Indonesia
NovelToon NovelToon
Senja Untuk Cahaya

Senja Untuk Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romantis
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seperti Dulu, Seperti Selalu

Ada teori yang pernah aku baca di suatu forum anime, bukan sumber akademis yang bisa dikutip, tapi cukup masuk akal buat aku simpen di suatu sudut kepala, yang bilang bahwa tingkat kenyamanan seseorang di suatu tempat bisa diukur dari seberapa dikit kata yang mereka perluin buat ngerasa betah di situ.

Kamarku, misalnya, adalah tempat di mana aku enggak perlu ngucapin satu kata pun buat ngerasa kayak diriku sendiri.

Dua belas meter persegi. Satu kasur di sudut kanan dengan headboard yang udah agak miring sejak tiga tahun lalu waktu aku duduki terlalu bersemangat pas live reaction episode final sebuah anime yang plot twist nya enggak aku antisipasi. Satu meja belajar yang dalam dua tahun terakhir lebih berfungsi sebagai base operation buat laptop dan setup controller daripada tempat belajar dalam arti konvensional. Satu rak buku yang udah lama ngelampauin kapasitas aslinya, dengan manga yang numpuk ke samping dan ke atas dan pada satu titik juga ke bawah dalam sistem organisasi yang cuma aku yang bisa navigasi dengan konsisten. Dan dinding, empat sisi dinding yang udah enggak punya ruang kosong berarti karena poster, print fanart, satu kalender anime dari dua tahun lalu yang enggak aku ganti bukan karena lupa tapi karena ilustrasi Aprilnya terlalu bagus buat diturunin, dan selembar kertas isi jadwal tayang anime season ini yang aku update tiap Senin pagi.

Ini ruang yang aku bangun selama bertahun tahun, lapisan demi lapisan, tanpa rencana besar, cuma akumulasi dari hal hal yang aku suka dan keputusan keputusan kecil soal di mana sesuatu harus diletakin.

Malam Sabtu di minggu ketiga kuliah, aku ada di tengah tengah ruang itu dengan posisi yang udah sangat aku kenal: rebahan miring di kasur dengan bantal didorong ke belakang sebagai sandaran punggung, laptop di depan, controller di tangan, headset di telinga, dalam kondisi yang secara teknis disebut "istirahat" tapi dalam praktiknya berarti "nyelesain satu dungeon lagi sebelum tidur" yang udah berlangsung selama satu setengah jam tanpa tanda tanda bakal berhenti dalam waktu deket.

Di luar jendela, langit udah hitam penuh. Jam di pojok kanan bawah layar laptop nunjukin angka 19.47.

Aku lagi dalam kondisi flow yang sempurna, dungeon yang enggak terlalu gampang buat bosen tapi enggak terlalu susah buat nyebabin frustrasi, musik latar game yang berdentum di ritme yang pas, dan enggak ada apapun yang ganggu konsentrasi, waktu hapeku bergetar sekali di atas kasur.

Notifikasi masuk. Aku lirik sebentar tanpa berhenti main.

Cahaya: kamu di rumah?

Aku: ya

Cahaya: buka pintu

Jariku berhenti di controller.

Aku natap pesan itu selama dua detik, terus nengok ke arah jendela kamar yang ngadep ke samping rumah. Di luar, gelap. Di kejauhan, suara motor lewat sekali dan terus senyap.

Aku: sekarang?

Cahaya: ya sekarang. udah di depan.

Cahaya: sasa juga ikut

Aku naruh controller, pause game, lepas headset, dan turun dari kasur dengan urutan gerakan yang dalam kondisi normal makan waktu tiga detik tapi malam ini makan waktu lima karena kakiku ketangkep kabel charger yang rupanya udah ngintai di lantai sejak tadi.

Pintu depan rumah aku buka dua menit kemudian, dua menit yang dipake buat lewatin ruang tamu dengan lampu yang udah dimatiin Ibu sejak jam tujuh karena beliau udah masuk kamar, dan buat mastiin enggak ada rintangan lain di lantai yang nunggu kesempatan buat njatuhin aku di depan tamu.

Cahaya berdiri di depan pintu dengan tas selempang di bahu kiri dan kantong plastik hitam di tangan kanan. Di sebelahnya, Salsabila Anggraini, Sasa, sebagaimana aku udah diminta buat manggilnya sejak perkenalan pertama di minggu kedua PKKMB, berdiri dengan tangan di saku hoodienya dan ekspresi orang yang lagi dalam proses bentuk opini soal sesuatu.

