Indonesia
NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Gema Ketegangan

"Kamu menyentuh saku jas pribadiku?" bisik Alvan penuh ancaman, aura intimidasi seketika memenuhi ruangan walk-in closet yang sempit itu. "Apa yang kamu cari, Andira?!"

Napas Andira tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia bisa mendengar detaknya sendiri yang bertabrakan di telinga.

Di dalam genggaman tangan kanannya yang terbungkus kassa, struk pembayaran bertanggal 14 November itu teremas kaku. Jika Alvan melihat struk ini sekarang, pria itu mungkin akan menuduhnya mencoba memalsukan bukti atau mengadu domba hubungannya dengan Elena.

"Saya... saya hanya menyikat debu di bagian lipatan jas Anda, Pak," jawab Andira suara bergetar, berusaha menjaga raut wajahnya agar tetap tenang. "Tangan saya menabrak lipatan saku dalam."

Alvan menyipitkan mata, menatap curiga ke arah tangan Andira yang tersembunyi di belakang punggung. Langkah kaki Alvan maju satu demi satu, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma wangi kayu cendana dari tubuh pria itu mengepung Andira sepenuhnya.

"Tunjukkan tanganmu," perintah Alvan dingin, tanpa ruang untuk bantahan.

Sebelum Andira sempat mengambil keputusan untuk menyerahkan kertas itu atau menyembunyikannya, keheningan malam mendadak dipecahkan oleh suara jeritan histeris yang membahana dari lantai bawah.

"Tolong! Bik Inah! Pak Somad! Ibu... Ibu Rosa tidak bisa bernapas!"

Itu suara Elena. Jeritannya penuh kepanikan yang teramat sangat.

Alvan langsung memalingkan wajahnya ke arah pintu. Rasa curiganya terhadap Andira menguap dalam sekejap, digantikan oleh kepanikan instingtif seorang anak. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Alvan membalikkan badan dan berlari kencang keluar dari kamar utama menuju lantai bawah.

Andira menghembuskan napas lega yang panjang, tubuhnya menyandar ke lemari kayu. Ia menatap struk teremas di tangannya. Dengan cepat, ia menyelipkan kertas berharga itu ke dalam saku dalam kemeja panjangnya sendiri, mengancingkannya rapat-rapat, lalu bergegas berlari menyusul Alvan.

~

Di ruang keluarga lantai bawah, suasana berubah menjadi kekacauan total.

Ibu Rosa terbaring miring di atas karpet bulu tebal dekat kursi rodanya. Wajah wanita paruh baya itu sudah memucat kebiruan.

Matanya melotot lebar penuh ketakutan, dadanya naik turun dengan sangat cepat namun tak ada udara yang mampu masuk ke paru-parunya. Suara yang sangat berat dan tajam terdengar dari tenggorokannya yang menyempit.

"Ibu! Ibu, dengarkan Alvan!" Alvan berlutut di samping ibunya, mengangkat kepala Ibu Rosa ke pangkuannya. Tangannya gemetar hebat. "Bik Inah! Mana tabung oksigen portabel Ibu?!"

"Ma... maaf, Pak Alvan!" Bik Inah, kepala pelayan, menangis sambil gemetar di dekat pintu. "Tabung oksigen cadangan di kamar Ibu baru habis tadi sore dan belum sempat diisi ulang oleh Pak Somad!"

"Kenapa bisa habis?! Kenapa tidak ada yang memeriksa?!" bentak Alvan dengan suara menggelegar, menunjukkan keputusasaan yang jarang sekali ia perlihatkan.

Elena berdiri di sudut ruangan, menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil terisak keras. "Mas Alvan... bagaimana ini? Ibu bisa... Ibu bisa tidak selamat! Telepon ambulans sekarang, Mas!"

"Ambulans butuh waktu minimal lima belas menit untuk sampai ke perumahan ini!" tegas Alvan dengan raut wajah frustrasi. Ia mencoba melakukan penepukan dada secara acak, namun ketakutan melumpuhkan logika berpikirnya.

Di tengah kepanikan massal itu, Andira berlutut tepat di sisi lain tubuh Ibu Rosa.

"Pak Alvan, pinggirkan tangan Anda. Biarkan saya menyentuhnya," ujar Andira tegas. Suaranya tidak kencang, namun dipenuhi oleh ketenangan yang memotong hiruk-pikuk kepanikan di ruangan itu.

"Jangan sentuh Ibu!" jerit Elena mendadak. "Mau apa kamu, Andira?! Kamu mau memanfaatkan kesempatan ini untuk celakai Ibu Rosa?!"

Andira mengabaikan teriakan Elena sepenuhnya. Ia menatap lurus ke dalam mata Alvan yang dipenuhi keraguan dan keputusasaan. "Pak Alvan, ini serangan asma akut yang terpicu oleh stres berat dan komplikasi kejang bronkus. Jika kita tidak memposisikannya dengan benar dalam dua menit ke depan, beliau akan kehilangan kesadaran karena hipoksia. Percaya pada saya!"

Mata Alvan bertabrakan dengan mata jernih Andira. Di dalam pandangan wanita itu, tidak ada dendam atas makian yang diterimanya tadi siang. Tidak ada kepura-puraan. Yang ada hanya fokus seorang relawan medis yang terlatih menyelamatkan nyawa.

"Lakukan," bisik Alvan melepaskan pegangannya, membiarkan Andira mengambil alih.

Andira bekerja dengan ketelitian yang luar biasa. Pengetahuannya sebagai mantan mahasiswi keperawatan yang sering menjadi relawan medis darurat terpancar dalam setiap gerakannya.

Pertama, Andira meminta Alvan menyangga punggung Ibu Rosa agar posisi tubuhnya duduk agak tegak 'high Fowler's position', bukannya dibaringkan telentang yang justru akan semakin menyumbat jalan napas.

"Pak Alvan, pegang bahu Ibu dari belakang. Jaga agar posisinya tetap tegak," perintah Andira cepat.

Selanjutnya, Andira dengan sigap melonggarkan kancing baju di bagian leher Ibu Rosa yang terlalu ketat. "Bik Inah! Ambilkan air hangat dalam gelas dan handuk kecil! Elena, buka pintu depan lebar-lebar supaya sirkulasi udara segar masuk!"

Elena terpaku, terkejut karena diperintah oleh Andira, namun Alvan memberi tatapan tajam yang memaksa Elena menuruti perintah tersebut.

Andira berlutut lebih dekat, memangku bagian dada dan kepala Ibu Rosa dengan penuh kelembutan. Tangan kanannya yang terbungkus perban menahan punggung atas wanita itu, mengabaikan rasa perih yang melilit luka melepuhnya akibat gesekan.

"Ibu... tatap mata saya," bisik Andira dengan nada suara yang sangat lembut, menenangkan, dan stabil di dekat telinga Ibu Rosa. "Jangan panik. Tarik napas perlahan lewat hidung... embuskan lewat mulut. Ikuti hitungan saya. Satu... dua... tiga..."

Ibu Rosa, yang tadinya mencengkeram tangan Andira dengan kuku-kukunya yang tajam karena ketakutan, perlahan-lahan mulai memfokuskan pandangannya yang kabur ke arah wajah Andira.

Di sana, ia tidak melihat wajah seorang pembunuh. Ia hanya melihat sepasang mata yang memancarkan ketulusan dan ketenangan luar biasa.

Andira melakukan teknik penekanan ringan pada titik akupresur di bagian dada chest expansion assistance untuk membantu merenggangkan otot-otot pernapasan Ibu Rosa yang kram.

Secara perlahan namun pasti, suara mengi yang mengerikan itu mulai berkurang. Sirkulasi udara kembali membasahi paru-paru Ibu Rosa. Rona merah tipis menyapu kembali pipinya yang tadinya pucat kebiruan. Dada wanita itu mulai naik turun secara lebih teratur.

"Bagus, Bu... terus bernapas seperti itu," gumam Andira tegas, mengusap peluh dingin yang membasahi dahi Ibu Rosa dengan ujung lengannya sendiri.

Tepat saat itu, raungan sirine ambulans terdengar mendekat di halaman depan rumah. Tim medis berhamburan masuk membawa tandu dan tabung oksigen murni.

~

Di ambulans menuju Rumah Sakit Medika Utama, Alvan duduk di samping bangsal tempat ibunya terbaring memasang masker oksigen. Kondisi Ibu Rosa sudah stabil, meski masih sangat lemah dan tertidur di bawah pengaruh obat penenang ringan.

Namun pikiran Alvan sama sekali tidak tertuju pada perjalanan itu. Pikirannya tertahan pada pemandangan di ruang keluarga beberapa menit lalu.

Ia menyaksikan sendiri bagaimana Andira merengkuh Ibu Rosa ke dalam pangkuannya. Wanita itu memangku Ibu Rosa dengan rasa cemas yang begitu tulus, sebuah kecemasan yang tak mungkin bisa dipalsukan oleh aktris mana pun di dunia.

Andira merawat wanita yang baru saja beberapa jam lalu memakinya sebagai pembunuh, mengoleskan air hangat ke dahinya, dan menenangkannya seolah-olah Ibu Rosa adalah ibunya sendiri.

Lebih dari itu, Alvan melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak oleh penyesalan yang tak terucapkan.

Saat Andira membantu menggeser tubuh Ibu Rosa ke atas tandu tim medis, perban putih di pergelangan tangan kanan Andira sempat tersingkap. Alvan melihat kulit merah muda yang melepuh hebat di balik kain kassa itu, luka bakar akibat tumpahan sup panas yang sengaja disiramkan oleh ibunya dan Elena tadi siang.

Namun, Andira tidak sedikit pun meringis atau mengeluh saat menggunakan tangan terlukanya itu untuk menopang beban tubuh Ibu Rosa.

"Wanita macam apa kamu sebenarnya, Andira ?" batin Alvan seraya mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping bangsal. "Jika kamu memang monster berdarah dingin yang membunuh Roy demi uang... kenapa matamu malam ini hanya memancarkan rasa kasih sayang yang begitu murni ?"

