Indonesia
NovelToon NovelToon
Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:471
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.

Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.

Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 – Seseorang yang Mencarimu

“Takdir selalu tahu siapa yang harus dipertemukan. Hanya saja, ia tidak pernah menjelaskan kapan dan dalam keadaan seperti apa.”

--

Pagi itu, matahari bersinar lebih hangat dibanding beberapa hari sebelumnya. Hujan yang sempat mengguyur Jakarta akhirnya berganti dengan langit biru yang cerah. Cahaya matahari menembus dinding kaca Adhyaksa Jewellery, memantulkan kilauan keemasan pada berbagai prototype perhiasan yang tersusun rapi di ruang desain.

Alina sudah berada dikantornya, namun sebagian besar karyawan masih belum datang. Di hadapannya terbentang beberapa lembar sketsa baru. Tangannya bergerak perlahan, menyempurnakan detail sebuah liontin berbentuk bunga melati.

Setiap kelopaknya dibuat tipis dengan lekukan yang lembut, sementara bagian tengahnya direncakan menggunakan satu butir berlian kecil sebagai pusat perhatian. Pagi itu pikirannya terasa lebih ringan, mungkin karena semalam ia memutuskan untuk berhenti memikirkan hal-hal yang belum tentu benar.

“Aku ini benar-benar berlebihan.”

Birendra tidak pernah berubah, yang berubah hanyalah isi pikirannya, dan ia tidak ingin membiarkan ketakutan kecil merusak hubungan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.

Di lantai paling atas, Birendra baru saja menyelesaikan rapat singkat dengan jajaran direksi. Begitu semua orang keluar dari ruangan, ia tetap duduk untuk sejenak seraya memandangi sebuah map berwarna hitam yang terletak di atas mejanya.

Di dalam map tersebut tersimpan beberapa desain cincin yang telah direvisi semalam bersama Celine. Salah satunya adalan desain dengan enam kelopak melati yang kini menjadi favoritnya. Birendra mengusap pelan gambar tersebut, ia masih mengingat jelas hari ketika Alina bercerita tentang ibunya.

Wanita itu juga bercerita tentang halaman rumah mereka yang selalu dipenuhi oleh bunga melati, hingga kebiasaan sang ibu menyelipkan setangkai melati kecil di rambut Keira dan Alina setiap pagi ketika mereka masih kecil.

“Melati itu sederhana, tapi wanginya selalu tertinggal.” Kata Alina waktu itu.

Sejak hari itu, setiap kali melihat bunga melati, Birendra selalu teringat pada wanita yang dicintainya. Lamunannya buyar saat ada yang mengetuk pintu ruangannya, Celine masuk seraya membawa sebuah map tipis.

“Aku sudah menghubungi pengrajin yang kemarin.”

“Jadi bagaimana?”

“Mereka sanggup mengerjakannya.” Mendengar itu membuat Birendra bernapas lega. Celine juga tampak memperhatikan wajah sahabatnya untuk sesaat. “Kamu kelihatan gugup.” Ucapnya yang ditimpali tawa kecil dari pria dihadapannya.

“Apa separah itu?” Celine mengangguk. “Aku bahkan belum melamarnya.” Lanjut Birendra lagi dan membuat Celine tersenyum tipis.

“Orang yang biasa negoisasi kontrak miliaran rupiah ternyata bisa gugup hanya karena satu cincin.” Birendra hanya menggeleng seraya terkekeh.

“Ini jauh lebih sulit, karena aku tidak sedang mencari persetujuan klien.” Tatapannya beralih pada desain cincin di atas meja. “Tapi, aku sedang meminta seseorang menghabiskan sisa hidupnya bersamaku.” Ucapnya lagi yang membuat ruangan hening.

Mendengar hal itu membuat Celine tersenyum, ia benar-benar ikut bahagia, karena tidak pernah terlintas sedikit pun dalam pikirannya untuk menjadi lebih dari seorang sahabat bagi Birendra, yang ia inginkan hanyalah melihat lelaki itu mendapatkan kebahagiaan yang selama ini pantas ia miliki.

Di sisi lain kota, sebuah mobil berwarna abu-abu berhenti di depan sebuah kafe kecil. Seorang pria turun perlahan, usianya sekitar tiga puluh tahun. Tubuhnya tinggi dengan penampilan rapi yang sederhana, kacamata tipis bertengger di hidungnya, memberi kesan tenang dan dewasa.