"Lama," kata Cahaya.

"Dua menit."

"Dua menit itu lama kalau orangnya udah berdiri di luar."

"Kamu enggak ngasih tau sebelumnya."

"Aku ngasih tau." Dia angkat hapenya. "Lewat pesan."

"Tiga menit sebelum sampe."

"Itu udah cukup waktu buat buka pintu."

Di sebelah Cahaya, Sasa lirik antara kami berdua dengan ekspresi yang aku mulai bisa kenali sebagai "lagi mroses dinamika yang enggak sepenuhnya normal ini buat pertama kalinya secara langsung". Dia emang udah pernah ketemu aku beberapa kali sejak PKKMB, tapi pertemuan itu kejadian di konteks kampus, lorong, kantin, area parkir, di mana variabel lingkungan lebih netral.

Rumah adalah konteks yang beda.

"Halo," kata Sasa ke arahku. Nada suaranya netral tapi matanya lagi ngamatin pintu, kusen, dan bagian dari ruang tamu yang keliatan dari posisinya, dengan cara seseorang yang udah mutusin buat enggak buru buru nyimpulin sesuatu tapi juga enggak bakal ngelewatin detail.

"Halo," balasku. Terus, ke Cahaya: "Kalian mau apa?"

"Nemenin kamu." Cahaya angkat kantong plastik. "Aku bawa camilan."

"Kamu enggak bilang mau ke sini."

"Aku tau. Itu namanya surprise."

"Surprise itu biasanya buat momen momen tertentu, bukan buat malam Sabtu yang enggak ada acara khusus..."

"Rendy." Cahaya natap aku dengan ekspresi orang yang udah mutusin bahwa argumen ini udah selesai. "Boleh masuk enggak?"

Aku buka pintu lebih lebar.

Sasa masuk kamarku dan berhenti di ambang pintu selama kurang lebih empat detik.

Empat detik yang, aku yakin, dia pake buat mindai keseluruhan ruangan dengan mata yang dalam program studi Psikologinya mungkin udah mulai terlatih buat ngamatin lingkungan sebagai refleksi dari penghuninya.

"Oke," katanya akhirnya. Satu kata. Nada yang enggak bisa aku kategoriin sebagai positif atau negatif, lebih kayak pernyataan netral bahwa dia udah selesai ngelakuin pemetaan awal.

"Oke apa?" tanya Cahaya dari belakangnya, udah masuk lebih jauh dan naruh kantong plastik di atas meja.

"Oke ini adalah kamar seorang wibu." Sasa melangkah masuk lebih jauh, deketin dinding sebelah kiri di mana poster poster tergantung. Dia miringin kepala dikit, baca judul yang tercetak di bagian bawah salah satu poster. "Shingeki no Kyojin? Ini yang temboknya ada raksasanya?"

"Attack on Titan," koreksi aku otomatis. "Iya."

"Cahaya pernah cosplay karakter dari ini kan?"

"Dua tahun lalu," jawab Cahaya dari arah meja. Dia udah duduk di kursi meja belajarku tanpa izin, yang bukan hal baru karena kursi itu secara historis emang tempat duduk favoritnya di kamarku sejak kami masih SD. "Yang rambutnya panjang. Lupa namanya."

"Mikasa," kata aku dan Sasa bersamaan.

Kami berdua saling natap.

"Kamu tau?" tanyaku ke Sasa.

"Cahaya cerita waktu dia minta aku bantu foto." Sasa alihin pandangannya ke rak manga, yang pelan pelan dia telusurin dengan pandangan, bukan baca judulnya satu satu, lebih kayak ngukur volumenya secara keseluruhan. "Itu banyak banget."

"Aku kumpulin sejak kelas empat SD."

"Semuanya udah dibaca?"

"Iya."

Sasa noleh ke arahku dengan ekspresi yang susah dibaca. "Kamu enggak punya aktivitas lain waktu itu?"

"Baca manga itu aktivitas."

"Maksudku aktivitas yang melibatkan interaksi sama manusia beneran."

"Baca manga juga bisa melibatkan..."

"Rendy," potong Cahaya dari kursi meja, nada suaranya ngandung sedikit tawa yang dia usahain enggak terlalu kentara. "Sasa bukan musuh. Dia cuma penasaran."

