh berlutut, namun ia menancapkan kaki kirinya dengan keras ke permukaan es hitam, menolak untuk tunduk di hadapan ego senjata yang seharusnya ia perintah.

​"Kau yang harus tunduk... atau aku yang akan menghancurkanmu!" pekik Mo Xie, menembus kabut kegelapan di dalam batinnya.

​Mo Xie mencengkeram pergelangan tangan kanannya dengan cengkeraman maut menggunakan tangan kiri, menahan laju penyebaran korosif dari kegelapan yang mencoba menguasai matanya.

​Raga dan pikirannya menjadi medan pertempuran yang brutal. Kehendak murninya—yang ditempa oleh obsesi absolut untuk merobek takdir—bertabrakan langsung dengan kehendak purba sang pedang mati yang hanya haus akan kebinasaan.

​"Aaaakkkhhh!"

​Jeritan kesakitan kembali lolos dari tenggorokannya saat gelombang Qi Kegelapan meledak keluar dari pori-pori kulitnya, melempar serpihan es di bawah kakinya hingga meretakkan permukaan kawah dalam radius beberapa meter.

​Perwujudan gelap itu menyeringai dingin, melangkah setapak lebih dekat sembari mengarahkan ujung pedang ilusinya ke dada Mo Xie.

​"Menghancurkanku? Kau tidak akan pernah bisa menyentuh langit tanpa kegelapan ini, Mo Xie! Biarkan aku mengalir bebas di dalam darahmu!"

​Di tepi kawah, Xue Qingyue tidak lagi tinggal diam. Langkah kakinya bergerak cepat mendekati bibir kawah, sementara pedang kristalnya memancarkan pendar biru es yang sangat pekat.

​Ia tahu betul, jika Mo Xie gagal menundukkan ego pedang itu dalam satu tarikan napas ke depan, pemuda itu akan berubah menjadi anomali tanpa jiwa—sebuah ancaman yang harus segera ia eliminasi di tempat sebelum merusak Benteng Es Abadi.

​Namun, di ambang batas antara kegilaan dan kesadaran murni, api obsesi di dalam dada Mo Xie justru membakar habis seluruh keraguan.

​Bayangan rupa Chu Yurou tidak lagi menjadi rantai yang melemahkannya, melainkan jangkar baja yang menarik jiwanya kembali dari jurang Kegelapan.

​"Aku... tidak akan pernah menjadi budakmu!" raung Mo Xie.

​Mata kanannya seketika menyala merah darah, sementara mata kirinya tetap hitam pekat, memancarkan kendali penuh.

​Dengan sentakan kehendak yang luar biasa brutal, Mo Xie membalikkan paksa aliran kegelapan di dalam tubuhnya. Alih-alih membiarkan kegelapan merayap naik menguasai kepala, ia memompa balik seluruh esensi hitam itu ke bawah, menembus lengan kanan, dan menguncinya kembali ke dalam pergelangan tangannya.

​"T-tidak mungkin! Manusia fana sepertimu tidak akan bisa mengurungku—!" perwujudan gelap itu berteriak murka.

​Suaranya terdistorsi hebat saat wujud ilusinya mulai retak dan terseret runtuh kembali ke dalam bayangan tubuh Mo Xie.

​"Tunduk!" bentak Mo Xie dengan otoritas mutlak.

​Dengan satu raungan terakhir yang menggetarkan seisi gua es, Mo Xie mengalirkan sisa-sisa energi es abadi yang diserap tubuhnya dari kawah untuk membekukan sirkulasi energi liar tersebut.

​WUUUSSHHHH!

​Asap hitam pekat yang meluap dari tubuh Mo Xie terisap kembali ke dalam pergelangan tangannya secara paksa.

​Simbol pedang hitam kecil di balik kain pembungkusnya berpendar ungu terang untuk seketika, sebelum akhirnya padam dan meredup sepenuhnya—terkunci rapat oleh kehendak murni Mo Xie yang telah berhasil menundukkannya.

​Keheningan seketika jatuh di Kawah Refleksi Es. Badai angin yang mengamuk perlahan mereda menjadi hembusan dingin yang tenang.

​Mo Xie berdiri tegak di tengah hamparan es yang retak-retak. Napasnya memburu, uap putih tebal berembus dari bibirnya yang pucat, namun sepasang matanya kini memancarkan kendali penuh atas raga dan kekuatannya sendiri.

​Xue Qingyue yang sejak tadi bersiaga perlahan menurunkan pedang kristalnya.

​Matanya melebar sesaat karena terkejut sebelum kembali pada ekspresi dinginnya yang biasa. Ia melangkah mendekati Mo Xie, menatap pergelangan tangan pemuda itu yang kini tenang tanpa gejolak.

​"Kau... benar-benar berhasil menjinakkannya," ucap Xue Qingyue, suaranya membawa rasa hormat yang samar di balik nada dinginnya.

​"Hanya sedikit orang yang mampu memaksa kegelapan di dalam dirinya berlutut di bawah kehendak mereka tanpa kehilangan akal sehat. Kau telah melewati ujiannya, Mo Xie."

1
Septiana Athorid
Bagus dan menarik
Day Chuk
Novel yang Rekomen
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Pena Quality
keren
Kausafiksi: terimakasih 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
best
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!