Pria itu memasuki kafe tanpa tergesa. Di sudut ruangan telah duduk seorang wanita yang lebih tua beberapa tahun darinya. “Akhirnya datang juga.” Ucap wanita itu yang ditimpali dengan sebuah senyum tipis dari pria tersebut.

“Maaf, tadi ada rapat.” Ujarnya. Wanita dihadapannya pun segera menggeser sebuah map ke hadapannya.

“Ini data yang kamu minta.”

Pria tersebut membuka map itu secara perlahan. Didalamnya terdapat beberapa lembar dokumen, salah satunya adalah sebuah foto, foto seorang wanita yang tengah tersenyum seraya memegang beberapa sketsa desain—Alina.

Tatapan pria itu berhenti cukup lama pada foto tersebut, ia menghembuskan napasnya pelan sebelum akhirnya berkata, “Jadi benar? Dia memang bekerja di Adhyaksa Jewellery.” Wanita dihadapannya mengangguk.

Pria itu tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip kelegaan dari pada kebahagian.

“Akhirnya aku menemukan dia,”

“Kamu yakin itu orang yang kamu cari?” Pria itu kembali memandang foto tersebut dan langsung mengangguk dengan mantap.

“100%.”

“Kamu mau langsung menemuinya?” Tanya wanita itu dengan ragu, namun pria itu segera menggeleng. “Kenapa?” Tanyanya lagi dan pria itu kembali menatap foto Alina yang masih berada dalam genggamannya.

“Aku ingin memastikan dulu..” ia berhenti untuk sejenak. “.. apakah dia masih mengingatku atau tidak.” Lanjutnya.

--

Sore harinya, Alina memutuskan untuk pulang lebih cepat, karena Keira mengajaknya memilih beberapa perlengkapan rumah yang belum sempat mereka beli sejak menikah. Meski telah hampir setahun membangun rumah tangga, Keira dan Raka masih sering menghabiskan waktu bersama seperti pasangan yang baru menikah.

Melihat keduanya, Alina selalu merasa hangat. Keduanya selalu saling melengkapi dengan cara yang sederhana, Raka bukan tipe lelaki yang pandai merangkai kata-kata, namun setiap kali Keira kelelahan, dialah yang diam-diam mencuci piring.

Saat Keira tidur di sofa, Raka akan menyelimutinya tanpa membangunkan, ketika Keira menginginkan sesuatu, Raka lebih sering mengingatnya dari pada Keira sendiri. Cinta mereka tidak berisik, tetapi tetap hadir disetiap perhatian kecil.

“Ayo.” Keira menggandeng tangan Alina untuk memasuki pusat perbelanjaan.

“Kita cuma beli rak buku.” Ucap Raka yang membuat Alina tertawa.

“Kalau kak Raka udah bilang ‘cuma’, biasanya pulangnya bisa bawa satu troli.” Celetuk Alina seraya terkekeh.

Mereka berkeliling cukup lama, tak ada yang menyadari bahwa dari lantai dua, sepasang mata sedang memperhatikan Alina dalam diam. Pria berkacamata itu, ia berdiri cukup jauh dan tidak mendekat maupun memanggil, ia hanya memandang wanita yang selama bertahun-tahun ia cari.

Senyum Alina masih sama, cara wanita itu tertawa juga tidak berubah, namun ada satu hal yang membuat dadanya terasa sesak. Di jari manis tangan kiri Alina memang belum ada cincin, tetapi cara wanita itu beberapa kali membalas pesan di ponselnya dan senyum yang muncul setiap kali membaca nama pengirimnya sudah cukup menjelaskan bahwa hatinya mungkin telah dimiliki orang lain.

Pria itu menundukkan kepala, ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan. Mulai tentang masa lalu, janji yang tak pernah sempat ditepati, dan alasan kenapa ia menghilang begitu lama. Namun hari itu ia memilih untuk berbalik, karena menurutnya belum waktunya menemui Alina.

Menurut pria itu, mungkin masih ada waktu, setidaknya itulah yang ia yakini. Tak seorang pun di antara mereka menyadari bahwa waktu sering kali menjadi sesuatu yang paling kejam. Sebab, ketika seseorang merasa masih memiliki banyak waktu, justru pada saat itulah takdir diam-diam mulai menghitung mundur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!