"Aku enggak nganggep dia musuh."

"Ekspresimu bilang lain."

"Ekspresiku netral."

"Ekspresimu kayak orang yang lagi defensive."

"Itu interpretasimu..."

"Oke oke." Sasa angkat kedua tangan dalam gerakan damai, terus jalan ke kasur dan duduk di tepinya dengan santai yang nunjukin bahwa dia udah mutusin kamar ini cukup aman buat ditinggali minimal beberapa jam ke depan. "Aku bukan mau ngejudge. Aku cuma... ngobservasi."

Kata terakhir itu dia ucapin dengan nada yang aku enggak sepenuhnya bisa artiin, bisa jadi netral, bisa jadi satir. Sama Sasa, beda antara keduanya tipis dan tergantung konteks.

"Mau nonton apa?" tanya Cahaya, udah buka laptop dengan cara yang nunjukin dia udah sangat familiar sama tata letak kamar ini.

Kami sepakat pada re run, bukan karena enggak ada yang baru, tapi karena re run punya kualitas khusus buat malam Sabtu yang enggak lagi dalam momen penting: enggak perlu konsentrasi penuh, bisa sambil makan camilan tanpa takut kelewat plot, dan ada kenyamanan tersendiri dalam nonton sesuatu yang udah kamu tau endingnya.

Pilihan jatuh ke anime yang udah kami tonton bareng dua kali sebelumnya, Cahaya dan aku, maksudnya, sebelum Sasa hadir sebagai variabel baru dalam dinamika ini, sebuah slice of life soal klub fotografi di sebuah SMA fiksi yang ceritanya enggak terlalu dramatis tapi karakternya cukup kuat buat ditonton ulang tanpa bosen.

Sasa, yang bukan penonton anime secara aktif tapi juga bukan orang yang nolak keberadaannya, duduk di kasur dengan punggung sandar ke dinding dan kaki diluruskan ke depan, pegang bungkus keripik yang dikeluarin Cahaya dari kantong plastik tadi. Cahaya ada di sebelah kirinya, dengan posisi yang lebih tegak, sesekali komentarin adegan yang dia inget dari dua kali tayang sebelumnya. Aku duduk agak lebih jauh di ujung kasur lain, lebih deket ke laptop, dengan controller di tangan, bukan buat game, cuma sebagai kebiasaan motorik yang aku lakuin waktu nonton sesuatu.

"Yang itu," kata Cahaya tiba tiba, nunjuk ke layar di mana karakter utama perempuan baru aja lepas kamera dari matanya dan motret karakter utama laki laki tanpa peringatan, "kenapa dia malah nangis?"

"Karena foto yang dia ambil bukan foto yang dia mau," jawab aku.

"Maksudnya?"

"Dia mau foto momen waktu si cowok liat ke arah lain. Tapi yang ketangkep kamera adalah si cowok liat langsung ke arahnya. Dan itu justru momen yang lebih jujur, makanya dia nangis, karena foto itu nangkep sesuatu yang enggak dia siapin buat diliat."

Hening sebentar.

Sasa noleh ke arahku. "Kamu serius analisis adegan tiga puluh detik itu sedetail itu?"

"Aku udah nonton ini tiga kali."

"Tiga kali dan kamu masih perlu analisis?"

"Tiap kali nonton sesuatu yang bagus, ada lapisan baru yang keliatan."

Sasa natap aku dengan ekspresi yang enggak bisa aku baca, terus noleh ke Cahaya. "Dia selalu begini?"

"Selalu," jawab Cahaya tanpa noleh dari layar, tapi ada sesuatu di nada suaranya, bukan kesel, lebih kayak... hangat, kalau nada suara bisa dideskripsiin kayak gitu tanpa kedengeran berlebihan. "Tapi dia bener soal adegannya."

"Hm." Sasa seruput minumannya. "Oke. Lanjut."

Episode kedua dimulai dengan adegan yang Cahaya udah inget karena langsung duduk lebih tegak waktu musik pembukanya berubah ke musik latar yang spesifik.

"Ini adegan di atap," katanya.

"Aku tau," jawab aku.

"Yang di atap itu lucu."

"Aku tau."

"Tapi juga sedih."

"Aku tau."

