Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cukup, Bu Sandra!
"Ini data verifikasi inventaris fisik gudang bahan mentah yang kamu cek minggu lalu! Kenapa ada tiga lembar laporan penyesuaian bahan yang belum ditandatangani oleh kepala gudang? Pihak pemeriksa awal dari tim audit pusat baru saja menelepon saya dan mempertanyakan keabsahan berkas ini! Kamu mau bikin saya malu di depan direksi, hah!" bentak Bu Sandra dengan urat leher yang menegang.
Reyna mengambil berkas tersebut dan membukanya dengan teliti, ia mengingat betul proses pemeriksaan di gudang Cimahi yang sangat melelahkan itu.
"Bu Sandra, mohon maaf... Tiga lembar ini adalah lembar susulan untuk kain sutra impor yang datang keterlambatan pengiriman hari Selasa lalu. Hari Rabu pagi sudah saya serahkan ke meja Ibu untuk ditandatangani dan dimintai stempel resmi dari ruangan Ibu sebelum dikirim ke kepala gudang, berkas ini waktu itu ada di baki penandatanganan Ibu," jawab Reyna menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya dengan sopan.
Wajah Bu Sandra mendadak berubah agak merona merah karena tersindir, ia tahu betul berkas itu memang sempat menumpuk di mejanya selama dua hari karena ia sibuk mengurusi urusan pribadinya. Namun, alih-alih mengakui kelalaian sendiri, Bu Sandra justru semakin meradang untuk menutupi rasa malunya di depan bawahan.
"Jangan malah menyalahkan saya!" potong Bu Sandra berteriak seraya menunjuk wajah Reyna dengan jarinya.
"Tugas kamu itu memastikan berkas itu selesai! Kalau kamu tahu berkas itu butuh tanda tangan, ya kamu ingatkan saya terus! Bukan malah dilepas begitu saja! Kamu ini staf senior tapi kinerjanya makin hari makin teledor dan tidak bertanggung jawab!" maki Bu Sandra.
Suasana ruangan menjadi sangat mencekam, Mbak Maya dan Mas Doni menunduk tidak berani berkutik, sementara Reyna hanya bisa menahan napasnya yang terasa sesak. Air mata kepasrahan menumpuk di pelupuk matanya, namun ia menahannya sekuat tenaga agar tidak menetes di hadapan Bu Sandra.
Namun, di tengah makian Bu Sandra yang kian melantur dan membabi buta, sebuah suara berat dan berwibawa memotong dari arah pintu masuk.
"Cukup, Bu Sandra!"
Suara itu tidak melengking, namun memiliki artikulasi yang begitu tegas hingga sanggup menghentikan amukan Bu Sandra seketika. Seluruh pasang mata di ruangan itu termasuk Reyna dan Clarissa, mereka serentak menoleh ke arah sumber suara.
Di sana berdiri Mas Akbar, pria berusia empat puluhan dengan kemeja batik formal yang rapi itu melangkah masuk dengan tenang namun menebarkan aura intimidasi yang kuat. Mas Akbar adalah staf senior paling senior di perusahaan ini, ia sudah menjadi bagian dari perusahaan sejak masa-masa awal berdiri dan merintis dari nol, bahkan sebelum gedung kantor berlantai tiga ini didirikan.
Karena dedikasi, loyalitas dan penguasaan mendalam atas seluruh riwayat perusahaan, jajaran direksi dan pemilik perusahaan sangat menghormati Mas Akbar, bahkan Bu Sandra sendiri menaruh rasa sungkan dan takut padanya.
Selama ini, Mas Akbar terkenal sebagai sosok pendiam yang jarang mencampuri urusan antar staf kecuali jika benar-benar krusial. Namun melihat perlakuan tidak adil yang berulang kali menimpa Reyna, batas kesabarannya akhirnya runtuh.
Mas Akbar berjalan mendekati meja Reyna, meraih bundel berkas yang tergeletak di meja, lalu membaliknya dengan cepat. Matanya yang tajam langsung membaca nomor agenda dan lembar disposisi internal.
"Bu Sandra," panggil Mas Akbar tenang namun sarat penekanan.
"Sistem pencatatan berkas masuk dan keluar di kantor ini terintegrasi dengan tanggal jam penyerahan, berkas penyesuaian bahan ini tercatat jelas telah diserahkan Reyna ke baki ruangan anda hari Rabu pukul sembilan pagi, lengkap dengan penanda resi internal," lanjutnya.
