H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.
Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.
Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN YANG DITUKAR
Taksi berwarna biru melaju pelan sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah orang tua Mahika. Suara deru mesin mobil yang halus memecah keheningan gang di siang menuju sore itu. Dari dalam kabin, Mahika menatap lurus ke arah bangunan yang dinding luar dan catnya baru saja dipugar total tiga bulan lalu tentu saja menggunakan uang hasil komisi proyek desain besarnya.
Mahika membayar ongkos taksi, lalu melangkah turun. Sopir taksi membantunya mengeluarkan dua koper berukuran besar berwarna abu-abu gelap dari bagasi belakang.
Mahika berdiri tegak di samping dua kopernya. Sorot matanya tak lagi meredup oleh rasa cemas atau kesedihan. Tidak ada lagi sisa-sisa air mata yang tadi siang membasahi pipinya di kafe. Hanya ada tatapan dingin, tajam, dan penuh kendali.
Ia tahu persis, saat ini Gisella dan Reno masih berada di luar, menikmati kemenangan semu mereka di kafe tersembunyi itu. Ini adalah momen emas. Momen bagi Mahika untuk meretas jalan masuk kembali ke rumah ini bukan lagi sebagai anak penurut yang selalu ditindas dan dituntut mengalah, melainkan sebagai sosok yang siap mengambil alih kendali.
Klek.
Mahika mendorong pintu pagar kayu yang sedikit berdecit. Bunyi roda koper yang bergesekan kasar dengan semen jalan setapak membuat suasana teras mendadak riuh.
Pintu utama kayu jati terkuak dari dalam. Bu Maya keluar dengan daster batik panjangnya, wajahnya dipenuhi kerutan bingung. Namun, begitu pandangannya jatuh pada Mahika yang berdiri anggun memegangi dua koper besar, matanya terbelalak kaget.
"Mahika?" panggil Bu Maya dengan nada suara meninggi karena terkejut. "Kamu... kenapa kamu pulang bawa-bawa koper begini?"
Mahika tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, menikmati aroma udara rumah yang sebentar lagi akan menjadi arena permainannya. Ia mengukir senyum tipis di bibirnya sebuah senyuman yang belum pernah dilihat oleh ibunya selama ini.
"Ada apa, Ibu tanya?" Mahika mengulang pertanyaan itu dengan nada tenang, hampir tanpa beban. "Memangnya aneh ya kalau seorang anak pulang ke rumah orang tuanya?"
Bu Maya tersentak, sedikit gugup melihat ketenangan anak sekundernya yang terasa ganjil. "Eh... bukan seperti itu, Mahika! Kan kamu sendiri yang bilang waktu itu, kamu baru mau balik menetap di rumah ini H-3 sebelum akad nikah? Lagian... dari rumah ini ke kantor kamu kan jauh, memakan waktu hampir satu jam. Kamu biasanya paling malas kalau harus macet-macetan."
"Oh, soal itu gampang, Bu," sahut Mahika santai, matanya menatap lurus pada manik mata ibunya. "Aku punya uang. Dan sekarang zaman sudah semakin canggih, jadi bisa kok aku pakai taksi online bolak-balik tiap hari."
Bu Maya mengernyitkan dahi, menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi kan boros, Mahika! Uang taksi bolak-balik begitu bisa ratusan ribu sehari. Lebih baik..."
"Lebih baik apa, Bu?" potong Mahika cepat. Suaranya memotong kalimat ibunya bagai pisau yang menyayat kain, tegas dan tak terpatahkan. "Uangnya dikasih ke Kak Gisel, iya?"
Bu Maya tertegun. Mulutnya ternganga sejenak, tak percaya dengan sindiran tajam yang baru saja meluncur dari bibir anak yang selama ini dikenal sangat sopan dan tak pernah membantah.
"Mahika!" tegur Bu Maya, raut wajahnya berubah merah padam karena tersinggung. "Gisella itu Kakak kamu! Kenapa kamu jadi bicara ngelantur dan sinis begitu, sih?"
"Ya memang aku harus seperti ini, Bu," balas Mahika tenang, langkah kakinya maju satu tindak mendekati ambang pintu. "Permisi, Bu. Aku mau masuk ke rumah aku."
Kata rumah aku yang diucapkan Mahika dengan penekanan dingin membuat dada Bu Maya berdesir hebat. Amarah wanita tua itu mendadak memuncak.
"Mahika! Ini kan rumah Ibu sama Bapak!" sahut Bu Maya dengan nada tinggi, matanya melotot tajam. "Kenapa kamu bilang ini rumah kamu, hah? Kamu kenapa sih? Setan apa yang merasuki kamu sampai jadi pembangkang begini?!"
Setan apa?
Ingin rasanya Mahika tertawa keras di depan wajah ibunya. Ingin sekali saat ini juga ia berteriak dan menumpahkan kenyataan menjijikkan yang baru saja ia lihat dengan matanya sendiri di kafe sore tadi. Ingin ia katakan bahwa anak kesayangan ibunya Gisel sedang merengek di pelukan Reno, memohon agar pernikahan adiknya dibatalkan demi hubungan terlarang mereka.
Namun, Mahika menahan diri rapat-rapt. Jemari tangannya mengepal erat di dalam saku kardigan.
"Tidak. Belum waktunya."
Jika ia membongkar semuanya sekarang hanya berdasarkan adegan merajuk dan rekaman percakapan di kafe, ibunya pasti akan membela Gisel mati-matian. Bu Maya akan mencari seribu alasan untuk memaklumi tindakan Gisel atau bahkan menuduh Mahika cuma salah dengar dan memperkeruh suasana menjelang pernikahan. Reno dan Gisel pun bisa dengan mudah mengelak, memutarbalikkan fakta, dan berlindung di balik topeng 'kakak-adik sepupu' yang lugu.
Mahika butuh bukti yang tak terbantahkan. Bukti berupa foto, video, dokumen, dan momen yang akan menghancurkan mereka berdua sekaligus di depan umum, tanpa memberi mereka celah untuk lari sedikit pun.
Mahika menghembuskan napas perlahan, meredakan gemuruh emosi di dadanya. Senyum dingin itu kembali terpasang di wajahnya.
"Rumah Ibu?" Mahika menyapu pandangannya ke arah langit-langit teras, pilar-pilar beton yang kokoh, dan cat dinding yang mengilap. "Ibu lupa ya? Atap rumah ini yang bocor parah dua tahun lalu, siapa yang bayar tukangnya? Pagar ini, keramik teras ini, sampai sofa di dalam yang biasa Ibu pakai buat duduk santai... uang siapa yang dipakai buat beli semuanya, Bu?"
Bu Maya bungkam seketika. Lidahnya mendadak terasa kelu.
"Aku cuma mau menikmati apa yang sudah aku bangun pakai keringatku sendiri," lanjut Mahika halus, namun sarat akan ancaman terselubung. "Jadi, tolong pinggir sedikit, Bu. Aku capek dan mau masuk ke kamar."
Tanpa menunggu balasan dari ibunya yang masih berdiri mematung dalam guncangan syok, Mahika memegang erat gagang kedua kopernya, lalu melangkah lebar melewati Bu Maya dan masuk ke dalam rumah.
Suara Roda koper yang diseret di atas lantai keramik bergema di lorong rumah. Pak Bambang yang mendengar keributan itu bergegas keluar dari arah dapur.
"Lho, Mahika?" Pak Bambang terkejut melihat anak sekundernya membawa koper-koper besar. "Kok... kamu pulang bawa barang sebanyak ini, Nak? Ada masalah sama kosan kamu?"
Mahika menghentikan langkahnya sejenak. Menatap wajah ayahnya, ada sedikit rasa iba yang tersisa. Pak Bambang adalah satu-satunya orang di rumah ini yang tidak berniat jahat padanya, walau sayangnya terlalu lemah untuk membelanya.