Sasa liat ke kiri dan ke kanan, ke arah Cahaya, terus ke arahku, terus ke Cahaya lagi. "Kalian berdua," katanya dengan nada orang yang baru aja ngonfirmasi hipotesis, "kayak dua orang yang udah nonton sesuatu bareng terlalu sering sampe bisa bacain pikiran satu sama lain."

"Bukan baca pikiran," kata Cahaya. "Kita cuma udah lama kenal."

"Berapa lama?"

"Sejak TK."

"Itu..." Sasa itung sebentar. "Hampir empat belas tahun."

"Empat belas tahun dua bulan," koreksi aku tanpa mikir.

Dua detik hening.

Sasa natap aku dengan ekspresi baru, sesuatu yang lebih terfokus dari sebelumnya. "Kamu inget bulannya?"

"Dia masuk TK dua bulan lebih lambat dari aku," jawab aku. "September, bukan Juli. Jadi empat belas tahun dua bulan buat aku, empat belas tahun buat dia."

"Kamu inget bulan pertama kali ketemu dia."

"Itu bukan hal yang istimewa buat diinget. Itu cuma data."

Sasa enggak jawab. Dia cuma natap aku selama dua detik lagi, terus pelan pelan noleh ke Cahaya dengan ekspresi yang aku enggak bisa sepenuhnya baca karena posisinya ngebelakangin lampu.

Cahaya, di sisi lain, lagi natap layar dengan tekun, sedikit terlalu tekun buat orang yang udah tau persis apa yang bakal kejadian di adegan berikutnya.

Kantong camilan udah abis di pertengahan episode ketiga.

Ini selalu kejadian. Bukan karena kami makan terlalu cepet, makan camilan pas nonton itu ritmenya enggak bisa dikendaliin sepenuhnya karena tangan gerak otomatis tiap kali ada jeda dalam dialog atau adegan yang secara emosional butuh sesuatu buat dikunyah, tapi lebih karena Cahaya selalu perkiraiin jumlah camilan yang dibutuhin kurang dari yang sebenernya diperluin.

Ini juga selalu kejadian. Dan aku udah cukup lama buat antisipasiin ini.

"Tunggu sebentar," kata aku, bangkit dari kasur.

"Ke mana?" tanya Cahaya.

"Ambil sesuatu."

Aku keluar kamar, ke dapur, buka lemari tempat Ibu biasa nyimpen stok camilan yang enggak abis di waktu tertentu, pertahanan lapis kedua buat situasi kayak gini. Aku ambil dua bungkus, satu botol minuman dingin dari kulkas, dan balik ke kamar.

Sasa lagi ngomong sama Cahaya waktu aku masuk, suara obrolan mereka langsung turun volumenya waktu pintu kebuka, yang aku catet tapi enggak tanyain karena itu bukan sesuatu yang perlu ditanyain.

"Lanjut?" tanya aku, sodorin camilan ke tengah dan duduk balik di posisi semula.

"Lanjut," jawab Cahaya.

Adegan atap berlangsung dengan cara yang aku udah hafal sepenuhnya, karakter utama laki laki berdiri di tepi atap gedung sekolah, mandang ke luar, dan bilang sesuatu yang dalam konteks saat itu kedengeran kayak pernyataan biasa soal cuaca tapi dalam konteks keseluruhan cerita adalah satu satunya cara dia tau buat ngomong sesuatu yang lebih dari itu.

"Dari sini, kelihatannya semua orang punya tujuan yang jelas."

Karakter perempuan enggak jawab langsung. Dia motret siluet si laki laki dulu, tanpa bilang apa apa, sebelum akhirnya bilang: "Kamu juga kelihatan begitu dari sudut pandang aku."

Dan si laki laki, tentu aja, enggak ngerti bahwa itu bukan komentar soal siluetnya.

"Bodoh banget," kata Sasa tiba tiba.

"Yang mana?" tanya Cahaya.

"Yang cowoknya." Sasa nunjuk ke layar. "Dia baru aja dikasih tanda yang cukup jelas dan dia cuma bilang 'oh iya cuacanya bagus ya'."

"Dia enggak tau itu tanda," kata aku.

"Tanda apa lagi yang dia butuhin? Ceweknya bilang dia keliatan punya tujuan yang jelas dari sudut pandang dia. Kata kuncinya dari sudut pandang dia. Itu artinya dia ngamatin cowok itu dari deket. Itu artinya cowok itu penting buat dia."

"Bisa juga diartiin sebagai observasi fotografis yang netral."

