Indonesia
NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bapak rumah tangga / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.

Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.

Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.

Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Bayang-Bayang di Lorong Rumah Sakit

Langkah kaki Lu Jingyan menggema pelan di lantai keramik putih Rumah Sakit Sentral. Aroma antiseptik yang tajam menyambut indra penciumannya begitu ia keluar dari lift pribadi menuju sayap timur lantai khusus perawatan intensif. Sekretaris Han berjalan tepat satu langkah di belakangnya, membawa sebuah map kulit berisi laporan medis rahasia.

Suasana malam di rumah sakit itu tampak lengang. Lampu koridor diredupkan, menyisakan pendar kuning lembut yang memanjang di sepanjang dinding panjang bercat putih. Di balik pintu-pintu kamar VVIP di sebelah kanan mereka, para pesohor dan petinggi kota tengah terlelap di bawah penjagaan ketat. Namun, tujuan Jingyan bukanlah kamar-kamar mewah tersebut.

"Apa kondisi pasien di kamar 302 stabil, Han?" tanya Jingyan tanpa menoleh, suaranya terdengar datar namun memecah kesunyian malam.

Sekretaris Han segera mendekat, merapikan letak kacamata berbingkai emasnya. "Secara medis, kondisi fisiknya sudah melewati masa kritis, Tuan Muda. Namun, pihak keluarga pasien kesulitan melunasi tunggakan biaya pengobatan bulanan yang tertunda sejak tahun lalu. Rumah sakit sempat mengeluarkan surat peringatan penghentian terapi oksigen portabel minggu ini."

Langkah Jingyan terhenti seketika. Manik matanya menyipit.

Kamar 302. Itu adalah kamar tempat ibu mertuanya—ibu dari Lin Meiying—dirawat dengan bantuan alat pernapasan buatan. Di tempat inilah wanita tua itu berjuang melawan sesak napas di tengah himpitan kemiskinan, sementara pihak rumah sakit secara kejam bersiap mencabut nyawanya hanya karena masalah administrasi uang.

Koneksi antara penderitaan keluarganya dan kendali finansial rumah sakit di bawah yayasan Lu Group terpampang sangat nyata di depan matanya. Korporasi yang dipimpinnya saat ini tidak hanya merenggut nyawanya sebagai buruh di proyek gedung, tetapi juga secara perlahan mencekik keluarganya melalui sistem birokrasi medis yang dingin.

"Urus pelunasan seluruh biaya administrasi pasien di kamar 302 malam ini juga," perintah Jingyan dengan nada suara dingin yang tidak membantah. "Masukkan ke dalam anggaran darurat pribadi saya. Jangan biarkan ada satu pun staf rumah sakit yang berani menyentuh atau memindahkan alat bantu pernapasannya."

"Baik, Tuan Muda. Saya akan langsung mengurusnya ke bagian keuangan sekarang," jawab Sekretaris Han patuh, meskipun ada secercah keheranan di matanya melihat sang pewaris begitu peduli pada pasien dari kalangan bawah.

Sebelum Sekretaris Han beranjak pergi, sebuah suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari ujung koridor sebelah timur. Seorang perawat muda tampak berlari kecil sambil membawa papan catatan medis, hampir menubruk sudut dinding koridor. Di belakang perawat tersebut, sesosok wanita bertubuh tirus dengan kardigan rajut usang melangkah cepat dengan napas memburu.

Jingyan menoleh seketika. Tubuhnya menegang.

Itu Lin Meiying.

Wanita itu tampak pucat, rambutnya dicepol seadanya dengan beberapa helai yang keluar berantakan. Matanya sembab dan merah, jelas menunjukkan bahwa ia baru saja menangis habis-habisan di rumah sebelum menerima panggilan darurat dari pihak rumah sakit mengenai kondisi sang ibu. Meiying datang seorang diri ke rumah sakit tengah malam begini, membawa keputusasaan yang begitu nyata di setiap gerakannya.

Jingyan dengan cepat melangkah mundur, menarik tubuhnya ke dalam bayangan pilar beton besar di dekat lorong pintu darurat, memberi gestur isyarat kepada Sekretaris Han untuk diam dan menyingkir dari pandangan.

Meiying berdiri di depan meja perawat, suaranya yang bergetar hebat terdengar jelas memecah keheningan malam:

"Suster, kumohon... beri aku waktu dua hari lagi. Pihak keluarga sedang mencari pinjaman untuk melunasi biaya obat ibu saya. Jangan cabut selang oksigennya... kumohon, itu satu-satunya yang membuat ibu saya bertahan hidup."

Perawat di balik meja memasang ekspresi serba salah, menggeleng pelan sambil menghindari tatapan mata Meiying. "Maaf, Nyonya Meiying. Ini adalah kebijakan ketat dari bagian administrasi pusat yayasan rumah sakit. Jika tunggakan tidak diselesaikan malam ini, kamar harus dikosongkan untuk pasien lain."

Dari balik pilar pembatas lorong, Jingyan mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah yang membakar dada nyaris meruntuhkan pertahanannya. Ia ingin melangkah keluar, merengkuh tubuh istrinya yang gemetar ketakutan, dan melemparkan seluruh kekayaan Lu Group ke hadapan perawat tersebut untuk membungkam mereka.

Namun, bayangan peringatan Shen Wuming kembali berkelebat tajam di kepalanya: “Kau dilarang keras mengungkap identitas aslimu... Jiwamu akan lenyap selamanya.”

Jingyan menutup matanya sejenak, menelan mentah-mentah rasa sakit yang menghujam ulu hatinya. Ia harus menahan diri. Ia tidak boleh menghancurkan segalanya sekarang.

Dengan rahang mengeras dan napas yang tertahan, ia berbalik arah perlahan di dalam kegelapan bayangan, meninggalkan lorong rumah sakit itu sambil merangkai rencana mematikan untuk meruntuhkan para pengambil kebijakan di yayasan medis tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!