Menceritakan tentang perjalanan cinta seorang gadis yang tak pernah peduli dengan cinta. Dia hanya mencintai satu orang yang menjadi teman masa kecilnya dulu.
Sampai pada akhirnya, sosok itu kembali, tapi bukan untuk melengkapi cinta nya.
Lantas bagaimanakah kisah cinta seorang Quena, apakah dia akan menemukan kembali sang cinta sejatinya dan akan menjadi cinta pertama dan terakhirnya?
Dan bagaimanakah perjuangan dua sosok laki- laki yang mengharap balasan cinta dari Quena?
Mampu kah mereka mencairkan kebekuan di hati Quen setelah dia kehilangan kepercayaan akan cinta
"Jika sedari dulu aku tau, bahwa menanti mu akan sesakit ini, lebih baik aku tak pernah mengenal mu dalam hidup ini."
Angela Quena Saputri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fharisa Janny Alfarisy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7. Pertengkaran
Kring kring kring
Tepat setelah Quen pergi dari taman, lonceng masuk berbunyi, ternyata teman-teman Quen sudah tiba sejak tadi.
Mereka menunggu Quen karena ingin mengatakan sesuatu pasti nya.
"Wah loe berangkat sekolah pagi banget Quen gue gak nyangka."
Ucap Maura senang.
"Iya gue salut sama loe, ternyata perubahan loe gak butuh waktu yang lama."
Sambung Prilli antusias.
"Loe harus pertahankan Quen."
Tambah Sintia mendukung.
"Karena loe sampai ke sekolah lebih awal dari kita, loe berhak dapet hadiah."
Ucap Aurel.
"Pasti nya seorang Quen gitu loh, apa sih yang susah gue lakuin."
Ucap Quen memuji diri nya sendiri.
"Btw nanti pulang sekolah ke rumah gue ya, kita happy - happy gitu, kalian mau kan."
Ajak Quen pada semua nya.
"Oke - oke aja sih, kita gak ada acara kok."
Sahut mereka menyetujui ajakan Quen.
"Kita udah siapin hadiah buat loe di mobil, nanti di rumah loe kita kasih."
Ucap Aurel dengan senyuman.
"Ya berhubung loe berhasil, gue bakal traktir loe selama seminggu."
Ucap Prilli menepati janji nya.
"Ya gue juga akan isi bensin loe selama seminggu."
Tambah Maura seperti janji nya.
"Wah uang jajan loe bakal utuh dan mulus Quen selama seminggu ini."
Ucap Sintia.
"Pasti nya."
Ucap Quen senang.
Bagaimana dia tidak senang bagai mendayung dua pulau, hadiah dan uang jajan utuh selama seminggu. Sungguh keberuntungan.
Kapan lagi dia bisa mendapat bonus plus - plus dari teman - teman nya.
Tak tak tak
Suara sepatu memenuhi lorong kelas menandakan Guru yang akan mengajar sudah datang.
"Anak-anak kumpulkan makalah yang sudah kalian buat, dan setelah itu buatlah tugas yang sudah saya siapkan di lembaran fotocopy ini."
Ucap Bu Siska Guru Kesenian.
****
"Anak-anak untuk minggu depan kalian harus membawa semua bahan-bahan yang tertulis di papan, kalian akan mengerjakan tugas ini dengan berkelompok,kelompok nya masih kelompok yang sama saat kalian MOS dulu."
Ucap Bu Siska pada murid nya.
"Baik Bu."
****
Quen dan kawan-kawan ingin pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah sedari tadi meronta - ronta.
Di perjalanan Quen bertemu dengan geng kakak kelas yang melabrak nya.
"Hey loe cewek udik, gue peringatin ya sama loe, gak usah kecentilan ngedeketin pacar gue, Edward itu cuma milik gue, jadi loe lebih baik jauh - jauh dari dia atau gue akan buat loe angkat kaki dari sekolah ini."
Ucap cewek menor bin pakaian kurang bahan memarahi Quen.
"Ooo loe pacar nya atau cewek yang udah gak punya rasa malu lagi, yang gue tau ya Edward itu gak pernah pacaran sama siapapun, jadi loe gak usah ngaku-ngaku dan nyalahin gue,
kalau gak laku ya gak usah sewot dong."
Ucap Quen penuh penekanan.
"Apa loe bilang awas loe ya....."
Ucap Silvia hendak menampar Quen, tapi belum sempat tangannya menyentuh pipi Quen, ada tangan lain yang menahan tangan nya dengan keras, ketika dia lihat ternyata yang menahan tangan nya adalah Edward.
Tatapan mata Edward penuh kemarahan saat ini, berani sekali wanita tak tau malu itu menampar Quen.
Untung dia bisa mencegah nya.
Jika sampai Silvia benar-benar menampar Quen dia akan buat perhitungan.
"Apa-apaan loe, kenapa loe mau nampar Quen apa salah dia sama loe, gak ada kan, jangan pernah loe berpikir loe bisa semena - mena, karena loe kakak kelas di sini, kalau lain kali loe berani buat nampar Quen lagi, loe bakal berurusan sama gue dan gue bakal laporin loe sama kepala sekolah, Camkan itu."
Ucap Edward panjang lebar membela Quen.
'dan satu lagi berhenti loe berharap sama gue,
karena selama nya gue gak akan pernah suka sama cewek gak tau sopan santun kayak loe'
Tambah Edward pedas tak membiarkan Silvia bicara sepatah kata pun.
"Edward gue bisa jelasin tapi..."
Belum sempat Silvia menyelesaikan ucapan nya.
Edward sudah berlalu dengan menggandeng tangan nya Quen.
Pemandangan ini justru membuat semua murid yang berada di lorong kelas berteriak dan patah hati.
Sejak kapan seorang Edward menggandeng tangan seorang wanita.
Bahkan melirik nya saja tidak pernah.
Tak hanya murid lain yang syok dengan kejadian barusan, Silvia melihat nya dengan air mata yang tak dapat dia bendung.
Edward selalu menolak nya.
Menggubris perkataan nya saja tidak pernah.
Tapi wanita itu baru sehari dia kenal, tapi Edward melakukan apapun untuk nya.
"Kenapa loe jahat banget sama gue Edward,
kenapa, kenapa, selama ini gue pikir gue masih ada harapan buat bersama loe, tapi nyatanya, harapan gue musnah hari ini."
Ucap Silvia benar -benar hancur.
"Sil udah, buat apa loe tangisi cowok yang sedikit pun gak peduli sama loe, move on Sil."
Ucap Vera sahabat nya Silvia.
"Loe pikir cinta gue buat dia cuma tulisan, setelah di tulis ketika udah gak bagus lagi bisa di hapus begitu aja, loe gak ngerti Vera gimana perasaan gue."
Ucap Silvia berlalu pergi meninggalkan teman -teman nya.
"Loe itu udah di buta kan oleh cinta Sil, sampai loe gak nyadar kalau cinta loe udah bertepuk sebelah tangan."
Ucap Citra yang tak lain adalah teman Silvia.
Disekolah ini ada satu geng kakak kelas yang terdiri dari Silvia dan teman-teman nya.
Mereka ada tiga orang.
Pertama Silvia Elivina Rasti.
Sifat nya pemarah dan berambisi.
Sebenarnya dia baik, tapi karena dia terlalu tempramental jadi sifat baik nya kalah dengan sifat buruk nya itu.
Dia sangat mencintai Edward.
Mereka berteman sejak kecil, dulu mereka sangat dekat, karena itulah Silvia jatuh cinta pada Edward.
Tapi sayang Edward tak pernah mencintai nya.
Dia hanya menganggap Silvia sebagai teman saja. Mereka selalu masuk ke sekolah yang sama.
Tapi setelah kepergian sang mama.
Edward sudah berubah tak ramah seperti dulu.
Bahkan kepada Silvia pun dia tak peduli.
karena Silvia terlalu berambisi.
Tapi sayang seribu sayang cinta nya bertepuk sebelah tangan.
Kedua Vera Isyani Lesti.
Sifat nya centil dan manja.
Tapi dia bijak di saat-saat tertentu.
Dia sangat menyayangi sahabat nya.
Dia akan melakukan apapun untuk kebahagiaan orang yang dia sayangi.
Ketiga Citra Olivia Santi
Dia galak dan pemarah.
Dan lebih kurang nya sama seperti teman-teman nya.
****
KANTIN
Edward masih mengandeng tangan Quen walaupun Quen sudah memberontak sedari tadi, tapi dia tak berniat melepaskanya malah semakin erat menggenggam, sampai Quen mulai kesal pada nya dan diam tak memberontak lagi hanya mengikut kemana Edward akan membawa nya.
Ternyata Edward membawa Quen ke kantin.
Disana sudah ada duo kakak Quen dan teman -teman nya.
"Adk gue kok bisa sama loe, wajah nya kenapa kusut gitu, wah udah main gandeng-gandengan aja, mau gue potong tangan loe."
Ucap Arion posesif pada Edward.
Perasaan baru kemaren mereka bertemu udah main gandeng-gandengan aja.
Walaupun orang itu adalah teman nya sendiri tetap saja dia tidak suka.
Tidak boleh ada yang menyentuh adk nya itu.
Dasar brother posesif.
"Tadi adk loe di labrak sama Silvia, dia hampir aja mau nampar Quen, kalau aja gue gak kebetulan lewat disana."
Ucap Edward setelah duduk.
"Kurang ajar tu cewek, berani banget dia mau nampar adk gue, biar gue kasih pelajaran tu orang."
Ucap Samuel marah hendak bangkit menemui Silvia, tapi di tahan oleh Quen.
"Udah lah kak, gue juga gak kenapa-kenapa kan, ayolah gak usah dibesar-besarin, lebih baik kakak duduk dan makan yang banyak."
Ucap Quen lembut berusaha menenangkan sang kakak.
Samuel memang cenderung tenang, tapi jika menyangkut soal adk kesayangan nya dia tak pandang itu wanita atau pria.
"Tapi gue ...."
Belum sempat Samuel meneruskan ucapan nya, Quen sudah memasukkan satu buah bakso kedalam mulutnya.
"Gue gak terima penolakan."
Ucap Quen yang masih menyuapi kakak nya.
"Andai loe bisa seperhatian itu sama gue Quen,
gue pasti bahagia banget, karena apa pun yang loe lakuin menjadi sebuah bumbu yang menaburi kesedihan gue."
Batin Edward melihat Quen yang menyuapi Samuel.
Cemburu coy.
****
novel nya penuh kejutan.
Judulnya Secret Admirer😉
Gimana jadinya kalau kalian berpisah dari si doi, tapi saat bertemu malah berubah si doi nya.
Sakit gak sih.