Sasa natap aku dengan tatapan datar. "Fotografis yang netral."

"Dia fotografer. Ngamatin subjek dari sudut pandang tertentu itu bagian dari..."

"Rendy."

"Apa?"

"Kamu lagi bela karakter yang enggak bisa baca situasi."

"Aku lagi ngasih interpretasi alternatif yang secara kontekstual..."

"Ren." Ini dari Cahaya, bukan Sasa. Nada suaranya lebih pelan dari tadi, pelan dengan cara yang beda, lebih ke arah yang aku enggak terlalu familiar sama klasifikasinya. "Menurutmu mungkin enggak seseorang nunjukin perasaannya ke orang lain berkali kali, tapi orang itu tetep enggak nangkep?"

Pertanyaan yang beda dari yang aku antisipasi.

Aku mikirinnya sebentar. "Mungkin. Kalau sinyal yang dikasih enggak spesifik cukup, atau kalau penerimanya enggak punya referensi yang memadai buat nginterpretasiin sinyal tersebut sebagai ekspresi perasaan dan bukan sebagai komunikasi biasa."

"Dan itu bukan salah si penerimanya?"

"Secara teknis enggak. Komunikasi itu tanggung jawab dua arah. Kalau satu pihak secara konsisten milih kanal yang ambigu, sebagian tanggung jawab atas kegagalan komunikasi ada di pihak pengirim juga."

Cahaya natap aku.

Aku natap balik.

"Hm," katanya akhirnya. Satu suku kata yang enggak ngasih informasi yang cukup.

Di sebelah Cahaya, Sasa milih saat itu buat seruput minumannya dengan sangat seksama sambil natap lurus ke layar dengan ekspresi orang yang sangat fokus sama anime tapi juga sangat sadar sama hal lain yang baru aja kejadian di sampingnya.

"Lanjut?" kata Sasa setelah beberapa detik.

"Lanjut," kata Cahaya.

Episode keempat adalah episode yang lebih ringan dari ketiga, lebih banyak komedi, lebih dikit adegan yang butuh interpretasi mendalam, dan suasana di kamarku gerak ngikutin itu, mengendur dari ketegangan kecil yang tadi entah datang dari mana.

Sasa mulai lebih banyak komentar, yang ternyata hal yang cukup menghibur karena komentarnya selalu tepat sasaran dan enggak pernah butuh basa basi. Cahaya ketawa di beberapa bagian yang sama persis dengan dua kali tayang sebelumnya, orang bisa bilang itu buktiin bahwa hal hal yang lucu emang konsisten lucu, tapi aku lebih cenderung mikir itu karena Cahaya udah masang ekspektasi terhadap momen momen tersebut dan kepuasan dari ekspektasi yang terpenuhi punya kualitas tersendiri.

Di suatu titik, Sasa bangkit buat ke kamar mandi, keluar kamar dengan "jangan pause, aku tau arahnya" yang ternyata emang bener karena dia balik dalam empat menit tanpa kesasar ke mana mana.

Dan di empat menit itu, kamarku mendadak punya komposisi yang beda.

Cuma aku dan Cahaya.

Bukan hal baru, ini komposisi paling default yang udah ada sejak kami kecil. Tapi entah kenapa empat menit itu kerasa sedikit beda dari malam malam sebelumnya, mungkin karena kehadiran orang ketiga yang tiba tiba absen nciptain kontras yang enggak ada sebelumnya.

"Sasa suka kamarmu," kata Cahaya tiba tiba, masih natap layar yang aku pause otomatis waktu Sasa keluar.

"Dia bilang gitu?"

"Enggak secara langsung. Tapi aku kenal dia. Kalau dia enggak suka suatu tempat, badannya agak kaku. Tadi dia mulai santai setelah lima menit pertama." Cahaya noleh ke arahku sebentar. "Berarti dia nyaman."

"Oh."

"Kamu seneng?"

Pertanyaan yang lebih spesifik dari yang aku perkiraiin. Aku mikirinnya. "Netral. Kehadiran seseorang di kamar ini enggak secara langsung mempengaruhi kondisi internal aku."

Cahaya noleh lebih penuh ke arahku. Matanya, di bawah lampu kamar yang enggak terlalu terang, warm tone yang udah ada di sini sejak aku ganti bohlam tahun lalu, ngandung sesuatu yang aku enggak langsung bisa kasih nama.

"Rendy," katanya.

"Hm?"

"Kalau suatu hari aku enggak bisa ke sini lagi..." Dia berhenti sebentar. "Kamarmu bakal kerasa sepi enggak?"

Pertanyaan yang formatnya familiar, format yang udah beberapa kali muncul dalam variasi beda sejak kami mulai kuliah, selalu datang dari Cahaya, selalu pada momen yang kerasa agak di luar konteks obrolan sebelumnya.

"'Enggak bisa ke sini lagi' dalam skenario apa?" tanyaku.

Cahaya natap aku.

"Kalau kamu pindah kota," lanjutku, karena pertanyaan itu butuh spesifikasi biar bisa dijawab dengan tepat, "maka jawabannya tergantung seberapa sering kunjungan sebelumnya dan seberapa besar kontribusinya terhadap rutinitas yang ada. Kalau kamu..."

"Ren."

"Apa?"

"Itu bukan yang aku tanyain."

"Terus apa yang kamu tanyain?"

Cahaya buka mulut, tutup lagi, terus balik ke layar yang masih pause, foto still dari karakter yang lagi liat ke arah yang beda, seseorang di latar belakang yang buram tapi ada.

"Enggak jadi," katanya.

"Kamu..."

Pintu kamar kebuka. Sasa balik, langsung duduk di posisi semula dengan gerakan orang yang enggak nyadar dia baru aja motong sesuatu, atau mungkin nyadar dan milih enggak komentarin.

"Lanjut?" katanya.

"Lanjut," jawab Cahaya.

Aku tekan play.

Episode terakhir yang kami tonton malam itu adalah episode kedua belas, episode yang, dari tiga kali aku nonton serial ini, selalu bikin sesuatu di area dada kerasa agak lebih penuh dari biasanya tanpa aku bisa jelasin alasannya secara spesifik.

Adegan terakhirnya sederhana: dua karakter utama duduk di lantai koridor sekolah yang udah sepi, lama setelah jam pulang, dengan kamera tergeletak di antara mereka dan foto foto terhampar di lantai. Enggak ada musik dramatis. Enggak ada dialog yang nyoba terlalu keras buat bermakna.

Cuma dua orang yang udah terlalu lama enggak ngucapin hal yang paling penting, dan satu momen hening yang akhirnya lebih jujur dari apapun yang bisa mereka katakan.

Fade to black.

Credits.

Sasa orang pertama yang ngomong setelah credits mulai jalan.

"Mereka jadian?"

"Episode keempatbelas," jawab Cahaya.

"Masih dua episode lagi?"

"Dua episode yang menyiksa," kata aku. "Tapi sepadan."

Sasa hela napas pelan, natap layar yang sekarang nampilin layar hitam dengan tulisan putih. "Aku enggak ngerti kenapa karakter anime selalu nyusahin diri sendiri. Kalau kamu suka seseorang, bilang aja. Selesai."

"Kalau sesederhana itu, enggak ada cerita yang menarik buat ditulis," kata aku.

"Tapi di kehidupan nyata orang juga begitu." Sasa noleh ke arahku. "Banyak orang yang enggak bisa ngomong hal yang paling penting ke orang yang paling penting buat mereka. Kamu pernah mikirin kenapa?"

"Karena risiko kehilangan apa yang udah ada sering kerasa lebih besar dari potensi dapetin sesuatu yang baru," jawab aku. "Secara teori ekonomi perilaku, manusia lebih sensitif terhadap kerugian daripada keuntungan dengan rasio kira kira dua berbanding satu."

Sasa natap aku.

"Loss aversion," lanjutku. "Daniel Kahneman."

"Aku tau Kahneman," kata Sasa datar. "Aku Psikologi."

"Oh. Iya."

"Yang aku tanyain bukan definisi akademisnya." Nada suaranya berubah dikit, lebih pelan, lebih langsung. "Aku tanya apa kamu pernah mikirin ini."

Pertanyaan yang beda dari yang dia formulasiin tadi. Aku catet perbedaannya.

"Dalam konteks apa?" tanyaku.

Sasa lirik sebentar ke arah Cahaya, yang lagi nutup laptop dengan punggung setengah ngebelakangin kami, sebelum balik natap aku. Matanya ngandung sesuatu yang lebih spesifik dari curiosity biasa tapi aku enggak punya cukup data buat ngklasifikasiinnya lebih jauh.

