Kembali dengan kisah keluarga Nugraha, kali ini adalah generasi termuda, ALENSKY yang berpindah tempat kuliah untuk sebuah ketenangan, namun pada akhirnya kembali pada pertarungan antara Cinta, Persahabatan dan Kekuasaan.
Perpaduan kisah yang menyeret kita untuk menggunakan emosi dan hati saat membacanya, ada kalanya ketidak Adilan yang lama membelenggu akhirnya harus terlepas oleh seseorang yang punya keberanian.
Persembahan sebuah Novel dari Author Sinho, semoga memberikan kesenangan dan manfaat bagi para pembaca.
Salam, sehat, semangat dan jangan lupa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alen 7
Setelah mata pelajaran pertama di lalui, seisi kampus gempar, siapa yang tak kenal dengan Tranaka dan juga mobil mewahnya yang bisa di bilang rumah ke duanya, bahkan bukan sembarangan orang yang bisa berada di dalam sana.
Dan kini kabar nasib mobil itu sudah menyapa banyak para mahasiswa.
Sementara itu, Tranaka masih diam sampai sang korban yang di intai akhirnya keluar juga.
"Kita ikuti?" Tanya Viko saat melihat Alensky baru saja keluar dari kelas.
"Biarkan dulu, tapi pastikan aku akan memberikan pelajaran di luar area yang tak terlihat cctv, dia harus di beri pelajaran yang setimpal" gumam Tranaka yang sudah mengeratkan rahangnya, dari awal bertemu, gadis itu seperti menebar genderang perang padanya.
Setelah Galen memberikan informasi dimana keberadaan Alensky, Tranaka dan Viko segera keluar dari kelasnya.
*
*
Sementara itu, Alensky yang baru saja keluar dari toilet kampus nya, di kejutkan dengan banyaknya wanita yang memandang ke arah nya.
"Ada apa ini, ada masalah apa mereka menatap ku seperti itu, dasar!" Alensky berusaha bersikap biasa saja, walau dalam hatinya ada rasa penasaran.
Melangkah dengan pasti menyusuri jalanan yang di rasa cukup aman, Alensky bersikap santai dan sesekali memeriksa ponselnya.
Tujuannya kali adalah melihat situasi dari cctv miliknya, dimana ada tempat yang nyaman dan aman terhindar dari wanita-wanita pengganggu yang pernah mendatangi nya.
Jalanan yang tidak terlalu ramai memang, namun saat Alensky hampir tiba di sebuah taman kecil yang teduh, dia mendengar perkataan salah satu mahasiswi yang berpapasan dengannya.
"Cantik tapi sinting"
"Berani sekali dia berurusan dengan Tranaka"
"Dia cari mati rupanya"
Begitulah kira-kira perkataan mereka saat menatap dirinya.
Alensky mengerutkan kening, sungguh dia tidak tau mengapa mereka berkata demikian.
"Tranaka?, laki-laki itu?, memangnya siapa yang berurusan dengannya?" Alensky bicara sendiri sambil melanjutkan langkahnya.
Baru saja tenang menikmati perjalanan, Alensky yang masih mengikuti rute teraman yang di lihat dari ponselnya nyatanya menemui sebuah kejutan.
"Sial!" Batinnya, lalu menaruh ponselnya kembali di dalam saku bajunya.
Ada tiga wanita yang nongol tiba-tiba, sengaja menghalangi jalannya dengan sorot mata yang sepertinya siap melahapnya, Alensky terpaksa berhenti.
Maju perlahan, ketiga wanita itu menatap Alensky seperti sedang menguliti.
"Jadi kau lagi rupanya?"
"Dan sekarang berani mengusik Naka"
"Sepertinya kamu memang menggali kuburan mu sendiri"
Mereka saling bersahutan dengan menatap Alensky tajam.
Masih terdiam, berusaha menahan semuanya, Alensky tidak cukup gila jika harus langsung bertindak dan membuat kekacauan di kampus barunya, apalagi ini masih beberapa hari, masih belum bisa, batinnya.
"Kau bisu?!" Akhirnya Meriya kesal dengan kediaman Alensky.
Sedangkan dua lainnya, sudah maju dan mulai melakukan aksi, salah satu tangan wanita yang bernama Nirina sudah menyentuh dadanya, mendorong cepat hingga membuat Alensky bergeser ke belakang beberapa langkah.
"Dasar Ja-lang sialan!" Teriaknya.
"Kau sengaja melakukan hal itu karena ingin mencari perhatiannya?!" Teriak wanita satu lagi yang tak lain adalah Soraya.
"Apa?" Akhirnya Alensky angkat bicara, tidak tahan juga mendengar perkataan tiga wanita sinting ini yang makin ngawur.
"Tidak usah berlagak tak tau apa-apa, kau sengaja merusak mobil Kesayangan Tranaka karena hal itu kan?" Sambung Meriya yang kini mulai maju mendekatinya.
Oh Tuhan, Alensky akhirnya baru mengerti, rupanya mobil mewah yang parkir di tempat yang tidak seharusnya itu adalah milik laki-laki yang bernama Tranaka, laki-laki yang di Raja kan atau apalah itu masa bodoh, batinnya, lalu Alensky tertawa lirih dengan kekonyolan mereka semua.
"Aku sangat tidak berminat sekali dengan laki-laki seperti itu, laki-laki yang kalian Raja kan itu, jadi silahkan kalian ambil saja, jangan mengganggu ku"
"Apa kau bilang, dasar Brengsek, kau yang mengganggunya!"
"Lalu ada hubungan apa dengan kalian?"
Tangan itu terangkat, siap-siap melayang di pipi Alensky sampai akhirnya sebuah suara mencegahnya.
"Dia milik Naka, biar dia yang memberikan pelajaran padanya!" Teriak laki-laki yang kini menghampiri tak lain adalah Galen.
Meriya terdiam, dan menarik tangannya, sedangkan Nirina yang berstatus adik tiri nya maju satu langkah lagi dan bersuara,
"Aku ingin memberi dia pelajaran juga kak"
"Ck, tidak usah membantah, dan aku bukan kakak mu, panggil sewajarnya saja" sahut Galen sedikit kesal dengan wanita full makeup di depannya.
Tiga wanita itupun pergi, mereka tersenyum senang karena sebentar lagi akan melihat bagaimana Alensky akan di cincang habis oleh Tranaka dan kawanan nya.
"Kau, Ikut aku!" Galen memberikan perintahnya.
Berharap wanita itu takut dan menuruti, tapi kenyataan berkata lain, Alensky justru berbalik pergi ke arah berlawanan dengan yang Galen inginkan.
"Shit!, hei kau!" Teriak Galen dan mengejarnya, lalu menghadang langkahnya.
"Dengar, aku ingin kuliah di kampus ini dengan baik, lulus tanpa ada masalah, apalagi masa dua minggu ini harus tenang, damai tanpa ada huru hara, jadi tolong, menyingkir dariku karena aku sudah mulai mual melihat kalian semua!" Alensky sudah tak tahan lagi dan menaikkan intonasi suaranya.
"Aku tak peduli, kau sudah merusak mobil Tranaka, apa kau sadar apa yang kau lakukan?" Kini satu orang lagi muncul, siapa lagi kalau bukan Viko teman satunya lagi.
"Itu karena kesalahan memarkir sembarangan, memangnya dia buta tidak tau dimana tempat parkiran mobil yang benar?" Jawab Alensky tak mau begitu saja di salahkan.
"Kau benar-benar cari masalah" ucap Viko yang kini sudah ada di samping Galen ikut menghadang.
Sudah tidak bisa lagi, kali ini Alensky benar-benar merasa bosan dan ingin segera pergi, tanpa mengucapkan kata-kata segera menerjang mereka berdua.
Terkejut, gerakan begitu cepat dan kedua orang itu hampir saja ambruk.
"Shit!" Umpat keduanya.
Alensky tersenyum senang, setidaknya ini menjadi pembelajaran, terlalu lama dia menahan diri saat ini, waktu nya pergi dan tak peduli lagi dengan urusan mobil dan juga sang pemiliknya, peduli setan!, batinnya.
Baru saja Alensky akan melanjutkan langkahnya, tiba-tiba saja tangan seseorang mencekalnya dengan sangat kuat.
"Akh!, sial, lepaskan!" Teriak Alensky berusaha meronta tapi tak ada hasilnya.
Tanpa kata dan tanpa aba-aba, Alensky di bawa begitu saja, ada hal aneh yang dirasakan saat tangan itu begitu kuat memegangi hingga Alensky terpaksa ikut pergi.
Melemparkannya ke sebuah ruangan kosong di belakang kampus.
BRUG
"Brengsek!" Alensky berusaha untuk bangun.
Namun apa yang dilakukan laki-laki itu membuatnya harus berteriak sekali lagi.
"Apa yang kau lakukan, buka!"
Hanya ada senyuman tipis di bibir laki-laki yang justru melakukan hal yang tak diinginkan oleh nya, menutup rapat pintu dan melempar kuncinya.
Alensky berdiri dan melangkah cepat menuju pintu yang kini tertutup rapat, dan saat Tranaka mendekat satu serangan diberikan dengan cepat.
"Wow, kau bisa bela diri?" Tranaka sedikit terkejut sesaat tadi.
"Lebih dari itu, aku bahkan bisa meniduri mu, mau bukti?"
Tranaka terdiam, menatap Alensky dan tersenyum tipis, berani juga gadis ini, batinnya.