Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Gemuk Sang Mafioso

Pengantin Gemuk Sang Mafioso

Status: tamat
Genre:Mafia / Wanita perkasa / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: AUTORAATENA

Isabella Moretti tahu betul hidup bukan dongeng. Sebagai putri seorang prajurit Cosa Nostra, ia tumbuh di pinggiran dunia berdasi dan berdarah — gadis gemuk berlidah tajam yang tak pernah sudi menundukkan kepala pada siapa pun, sekejam apa pun kata-kata yang dilemparkan padanya. Ia punya senyum yang menolak padam, dapur sebagai kerajaannya, dan satu prinsip: tak ada yang boleh membuatnya merasa kecil.

Lalu satu perintah mengubah segalanya.

Sang Don menikahkannya dengan Leon Ravelli — Caporegime termuda dan paling ditakuti dalam sejarah keluarga, si "Hantu" yang konon membunuh istrinya sendiri, lelaki dingin bagai marmer yang tak menanggung rasa bersalah. Pernikahan tanpa cinta, tanpa pilihan, antara monster tak berperasaan dan perempuan yang menolak diperlakukan sebagai barang dagangan.

Isabella tak berniat jadi istri pajangan yang penurut. Dan Leon tak pernah menyangka bahwa perempuan yang diremehkan seluruh dunia justru satu-satunya yang berani menatap matanya tanpa gentar — lalu perlahan menyeret cahaya ke dalam kegelapan yang ia kira permanen.

Tapi di dunia tempat pengkhianatan dibayar dengan nyawa, ada bayang-bayang dari masa lalu Isabella yang mengintai dari kegelapan. Seseorang yang selama ini mengawasi. Seseorang yang percaya bahwa jika ia tak bisa memilikinya, tak seorang pun boleh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AUTORAATENA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8 — ISABELLA

Gaun itu datang dalam kotak putih berpita emas yang diantar langsung oleh penjahitnya, dengan ekspresi orang yang baru saja menciptakan sesuatu dan ingin melihat reaksi si pemakai.

Aku menatap kotak itu selama dua menit sebelum membukanya.

Bukan lebay, bukan drama. Hanya saja, membuka kotak itu membuat semuanya terasa lebih nyata dengan cara yang selama ini berhasil kujaga tetap berjarak aman di dalam kepalaku. Selama gaun itu masih tersimpan tertutup dalam kotak, ia hanyalah sepotong kain. Begitu kukenakan di tubuh, ia akan menjadi hal lain.

Kubuka.

Warnanya putih, dengan korset yang menyusun bentuk tubuh, rok yang jatuh berat dan anggun, belahan dada yang menonjolkan tanpa berlebihan, dan belahan di sisi rok yang kuminta sendiri. Sebab kalau memang harus memakai gaun pengantin, aku akan memakainya dengan caraku, atau tidak sama sekali. Penjahit itu menjahit setiap lekuk dengan ketelitian yang membuatku tak sanggup membantah.

Cantik. Aku benci mengakuinya, tapi memang cantik.

Perlahan kukenakan di depan cermin kamar, lalu berdiri menatap diriku sendiri selama waktu yang tak bisa kuukur. Perempuan di cermin itu tampak seperti aku, tapi ada sesuatu yang berbeda. Bukan di tubuh, bukan di wajah, melainkan pada sesuatu yang lebih halus, yang tak bisa kuberi nama dengan tepat.

Ia tampak seperti perempuan yang sebentar lagi akan melangkah masuk ke kehidupan yang sama sekali berbeda dari yang selama ini dikenalnya.

Karena memang itulah yang sedang terjadi.

Kutinju lipstik merah yang kutinggalkan di meja rias, sekadar punya sesuatu yang nyata untuk kulakukan dengan tangan, lalu kutarik napas dalam-dalam lewat hidung.

Saat itulah Ayah mengetuk pintu.

"Bella, boleh Ayah masuk?"

"Aku lagi pakai gaun."

"Ayah tahu. Ayah mau lihat."

Kubuka pintu.

Ayah menatapku dari atas ke bawah dengan ekspresi yang sudah bertahun-tahun tak kulihat di wajahnya. Sejak aku berusia sekitar tujuh tahun, saat ia menjemputku di sekolah membawa bunga karena aku memenangkan lomba menggambar, dan ia datang terlambat ke acara itu, lalu terus menatapku dengan campuran bangga dan rasa bersalah yang tak pernah benar-benar hilang dari wajahnya.

"Ya Tuhan." Ia berkata pelan.

"Jangan mulai."

"Kamu ini—"

"Ayah. Jangan mulai, aku mohon."

Ia masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu berdiri di tengah kamar tanpa tahu harus meletakkan tangannya di mana. Dimasukkannya ke saku, ditariknya lagi, disilangkannya di dada, dilepaskannya lagi.

"Cantik sekali, Bella."

