Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Memberimu pengertian.
"Hamil??????"
Plaaaaaakk..
Pak Riegan menampar pipi Bang Dante dengan map berisi pengajuan nikah dan meminta percepatan proses.
Tak hanya itu, Pak Riegan juga menghajar Bang Dante di tempat hingga putranya itu tersungkur.
"Dimana pikiranmu sebelum merusak seorang gadis??? Apa Ayah pernah mengajarkanmu bersikap sembrono seperti itu, Dante????" Tegur keras Pak Riegan.
"Siap, tidak."
Cherry berlari menghampiri Bang Dante. Sungguh dirinya tidak menyangka semua akan jadi seperti ini. "Paakk.. Tolong..!! Jangan pukul Om Dante lagi.. Tolong..!! Cherry......"
Bang Dante mencegah Cherry untuk banyak bicara. "Saya yang salah. Saya yang memaksa Cherry."
"Beraninya kamu mengacak-acak perempuan..!!! Setelah selesai berkas pengajuan nikah. Urus surat amelden mu..!!Kau..... Pindah tugas ke karang hitam..!!!!" Perintah Pak Riegan.
"Siap.. Laksanakan perintah, komandan..!!" Jawab Bang Dante.
...
Cherry menangis meraung-raung sampai memukuli dada bidang Bang Dante. Pria itu tak membalas, membiarkan gadisnya itu meluapkan seluruh kekesalannya hingga tenang. Hanya asap rokok yang menguar dari bibirnya, mengungkapkan segala rasa tak karuan dalam dada.
"Kenapa Om lakukan ini semua?? Cherry nggak minta di bantu sampai seperti ini. Cherry nggak tau apapun disana, nggak kenal siapapun, bagaimana cherry harus melanjutkan hidup kalau di buang disana??" Ucap cherry terdengar begitu sedih.
"Kau disana sama saya. Mana ada saya biarkan kau hidup sendiri." Kata Bang Dante tenang. Kuliahmu bisa tetap lanjut."
Baru saat itu, tangis Cherry mulai reda. Ia mulai lelah dan bersandar pada dada bidang Bang Dante. Tak lama Cherry mendengar degup kencang yang sangat kencang.
"Oo-om.. Deg degan??" Tanya Cherry polos.
"Kalau nggak deg-degan.. mati Om Dante, dek." Jawab Bang Dante.
...
"B*****t, ini yang kau bilang menjaga perasaan????"
bbugghhh...
Bang Elang menghajar sahabatnya membabi buta. Usai lelah dengan semua, ia menarik krah seragam Bang Dante yang akhirnya hanya diam menatapnya dengan senyuman tipis.
"Sudah puas??? Tak perlu lah, kau tegang seperti ini, Danton. Ini kan, yang kau tunggu. Kalau dari awal kau juga suka sama Shanli atau cintamu hanya untuk Shanli, katakan saja, kenapa harus menyakiti hati perempuan lain. Kalau kau tak mampu jaga Cherry, biar aku saja. Kita ini sama bejatnya. Mabok pun sadar. Masih tidak mengaku, malam itu kalian munum apa?? Kau bisa bohongi gadis-gadis itu, tapi tidak dengan aku." Kata Bang Dante. "Sepengecut itukah Letnan Julang Wengkar???"
Bang Elang terdiam. Hatinya patah, ia tidak bisa menjawab apapun lagi jika sahabatnya itu sudah turun tangan. Sikap tenangnya dalam memecahkan sesuatu sungguh mematikan.
"Saya........."
"Mulai sekarang, jaga sikapmu, hormati istriku.. Gusti Cendrawasih Rakyan Kinantan Wijaya Kusuma.. Istri dari Letnan Satu Dailago Pascal Wiradante. Tolong beri batasanmu, hargai saya sebagai suaminya. Kau tau kan, konsekuensinya menyentuh milik Letnan Wiradante??" Ancam Bang Dante secara halus. Ia kembali tersenyum sembari menepuk bahu sahabatnya.
Bang Dante memberi jalan pada sahabatnya untuk keluar dari ruangan bersama-sama. "Kita olahraga dulu, Danton..!!" Ajaknya.
:
Ekor mata Bang Dante melihat Cherry tersenyum kalem malu-malu saat beberapa orang remaja Ba-Ta mengajaknya bicara di depan koperasi Batalyon.
Ia pun melangkah mendekat, wajahnya itu tampak berang meskipun ia sudah berusaha untuk normal.
"Selamat siang, Ndan."
"Hmm.. Ngapain kalian ketawa ketiwi disini???" Tanya Bang Dante dengan aura gelapnya, membuat para anggota ikut ketar ketir.
"Ijin, Dan. Kami.. Menemani mbak ini."
