Indonesia
NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Bertumbuh dan Naik Kelas

...****************...

Waktu berjalan tanpa suara di SMA Nusantara Jaya. Hubungan antara Alee dan Ramaditya yang awalnya berjarak bagaikan dua garis sejajar, perlahan-lahan terkikis oleh hari-hari yang mereka lalui bersama. Panggilan khas "Ketua" tetap meledak-ledak dari mulut Alee untuk Rama. Bedanya, jika dulu nada itu penuh kejahilan untuk menguji kesabaran sang Ketua Kelas, kini suara Alee menyimpan kehangatan dan rasa nyaman yang tak bisa disembunyikan.

Tembok es yang dulu membentengi diri Rama benar-benar lumer di hadapan Alee. Rama yang dulunya dikenal sangat irit bicara, kaku, dan hanya fokus pada buku-buku tebalnya, kini bertransformasi menjadi sosok yang jauh lebih hangat dan santai.

Hebatnya, hanya Alee yang punya kunci rahasia untuk meruntuhkan sifat dingin cowok itu. Di depan murid lain, Rama tetaplah Ketua Kelas yang tegas dan sopan. Namun di depan Alee, Rama bisa mengobrol panjang lebar tentang hal-hal acak, tertawa lepas, bahkan membalas godaan-godaan konyol Alee dengan sindiran halus yang bikin salah tingkah.

"Ketua! Lihat nih, catatan Sejarah gue rapi banget kan?" panggil Alee nyaring suatu pagi, menggebrak pelan meja Rama di barisan depan.

Rama mendongak dari bukunya, menatap Alee dengan tatapan geli sembari membetulkan letak kacamatanya. "Mana coba saya lihat?"

Rama menarik buku catatan ber-tinta warna-warni milik Alee, lalu menunjuk salah satu halaman. "Ini rapi sih, Alee... tapi tanggal Proklamasi kenapa kamu tulis tahun 1995? Kamu mau mempercepat atau memundurkan sejarah?"

Alee seketika melotot kaget, merampas bukunya kembali. "Eh! Seriusan?! Lah, gue salah tulis! Kan gue ngantuk pas Pak Hartono nerangin kemarin!"

Rama terkekeh pelan sebuah tawa renyah yang kini semakin sering terdengar setiap kali Alee berada di dekatnya. "Makanya, kalau jam pelajaran jangan meram-merem sambil pegang pulpen. Nanti sejarah Indonesia bisa berubah gara-gara catatan kamu."

"Dih! Ya bantu benerin dong, bukan malah diketawain! Dasar Pak Ketua jahat!" sungut Alee sambil menyenggol lengan Rama pelan.

---

Kedekatan mereka di sekolah pun merambat makin erat ke dunia maya. Pesan singkat WhatsApp yang dulu hanya berisi pertanyaan tugas formal, kini telah berubah menjadi tempat mereka berbagi cerita apa saja hingga larut malam.

Mulai dari Alee yang mengeluhkan jemarinya kapalan gara-gara ketagihan memetik gitar, Rama yang membagikan foto kucing liar di perpustakaan sekolah, hingga perdebatan tak berujung soal rasa es krim terenak.

Bahkan ketika Alee sedang kesulitan berlatih lagu baru di kamarnya, ia tak ragu menelepon Rama via voice call. Rama dengan sabar mendengarkan petikan gitar Alee lewat speaker telepon, memberikan petunjuk nada dari jauh dengan suara beratnya yang menenangkan, hingga tanpa sadar obrolan mereka berlanjut sampai tengah malam menceritakan impian-impian kecil mereka di masa depan.

Nara yang mengamati dari jauh hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Kedekatan Alee dan Rama bukan lagi rahasia terselubung. Siapa pun yang melihat mereka di koridor atau di bangku taman sekolah pasti bisa merasakan adanya chemistri kuat yang terbentuk di antara keduanya.

---

Bulan-bulan berlalu membawa cerita demi cerita. Musim ujian akhir semester kelas 10 berhasil terlewati dengan penuh perjuangan. Hari pengumuman kenaikan kelas yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba.