"Terima kasih." Singkat, datar, tanpa memberi ruang bagi kalimat itu untuk berubah jadi percakapan penuh perasaan. Aku masih marah, belum reda, dan gaun cantik tak menghapus apa yang sudah terjadi.

Ia menyadarinya. Ia mengenal putrinya.

"Kamu belum akan memaafkan Ayah sebelum besok." Itu bukan pertanyaan.

"Tidak."

"Tidak apa-apa."

Hening.

Aku kembali ke cermin dan berdiri membelakanginya, membetulkan belahan rok dengan perhatian yang lebih dari perlu, hanya supaya ada sesuatu untuk kufokuskan.

"Ayah takut lelaki itu membuatmu tak bahagia." Ayah berbicara pada bayanganku di cermin. "Itu yang tak bisa Ayah singkirkan dari kepala. Bahwa setahun, dua tahun dari sekarang, kamu akan jadi redup. Bahwa semua urusan ini akan mengambil dari dirimu segala hal yang membuatmu jadi kamu."

Kulepaskan roknya dan kutatap ia lewat cermin.

"Kalau begitu, harusnya Ayah memikirkan itu sejak awal."

Ia menundukkan kepala.

"Harusnya begitu." Ia mengiyakan tanpa membela diri. "Harusnya Ayah memikirkannya, tapi Ayah tak berpikir jernih. Ayah cuma memikirkan ketakutan kehilangan kamu dengan cara lain, dan Ayah salah melangkah. Ayah tahu Ayah salah."

Aku berbalik menghadapnya.

"Aku tidak akan redup, Ayah." Kuucapkan dengan ketegasan yang perlu kurasakan sama besarnya seperti ia perlu mendengarnya. "Lelaki itu boleh jadi apa pun, boleh menatapku dengan wajah bencinya seumur hidup, boleh dingin, tertutup, dan tak tertahankan. Tak masalah. Aku tahu siapa aku. Aku tumbuh sambil tahu siapa aku tanpa ada seorang pun di sisiku yang mengingatkan setiap hari. Aku belajar itu sendiri. Ia tak akan bisa mengubahnya."

"Kamu yakin?"

"Yakin." Aku tak ragu. "Satu-satunya yang bisa meredupkan aku adalah aku sendiri. Dan aku sama sekali tak berminat melakukan itu."

Ia menatapku lama, lalu perlahan mendekat, meletakkan kedua tangan di bahuku dengan kehati-hatian besar yang selalu ia miliki setiap kali menyentuhku, seolah aku sekaligus hal paling rapuh dan paling tangguh yang pernah ia kenal.

"Maafkan Ayah kalau kamu sudah bisa." Ia mengulang apa yang pernah ia katakan sebelumnya.

Kali ini aku tak pergi tanpa menjawab.

Kutatap wajahnya. Lelah, umur yang bertambah, cinta yang begitu besar yang tertulis di setiap garisnya. Aku mengembuskan napas.

"Aku sudah memaafkan Ayah." Kuucapkan pelan. "Cuma aku masih marah. Kedua hal itu bisa muat bersamaan."

Ia memejamkan mata sedetik.

Ketika membukanya, matanya memerah, seperti yang selalu ia bersumpah tak pernah terjadi.

Ia memelukku dengan seluruh kekuatan seorang ayah yang memeluk putrinya, tahu bahwa keesokan harinya sang putri akan menjadi milik dunia yang tak lagi bisa ia kendalikan. Aku membiarkannya, membenamkan wajah di bahunya, dan tinggal di sana sejenak, menjadi sekadar Isabella kecil yang merindukan ayahnya bahkan saat ia berdiri tepat di sisinya.

"Besok akan jadi hari tersulit dalam hidupmu sejauh ini." Ia berbisik di rambutku.

"Aku sudah pernah melewati hari-hari sulit."

"Ayah tahu." Ia mempererat pelukannya. "Karena itu Ayah tahu kamu akan melewati yang ini juga."

Aku menjauh sebelum sesuatu yang tak ingin kubiarkan keluar benar-benar keluar. Kuseka sudut mata dengan ujung jari, hati-hati agar tak merusak riasan, kurapikan gaunku, lalu kembali menghadap cermin.

Perempuan yang menatapku balik masih aku. Tetap aku.

Itu harus cukup untuk sekarang.

"Ayah boleh keluar. Aku harus bersiap."

Ia berjalan ke pintu, berhenti dengan tangan di gagangnya.

"Isabella."

"Ya."

"Terlepas dari apa pun—" ia tak menatapku, ia berbicara pada pintu, "—kamu adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup Ayah. Selalu begitu."

Aku tak menjawab.

Kutunggu ia menutup pintu, baru kubiarkan senyum itu muncul. Kecil, miring, jenis senyum yang muncul saat kita tak ingin merasakannya, tapi tetap saja merasakannya.

Besok akan jadi hari neraka.

Tapi hari ini masih milikku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!