Hidup tenang Bayu sebagai karyawan sekaligus selebgram hancur seketika saat ia harus mengasuh enam keponakan perempuannya yang super aktif. Namun, kemunculan "Sistem Om Level Dewa" mengubah segalanya dengan menjanjikan kekayaan tak terbatas asalkan ia berhasil membuat para keponakannya bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Kehadiran mobil mewah itu langsung menarik perhatian banyak orang di sekitar sana.
Beberapa ibu-ibu yang sedang berkumpul di lobi sekolah mulai berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah mobil Bayu.
"Itu mobil siapa ya, sepertinya orang tua murid baru atau tamu penting sekolah."
"Mobil Alphard keluaran terbaru itu harganya sangat mahal loh ibu-ibu."
Bayu mematikan mesin mobilnya dan menoleh ke belakang menatap Kania dan Bella.
"Nah anak-anak kita sudah sampai, bersiaplah untuk turun dan tunjukkan penampilan terbaik kalian hari ini."
Cklek.
Bayu membuka pintu geser otomatis dari bangku kemudi dan langsung turun dari mobil.
Saat Bayu melangkah keluar, beberapa orang tua murid yang mengenalnya langsung terkejut.
Mereka biasanya melihat Bayu menjemput keponakannya menggunakan sepeda motor tua atau taksi online.
Kania dan Bella ikut melompat turun dari mobil dengan wajah sangat ceria.
Mereka langsung menggandeng kedua tangan Bayu dengan bangga sambil berjalan memasuki area sekolah.
Sinta dan ketiga keponakan lainnya mengikuti dari belakang dengan langkah tenang.
Seorang wanita bertubuh gemuk dengan perhiasan emas mencolok di tangannya tiba-tiba menghadang jalan mereka.
Itu adalah Bu Tejo, salah satu orang tua murid yang terkenal sangat sombong dan suka pamer kekayaan.
Bu Tejo menatap Bayu dan anak-anak dari atas sampai bawah dengan pandangan meremehkan.
"Loh ini kan Mas Bayu pamannya Kania dan Bella, tumben sekali Mas Bayu berani datang ke acara sekolah elit ini."
"Biasanya kan ibunya anak-anak ini yang datang, lagian Mas Bayu sewa mobil dari mana pagi-pagi begini?"
Bu Tejo sengaja berbicara dengan nada keras agar ibu-ibu lain di sekitarnya bisa mendengar.
Dia sangat yakin pemuda berpenampilan sederhana seperti Bayu tidak mungkin mampu membeli mobil semahal itu.
Kania menundukkan kepalanya karena merasa malu diejek oleh orang tua temannya sendiri.
Namun Bayu tetap tenang dan memberikan senyuman paling manis yang dia miliki.
"Selamat pagi juga Bu Tejo, kebetulan kakak saya sedang sibuk jadi saya yang mewakilinya hari ini."
"Dan soal mobil, rasanya itu bukan urusan Ibu saya menyewa atau membelinya dengan uang saya sendiri kan."
Wajah Bu Tejo langsung memerah padam mendengar balasan tajam namun santai dari Bayu.
"Heh pemuda sombong, aku hanya bertanya baik-baik karena aku tahu betul keluargamu itu bukan orang kaya."
"Jangan-jangan kau meminjam mobil majikanmu hanya untuk pamer di depan kami semua ya?" Beberapa ibu-ibu teman Bu Tejo mulai tertawa pelan mendengar ejekan tersebut.
Bayu menghela nafas pendek merasa bosan dengan drama murahan ala ibu-ibu arisan ini.
"Bu Tejo, mulut Ibu sepertinya butuh disekolahkan lagi agar bisa membedakan mana emas asli dan mana kuningan murah."
"Saya permisi dulu karena keponakan saya harus segera bersiap-siap untuk tampil dan bukan untuk mendengarkan gosip murahan."
Bayu langsung memimpin Kania dan Bella berjalan melewati Bu Tejo yang sedang mematung karena kesal.
Sinta yang berjalan di belakang bahkan sempat menjulurkan lidahnya ke arah Bu Tejo untuk mengejek wanita itu.
Mereka berjalan menuju aula utama sekolah yang sudah dipenuhi oleh deretan kursi dan panggung besar.
Bayu memilih tempat duduk tepat di barisan paling depan agar bisa melihat penampilan keponakannya dengan jelas.
Tidak lama kemudian, acara pentas seni pun akhirnya dimulai dengan berbagai sambutan dari kepala sekolah.
"Om, aku gugup sekali takut nanti salah menari," bisik Bella sambil meremas ujung kemeja Bayu.
"Tidak perlu gugup Bella, anggap saja semua orang di sini adalah patung bebek yang sedang menontonmu."
"Menarilah dengan gembira dan Om akan merekam semuanya menggunakan ponsel Om."
Bella mengangguk semangat dan langsung berlari ke belakang panggung bersama Kania.
Satu jam berlalu dengan berbagai penampilan dari anak-anak kelas lain.
Hingga akhirnya pembawa acara memanggil kelompok Kania dan Bella untuk naik ke atas panggung.
Prok prok prok.
Bayu bertepuk tangan dengan sangat keras melebihi suara tepuk tangan orang tua lainnya.
Kania dan Bella tampil sangat cantik dengan pakaian tari tradisional yang berwarna-warni.
Mereka mulai menari mengikuti alunan musik gamelan dengan gerakan yang sangat luwes dan menggemaskan.
Bayu berdiri dari kursinya dan merekam penampilan mereka dari awal hingga akhir tanpa berkedip.
Dia merasa sangat bangga melihat keponakannya bisa tampil percaya diri di depan ratusan orang.
"Mereka berdua ternyata sangat berbakat, Mbak Rini pasti menyesal tidak bisa melihat ini secara langsung."
Setelah musik selesai, kelompok Kania dan Bella memberikan salam hormat kepada para penonton.
Sorak sorai penonton bergema di dalam aula tersebut menandakan penampilan mereka sangat menghibur.
Kania dan Bella segera berlari turun dari panggung dan langsung menghambur ke pelukan Bayu.
"Om Bayu melihat kami menari kan? Kami tidak melakukan kesalahan sama sekali kan Om?" tanya Kania dengan nafas terengah.
"Kalian berdua tampil sangat luar biasa dan sangat cantik hari ini, Om sangat bangga pada kalian."
[Ding!]
[Misi Insidental Berhasil Diselesaikan!]
[Tuan telah membuktikan diri sebagai wali yang membanggakan dan memberikan dukungan penuh kepada keponakan.]
[Poin Kasih Sayang Keponakan bertambah 10 Poin.]
[Total Poin Kasih Sayang saat ini: 20/100 Poin.]
[Hadiah Uang Tunai Seratus Juta Rupiah telah berhasil ditransfer ke rekening Tuan.]
Bayu tersenyum lebar saat mendengar suara mekanis dari sistem berbunyi di kepalanya.
Ting.
Notifikasi dari m-banking masuk ke ponselnya menandakan bahwa uang seratus juta itu sudah nyata berada di tangannya.
"Menjadi paman yang baik ternyata sangat menguntungkan secara finansial dan juga emosional."
Bayu mengusap kepala Kania dan Bella secara bergantian dengan penuh kasih sayang.
"Karena kalian sudah tampil hebat hari ini, Om akan membelikan hadiah apa saja yang kalian mau sepulang dari sini."
Mata kedua gadis kecil itu langsung berbinar-binar seperti bintang di malam hari.
"Sungguh Om? Aku mau beli boneka beruang yang besarnya seukuran lemari pakaian!" teriak Bella kegirangan.
"Aku mau beli alat gambar yang lengkap dengan ratusan pensil warna Om," sahut Kania tidak mau kalah.
"Tentu saja boleh, kita akan memborong seluruh isi toko mainan nanti siang."
Bu Tejo yang duduk tidak jauh dari mereka kembali mencibir saat mendengar janji Bayu tersebut.
"Halah paling juga beli mainan obralan di pasar malam, gayanya saja yang selangit pakai Alphard sewaan."
Bayu menoleh ke arah Bu Tejo lalu mengeluarkan Kartu Blackcard miliknya dengan gerakan santai.
Dia sengaja memutar kartu itu di tangannya agar pantulan cahayanya mengenai wajah Bu Tejo.
"Bu Tejo, apakah Ibu pernah melihat kartu hitam seperti ini sebelumnya?" tanya Bayu dengan nada mengejek.
Bu Tejo menyipitkan matanya mencoba melihat kartu apa yang sedang dipegang oleh Bayu.
Beberapa orang tua murid pria yang kebetulan lewat dan bekerja di bidang perbankan langsung menghentikan langkah mereka.
"I-itu kan Kartu Blackcard prioritas utama, tidak sembarang orang bisa memiliki kartu itu," gumam salah satu dari mereka.
Mendengar gumaman tersebut, wajah Bu Tejo perlahan berubah menjadi pucat pasi.
Dia mungkin tidak tahu detail tentang kartu itu, tapi reaksi orang-orang di sekitarnya sudah cukup menjelaskan betapa pentingnya kartu tersebut.
"Kau tidak usah menakut-nakutiku dengan kartu mainan dari plastik itu Bayu," balas Bu Tejo dengan suara yang mulai bergetar.
Bayu hanya tertawa pelan lalu memasukkan kembali kartu itu ke dalam sakunya tanpa menjelaskan lebih lanjut.
"Sudahlah anak-anak ayo kita bergegas pergi dari sini, udara di dekat orang sombong sangat tidak bagus untuk kesehatan paru-paru kalian."
Bayu menggandeng Kania dan Bella untuk melangkah keluar dari aula meninggalkan Bu Tejo yang masih mematung karena malu dan penasaran.
Sinta terkikik geli melihat pamannya yang kini sangat pintar membuat orang-orang sombong kehilangan kata-kata.
"Om Bayu yang sekarang benar-benar jauh lebih keren dan menakutkan daripada sebelumnya."