"Dalam konteks apapun," kata Sasa akhirnya. "Enggak penting."

Dia bangkit, regangin punggung. "Udah malam. Kita balik ya, Cay."

Proses kepulangan mereka makan waktu sekitar sepuluh menit, waktu yang dipake buat ngemas sisa camilan yang enggak abis ke kantong plastik, Cahaya ambil charger hapenya yang rupanya sempet dia tinggal di meja belajarku, dan obrolan singkat di depan pintu soal jadwal PKKMB Senin depan yang kedua duanya udah hafal tapi tetep dibahas.

Sasa lebih dulu jalan ke arah motor yang terparkir di depan, ngasih aku satu anggukan singkat sebagai salam perpisahan, tipe salam yang efisien, tanpa kata kata berlebih, yang aku apresiasi.

Cahaya berhenti di depan pintu.

"Makasih ya," katanya. "Buat malemnya."

"Kamu yang datang tanpa ngasih tau."

"Aku tau." Dia senyum, bukan senyum yang dibuat buat, bukan senyum performatif yang dia pake waktu lagi sama orang banyak. Yang versi lebih kecil, lebih personal. "Tapi tetep makasih."

"Buat apa tepatnya?"

Cahaya natap aku sebentar, dua detik, tiga detik, sebelum alihin pandangannya ke langit di atas kepala kami. Malam udah penuh sepenuhnya sekarang, enggak ada sisa jingga di manapun, cuma hitam dengan beberapa bintang yang berhasil nembus polusi cahaya kota.

"Kamu tau," katanya.

"Aku enggak tau. Makanya aku tanya."

Dia hela napas pelan, setengah kesel, setengah sesuatu yang lain. "Rendy Alamsyah."

"Apa?"

"Kamu adalah orang yang paling susah diajak ngobrol sekaligus paling gampang ditemenin diem." Dia turunin pandangannya dari langit ke arahku, dengan ekspresi yang dalam cahaya lampu teras keliatan kayak sesuatu yang tulus dan enggak berusaha jadi apapun selain apa adanya. "Itu hal yang aneh tapi itu kamu."

Aku enggak langsung tau harus jawab apa, jadi aku enggak jawab apapun.

"Selamat malam," katanya kemudian, balik badan, jalan ke arah motor di mana Sasa udah duduk nunggu.

"Selamat malam," balasku.

Aku berdiri di depan pintu sampe suara motor mereka ilang di ujung gang. Terus tutup pintu, kunci, dan jalan balik ke kamar.

Kamarku, setelah mereka pergi, kerasa persis kayak kamarku yang biasa, dimensi yang sama, isi yang sama, suhu yang sama. Enggak ada yang berubah secara fisik.

Tapi ada satu hal aneh yang aku catet sambil duduk balik di tepi kasur dan raih controller: kamar yang barusan kerasa penuh dengan tiga orang di dalamnya, sekarang kerasa beda dengan cuma satu.

Bukan sepi. Aku udah terbiasa dengan kamar ini dan kesendirian ini dan enggak ada yang salah dengan keduanya.

Cuma... beda.

Kayak waktu kamu muter ulang sebuah adegan di kepala dan baru nyadar ada detail yang kamu lewatin pertama kali.

Aku naruh controller tanpa buka game. Rebahan di kasur dengan natap langit langit, posisi yang udah pernah aku lakuin malam Sabtu pertama semester ini, dengan pikiran yang enggak pergi ke mana mana.

Kali ini pikiranku juga enggak pergi ke mana mana. Tapi ke mana dia enggak perginya kerasa sedikit beda dari minggu lalu.

Aku tutup mata.

Kamu adalah orang yang paling susah diajak ngobrol sekaligus paling gampang ditemenin diem.

Kalimat yang enggak aku minta. Kalimat yang aku enggak tau harus disimpen di mana dalam sistem klasifikasi aku, jadi sementara aku biarin ngambang aja di suatu tempat yang belum punya label.

Di luar, gang udah bener bener senyap.

Jam di pojok kanan bawah layar laptop yang masih nyala di meja nunjukin 22.31.

Aku enggak tau di jam berapa aku akhirnya tertidur. Yang aku tau adalah mimpi malam itu enggak soal anime manapun yang pernah aku tonton, yang jarang kejadian dan aku enggak punya cukup data buat ngartiin apa apa dari itu.

Jadi aku enggak nyobain.

1
Pena Quality
up, saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!