Bu Sandra tampak tersentak, wajahnya mengeras dan gagap, "Tapi... tapi Mas Akbar, Reyna harusnya mengingatkan saya kembali kalau berkas itu belum...,"
"Tugas Reyna adalah menyerahkan berkas tepat waktu sesuai prosedur, menandatangani dan memproses disposisi yang ada di baki kerja adalah tanggung jawab penuh Kepala Bagian. Jika berkas itu tertahan selama dua hari di meja anda hanya karena anda lalai mengecek baki pribadi, maka kesalahan sepenuhnya berada di tangan anda, bukan menumpahkan kekesalan pada Reyna," potong Mas Akbar tanpa ragu, langsung menyalahkan Bu Sandra.
Perkataan Mas Akbar yang lugas dan tepat sasaran membuat Bu Sandra membisu seketika, wajah atasan yang tadi begitu garang kini tampak pucat dan menahan malu di hadapan seluruh bawahannya.
"Apalagi sampai mengancam memotong gaji atau memecat staf yang kinerjanya paling bagus dan rajin disini, direksi tidak akan suka mendengar ada kepala bagian yang menutupi kelalaian pribadinya dengan mengintimidasi bawahan," tambah Mas Akbar dengan tatapan menusuk.
Mendengar nama direksi disebut, Bu Sandra makin mengkeret. Tanpa sanggup membalas sepatah kata pun, ia menyambar berkas dari tangan Mas Akbar, memutar tubuhnya dengan cepat dan bergegas kembali ke ruangannya dengan langkah seribu.
Ruangan tersebut mendadak hening kini berganti dengan napas lega dari semua orang, Mas Akbar menatap Reyna yang matanya masih berkaca-kaca.
"Kamu sudah bekerja dengan sangat baik, Reyna. Jangan biarkan omelan yang salah alamat merusak kerjamu," ucap Mas Akbar lembut.
"Terima kasih banyak, Mas Akbar...," cicit Reyna penuh rasa haru dan syukur.
"Sama-sama, Reyna. Ingat, selama kamu bekerja dengan benar, tidak ada alasan bagi siapa pun di kantor ini untuk memperlakukanmu secara semena-mena," ucap Mas Akbar dengan senyum hangat sebelum akhirnya kembali melangkah menuju mejanya sendiri.
Mbak Maya dan Mas Doni menghembuskan napas lega yang cukup keras, Mbak Maya bahkan mengelus dadanya beberapa kali. "Wah, luar biasa sekali Mas Akbar! Baru kali ini aku melihat Bu Sandra mati kutu tanpa bisa berkutik sedikit pun, puas sekali rasanya!" bisik Mbak Maya dengan raut bahagia.
Clarissa yang berdiri di sebelah Reyna memegang jemari Reyna yang masih agak dingin, "Mbak Reyna tidak apa-apa, kan? Aku kagum banget melihat kesabaran Mbak Reyna. Padahal Mbak sama sekali nggak salah," ujar Clarissa dengan nada khawatir.
Reyna menyapu sisa rasa cemas di dadanya, lalu mengukir senyuman tulus. "Aku baik-baik aja, Clarissa. Terima kasih ya. Ayo, kita lanjutkan lagi pekerjaan kita," jawab Reyna tenang.
Sisa hari ini, berlangsung jauh lebih tenang dari yang dibayangkan. Bu Sandra tidak lagi keluar dari ruangannya untuk menebar ancaman atau bentakan, kesempatan ini dimanfaatkan Reyna untuk menuntaskan seluruh pekerjaan persiapan audit pusat bersama Clarissa.
Seiring berjalannya waktu, kekompakan mereka berdua terjalin dengan sangat baik. Clarissa mampu menyerap setiap instruksi dengan tanggap, sementara Reyna memberikan bimbingan dengan sabar dan teliti.
Ketika jam menunjukkan pukul lima sore, seluruh tugas untuk minggu tersebut berhasil diselesaikan secara sempurna. Semua berkas laporan telah dijilid rapi dan tersusun sesuai abjad di dalam lemari arsip, siap untuk diperiksa oleh tim audit pada hari kerja berikutnya.
Reyna membereskan barang-barangnya dengan hati yang terasa jauh lebih ringan, akhirnya beban pekerjaan yang menumpuk serta tekanan mental di kantor telah berhasil ia lewati.
Begitu sampai di kontrakan petaknya yang sederhana, Reyna segera membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di atas kasur busa, menikmati istirahat sebentar sebelum pekerjaannya yang semakin menumpuk.
.
.
.
Bersambung.....
lanjut thor
lanjut thor