Bang Dante melipat kedua tangan di depan dada. Cherry pun bisa merasakan pria di sampingnya itu sedang tak bersahabat, melebihi gadis yang sedang PMS.
Cherry memberanikan diri menatap wajah Bang Dante. "Mereka cuma ngobrol biasa saja, Om."
"Ngobrol biasa sampai ketawa-ketiwi begitu?" Bang Dante menatap tajam ke arah para prajurit muda itu, suaranya rendah namun bergetar menahan amarah. "Kalian lupa di mana ini? Ini kesatuan militer, bukan ajang pencarian jodoh. Dan kalian..." Tatapannya kembali beralih pada ketiga pemuda yang kini menunduk tak berani menatapnya. "Kalian tau siapa wanita ini? Beliau Istri PaSieIntel Batalyon. Kenapa kalian bisa tidak hormat dan mengajak beliau bagai teman curhat?????"
"Siap salah, PaSie..!!" mereka menjawab bersamaan, berdiri tegak sambil keringat dingin."
"Kemana saja kalian waktu tadi saya mondar-mandir dengan beliau disini???" Tegur Bang Dante. "Tertawa lepas, mencolek lengan. Kalian mau memanfaatkan kelembutan Ibu PaSie?????"
"Siap, salah.."
"Sikap tobat, kalian...!!!!!!" Bentak Bang Dante kini berkacak pinggang. Para remaja barak itu langsung mengambil sikap tobat. "Besok pagi sebelum apel, kalian lari keliling lapangan enam putaran. Tanpa topi, bawa senjata. Renungi dengan rasa malu kalian itu. Dan ingat, sekali lagi ada yang berani bersikap kurang ajar pada istri saya, atau sekadar memandangnya dengan tatapan yang tidak pantas... kalian tau saya bukan orang yang sabar...!!!!!!!"
:
"Bisakah tidak usah galak begitu???"
"Saya nggak galak. Itu wajar saja, hal yang biasa." Kata Bang Dante saat Cherry menegurnya di waktu mereka makan siang bersama.
"Tapi.. kasihan kalau lari enam putaran, mereka nggak bisa nafas. Itu terlalu sadis." Agaknya Cherry belum terbiasa dengan segala aturan militer.
"Oke.. Besok mereka saya gebukin, kakinya saya gantung, kepalanya saya celupin ke kolam lele." Ucap Bang Dante ringan.
"Itu malah lebih parah. Kenapa sih Om galak sekali." Protes Cherry.
"Katamu, lari enam putaran terlalu sadis. Saya hanya mengikuti kata Ibu PaSie saja, yang tidak sadis." Balas Bang Dante.
"Maksud Cherry bukan begitu, Om. Kalau semua masih bisa di bicarakan, kenapa harus pakai kekerasan???"
Bang Dante berhenti mengunyah. Ia meletakkan sendok perlahan, lalu menatap istrinya tajam namun lembut dan penuh ketegasan.
"Ini bukan perkara keras. Ini adalah tentang batas, tentang aturan menghormati. Perkara seperti ini berlaku di manapun. Dalam dunia yang saja tempati, batasan adalah pelindung diri. Tanpa ada batasan yang jelas, semua akan berantakan. Saya menegur mereka karena saya menjaga kehormatanmu."
Mata itu belum lepas dari Cherry.
"Apakah galak begitu yang saya suka? Apakah kejam begitu membuat saya lebih ingin di kenal??? Apakah sekedar demi wibawa??? Jawabannya tidak, dek. Saya ini fleksibel saja, tapi kalau memang ada sesuatu yang salah, saya wajib menegurnya. Tapi.. Pribadi saya memang seperti ini." Bang Dante menghela napas panjang. "Saya galak supaya tidak ada yang berani melanggar batas. Saya tegas supaya semua orang di sini paham, memperjelas bahwa kamu adalah istri saya. Dan siapapun yang tidak menghormatimu, berarti tidak menghormati saya, mencoreng wajah saya. Itu bukan kekerasan. Sekali lagi, Itu perlindungan untukmu."
Cherry terdiam, tangannya memegang gelas erat lalu menyeruput jus semangkanya. "Tapi... kan mereka cuma ngobrol. Tidak sampai....."
"Hari ini hanya ngobrol dan tertawa, besok bisa jadi menatap terlalu lama, lusa bisa jadi berani menyentuh tanpa ijin. Minta ijin tidak akan pernah saya ijinkan." Bang Dante memotong lembut namun tegas. "Saya selesaikan sebelum kejadian Lebih baik mereka malu hari inj, daripada mereka berani dan menyesal saat saya tindak nanti. Saya bukan menghukum mereka karena mereka salah bicara. Saya mengingatkan mereka agar tau batasan yang seharusnya. Tidak di militer pun, mengganggu istri orang itu, haram."
.
.
.
.
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara