perjuangan cinta aji sang pengusaha sukses begitu rumit dan panjang, mencintai dalam diam yang dia pendam selama bertahun-tahun tak membuat dia patah semangat mendapatkan sak kekasih. suci adalah wanita yang dia cintai dalam diam selama ini. akankah aji mendapatkan cintanya suci? di baca sampai akhir ya. terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kedatangan wulan
3 minggu kemudian
"ji, minggu depan pernikahannya masmu, kamu ndak ngajak pacarmu?" ucap bu Lina santai
"pacar siapa ma... cuma pacar, ndak serius"
"jangan mempermainkan perempuan ji" celetuk pak izam
"iya pa"
Tiba-tiba bel rumah keluarga izam berbunyi
"ada tamu ma" ucap pak izam kepada istrinya
Bu Lina keluar untuk melihat siapa yang berkunjung ke rumahnya
"aji ada tante"
"ada... masuk. kamu siapa nak"
"saya wulan tante" wulan memperkenalkan dirinya
"owww iya wulan... tante pangling lho.. kamu makin cantik aja sih. ayo masuk" bu Lina mengajak wulan masuk kedalam rumahnya
"aji... ada tamu nih" bu lina memanggil aji, tak lama kemudian aji keluar mengenakan celana kolor beserta kaos oblong
"wulan"
aji terkejut wulan tiba-tiba datang ke rumahnya tanpa mengabarinya terlebih dahulu
"duduk lan" aji mempersilahkan wulan untuk duduk di ruang tamu mewah miliknya
"ada apa kamu tiba-tiba kesini"
"kamu aku telpon ndak respon sama sekali ji"
"maaf, HP ku rusak, jatuh"
"trus kenapa ndak ke rumah"
"aku sibuk lan, kan sudah aku kasih tau kalau aku sekarang kerja di kantor papa" penjelasan aji
"ada tamu..." pak izam keluar dari dalam
"kenalkan pa, ini wulan"
wulan menyambut uluran tangan pak izam
"wulan... namanya cantik... secantik orangnya" pujian pak izam membuat wulan malu "ya sudah lanjutkan... ji. papa mau ke bantul sama mamamu, budemu pulang dari umroh
"iya pa"
Tak lama kemudian bu lina keluar dengan dandanan rapi tertutup
"mama tinggal ya ji... kamu di sini aja wulan, tunggu sampai tante pulang ya" ucap bu lina berpamitan
Setelah kepergian kedua orang tuanya aji mengajak wulan mengobrol ke teras belakang rumahnya
"ngobrol di belakang yuk lan, lebih santai"
wulan mengikuti aji dari belakang, menyusuri rumah mewah itu.
"bik, minumnya di bawa ke belakang aja ya" perintah aji ke asisten rumah tangganya
"duduk lan"
Wulan mengambil posisi duduk di depan aji
"kamu yakin ndak mau duduk di dekatku"
"kamu ini ya" wulan berpindah tempat duduk di sampingnya
"disitu panas, kamu nanti hitam"
"enak ya di sini... seger... tuh mangganya sudah mateng"
"mau?"
"mangga?" tanya wulan
"iya... mau? kalau mau aku ambilkan"
Wulan mengangguk
aji selalu bersikap lebih memperlakukan wulan, tidak salah jika wulan di buat baper karenanya. tak lama kemudian aji kembali sambil membawa 2 buah mangga kepada wulan
"bentar ya aku ambilkan pisau.. apa mau kamu kerikiti aja" canda aji
"kamu kira aku ini cipman?"
aji masuk kedapur mengambil pisau dan sebuah piring
"bik, sini aku bawa sekalian, minta pisau, garpu sama piring ya" pinta aji kepada bik mina
"baik den... pacar ya den? cantik"
"bik mina kayak mama... kepo" ucap aji sambil berlalu meninggalkan bik mina di dapur
"mau di kupaskan apa mau ngupas sendiri?"
"ngupas sendri" wulan meraih pisau dan memulai mengupas mangga arum manis itu
"aku kira kamu marah sama aku lan"
"memang aku marah"
"lantas kenapa ke sini kalau marah? kangen?" goda aji
"ndak boleh? aku pulang ni"
"kan marah lagi... sekarang sering marah ya. mau dapet?"
Wulan diam, serius mengupas mangga
"kenapa lihat aku seperti itu" ekor mata wulan melihat aji yang melihatnya dari tadi
"kamu tuh cantik, bagus kalau pake baju seperti ini"
"baju lagi.. baju lagi"
"lha memang iya..."
"jii..... aji...... " teriakan teguh memanggil aji
"aku di belakang mas"
Teguh menghampiri aji di teras belakang rumah
"eh ada tamu toh..." sapa teguh
"kenalkan mas, ini wulan. wulan ini masku teguh"
Mereka bersalaman
"kenapa mas?" tanya aji
"nanti tolong antarkan aku ke hotel Ibis ya ji"
"ngapain ke hotel mas?"
"salah satu kolega mau ke Jogja, minta mas antar keliling kota Jogja
"lha kan tinggal mas antar aja, kenapa harus aku antar?"
"mobil ku mogok tadi ji, trus sekarang pulang ganti baju trus berangkat lagi. bisa ya"
"lha ada wulan"
"ajak aja wulan.. oke lan"
"iya mas"
"sekarang mas?"
"satu setengah jam lagi"
"oke"
Teguh peninggalan wulan dan aji
"kamu tadi kesini naik apa lan?"
"tadi pake taksi online"
"tumben... kemana mobilmu?"
"sengaja ndak bawa mobil, pingin kamu antar pulang" ujar wulan sambil memotong buah mangga yang di kupas
"ya sdh nanti aku antar pulang, sekalian ngantar mas teguh"
"ji"
"hmmm.. apa"
"kamu marah sama aku?"
"bukan kamu yang seharusnya tanya seperti ini lan, harusnya aku yang tanya ke kamu, kamu marah sama aku? tapi tadi kan sudah kamu jawab"
"hmmm"
"hmmm aja?"
"apa aku salah jika berharap lebih dari ini ji? apa aku ndak pantas untuk menemanimu, menjadi pendamping hidupmu"
"kamu cantik, kamu baik lan. aku ndak bisa berbohong, aku masih berharap kepada suci"
"tapi apa yang kamu lakukan? mana pendekatanmu ke suci?"
"masih belum waktunya lan"
"kamu memberi harapan untuk ku seperti ini, membuat aku nyaman seperti ini dan akhirnya kamu mengharapkan wanita lain"
"maafkan aku ya lan"
"kamu terlalu hambbel untuk menjadi seorang teman ji"
"kamu sudah se cinta itu ke aku lan"
"cinta. sangat cinta. apa kamu ndak merasakan?"
"iya aku tau, harusnya kamu jangan terlalu mencintai yang belum tentu bisa kamu miliki lan"
"jangan beri aku harapan palsu, jadikan aku sebagai pilihanmu"
"lantas suci?"
"dia hanya cinta hayalanmu, yang kamu cintai dalam diam, tak berani kamu ucapkan"
"bukan ndak berani, tapi masih belum" tegas aji membuat wulan cemburu
"aku kecewa ji, seandainya waktu itu tidak terjadi, mungkin aku tidak se kecewa ini"
"anggap kemarin itu sebagai kesalahan lan, ya... dan memang sebuah kesalahan"
mereka diam
Waktu berjalan begitu cepat
"ji... sebentar lagi berangkat ya" ucap teguh
"iya mas... aku Siap-siap dulu ya. kamu tunggu aja disini"
"aku pulang aja sendirian ji"
"jangan... aku antar. nurut! " perintah aji
tak lama kemudian mobil aji melaju memecah kebisingan kota gudeg itu, banyak percakapan dan canda selama perjalanan.
"ji nanti turunkan aku di bengkel belakang hotel ya"
"mobil mas teguh di situ?"
"iya... "
Setelah mengantarkan teguh, aji melajukan mobilnya ke kediaman wulan
"kapan papamu kembali lan"
"kalau ndak minggu ini, minggu depan"
"adikmu jadi kuliah di Jepang?"
"jadi"
"kenapa kamu ndak ikut?"
"kuliah di Jepang?"
"iya... kan seru"
"ndak minat" ucap wulan singkat
"mampir beli makan yuk"
"mau makan apa?"
"pingin mie godog pak ri"
"siang bolong seperti ini mau makan mie panas?"
"kan pingin"
setelah menyantap habis mie pesanannya, aji mengantarkan wulan pulang
"masuk dulu"
aji menuruti tawaran wulan, memasuki rumah asri itu
"jangan bikin minum ya"
"kenapa? kenyang?"
"perutku sudah penuh dengan air, kalau di masukan ikan cupang mungkin bisa Berenang" wulan terkekeh dengan ucapan aji
wulan masuk sebentar kedalam rumahnya lalu duduk dengan manis di samping aji
Bergelendot manja di lengan aji sudh menjadi kebiasaan wulan
"maafkan aku ya" ucap aji
"maaf untuk apa?"
"maaf jika aku mengecewakanmu"
"hmmm.. akhirnya kamu sadar juga"
"aku akan berusaha belajar mencintaimu wulan" aji menatap dalam wajah cantik itu, membuat wulan gelagapan. selama ini baru kali ini aji mengucapkan kata-kata seromantis itu
"yakin?" tanya wulan memastikan ucapan aji
"pelan-pelan ya"
wulan semakin mengeratkan dekapannya di lengan kekar aji