Tembok es prasangka yang dibangun Alvan selama berbulan-bulan sejak kematian adiknya mulai retak dari dalam. Celah itu kini makin terbuka lebar, membiarkan kebenaran yang mengerikan perlahan-lahan menembus kegelapan dendamnya.

~~

Pukul tiga dini hari, koridor ruang perawatan VIP rumah sakit tampak sepi dan lengang.

Elena sudah dipinta pulang oleh Alvan karena wanita itu terus-menerus meratap dan mengeluh lelah, sementara Alvan memilih untuk tetap berjaga di depan kamar perawatan.

Andira berdiri di sudut koridor, menyandarkan tubuhnya yang lelah ke dinding dingin. Tubuhnya terasa pegal luar biasa, dan luka bakar di tangannya kembali berdenyut perih setelah terkena tekanan hebat tadi. Namun, ia tidak pergi. Ia ingin memastikan wanita tua itu benar-benar aman.

Pintu kamar VIP terbuka pelan. Alvan melangkah keluar.

Pria itu menatap Andira yang berdiri menyendiri di bawah pendar lampu neon koridor. Untuk pertama kalinya, tatapan mata Alvan tidak lagi dipenuhi oleh kebencian yang menyala-nyala atau dingin yang mematikan. Ada kepedihan, kebingungan, dan sesuatu yang menyerupai rasa bersalah di balik manik matanya yang kelam.

Alvan berjalan mendekati Andira. Pria itu menghentikan langkahnya tepat di depan Andira, lalu tanpa mengucap sepatah kata pun, ia meraih tangan kanan Andira yang terbungkus perban.

Andira terperanjat kecil dan mencoba menarik tangannya, namun genggaman jemari Alvan begitu lembut, sangat berbeda dengan cengkeraman kasarnya di kamar utama atau sel penahanan dulu.

Alvan perlahan menyingsingkan sedikit lengan kemeja Andira, menatap perban yang sedikit ternoda oleh cairan obat.

"Kenapa kamu tidak bilang kalau tanganmu terluka separah ini?" bisik Alvan, suaranya serak dan berat di keheningan malam.

"Ini bukan apa-apa, Pak," jawab Andira pelan, menundukkan pandangannya. "Yang terpenting Ibu Rosa sudah selamat."

Alvan terdiam lama. Ibu jarinya mengusap lembut tepi kain kassa di tangan Andira dengan gerakan yang teramat halus. "Ibu saya... selalu memaki dan menyiksamu sejak kamu diimpor ke rumah itu. Kenapa kamu menyelamatkannya dengan mempertaruhkan dirimu sendiri?"

Andira mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Alvan. "Karena saya bukan pembunuh, Pak Alvan. Dan saya tidak akan pernah membiarkan seorang ibu meninggal di depan mata saya jika saya punya kesempatan untuk menolongnya."

Kata-kata itu menghantam dada Alvan bagaikan godam berat. Pria itu tidak mampu menjawab. Kebenaran dalam suara Andira terlalu jernih untuk dibantah oleh argumen palsu Elena.

Pukul lima pagi, berkas sinar matahari pertama menyusup masuk melalui celah tirai kamar VIP.

Dokter mengabarkan bahwa efek obat penenang pada Ibu Rosa mulai menghilang dan pasien sudah tersadar penuh. Alvan melangkah masuk ke dalam kamar, diikuti oleh Andira yang berdiri ragu di dekat ambang pintu.

Ibu Rosa bergerak pelan di atas ranjangnya. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Suara dengung mesin pemantau detak jantung terdengar teratur di dalam ruangan.

"Al... van..." bisik Ibu Rosa, suaranya masih sangat lemah di balik masker oksigen.

Alvan segera mendekat dan menggenggam tangan ibunya. "Ibu... Ibu sudah aman. Ibu ada di rumah sakit sekarang."

Pandangan mata Ibu Rosa yang sayu kemudian bergulir melintasi bahu Alvan. Matanya berhenti tepat pada sosok Andira yang berdiri diam di dekat pintu, dengan tangan terbungkus perban yang terlipat sopan di depan tubuhnya.

Biasanya, setiap kali melihat wajah Andira, reaksi pertama Ibu Rosa adalah histeris, makian, atau lemparan barang.

Namun pagi ini, atmosfer di ruangan itu berubah total.

Ibu Rosa tidak memaki. Tidak ada jeritan Histeris. Tidak ada tatapan jijik atau benci yang biasanya menyala di matanya.

Sebaliknya, mata Ibu Rosa menatap Andira dengan pandangan yang sangat rumit, sebuah tatapan berselimut kebingungan yang mendalam, rasa bersalah yang samar, dan ingatan akan sentuhan lembut serta kehangatan napas Andira yang memeluknya di saat-saat paling menakutkan antara hidup dan mati.

Suasana kamar VIP menjadi sangat hening. Dua wanita yang dipisahkan oleh dendam kematian Roy itu kini saling mengunci pandangan dalam keheningan yang sarat akan rasa guncang.

Dan di tengah ketegangan yang membisu itu, Andira tahu... tembok benteng musuhnya telah mulai runtuh.

...----------------...

**To Be Continue** ....

1
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!