Indonesia
NovelToon NovelToon
TERGODA SUAMI SAHABATKU

TERGODA SUAMI SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Pelakor / Disfungsi Ereksi / Saling selingkuh
Popularitas:481
Nilai: 5
Nama Author: Yovan Gunardio Darmawan

Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7 — Cuma Video Kucing

Tiga hari kemudian, Dimas pulang membawa martabak.

Nara sedang membersihkan kuas ketika ia menaruh kotak di meja dapur. Dua rasa yang selalu ia pesan dulu, sebelum mereka menikah.

“Makan dulu. Nanti dingin.”

Nara mencuci tangan.

Dimas mengambilkan piring. Ia memotong bagian yang masih terlalu besar, mendorongnya ke depan Nara, lalu duduk di sebelahnya.

“Aku kemarin banyak pikiran,” katanya.

Nara menunggu.

“Pembukaan cabang kacau. Orang gudang salah kirim. Pulang lihat kamu juga susah diajak ngomong, aku jadi…”

Ia mengangkat bahu.

Nara menggigit sedikit martabak. Gula dan mentega terasa terlalu manis di lidahnya.

“Jangan telepon orang dari ponselku lagi.”

Dimas berhenti mengunyah.

“Aku cuma memastikan.”

Nara meletakkan makanan.

“Orang itu kerja. Dia nggak perlu menjawab pertanyaan rumah tangga kita.”

Dimas menghela napas, lalu mengangguk.

“Ya. Aku minta maaf.”

Ia meraih tisu, membersihkan remah di dekat piring Nara.

“Aku jemput hari itu juga karena khawatir. Kamu tahu sendiri kalau sudah ngobrol sama Maya suka lupa waktu.”

Nara hendak membantah bahwa ia belum lama di sana. Ia melihat martabak, piring yang disiapkan Dimas, dan wajah laki-laki itu yang tampak sungguh ingin malam ini berjalan baik.

“Aku bisa pulang sendiri.”

“Iya. Aku tahu.”

Dimas menyentuh bahunya.

Malam itu mereka menonton televisi. Tidak ada pertengkaran. Ketika Nara berdiri mengambil minum, Dimas bertanya apakah mau dibukakan botol baru, bukan ke mana ia pergi.

Ia hampir bisa santai.

Ponselnya berbunyi. Video dari grup seniman: seekor kucing terperosok ke dalam kotak yang terlalu kecil.

Nara tertawa.

Dimas langsung menoleh.

“Siapa?”

Nara berhenti tertawa.

Ia belum menjawab ketika tubuh Dimas sudah bergeser mendekati layar.

“Cuma video kucing.”

Ia memiringkan ponsel. Kucing di layar menggerakkan kaki, gagal keluar, lalu berguling bersama kotaknya.

Dimas menonton beberapa detik.

“Oh.”

Nara menekan jeda.

Dimas melihat wajahnya dan buru-buru tersenyum.

“Maaf. Refleks.”

Ia mengecup pelipis Nara.

“Lucu. Kirim ke aku.”

Nara mengirimkannya dan memaksakan senyum, lalu meletakkan ponsel dengan layar menghadap sofa.

Televisi kembali memenuhi ruangan. Dimas tertawa pada acara yang ditonton, tangannya tergeletak di paha Nara seperti beberapa tahun lalu.

Nara memandangi layar tanpa mengikuti ceritanya.

Bagian paling menakutkan bukan pertanyaan tadi. Ia sudah tahu bagaimana menjawabnya. Ia bahkan bisa menunjukkan video sebelum Dimas meminta.

Yang membuatnya sesak adalah betapa cepat tubuhnya menyiapkan pembelaan ketika suaminya bergerak.

Apakah begini juga sepuluh tahun lagi?

Ia membayangkan dirinya lebih tua, duduk di sofa yang lain, masih tersenyum setelah diperiksa karena tidak ingin merusak malam yang sebenarnya cukup baik.

Dimas mencium rambutnya lagi.

Nara membiarkannya.

* * *

Pada hari kelima tanpa kabar Nara, Adrian pulang lebih cepat.

Maya sedang duduk di lantai ruang kerja, dikelilingi contoh kain dan papan warna. Ia mengangkat kepala ketika melihat suaminya.

“Tumben.”

“Rapat besok dipindah daring.”

Adrian meletakkan tas, lalu jongkok di sampingnya.

“Yang mana?”

Maya menunjuk dua potongan kain. “Kliennya minta hangat, tapi nggak mau kuning, nggak mau oranye, nggak mau cokelat.”

“Jadi mau apa?”

“Kalau aku tahu, aku sudah kaya.”

Adrian tertawa. Maya ikut tertawa; sudah beberapa hari ia tidak bisa mengobrol sesantai ini dengan suaminya.

Ia menyerahkan papan warna. Adrian memegangnya sementara Maya memindahkan kain.

Mereka bekerja hampir setengah jam. Adrian tidak pandai memilih tekstur, tetapi ia bisa menahan papan tanpa mengeluh dan mengingat kode warna yang Maya sebutkan.

“Ini,” kata Maya akhirnya.

“Yang tadi kamu buang?”

“Jangan bahas proses kreatif orang.”

Adrian tersenyum, lalu membantu membereskan lantai.

Maya memesan makanan. Mereka makan di meja dapur, membicarakan pekerjaannya dan satu pegawai kantor Adrian yang selalu salah mengirim lampiran.

Ponsel Adrian diletakkan di meja. Sekali menyala, ia melihat nama pengirim lalu membiarkannya.

Maya melihat juga. Pesan kantor.

Adrian tahu istrinya masih memeriksa.

Ia tidak menegurnya.

Sesudah makan, Maya bersandar kepadanya saat mencuci gelas. Adrian meletakkan spons, mengeringkan tangan, lalu memeluknya.

Maya memejamkan mata di dadanya.

“Capek,” katanya.

“Aku tahu.”

“Bukan cuma kerjaan.”

Adrian merapatkan pelukannya. Ia tahu Maya masih terluka oleh pertengkaran mereka, tetapi saat ini istrinya mau tetap dipeluk. Ia pun tidak melepaskannya.

Malam itu mereka kembali saling mencari. Lampu dipadamkan, percakapan berhenti, dan selama beberapa waktu Maya tidak bertanya apakah suaminya sedang memikirkan orang lain.

Sesudahnya ia berbaring dekat Adrian, menggambar garis kecil di lengannya dengan ujung jari.

Adrian mencium keningnya.

Maya menarik selimut sampai menutupi bahu.

“Aku tadi lihat bayi kakaknya klienku,” katanya.

Adrian menggumam, masih setengah mengantuk.

“Kecil banget. Tidur terus, tangannya begini.” Maya melingkarkan jarinya pada telunjuk suaminya.

Adrian tersenyum di dalam gelap.

Maya tidak melepaskan tangannya.

“Yang.”

“Hm?”

“Aku pengin kita punya anak.”

Adrian membuka mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!