Papan informasi di lorong utama sekolah dipadati oleh ratusan murid yang berdesakan. Suasana riuh riang dan tegang bercampur menjadi satu. Alee yang bertubuh lebih mungil berjuang menerobos kerumunan, namun tangannya tiba-tiba ditahan oleh Rama.

"Jangan desak-desakan gitu, Alee, nanti kamu terdorong," ucap Rama tenang, memosisikan dirinya di depan Alee untuk membukakan jalan dengan tubuh tingginya.

Alee mengekor di belakang Rama, menatap punggung tegap cowok itu dengan dada yang berdesir hangat. Rasa aman mendadak melingkupi hatinya.

Begitu sampai di depan papan pengumuman, mata Rama meneliti kertas daftar nilai dan kelas dengan cepat. Jari Rama menunjuk satu titik di barisan atas.

"Lihat tuh, Alee," bisik Rama dekat di samping telinga Alee. "Nama kamu ada di nomor urut delapan."

Alee membelalakkan matanya, menatap nama lengkapnya Aleena Putri—tertera jelas di bawah kolom kelas baru: 11 MIPA 1.

"Gue naik kelas! Demi apa gue naik ke kelas 11?!" seru Alee antusias, menepuk bahu Rama kegirangan. "Terus lu kelas berapa, Ketua?"

Rama menyunggingkan senyum tulusnya yang paling hangat, menunjuk namanya sendiri yang berada tepat tiga baris di atas nama Alee.

"11 MIPA 1 juga," jawab Rama lembut. "Kita nggak berpisah, Alee. Kita satu kelas lagi."

Mendengar hal itu, perasaan lega dan bahagia luar biasa membuncah di dalam dada Alee. Spontan, Alee memegang kedua tangan Rama dan mengayunkannya riang. "Yes! Berarti gue masih punya alasan buat bikin lu pusing tiap hari di kelas 11!"

Rama tidak menarik tangannya. Ia hanya tertawa kecil, membiarkan jemari mereka saling tertaut sejenak di tengah kerumunan murid sebelum secara refleks mengacak pelan rambut Alee yang dikuncir kuda. "Iya, dan saya harus siap-siap makin ekstra sabar ngadepin kamu."

---

Hari pertama di kelas 11 MIPA 1 pun dimulai. Suasana kelas baru terasa familiar namun menyimpan energi yang bertambah hangat. Bangku-bangku telah diatur ulang, dan kali ini, tak ada lagi kecanggungan di antara mereka.

Meski Alee tidak duduk persis di sebelah Rama, jarak antarmeja mereka tak lagi menjadi penghalang. Gitar cokelat milik Alee kini bertengger rapi di samping mejanya di kelas 11 bukan lagi sebagai alibi untuk mencari perhatian, melainkan sebagai media kebersamaan mereka.

Saat jam kosong pertama berbunyi, Alee sengaja memangku gitarnya, lalu melambai ke arah Rama yang sedang duduk di meja guru.

"Ketua! Sini bentar dong! Ini ada kunci lagu yang dari kemarin gue coba tapi suaranya masih fals mulu!" panggil Alee penuh semangat.

Rama yang baru saja selesai mencatat jadwal pelajaran kelas 11 mendongak. Ia menyunggingkan senyum tipisnya yang khas, berdiri dari kursi, lalu berjalan melangkah menghampiri bangku Alee tanpa ragu sedikit pun.

Rama menarik kursi kosong di depan Alee, duduk berhadapan dengan jarak yang cukup dekat. "Kunci yang mana? Coba dipetik dulu, saya mau dengar," bisik Rama lembut.

Alee tersenyum lebar, jemarinya mulai menari di atas senar di bawah tatapan teduh sang Ketua Kelas. Di jenjang kelas 11 ini, mereka bukan lagi sekadar dua murid yang kebetulan bertemu di kelas yang sama. Mereka adalah Alee dan Rama dua anak manusia yang makin dekat, tumbuh bersama, dan saling menemukan kenyamanan dalam setiap detik kebersamaan mereka.

1
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!