"Enggak ada masalah sama kosan, Pak," jawab Mahika, nadanya melembut dibanding saat berbicara pada ibunya. "Mahika cuma mau tinggal di rumah sampai hari pernikahan nanti. Biar Mahika bisa ikut memantau semua persiapannya langsung."
Bu Maya berjalan menyusul dari belakang dengan langkah menyentak, wajahnya masih diliputi amarah. "Pak! Lihat anakmu ini! Datang-datang bukannya cium tangan malah ngomongnya ngawur! Dia bilang ini rumah dia! Dia juga nuduh-nuduh Gisel yang enggak-enggak."
Pak Bambang menatap istrinya, lalu beralih menatap Mahika dengan pandangan bingung dan khawatir. "Mahika... kamu sebenarnya kenapa, Nak? Ada masalah sama Reno?"
Pertanyaan ayahnya membuat dada Mahika berdenyut nyeri sejenak. Namun ia segera menguasai diri.
"Enggak ada masalah apa-apa kok, Pak," sahut Mahika tersenyum tipis. "Sama Reno baik-baik saja. Malah sore ini Reno bilang dia mau datang ke sini."
Reno memang sempat berjanji di kafe tadi bahwa ia akan berpura-pura bersikap biasa dan mengantar barang ke rumah ini untuk menyempurnakan drama mereka.
"Nah, kalau sama Reno baik-baik saja, kenapa sifat kamu mendadak kasar begitu sama Ibu?" semprot Bu Maya tak mau kalah.
Mahika memutar tubuhnya, menatap ibunya dengan tatapan lurus yang membuat Bu Maya mendadak bungkam kembali.
"Aku enggak kasar, Bu. Aku cuma berhenti berpura-pura jadi anak yang selalu nurut dan mengalah," tegas Mahika pelan namun mantap. "Mulai hari ini, apa pun yang berhubungan sama acara pernikahan aku, rumah baru aku, dan uang aku... enggak akan ada satu orang pun di rumah ini yang boleh campur tangan. Termasuk Kak Gisel."
"Kamu.."
"Mahika mau ke kamar dulu," potong Mahika dingin sebelum ibunya sempat mengamuk lagi.
Ia menyeret kedua kopernya menuju kamar masa kecilnya. Sebelum menutup pintu, Mahika menoleh sebentar ke arah lorong.
"Oiya, Bu," panggil Mahika. "Nanti kalau Kak Gisel sama Reno datang, tolong panggil aku ya. Ada hal menarik yang mau aku bahas sama mereka berdua."
Klik.
Pintu kamar terkunci dari dalam.
Mahika menyandarkan tubuhnya di balik pintu kayu yang rapat. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Di dalam kamar yang hening itu, Mahika meletakkan tas tangannya ke atas meja belajar.
Ia merogoh ponsel pintar dari tasnya, mematikan mode hening, lalu membuka aplikasi catatannya.
Tiga puluh hari menuju hari H.
Mahika mengetik sebuah daftar strategi dengan cermat memindahkan seluruh aset tabungannya ke rekening baru yang tak diketahui siapa pun, membatalkan secara sepihak hak akses Reno terhadap dokumen-dokumen penting rumah baru dan menyiapkan perangkap untuk membongkar perselingkuhan Gisella dan Reno di waktu yang paling mematikan.
Selama delapan tahun, mereka mengenalnya sebagai Mahika yang polos, lembut, penurut, dan mudah dimanfaatkan. Mereka lupa, seorang arsitek dan desainer seperti dirinya tidak hanya ahli membangun sesuatu yang indah, tetapi juga sangat paham bagaimana cara meruntuhkan sebuah bangunan hingga menjadi puing-puing tak berharga.
Mahika menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Wajah anggun berhijab itu kini dipenuhi oleh aura ketegasan yang tak tergoyahkan.
"Kalian yang memulai permainan beracun ini," bisik Mahika pada pantulan dirinya di cermin, mata indahnya berkilat tajam dalam temaram kamar. "Maka aku yang akan memastikan bagaimana cara permainan ini berakhir."
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
😂😂😂😂😂😂