Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Jika Nabila sampai menangis histeris di tempat umum, berarti ada sesuatu yang sangat fatal sedang terjadi padanya.
"Rapat bubar! Kerjakan ulang semua laporan sampah ini dan serahkan padaku besok pagi!" perintah Leon dengan suara sedingin es.
Leon langsung berjalan cepat meninggalkan ruang rapat tanpa menunggu balasan dari anak buahnya yang masih kebingungan.
"Siapkan mobilku sekarang juga! Kita ke mall pusat kota detik ini juga!" teriak Leon pada asisten pribadinya yang berjaga di luar ruangan.
"Baik, Tuan Wegan! Saya akan perintahkan pengawal untuk segera membuka jalan," jawab asisten bernama Budi itu.
Budi langsung berlari sambil menelepon tim keamanan untuk menyiapkan konvoi.
Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, konvoi tiga mobil SUV hitam pekat sudah melesat membelah jalanan ibu kota.
Ngiung... Ngiung...
Suara sirene pengawal meraung-raung menyuruh semua kendaraan menyingkir dari jalur mobil CEO Wegan Group tersebut.
Leon duduk di kursi belakang dengan kedua tangan bertaut dan raut wajah yang sangat gelap gulita.
Pikirannya terus berputar memikirkan ucapan Nabila tentang anak mereka yang ditukar enam tahun lalu.
"Kalau apa yang dikatakan Nabila itu benar, aku bersumpah akan mencincang siapa pun pelakunya," batin Leon dengan niat membunuh yang sangat pekat.
Tidak butuh waktu lama bagi konvoi mobil mewah itu untuk tiba di pelataran mall yang sangat luas tersebut.
Ciiit!
Suara rem berdecit keras saat ketiga mobil itu berhenti mendadak tepat di depan lobi utama mall.
Belasan pengawal berjas hitam langsung melompat turun dari dalam mobil.
Mereka membentuk barisan barikade untuk mengamankan area lobi dari kerumunan pengunjung yang penasaran.
Leon keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa dan matanya langsung menyapu seluruh area lobi mall tersebut.
Pemandangan pertama yang dilihatnya sukses membuat nafas pria arogan itu tertahan di tenggorokan.
Istri cantiknya yang selalu tampil elegan kini duduk bersimpuh di atas lantai lobi yang berdebu kotor.
Gaun mewahnya kotor terkena tanah dan riasan wajahnya luntur oleh air mata yang terus mengalir deras.
Namun yang membuat Leon benar-benar terkejut adalah sosok yang sedang dipeluk erat oleh istrinya itu.
Seorang anak pengemis kecil yang sangat kotor, berbau, dan berpakaian compang-camping memprihatinkan.
"Nabila," panggil Leon dengan suara serak sambil melangkah cepat mendekati istrinya.
Nabila mendongak saat mendengar suara suaminya yang sangat dia butuhkan kehadirannya saat ini.
"Leon! Kamu akhirnya datang!" tangis Nabila langsung pecah semakin keras melihat suaminya.
Nabila menahan bahu Luna agar gadis kecil itu tidak bisa melarikan diri dari hadapan suaminya.
Luna sendiri hanya bisa menunduk gemetar melihat rombongan pria-pria bertubuh besar berbaju hitam yang tiba-tiba datang.
"Istriku, bangunlah dulu dari lantai. Bajumu dan lututmu kotor semua," bujuk Leon berjongkok di hadapan Nabila.
Leon mencoba meraih lengan istrinya untuk membantunya berdiri dari lantai yang keras itu.
Plak!
Nabila menepis tangan Leon dengan cukup keras hingga membuat para pengawal di sekeliling mereka terkesiap kaget.
Tidak ada orang yang berani memukul tangan CEO Wegan Group selain istrinya sendiri.
"Lihat dia, Leon! Tatap wajah anak ini sekarang juga!" bentak Nabila memaksa suaminya menatap pengemis kecil itu.
Leon mengerutkan keningnya merasa tidak nyaman namun dia tetap menuruti perintah istrinya yang sedang emosi.
Leon menatap wajah kotor gadis kecil yang sedang menundukkan kepalanya dalam-dalam karena ketakutan itu.
"Nona kecil, bisakah kau mengangkat wajahmu sedikit menatapku?" pinta Leon dengan nada yang dibuat selembut mungkin.
Luna perlahan mengangkat wajahnya yang berlumuran debu jalanan itu dengan ragu-ragu.
Gadis kecil itu menatap langsung ke mata tajam Leon Wegan yang berada tepat di depannya.
Deg!
Tubuh Leon terasa seperti tersambar petir siang bolong yang berkekuatan jutaan volt.
Mata hitam legam pria itu seketika membesar melihat cetakan wajah yang sangat tidak asing di matanya sendiri.
Gadis kecil ini memiliki rahang, hidung, dan sorot mata yang persis sama dengan pantulan dirinya sendiri saat menatap cermin.
Kemiripan ini terlalu fatal dan terlalu akurat untuk dianggap sebagai sebuah kebetulan semata.
Bahkan orang awam sekalipun bisa merasakan aura genetik keturunan Wegan yang mengalir kuat di wajah anak ini.
"Ini... wajah ini..." gumam Leon kehilangan kata-katanya untuk pertama kalinya seumur hidupnya.
"Kamu melihatnya kan, Leon?! Dia mencetak wajahmu dengan sangat sempurna!" isak Nabila kembali memeluk lengan Luna.
Leon masih membeku di tempatnya mencoba menekan logika bisnisnya yang selalu menuntut bukti nyata.
"Tapi Nabila, wajah yang mirip di dunia ini ada banyak. Kita tidak bisa langsung menyimpulkan tanpa bukti medis," ucap Leon mencoba tetap rasional.
Nabila tertawa miris di sela tangisannya mendengar jawaban suaminya yang terlalu logis itu.
"Kamu mau bukti? Aku akan tunjukkan bukti yang tidak akan pernah bisa kamu bantah seumur hidupmu!" tantang Nabila dengan mata menyala.
Nabila dengan tangan gemetar menyibakkan rambut kusut Luna yang menutupi daun telinga sebelah kirinya.
"Lihat ini, Leon! Lihat tahi lalat hitam kecil di belakang telinganya ini!" tunjuk Nabila dengan jari telunjuknya.
Leon mendekatkan wajahnya untuk melihat lebih jelas ke arah yang ditunjuk oleh istrinya yang sedang menangis.
Sebuah tahi lalat hitam kecil yang bentuknya sangat khas langsung terpampang nyata di depan mata Leon.
Ingatan Leon langsung ditarik paksa kembali ke masa enam tahun lalu saat dia menggendong bayinya di ruang bersalin.
Dia ingat betul sempat bercanda dengan Nabila bahwa bayi mereka punya tanda lahir unik di belakang telinganya.
Tanda lahir yang keesokan harinya menghilang entah ke mana saat bayi itu hendak dibawa pulang.
Saat itu perawat bilang itu hal yang normal karena tanda lahir kadang bisa memudar dengan sendirinya.
Kedua tangan Leon yang tadinya berada di atas lutut kini langsung terkepal sangat kuat.
Saking kuatnya dia mengepalkan tangan, buku-buku jarinya memutih dan kuku jarinya menancap ke telapak tangannya sendiri.
Suara gemeretak gigi yang beradu terdengar sangat jelas dari rahang tegas Leon Wegan.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget