Dari utara Italia, Fiorella diculik dan dijual ke sebuah klub gelap di Rusia—dunia tempat para mafia, polisi korup, dan pengusaha berkuasa membeli tubuh perempuan seperti membeli barang. Gadis tujuh belas tahun yang dulu punya sejuta mimpi kini hanya punya satu: bertahan hidup.
Lalu ia dibeli oleh Burian, bos mafia Rusia yang dingin, kejam, dan tergila-gila padanya sejak pandangan pertama. Di tangan Burian, Fiorella menemukan neraka sekaligus gairah yang tak pernah ia mengerti—cinta dan kebencian yang saling membakar, membelenggu keduanya lebih erat daripada rantai mana pun.
Tapi pengkhianatan, darah, dan luka mengubah segalanya. Ketika Fiorella akhirnya lolos dari cengkeraman sang mafia, ia tak kembali sebagai korban. Ia kembali sebagai Sang Ratu Putih—dan kali ini, dialah yang datang untuk menagih setiap utang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alendra rivero, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
JUDUL: HARAPAN YANG HANCUR.
Fiorella
Vladimir menawarkanku begitu saja, seolah aku tak lebih dari barang, dan aku merasa terpojok. Bagaimana mungkin aku hidup seperti ini? Berpindah dari lelaki satu ke lelaki lain. Seumur hidup, tak pernah kubayangkan akan berakhir begini.
"Ayo bergerak, klub tutup satu jam lagi," kata Vladimir.
"Aku tidak mau, aku tidak mau. Anda sudah cukup banyak menghasilkan uang dariku."
Kata-kata itu meluncur dari bibirku dengan sendirinya. Aku menolak kehidupan seperti ini.
"Vladimir, ada apa ini?" Marcos muncul. "Bukankah dia anak serigala milik bosku?"
"Burian tidak memesannya sebagai miliknya. Lagi pula sekarang belum pukul enam pagi, masih ada satu jam untuk terus mengeruk uang darinya," jawab Vladimir.
"Tunggu sampai aku bicara dengan bosku. Kau tahu betul dia tidak suka berbagi perempuannya."
"Kuberi kau sepuluh menit. Kalau tidak, dia akan kembali bekerja."
"Ayolah, Vladimir," Mijail ikut menimpali. "Aku pelanggan yang lebih baik daripada Burian. Aku dan kekasihku datang ke sini berharap bisa menikmati salah satu serigala baru, tapi kau sangat tidak sopan pada kami. Kau tawarkan yang terbaik pada Burian, dan sisanya pada Faddei."
"Kalau kau tak mau bermasalah dengan bosku, jangan menginginkan sesuatu yang bukan milikmu," sahut Marcos.
Fiorella
Tubuhku gemetar ketakutan sementara para lelaki menjijikkan itu bertengkar seolah mereka pemilik kami. Marcos yang tadi lalu pergi, dan sesaat aku memohon dalam hati agar ia kembali. Namun sepuluh menit berlalu dan ia tak kunjung datang.
"Ayo, cantik. Burian tak berminat padamu," kata Mijail.
Aku mendengarnya dengan kepala berdenyut. Aku tak mau tidur dengan lelaki ini, wajahnya seperti wajah psikopat. Perempuan di sampingnya berdiri, lalu berdiri di belakangku, menyelipkan tangannya ke dalam jubahku dan meraba dadaku.
Pandanganku jatuh ke lantai dengan putus asa, lalu lenganku ditarik. Aku melangkah terhuyung di antara lelaki dan perempuan itu sampai tiba di sebuah kamar yang berlebihan dan mewah secara konyol.
Tubuhku menegang saat merasakan tangan perempuan itu melucuti jubah dari tubuhku. Aku menangis tersedu, mengutuk diriku yang terlahir sebagai perempuan, mengutuk orang-orang keparat ini.
Namun setitik harapan berdengung di telingaku.
"Sial, siapa itu?" umpat lelaki telanjang di hadapanku.
Lalu kudengar suara Sonya.
"Maaf mengganggu, saya Sonya. Maaf atas kesalahan ini, tapi Fiorella sudah dipesan sebagai VIP."
Begitu mendengarnya, senyum bahagia terukir di bibirku.
Lelaki itu menutupi tubuhnya dengan jubah dan keluar dari kamar. Dari luar terdengar suara Sonya dan Vladimir berdebat dengannya. Lalu mereka bertiga masuk. Wajah Vladimir tegang, bahkan bisa dibilang ia ketakutan.
"Ini penghinaan," kata Mijail. "Dan tak akan kubiarkan begitu saja. Kau sudah tidak menghormatiku."
"Aku berjanji akan menggantinya," ujar Vladimir. "Bulan ini ada gadis-gadis baru masuk, bahkan lebih muda, dan tentu saja masih perawan. Kau akan dapat satu gratis, semua atas tanggungan rumah ini."
"Demi kebaikanmu sendiri, kuharap kau membawakanku anak-anak serigala yang bagus. Kalau tidak, kau akan dapat masalah." Setelah berkata begitu, Mijail berpakaian lalu keluar bersama perempuan yang tampak sangat marah.
"Berpakaianlah, apa lagi yang kau tunggu?" Vladimir menghardikku. "Ini semua salahmu. Sekarang aku terjebak masalah besar. Burian memesanmu sebagai VIP untuk dirinya, tapi ia mengadu, katanya kau kasar padanya."
Setelah selesai memarahiku, ia keluar sambil membanting pintu di belakangnya, meninggalkanku berdua dengan Sonya.
"Berpakaianlah dan kembali ke kamarmu," kata Sonya.
"Tais dan Magdalena, di mana mereka?" tanyaku.
"Mereka pergi bersama Burian. Ia membayar keperawanan mereka, dan juga membayar untuk memiliki mereka. Ia membeli mereka."
"Apa ia juga akan membawaku bersamanya? Apa aku akan pergi dari sini?"
"Tidak. Kau VIP, ia memesanmu supaya kau hanya menjadi miliknya, tapi ia tidak membelimu. Kau sangat bodoh. Kau punya kesempatan keluar dari sini dan kau menyia-nyiakannya."
Jantungku nyaris berhenti mendengarnya. Sesaat kukira aku akan keluar dari tempat ini, tapi ternyata tidak. Aku harus tetap tinggal.